Hujan Bulan Desember

Dimulai dari Hujan Januari lalu…..
&
Berakhir…
di… [sini]

Klik sumber gambar

barangkali hidup adalah doa yang panjang, dan sunyi adalah minuman keras. ia merasa Tuhan sedang memandangnya dengan curiga; ia pun bergegas.” 

― Sapardi Djoko DamonoHujan Bulan Juni

Hujan Bulan Desember. Ini mungkin akan menjadi catatan terakhir tentang cinta di tahun 2015. Ku harap ini memang yang terakhir. Entah bicara cinta atau apa, bagiku semua sama sekarang. Tidak ada beda. Aku sudah lupa bagaimana rasanya cinta, atau memang aku terlalu menenggelamkan diri untuk lebih mencintai diriku sendiri ?

Hujan Bulan Desember. Bisa saja ini  menjadi catatan rindu terakhirku di tahun 2015. Bersama hujan Desember yang kubiarkan menggali semua kenangan lama yang mulanya aku kubur dan tak pernah ingin aku sentuh lagi. Cinta atau rindu, semua nampak sama. Aku tak begitu lagi mengenali keduanya. Selain bahagia ya aku tertawa, atau selain bersedih lalu kemudian aku menitikkan air mata. Sisanya… Aku biarkan mengalir begitu saja. Seperti air hujan desember ini.

Mungkin Hujan ini berbeda dengan hujan tahun sebelumnya. Dimana mungkin, cinta dan rindu masih lekat aku rasa. Dimana mungkin bahagia dan pilu bisa aku samarkan seiring kepergiaan atau kedatangan cinta itu sendiri. Mungkin aku sedang ingin menutup Desember ini dengan sedikit cinta. Meski nyatanya yang kulihat hanya bayangan dari wajahku sendiri.

Berjalannya waktu yang terus membuatku tumbuh. Membuatku lebih jauh dari hanya sekadar bicara cinta. Sudah enggan rasanya aku bicara kamu. Bukan lupa, tapi jarak memang tercipta seiring waktu. Waktu menyeretku lebih dari sekedar ke perempatan. Lebih jauh lagi. Sampai aku sadar, aku benar-benar sudah tumbuh.

Sekarang, aku mencintai diriku. Sebagaimana dengan semua peristiwa yang tak kubiarkan secuilpun membuat jiwaku rapuh. Sekarang, aku mencintai masadepanku. Sebagaimana tak kubiarkan seorangpun mengganggu apa yang sedang berusaha aku raih. Sekarang, aku menghargai diriku. Sebagaimana tak kubiarkan satu cintapun membuatku lupa akan diriku.

Hujan ini memang sedikit membawa kenangan lalu. Mungkin terbawa angin, tapi aku biarkan. Toh, nantipun akan tersapu  hujan.

Bilamana ini memang layak jadi penutup. Aku tutup dengan seribu syukur. Bilamana ini memang pilihan akhir sekalipun tanpa pernah berani aku memilih, aku tetap akan menjalani ini dengan penuh rasa syukur.

Banyak hal yang aku dapat. Sebagaimana bukan hanya peristiwa kamu saja yang turut serta membuatku bergerak maju. Banyak hal bisa aku syukuri. Sekali mungkin sebelumnya aku sempat merasa sangat tidak bahagia. Bagiku, Cinta hanya sekedar waktu saja. Menunggu waktu untuk terbiasa tanpa, atau menunggu waktu untuk terbiasa ada. Tidak akan lebih dari do’a. Tidak akan pernah lebih dari takdir.

Sekarang aku menulis ini diwaktu senggang sambil menunggu adzan magrib. Diluar mendung, sedikit gerimis. Tak lama hujan akan turun mungkin. Aku meluangkan waktu untuk duduk didepan komputer. Menuangkan isi hati yang sebenarnya sudah tak memiliki maksud istimewa.

Semua berjalan lancar sepanjang tahun 2015. Sekalipun satu rencana gagal berantakan, tapi aku tidak patah begitu saja. Pekerjaanku jauh melesat dari sebelumnya. Pribadiku juga. Lebih bergerak kearah baik. Jauh. Aku kira begitu, ketika aku sadari siapa aku sekarang dan siapa aku setahun belakang.
Aku tetap menjadi aku yang sederhana dan tidak banyak omong ketika bertemu orang baru.
Dan satu yang lebih penting dari semuanya, dari semua omong kosong ini. Aku jauh lebih bahagia sekarang.

Hujan Desember tak pernah mengubah rasa lain (lagi), jika sedikit menyeret masalalu, itu tak akan menjadi apa-apa. Sebab nyatanya, memang aku sudah tumbuh.

