Akankah ini Kontrak Mati ? ( Cinta Gagah )

Saya masih tercengang dengan keputusan yang saya buat sendiri. Entah yang jelas saya merasa mantap untuk kembali kepada Mawar. Setelah saya mendatanginya lagi di Apartement yang sempat jadi tempat tinggal saya, ada kilatan-kilatan masa lalu yang manis memaksa saya untuk melangkah lebih jauh lagi, meyakinkan mawar untuk sudi menerima saya kembali.

Setelah janji-janji buatan yang saya lontarkan dengan mudah, sedikit rayuan, bujukan, dan perilaku manis yang saya berikan kepadanya, akhirnya Mawar kembali. Gagah kembali kepada Mawar. Masih memeluknya, saya kembali meyakinkan. Berharap ini adalah jalan terakhir bagi saya dan mawar. Tak kan lagi menemui perpisahan. Tak kan lagi berniat menyerah dan pulang. Mawar teringsak-ingsak menangis dalam pelukkan saya. Mengecup kening saya berkali-kali. Ya, saya pun merindukkan sentuhan nya. Dan saya lebih yakin, mawar benar-benar mencintai saya.

“akhirnya kamu kembali, aku sayang sama kamu. Tolong jangan pergi lagi.” 
Dia enggan melepaskan pekukkannya.
Shintajulianaa 22/11/14
Cinta Gagah 

Kinar POV ( Cinta Gagah )

Aku masih tak percaya. Aku masih ingin mempercayai janji-janjinya. Aku masih ingin bermimpi dan mewujudkannya. Tapi Tuhan menampar aku keras. Sampai aku tak bisa lagi menemukkan jalan untuk kembali kepada Gagah. Mungkin ini jawaban doa-doaku. Tapi yang aku tak minta pada Tuhan untuk menjauhkanku dengannya, aku hanya minta petunjuk untuk di lancarkan dalam menjalani setiap fase hubungan kami. Rupanya tuhan punya rencana berbeda. Hingga dia memampangkan apa yang tidak kulihat jadi terlihat begitu jelas. Mempertontonkan drama di belakang panggung itu dengan tirai terbuka. Apa aku harus bersyukur atau merintih ? Meminta tuhan mengembalikkan gagah padaku.

Sore itu gagah menemuiku. Masih dengan muka kusut bekas menangis sedari pagi aku menemuinya. Hampir sebulan dia tidak menemuiku. Kita hanya berkomunikasi lewat telpon dan itupun dengan intensitas jarang. Aku fikir, dia benar-benar sibuk. Aku fikir dia benar-benar sedang bekerja keras untuk masa depan kami. Tapi nyatanya, ada drama lain di balik semuanya.

Kali ini aku berhasil menatapnya lamat-lamat. Dia, gagahku yang sebentar lagi akan meninggalkanku. Aku tak kuasa membayangkan apapun. Mataku buram oleh air mataku sendiri. Pelan-pelan aku tertunduk. Sebelah tanganku mencengkram pagar kost-kostan berusaha mencari kekuatan. Aku menangis tersedu-sedu.

Terbayang wajah kecewa atau mungkin wajah perihatin dari kedua orang tuaku jika aku memberitahukan kabar ini. Tidak akan pernah ada pernikahan. Tidak akan pernah ada Gagah dalam keluarga kita. Aku masih terhunyung. Entah mulai dari mana menjelaskan semua ini.

Bulan ini, hubungan kami menginjak bulan ke 6. 2 bulan yang lalu, aku sudah mengenalkannya mantap kepada keluarga besarku. Aku berharap banyak darinya. Dan bulan depan, gagah berniat mengajakku ke Majalengka. Menemui orang tuanya sekaligus menentukan hari besar kami. Menentukkan kapan orang tua ku siap bertemu dengan orang tuanya. Tapi rencana tinggalah rencana. Aku tak tau pasti apa yang membawanya kembali kepada Mawar. Tapi aku tau, aku tak buta, ada pengkhianatan besar yang di lakukkan gagah. Baik padaku, ataupun kepada Mawar.

Aku masih belum lupa. Ingatanku masih kental dengan peristiwa tadi pagi. Niatnya, aku akan memberinya tiket kereta. Ya dua tiket kereta yang sudah aku booking dari jauh-jauh hari. Semalaman, aku menelponnya. Jawabnya singkat. Bilangnya ada teman. Ada bos. Tak enak. Dan sebagainya. Itulah yang memutuskanku untuk menemuinya di kost-kostannya.

Sekitar jam 7 pagi aku sudah sampai disana. Aku sengaja datang lebih pagi, karena aku ingin sarapan bersamanya. Sudah lama, kita tak pernah makan bareng lagi. Masih dengan keyakinan dan senyum yang lebar aku mengetuk pintu kamarnya. Namun, senyum itu tak lagi tersungging dari bibirku. Mawar membuka pintu kamar dengan penampilan acak-acakkan. Seperti baru bangun tidur.

