Nyari Batik di Jakarta ? Yuk ke ITC Permata Hijau


ITC PERMATA HIJAU sebagai, Pusat Batik di jakarta
BILIK CERITA- PUSAT BATIK ITC PERMATA HIJAU !!

          Seperti yang sudah kita ketahui, Batik merupakan warisan budaya nenek moyang yang keindahannya sudah diakui di kancah Internasional. Pada awalnya batik hanya digunakan untuk acara-acara formal sebagai pengganti jas, blouse atau kemeja. Seiring dengan perkembangan di dunia trend busana, Penggunaan batik tak hanya digunakan untuk acara formal saja. Designnya pun tak hanya berkutat pada blouse atau serupa kemeja. Zaman sekarang sudah banyak batik yang dimix and match dengan bahan katun lalu dibuat dress, atau bahkan batik yang didesign santai untuk pergi ke pantai.

         Hal ini menyebabkan banyak kaula muda mulai menjadi pecinta batik. Selain menunjukan karakteristik bangsa yang elegan, memakai batik masakini dengan design trendy bisa mempercantik penampilan.
          Bagi Mereka yang tinggal di daerah Jawa, bisa berburu batik ke pasar-pasar tradisional. Bagi yang tinggal di Ibu kota Jakarta, boleh mencoba berbelanja batik di Grand ITC Permata Hijau. Mungkin masih banyak yang tidak tahu, bahwa ITC permata Hijau sudah menjadi pusat batik di Jakarta.
DIMANA SI ITC PERMATA HIJAU ?
Grand ITC Permata Hijau merupakan salah satu Mall di bilangan Jakarta selatan, tepatnya di Jalan Arteri Raya Permata Hijau, Grogol Utara, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Nah, bagi Kalian yang mau hunting Batik terutama batik Pekalongan boleh dicoba datang ke ITC Permata Hijau blok A dan D.Disana terdapat berbagai macam jenis batik berdasarkan proses pembuatannya, seperti batik cap, batik print, dan batik tulis. Disana juga kalian bisa dengan mudah menemukan  batik tenun ikat, batik tenun baron, dan batik embos. Untuk harganya sendiri, dibandrol mulai Rp.35.000 sampai 4jt. Sesuai kualitas kain dan tingkat kesulitan saat proses pembuatannya. 
ITC Permata Hijau Sebagai Sentra Batik di Jakarta
Contoh Koleksi Batik baron dan ikat di ITC Permata Hijau
ITC Permata Hijau sebagai Sentra Batik
Contoh Koleksi Batik di ITC Permata Hij

Cara membedakan tenun ikat dan tenun baron, biasanya jenin tenun baron bahannya lebih mengkilat daripada tenun ikat. Harganya dimulai dari Rp. 150.000 – 200.000-an. Sementara batik embos bisa dilihat dari motifnya yang timbul dan di bandrol harga 150.000/2 meter. Untuk jenis batik embos, hanya tersedia dalam bentuk kain saja.

ITC Permata Hijau sebagai sentra batik di Jakarta
Batik Kain Sutra Harga Rp. 4000.000 ( ada 3 motif dalam satu paket )
Bagi yang masih bingung bedain mana batik tulis dan batik printing, bisa lihat di bagian dalamnya. Jika timbul, atau bagian dalam juga bercorak, maka jenis batiknya adalah batik tulis. Jika tidak timbul, itu batik printing. Mudahkan bedainnya ?
Nyari batik di Jakarta ? ITC Permata Hijau aja !
Contoh Koleksi Kain Batik di ITC Permata Hijau
Bagi kalian yang punya budget terbatas, jangan khawatir, Grand ITC Permata Hijau juga pusatnya batik murah di Jakarta. Mulai dari baju anak-anak sampai dewasa ada disini. Masalah kualitas, jangan ditanya lagi. Dari segi motif oke, jahitan rapi, bahannya juga nyaman. Pokoknya, tempat batik murah di Jakarta ya di GRAND ITC Permata Hijau. 
ITC Permata Hijau Sebagai Sentra Batik Pekalongan
Nyari batik di bawah 100rb ? Ke ITC Permata Hijau Yuk  !     
Bagi Kalian yang berniat hunting batik untuk datang ke Acara Kondangan, di ITC juga banyak loh koleksinya. Ini Contoh Koleksi dari batik Couple yang banyak diminati pasangan muda masa kini. Selain harganya murah, bahan dan kualitasnha juga baik. Pokoknya gak malu-maluin dipake mejeng ke acara kondangan.Kamu belum punya ? Beli Yuk di ITC Permata Hijau.
Sentra Batik pekalongan di Jakarta ( ITC PERMATA HIJAU)
Batik Couple
Gimana, sudah cukup ada gambarankan tentang koleksi batik di ITC Permata Hijau. Kalau masih penasaran, Anda bisa langsung datang ke lokasi. Pokoknya ingat Batik, Ingat Grand ITC Permata Hijau !   
Terimakasih dan salam bercerita.

Sharing Session Bersama Ibu Monica Anggen

Sharing Season bersama Monica anggen
BILIK CERITA – SHARING SESSION BERSAMA IBU MONICA ANGGEN ! !

“Jangan menulis dengan tujuan untuk dibaca orang banyak. Jangan menulis dengan harapan bisa merauk keuntungan. Jangan menulis dengan impian bisa jadi terkenal. Menulislah untuk diri sendiri. Menulislah dengan hati. Jangan jadikan publik dan harapan-harapan lain jadi tembok batas dirimu berkreasi. Mulailah menulis dengan hati untuk dirimu sendiri”. Monica Anggen, 18 Juni 2017.