Perihal cinta, aku tak begitu ambil pusing. Banyak hal yang harus aku raih di tahun depan. Banyak. Tuhan punya misi lain tentunya. Cinta akan tiba pada saatnya. Lebih dari sekadar mengajarkan luka atau tawa. Kelak, Cinta itu meresmikan dirinya sendiri. Bersama skenario terbaiknya… tanpa cacat. Aku bersedia & siap berbagi segalanya.

Selebihnya, atau sekurang-kurangnya. Aku ingin berjalan dengan bahagia.

Terimakasih 2015.
Terimakasih Hujan Desember.
Terimakasih untuk waktu introspeksi yang panjang.

Terimakasih segalanya.

Aku tumbuh bersama januari, dan kembali saat hujan Desember (nanti).

@shintadutulity
yang tertinggal biar tinggal.
aku tetap ingin bergegas pergi !

Perbincangan Desember 2015 tentang Resolusi 2016

Desember 2015.Menginjak pertengahan Desember menjadi alarm tersendiri untuk saya pribadi. Desember yang tinggal tersisa beberapa hari, melampirkan banyak list target yang masih mengantung untuk segera di raih. Januari 2016, benar-benar cambuk keras untuk setiap usaha yang masih gini-gini aja.

Tadi siang saya dan teman saya terlibat obrolan panjang tentang persiapan masadepan. Masa depan dengan segala kemungkinan buruk, juga dana kehidupan yang tak akan mudah apalagi murah. Me-review kembali tentang masa kerja yang panjang dengan apa yang sudah dihasilkan, ini benar-benar menjadi cambuk keras. Kemana perginya semua rupiah yang dihasilkan tidak hanya dengan senyum palsu itu ? Tidak hanya cukup dengan menggadaikan satu menit setiap harinya. Bahkan lebih dari itu. 

Obrolan panjang itu mengarah juga ke perencanaan anggaran di tahun 2016. Tentang daftar-daftar hal yang akan membutuhkan banyak dana ( lagi ) juga segala kemungkinan yang bisa saja tidak terdaftar tapi membutuhkan dana banyak.

Sia-sia. Tidak berbekas. Tidak ada hasil investasi dari dana penghasilan selama ini. Yang ada, semua barang yang hanya memiliki daya jual rongsok. Otak saya berfikir keras. Hidup memang tidak pernah murah. Segala kemungkinan buruk tidak pernah mau memberi jarak toleransi.

Simpulan dari nasehat panjang lebar dari teman dan tante saya sepanjang bulan Desember adalah : Stop Budaya Konsumtif.




________________________________________________________________________________

Budaya konsumtif adalah kebiasaan dimana kita membelanjakan uang tanpa pemikiran rasional, tanpa didasari kebutuhan, semua dilakukan hanya untuk menyokong gaya hidup.


Kembali ke perbincangan Desember yang menjadi cambuk tersendiri bagi saya pribadi. Ya, lingkungan saya bekerja menjadi ruang belajar kedewasaan tersendiri bagi saya. Juga asupan-asupan keras dari tante saya yang terus mengingatkan bahwa, Hidup itu tidak murah, apalagi mudah” membuat  pandangan tersendiri bagi saya. Poin-poinnya seperti ini :

1. Sudahkah  punya Tabungan penyelamat ?

Tabungan penyelamat yang saya maksud disini adalah dana mati yang kita simpan untuk berbagai kemungkinan di masa depan. Baik itu sakit atau untuk kebutuhan tak terduga lain yang benar-benar urgent.

Me            : “Emang berapa mba, aku sih minimal 10jt aja buat jaga-jaga segala kemungkinan”. 

Mba Puji   : “Murah amat neng. Kamu fikir masadepan semurah itu” 

Me            : “Tapi kan aku juga punya cicilan untuk dana invest mba nantinya”. 

Mba Puji   : “Invest beda lagi. Invest biarin bergerak. Tabungan enggak boleh nyestuck. Kamu fikir hidup kamu bakal mulus terus. Optimis banget pengeluaran bakal flat gitu aja”. 

Me             : “terus berapa mba?” 

Mba puji    : ” Minimal 50jt”. 

Me             : “ Whaaaatttt ?”