Ini pertama kali aku melihatnya langsung. Ya, aku tau betul siapa mawar. Mantan Gagah yang amat teramat sangat mencintainya. Mawar yang rela mengorbankan apapun demi kebahagiaan gagah. Hal yang tidak bisa aku berikan padanya, Mawar bisa berikan dengan senang hati.

Seperti petir menggelegar. Ada badai hebat bergejolak di hati. Menguras emosi, seperti memancing sebuah luapan air mata. Tidak, aku tak boleh menangis sekarang. Aku pastikan aku tak akan menangis sekarang.

Gagah yang kemudian berdiri di belakang mawar dengan telanjang dada itu mematung melihatku. Entah apa yang ingin dia katakan. Kita terdiam. Tidak ada perkenalan, dan mawar terhimpit dalam empat mata yang saling berpandangan.

Aku berusaha mencari ketegaran.entah dari mana, aku harus bisa biasa saja. Aku harus bisa membuka percakapan.
“Hey mas… ini titipan kamu. Sorry datang sepagi ini. Permisi mba, mas”. Tanpa sepatah katapun aku bergegas pergi. Nampaknya Gagah memang tak ingin menjelaskan apa-apa. Dia tak berniat mengejarku. Atau bahkan sekedar membujuk ku untuk percaya padanya.

Sore ini, Gagah melihatku begitu rapuh. Dia berhasil menyakitiku. Dia berhasil mempermainkanku. Dia berhasil. Aku benci diriku sendiri, kenapa selalu menemukkan jalan untuk memaafkannya jika dia minta maaf. Kenapa selalu ada jalan untuk mencintainya lagi setelah pengkhianatan ini. Kenapa aku lebih takut kehilangannya. Aku mulai di perbudak oleh cinta. Dan gagah masih berdiri di depanku, tanpa sepatah katapun. Tanpa penjelasan. Atau kata maaf.

Entah apa yang rasa. Saya harap Gagah akan menjelaskan dan bicara semua yang aku lihat salah. Semua yang terjadi tidak seperti apa yang aku bayangkan. Aku harap, aku salah. Atau setidaknya Gagah akan bicara menyesal dan memohon padaku untuk memberinya kesempatan ke-2. Aku sudah terlalu cinta padanya. Aku tidak bisa kehilangannya.

Shintajulianaa ( Cinta Gagah )
22/11/2014 (16:01)

Kontrak Mati ( Cinta Gagah )

“Jangan kayak anak kecil lagi ya… sekarang umur aku udah 27, kamu gak niat ngelamar aku apa ?” 
Sungutnya dengan gaya sok manjanya. Saya melangkah pelan kearahnya merangkulnya seperti biasa. Tidak pernah berubah sejak 7 tahun lalu.
“Emang kamu masih takut kehilangan aku lagi?”
“Setiap detik”
“Aku tak akan pernah mampu pergi jauh dari orang yang selalu berhasil membuat aku nyaman dan bahagia. Aku sudah punya malaikat hidupku, aku tak butuh apa-apa lagi”
“Gombal”
 kali ini dia memeluk saya lebih erat. Sampai tak ada celah lagi antara kami. Baru kali itu, saya benar-benar menyadari cinta besarnya mampu membuat saya terlena. Saya dan wanita dalam pelukkan saya, seperti kontrak mati yang tidak bisa lepas. Begitusaja.
***

Cinta gagah (shintajuliana)

Saya Lelaki Bajingan ( Cinta Gagah )

Saya mematung di depannya. Gadis yang 6 bulan lalu saya yakini sebagai pilihan saya. Gadis yang mengajarkan saya banyak. Gadis terbaik yang pernah saya kenal. Kinar.. saya benar-benar minta maaf. Saya tak menyangka akan menjadi seperti ini. Saya tak pernah main-main dengan rencana kita kemarin. Memilih rumah masa depan, berkenalan dengan keluargamu, mengajakmu mengenal keluarga saya, saya tak pernah main-main. Saya benar-benar ingin menghabiskan waktu denganmu. Bisik hati kecil saya.

Kami saling bertatapan. Semakin lama, saya semakin mampu menyelami perasaan dia. Entah dari mana saya harus menjelaskan. Dia sudah tau semuanya. Dia memergoki mawar ada di kostan saya sepagi itu. Jelas, dia tau apa yang sudah terjadi. Kinar tahu betul tentang Mawar berikut kisah lengkap kami. Hanya saja, Mawar tak pernah tahu soal Kinar. Saya tak ingin memberi tahunya. Saya menghawatirkan Kinar. Bodoh, saya menghawatirkan Kinar terluka. Tapi saya sendiri yang melukainya dalam. Sangat dalam.

