Komentar tentang, sebut saja “si A”

“Invite-message-call-konflik-delete-invite-message-call-konflik-delete”

Itu contoh skema kehidupan. Dengan melihat beberapa sumber yang saya perhatikan akhir-akhir ini. tidak sedikit orang yang tertarik di awal, berkenalan, mendekat, bercerita seolah-olah “mengenal”, ada masalah, limbung, lari, setelah itu pergi, delete, dan tidak saling mengenal (lagi).
Apa hidup itu hanya untuk menemukan lalu pergi setelah berselisih paham ?
lalu siapa yang akan tetap tinggal ? dimana keutuhan ? 
Dari tahun kemarin saya memilih satu subjek. Sebut saja si A. si A yang bisa dengan mudah berbaur. Menemukan yang dia cari yang diawal si A begitu yakin “ini nih yang gue cari”. Tidak berselang beberapa bulan si A limbung dan merubah persepsinya “gue gak cocok. Doi terlalu bla-bla-bla” dan akhirnya delete.
 Di bulan berikutnya si A kembali menemukan mainannya yang baru dan kembali berkata mantap “akhirnya gue nemuin juga” selang beberapa bulan, setelah si A disibukkan mainannya, dia  kembali berargument “ah.. doi monoton. Gue bosen”. Lanjut sampai seterusnya.
Apa hidup itu hanya untuk seperti itu ? lalu sampe kapan ? sampai jenuh ? bagaimana keadaan korban-korbannya yang mungkin sudah berbuat banyak untuk mempertahankan keutuhannya. Bukankah setiap manusia punya hati ? lalu dimana letak hati mereka ? yang bisa dengan bebas memilih, memainkannya, dan membuangnya. Menurut saya bukan seperti itu.
Ah, mungkin belum ketemu karma saja. Atau karma memang berteman baik dengan mereka ? mendukung setiap aksi mereka ?
Sudah lah. Tak penting. Mungkin itu hanya perihal tentang pilihan jalan hidup saja. Biarlah. Toh jadi baik atau buruk, diri sendiri yang akan bertanggungjawab.
Mungkin tidak semua orang yang memahami sisi kebaikan dengan baik dan sisi keburukkan dengan baik pula. Mungkin ada batas kewajaran berbeda. Mungkin.

Panggil saja “rasa nyaman”

klik sumber gambar

Satu cerita. Hidup memang di jalani untuk satu cerita. Cerita kita, cerita kamu, dan juga cerita saya.

Pernahkah kita menggarisbawahi beberapa label sebagai syarat untuk memasuki ranah privasi kita ? Mungkin lebih tepatnya kita akan menggolongkan beberapa jenis manusia di sekeliling kita. Misalnya, ada yang kita kenal cukup sebagai teman, atau lebih jauhnya sebagai sahabat, bahkan keluarga. Atau lebih singkat dari itu, hanya saling punya slogan “nama” terlebih itu cukup dengan sapaan ringan. Oke, kita masuk kelebih dalam. Sekiranya cukup tadi itu intronya.

 Pernah kalian tiba-tiba bertemu satu orang yang bahkan anda tidak begitu mengenalnya, tapi secara tiba-tiba menyentuh ranah privasi anda dengan slogannyaman’ .
Lalu bagaimana dengan beberapa batas yang sudah anda garisbawahi di awal ? Masih perlu ? Masih pentingkah ? Tidak. Smua itu hilang bahkan tidak pernah ingin lagi di perdebatkan. 

Kenyamanan. Satu slogan yg paling inti. Yang bisa membabat habis semua kerikil, bahkan kekurangan lain disekitar yang cukup hanya jadi debu. Rasa nyaman, yang tidak akan pernah bisa di beli atau digadaikan dengan rasa lain sisanya. Cukup dengan rasa nyaman, semua satu dunia serasa mendukung dan menjadi satu yang kita mau.

Kalo saya bicara tentang ketulusan memang bukan lagi jangkauannya untuk dibicarakan di masa kini. Tapi kenyamanan, cukup hati yang bisa mendikte, menakar, sejauh dan sedalam apa rasa nyaman itu bisa membabat habis sisa di sekelilingnya.

Seseorang yang sudah bermodal “siap memberi rasa nyaman” bisa dengan pasti menggantung disetiap ingatan oranglain. Yang dengan sigap dan telaten siap membuka dunianya, siap menuntun dan menunjukkan bagian dari “inilah kamu”.

Terlalu rumit bahasanya. Tapi intinya, setiap pemberian kenyaman kepada orang disekeliling kita, bisa menakar sebuah lingkup ketenangan bathin yang tidak ditawarkan oleh beberpa rasa lain yang sering jadi celoteh anak jaman kini. Cukup slogan nyaman bisa men-skip semua alasan klise atau bahkan pernyataan-pernyataan tanpa sebab dengan tangkas.

Nah, ini yang menjadi dasar kenapa kita terutama saya disini yang bisa dengan leluasa bercerita atau bahkan menggamblangkan sebagian dari hati saya kepada seorang yang baru saya kenal. Bukan tak aneh, tapi memang bisa seseorang yang punya modal “nyaman” merengkuh dunia kita. Menguasai kita. Dan dengan leluasa kita membukakan pintu “ranah privasi” kita dan mengizinkannya mengetahui detailnya.

Seperti apa si kenyamanan ini ? saya mau bicara versi saya. kenyamanan, Seseorang bisa memberikannya lewat perilaku atau nada bicara. Satu dialog singkat atau mungkin satu percakapan dalam lingkup luas. Dia yang memberi pandangan sedemikian yang akhirnya menyentuh nalar kita. Lebih tepatnya dia menyuntikkan satu gagasan dengan cara lain yang membuat kita akan bicara “iya”. Lalu berlanjut kearah pikiran kita, opini kita, gagasan kita, bahkan privasi kita.

Kenapa bisa ? 

karena rasa nyaman itu berasal dari hati. Dan setiap perkataan yang berasal dari hati akan jatuh tepat di hati pula.