Masih dengan ekspresi melongo. Saya masih sangat-sangat sulit untuk membiasakan diri menabung. Jangankan sampai angka puluhan juta, kisaran hitungan jari-pun butuh pengorbanan luar biasa. Kembali Dia menjelaskan tentang masadepan itu gak murah. Mulai dari rancangan biaya pernikahan, melahirkan, juga biaya duka untuk segala kemungkinan buruk. Hidup memang harus selalu dimulai dengan kemungkinan buruk. Jika manis yang dikecap, itu bonus. Kita tetap harus waspada untuk setiap situasi dan kondisinya.
Benar, tidak bisa dipungkiri, hidup memang akan selalu mahal. Malah seiring bertambahnya usia, bertambah pula kebutuhan. Semua berjalan naik. Lantas bagaimana dengan tabungan ? Sudah dipersiapkan sampai mana ?
Kalo bicara tentang resolusi, semua gencar membuat daftar. Nomor satu sampai sekian tertulis atau setidaknya tergantung didepan langit-langit mimpi. Namun, perjalanan merubah yang sudah jadi kebiasaan itu tidak mudah, pun meraih yang berada diatas tanpa melompat itu mustahil.

Me           : “Tapi kan aku banyak kebutuhan mba. Aku tinggal sendiri disini yang apa-apa sendiri. Kebutuhan aku tuh enggak sedikit.”  

Mba Puji : “ Yang mahal itu kebutuhan apa gaya hidup ?”

Lagi-lagi saya merasa terlempar ke dasar. Jika flashback ke tahun 2011 sampai sekarang, memang sebagian besar adalah pengeluaran gara hidup. Mulai dari mengakrabkan diri dengan suasa mall, rajin hangout sana-sini, rajin mencicipi menu satu resto ke resto lain, sampai lebih berminat membeli barang branded. Ya, itu semua gaya hidup. Tuntutan lingkungan dan kebiasaan yang tidak bisa dikendalikan. Berapa banyak rupiah yang terbuang hanya untuk membeli “zaman”  ? hanya karena takut dibilang “kuper” ? berapa banyak ? Saya tekankan, -Tidak sedikit.

2. Sudahkah ada pemantapan kearah “investasi” ?

Me       : “kalo aku beli itu ( gak bisa disebutkan ), aku susah bagi-bagi uangnya. Cicilan tahun pertama, pasti bener-bener nyekek banget”. 

Tante   : “Terus mau sampe kapan kamu gini ? beli barang-barang enggak jelas. Uang entah kemana. Mendingan susah pas muda, tua bahagia neng”. 

Tante   : “beli tuh hal-hal yang kedepannya prospeknya bagus. Kerja empat tahun masa cuma bisa beli nasi bungkus doang.”

Definisi bekerja bagi tante saya bukan hanya perihal tentang kemampuan kita membiayai hidup ( sandang & pangan ). Tidak hanya terhenti disitu. Tapi definisi bekerja baginya adalah sarana untuk menyiapkan masadepan dengan sebaik baiknya. Memanage segalanya dengan detail. Lebih luas dan lebih panjang dari hanya dana tabungan penyelamat.
Perhitungan bekerja yang sudah menginjak lima tahun bukan lagi mencari dana untuk senang-senang. Semoga saya memang sudah bosan dengan segala bentuk gaya hidup yang belakangan membuat saya menyesal setengah mati.
Jika ditahun pertama, kita banyak menggunakan gaji untuk menuruti ego kita, hal ini tidak lagi berlaku untuh tahun keempat. Mall, barang-barang brended, Hangout tempat-tempat ternama, bukan lagi menjadi tujuan kami (semoga). Ada yang jauh lebih bermanfaat dari itu, ada. Dan smua akan sadar pada waktunya. Saat kehausan “gaya” sudah mencapai titik jenuh. Sekali lagi, semoga saya memang sedang dalam perbaikan kearah sana dan diberi langkah yang istiqomah.
Well, simpulan dari semuanya, saya memerlukan rombak besar-besaran tentang dana pengeluaran. Lalu mengalokasikan sisanya untuk hal-hal yang jauh lebih bermanfaat.
Bytheway, makasih mba puji dan tante eli untuk semua advise. Desember kali ini jadi cambukan buat saya. Semoja Januari pantas saya pijaki dengan kaki lebih baik, lebih giat menabung, lebih berani investasi. 
_ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ 
Yo nabung yo… Yo lebih produktif lagi membelajakan gajimu !

@shintajulianaa

lagi dalam proses penghematan keras. 
lagi dalam proses memperbaiki gaya hidup yang salah.
lagi dalam proses menabung buat anak-anak kita (nanti). #uhuuukk 

_ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ 
NB : Ini hanya resolusi materi, belum lagi ke arah karakter pribadi yang masih acakadut mirip butiran reginang atau asap damri. Banyak yang harus diperbaiki. 



TAHAP-TAHAP MENIKAHI ANAK GADIS !