“Kinar” akhirnya saya bersuara. Beribu kata maaf tak akan mengembalikkan semuanya. Hatinya sudah saya hancurkan. Harapannya, mimpinya. Tuhan, kenapa harus Kinar. Kenapa lebih mudah bagi saya menyakiti Mawar daripada Kinar. Lebih mudah bagi saya melihat Mawar menangis daripada Kinar. Apa karena kinar perempuan baik-baik bahkan sangat baik, jadi sudah sewajarnya saya merasa bersalah seperti ini. Lantas kenapa bukan kinar yang saya pilih ?

Saya tak sanggup lagi berkata-kata, Kinar mulai menangis sesenggukan di depan saya. Nafas cepat yang dia ambil di sela-sela senggukkan, saya tau ada bebel sakit yang tak tertahan di rongga hatinya. Tanpa berbicara, dia menyerahkan cincin tunangan kita.

“Kinar… ” aku berniat merengkuhnya yang terpojok di depan gerbang kost-kostan nya. Tolong berhenti menangis. Saya ingin seketika menghapus tangisnya. Tapi bagaimana, saya tidak bisa. Saya menggenggam tangannya, tapi kinar langsung menepisnya dan kembali menjauh. Mungkin memang lebih baik menjauh. Bahkan jika bisa terulang lagi, saya tak akan pernah lari kepada Kinar. Saya tak ingin mengenalnya jika hanya untuk menyakitinya.

“Mas gagah memang untuk Mawar, bukan buat aku. Pergi Mas… jangan pernah temui aku lagi.” Dengan terbata-bata di sela tangisnya. Dia berusaha tegar mengucapkan itu. Kinar berdiri tegak di depan saya yang menunduk lemah.

“Bagaimana orang tuamu Nar ?”

“Itu urusanku Mas. Orang tua ku pasti lebih mengerti” kinar menghela nafas dalam. Lalu menghapus air matanya dengan jemari tangannya. Yang tersisa tinggal merah di matanya, tidak ada lagi gumpalan air mata.

“Pulanglah,, semoga bahagia. Assalamualaikum”. Kinar berbalik, membuka pintu gerbang. Tertinggal saya sendiri.. menatap punggungnya sampai dia menghilang di balik dinding.

Cinta Gagah 22/11/15
shintajulianaa

Yanase… Bicaralah !

Hari ini saya bertemu lagi dengan anak itu. Dia banyak berubah sekarang. Rambutnya lebih panjang dari sebelum dia meninggalkan tempat saya bekerja. Dia tumbuh dengan cepat, kira-kira 5cm lebih tinggi dari sebelumnya. Tapi dia tetap dengan sikapnya yang mengangumkan. Saya selalu mengawasinya. 

INTROVERT. Itu mungkin sebutan untuknya. Dia tidak banyak bicara, malah cenderung tidak suka berinteraksi. Dia pendiam mutlak. Saat melihatnya, saya berhasil menjadi pemerhati yang baik. Saya ingat, 6 bulan yang lalu saat dia masih menghabiskan 4-5 jam di tempat saya bekerja, saya selalu jadi orang pertama yang mengucapkan “helloo.. Selamat Sore”, atau sekedar menawarkannya untuk duduk. Kadang saya selalu berusaha berbicara dengannya, meskipun akan berakhir seperti berbicara sendiri karena jawabannya pasti hanya berupa anggukan, gelengan, atau sekedar senyuman. Tapi saya merasa sangat puas.

Pernah sekali saat saya pertama kali tertarik dengannya. Saya terheran kenapa dia tidak pernah mau bergabung dengan anak-anak yang lain malah terkesan menjauh dari mereka. Saat teman sekelasnya sedang asyik berkumpul sambil mengerjakan tugas, dia memilih memojok di ruang berlainan sambil membaca buku seadanya. Saat seisi ruangan penuh dengan perbincangan-perbincangan seusianya (biasanya waktu istirahat), dia lebih memilih memerhatikan ikan di Aquarium. Inilah waktu yang tepat untuk mengajaknya mengobrol, atau sekedar bertanya “kenapa tidak berkumpul dengan teman-teman lain?”. Tapi ingat dia sama sekali tidak mengalami keterbelakangan mental. Buktinya saja, dia bisa mengikuti semua mata pelajaran tanpa kesulitan. 

Sudah 5 bulan dia pindah ke cabang. Dan sudah lima bulan juga saya tidak pernah melihatnya lagi. Hari ini adalah pertama kali saya melihatnya lagi setelah 5 bulan. Dia tetap adik kecil saya. Dia yanase yang akan selalu saya kagumi dengan semua sikap introvert-nya. Dan Saya adalah orang yang akan selalu berusaha mengakrabkan diri dengannya. Yanase.. Saya ingin mendengar kamu bicara.

klik sumber gambar

Dia berbeda. tapi saya mengaguminya
@shintajulianaa