Kemarin, saya mengikuti sharing session yang di adakan Komunitas Blogger Jakarta di salah satu Mall di Bilangan Jakarta Selatan bersama Ibu Monica Anggen. Beliau adalah penulis best seller Gramedia pustaka yang karya-karyanya sudah dinikmati banyak kalangan. Jika kalian mampir ke Toko Buku Gramedia, pasti kalian pernah melihat buku-bukunya mejeng disana. Beberapa buku karyanya yang ramai di pasaran diantaranya; Yakin selamanya jadi pojokan, Enggak usah kebanyakan Teori deh, 99 Cara berfikir ala Sherlock Hormes, dan masih banyak lagi

Mendapatkan kesempatan untuk mengikuti sharing session langsung bersama orang yang sudah ahli di bidangnya itu menghasilkan perasaan-perasaan lain. Selain rasa kagum dengan karya-karyanya, Kamipun dibuat benar-benar mengerti dengan dunia kepenulisan. Seperti tanpa tiding aling-aling, Bu monica bercerita tentang awal kariernya sampai sekarang.


Dalam hal kesuksesan, dalam bidang apapun memang memerlukan mental sekuat baja. Begitulah simpulan saya, saat mendengar beliau bercerita tentang perjalanan kariernya di dunia kepenulisan. Mulai dari ditolak sepuluh penerbit yang katanya masih kurang banyak, sampai editor yang menyuruhnya menulis ualng berkali-kali.

Jika dirangkumkan, berikut  poin-poin penting dari sharing season kemarin diantara :

1. Tentang Kepenulisan

Menulis itu membutuhkan waktu yang panjang. Seorang penulis bisa saja menghabiskan waktu 2-5 tahun untuk menyelesaikan satu bukunya. Royalty yang didapat seorang penulis hanya 10% dari harga buku ( setiap penerbit punya persentase berbeda ). Jika dinilai dari segi komersil, jelas ini sangat-sangat merugikan pihak penulis. Belum lagi jika 10% itu hanya didapat dari harga buku obralan di pasar tumpah. Bisa dihitungkan berapa keuntungannya. Tapi, jika dilihat dari segi manfaatnya, baik dibeli dengan harga normal di toko-toko buku besar atau pasar tumpah, semua sama. Bukunya tetap bisa dinikmati dan nilai-nilai dari buku itu gak berkurang. Bagi Bu Monica sendiri, persentase itu gak begitu penting, yang penting nilai-nilai dari buku karyanya bisa sampai pada pembaca. Entah lewat Toko buku besar atau pasar tumpah.

2. Tentang Penerbit

Bagi seorang penulis, menemukan penerbit merupakan jembatan dalam dunia kepenulisannya. Seperti yang sudah kita kenal, di Indonesia ini ada dua macam penerbit yakni, Penerbit Mayor dan indie. Yang dimana kedua-duanya ada plus-minusnya.

Untuk Penerbit Mayor, minusnya terletak dari royalty. Sedangkan plusnya adalah kita tidak perlu repot-repot memasarkan buku kita, kita tidak perlu repot-repot mengedit naskah kita. Tidak perlu repot-repot mengatur pengiriman buku kita. Karena untuk marketing, penyebarluasan sampai ke pelosok, dan editing sudah ada yang mengerjakan. Untuk penerbit indie, plusnya adalah tidak akan ada penolakan naskah dan persentase royalty jauh lebih besar daripada penerbit mayor. Hal ini dikarenakan, proses pemasaran dan editing, semua diserahkan kepada penulis. Bagi anda yang sudah percaya diri dengan naskah anda, tidak ada typo, dan sesuai EYD boleh dicoba pake indie. Tapi bagi pemula sangat berisiko.

Bagi yang ingin mengirimkan karyanya ke penerbit mayor, disarankan untuk memahami kebutuhan dari masing-masing penerbit. Caranya adalah dengan melakukan survey pasar. Kebutuhan penerbit Gramedia Pustaka tidak akan sama dengan Erlangga begitupun dengan Bentang Pustaka. Setiap penerbit memiliki tolak ukur tersendiri untuk menentukan buku mana yang layak terbit.

Nah, bagi anda yang mau menerbitkan buku sudah ada gambaran kan, mau pakai pakai penerbit yang mana ?


3. Kiat-kiat menulis

Untuk poin ini, bu Monica sendiri sharing tentang gimana si cara menghadapi writerblock, cara membuat outline, cara meramu sebuah cerita, dan masih banyak lagi. Untuk jenis ini, setiap penulis punya cara berbeda-beda. Tergantung cocoknya yang mana. Bu Monica sendiri memakai trik jalan-jalan santai dulu sambil nyari angin ketika menghadapi writerblock. Untuk outline sendiri, setiap penulis punya langkah-langkah berbeda ketika membuat outline.

Nah, itu dia rangkuman dari sharing session kemarin. Intinya, bagi kalian yang mau menjadi seorang penulis, teruslah menulis. Ini hanya teori. Menjadi penulis adalah profesi, dan menulis adalah sebuah proses. Tidak cukup hanya teori. Yuuk.. Menulis. Terimakasih dan salam bercerita.

***

Sharing session ini di adakan oleh Komunitas Blogger Jakarta. Bagi kalian yang ingin belajar bersama boleh gabung dengan kami di http://www.bloggerjakarta.or.id//