Nikah. Menikah. Jodoh. Pembahasan yang sudah menjadi hal yang asyik diperbincangkan untuk mereka yang sudah menginjak usia diatas 22 tahun. Galau karena penasaran tentang “Siapasih jodoh kita” atau galau karena “modal nikah” yang diluar dugaan, sering menjadi perbincangan mereka di kalangan anak muda masa kini.  
Untuk sebagian kaum pria yang sudah memiliki kandidat calon istri masa depan dan siap untuk membawanya ke jenjang yang lebih serius otomatis harus melewati hal sakral yang disebut Pernikahan. Nah, apa aja sih tahap-tahapnya…

Simak yu,

#TAHAPTAHAPNIKAH #VERSI #SHINTADUTULITY ( Bukan Versi On The Spot Yaaaa )

1.       Perkenalan pribadi masing-masing
Tahap ini mungkin bisa dibilang tahap pedekate dalam istilah anak-anak muda. Tahap dimana apabila seseorang memang berniat menjadikannya kandidat calon pendamping masa depan, otomatis harus saling terbuka satu sama lain. Jadi kalo kamu-kamu baik lelaki dan perempuan yang sudah ada niatan ke jenjang serius, diwajibkan untuk saling terbuka. Beda ya sama sebagian anak muda yang pdktnya karena niat pacaran, mungkin mereka akan adu gengsi. Menutupi kekurangannya sebisa mungkin, dan menonjolkan segala hal yang baik-baik agar dinilai oke. Bahkan tak jarang juga, mereka yang pdkt karena niat macarin itu berusaha menjadi sosok yang didambakan objeknya, padahal si jauh banget dari istilah be your self.

Yang ingin saya kupas disini adalah pdkt yang lebih matang. Pdkt yang lebih serius ketimbang hanya ingin mendapatkan pujian atau sanjungan dari gebetan.
Kenapa si harus terbuka ? Bukannya kita wajib menyembunyikan semua aib kita di mata orang lain ?

Yapps… terbuka disini maksudnya segala prosesnya, apa adanya kita, sikap, karakter, masalalu, keluarga, semua poin-poin penting tentang peristiwa yang sudah dan ingin terjadi diceritakan dengan murni (tanpa cerita tambahan yang dibuat-buat).  Karena dalam tahap ini, masing-masing boleh menentukan keputusan lanjut atau tidaknya tergantung dengan penilaian akhir. Enggak mau kan dibilang “beli kucing dalam karung.” Enggak mau juga kan suatu saat nanti denger komentar “ah ternyata suami gue homo” atau “gue enggak ngerti kapan istri gue operasi kutil di betisnya” . And so…. Jujur dan terbuka itu penting demi mencegah segala bentuk penyesalan yang tak terduga diantara masing-masing pihak kedepannya.
2.       Perkenalan keluarga masing-masing
Menikah. Menikah itu lain halnya dengan pacaran yang hanya akan berhenti dikata, “ aku cinta kamu, kamu cinta aku”. Sudah sampai disitu. Bukan juga hanya tentang, “Aku terima kamu apa adanya, dan aku siap ada buat kamu kapanpun”. Bukan juga seperti itu. Semua tidak hanya berpusat antara kamu dan si dia. Lebih jauh dari itu. Lebih besar lagi lingkarannya. Menikah itu adalah kesiapan dari keluarga kedua belah pihak untuk saling menerima. Karena pernikahan itu menyatukan dua keluarga yang tadinya tidak saling mengenal, tidak saling tau menau, tidak saling membutuhkan, tidak saling peduli, menjadi saling. Jadi ini membutuhkan penerimaan bukan hanya di mata si-dia tapi juga dimata keluarganya.
Otomatis dalam hal inipun kita harus terbuka tentang bagaimana keadaan keluarga kita. Usahakan jangan hanya mendengar dari mulut tapi berusaha terjun langsung ketengah-tengah keluarganya, ,menelaah dengan kaca mata sendiri lebih bisa memberikan penilaian terbaik dari pada hanya mendengar dari mulut. Tapi untuk kalian pria yang sudah berani menginjakkan kaki di keluarga perempuan, otomatis poin pertama tentang pengenalan pribadi si perempuan sudah masuk kategori OKE ! YES, I Want YOU !
Lah kok gitu ? berarti kalo udah kenalan sama keluarganya udah gak bisa nikung lagi dong ?
Bagi mereka lelaki kekar dalam artian punya tanggungjawab dan rasa malu atas tingkah lakunya, pastilah hal seperti nikung, lari dari tanggungjawab ( mau dekat tapi gak niat nikahin ) itu gak akan pernah terjadi. Kenapa ? karena jika suatu saat nanti si pria melakukan hal yang menyakiti si perempuan, otomatis yang harus dia hadapi bukan hanya perasaan perempuan itu, tapi juga ayah dari anak yang sudah dia sakiti. Maka, ketika selesaipun tidak hanya cukup antara perempuan dan pria itu saja, tapi harus ada pula penyelesaian kepada pihak keluarga perempuan terlebih ayahnya.
Terus kalo misal udah ada pembicaraan sama pihak keluaga perempuan, eh dia malah lari gitu aja gimana ? And you know lah, dia bukan pria baik-baik. dia tidak bisa menghargai kamu juga keluargamu.

3.       Poin 1 & 2 LOLOS. SIAPKAH KAMU MENIKAH ?
Kemarin saya dan teman saya mengupas habis tentang ini. Mulai dari prosesi lamaran hingga tektekbengek pritilan resepsi. Simpulan si pria…
“ NIKAAAAH ITU MAAAHAAAAAALLLLLLLLLLLLLLLLL.”
Well, nikah itu mudah bagi mereka yang mengesampingkan gengsi dan tidak diperbudak gaya hidup. Nikah itu murah bagi mereka yang hanya ingin menjalankan sunah.
“TAPI KAN NIKAH ITU SEKALI SEUMUR HIDUP,  PENGENNYA BERKESAN.”

That’s right. Setiap wanita juga pasti punya mimpi, resepsi pernikahan yang beda dari yang lain. Dengan segala rentetan adat yang kental biar lebih kerasa sakral, dengan kebaya atau gaun-gaun cantik, juga dengan pelaminan yang megah. Tapi kembali lagi, modalnya ada enggak ? Gubraak… kalo udah nyentil masalah money-money-money…  pusingnya bukan kepalang. Apalagi untuk pria yang punya harga diri tinggi, yang punya prinsip,
 “gue tuh mau ngambil anak orang, mau seserahan tanggungjawab, yakali dibebanin kekeluarga cewe. Dimana harga diri gue sebagai calon imam. Gue tuh mau ngempanin anak orang, bukan sapi yang cukup cuma dikasih makan rumput. Yakali diawal udah ngejatohin harga diri dengan modal nikah yang dibagi dua sama pihak cewe. Harga diri brooo… gue junjung sampe mati. Titik.”
ZZZZZ…
Kasih empat jempol buat prinsip seperti itu. #Tjackeeeppppp !
Buat mereka yang punya saldo di rekening dengan limit di atas angka 100 si its oke ya. Gak masalah banget.  Tapi, buat sebagian pria yang punya modal tipis tapi niat banget buat bahagian wanita pujaan hatinya dengan resepsi yang luas biasyyyaaaa, kalo enggak ada niat buat yuuu usaha bareng, nabung bareng-bareng, yaa piyeee tok mas ? adek keblenger !
Emang apa aja sih printilan nikah yang kadang dilupain di list budget nikah sama pria :
a.       Souvenir
b.      Undangan
c.       Bahan ( untuk baju seragaman )
Duh ko bisa dilupain si hal penting semacam itu ? jangan disepelein loh mas, perintilan kayak gitu nguras saldo rekening juga loooh.
Hehehehe…
Jadi simpulannya :

Masih mau menjunjung harga diri sampe mati dan mengesampingkan resepsi impian atau menurunkan sedikit ego dan mau diskusi bersama perihal modal nikah ?



Klik Sumber Gambar

Poin penting dari semuanya, JANGAN SAMPAI KITA TERPUSAT KE MODAL NIKAH LALU LUPA MAKNA MENIKAH SEBENERNYA. 
Maksudnya :
Karena menikah yang lebih nyata itu bukan hanya ketika resepsi tapi justru setelahnya. jangan sampe kita fokus ke modal nikah, habis-habisan demi resepsi yang wah, ngutang kiri kanan buat sewa tenda / gedung yang megah tapi setelahnya malah dikejar suku bunga bank. Akan lebih membanggakan jika budget yang segunung itu digunakan untuk DP KPR Rumah. Lebih bangga dong. udah nikah langsung tinggal di rumah baru, sekalipun nyicil, sing penting enggak dikejar setoran juragan kontrakan. 

#INISIVERSIELUSHIIINN
______________________________________________________________________ 
Duh shin, postingannya kok gini amat. Efek sharing abis-abisan sama cp pria ni ( calon pengantin pria ).
HAHAHAHAA….  MAAF SHINTA TERBAWA SUASANA.
Semoga bermanfaat buat kalian yang mau menuju kearah sana ya….
@shintadutulity

Kecjuup sakral buat mereka yang sedang berjuang nyari modal nikah J