HKN-53; Sehat Keluargaku, Sehat Indonesiaku


BILIK CERITA-
Jakarta, 12 November 2017
“Sehat Keluargaku, Sehat Indonesiaku”. Kira-kira seperti itulah petikan dari pidato wakil presiden Republik Indonesia di Bundaran Hotel Indonesia (Kawasan Car Free Day) pada tanggal 12 November 2017, Minggu pagi. 
Bertepatan dengan Hari Kesehatan Nasional (HKN) yang ke-53, Kawasan Bundaran Hotel Indonesia menjadi tempat berkumpulnya lebih dari 12 ribu orang yang berasal dari jajaran kesehatan, jajaran kementerian, BUMN, institusi pendidikan kesehatan, mitra kesehatan, dan organisasi masyarakat menyuguhkan suasana berbeda. Mereka berbondong-bondong dengan memakai segaram biru berlogo GERMAS (Gerakan Masyarakat) memadati Bundaran Hotel Indonesia. 
Puncak peringatan HKN ke-53 dihadiri pula oleh Wakil Presiden RI, H.M. Jusuf Kalla dan beberapa perwakilan negara sahabat, yaitu Kedubes Afganistan, Kedubes Laos, Kedubes Malaysia, Kedubes Venuzuela, dan Kedubes Ceko.
“Kami ingin agar masyarakat dapat berperilaku hidup sehat secara terus menerus dalam kehidupan sehari-hari,” tutur Menteri Kesehatan RI, Nila Farid Moeloek, dalam sambutannya pada HKN ke-53 di Bundaran HI, Jakarta (12/11).
 
Gerakan masyarakat hidup sehat harus dimulai dari lingkungan paling kecil, yakni keluarga. Keluarga adalah lingkungan terkecil untuk mengembangkan kesadaran perilaku hidup sehat guna tercapainya Indonesia sehat. Maka dari itu, di Hari Kesehatan Nasional ini, Pemerintah beserta jajaran mitra kesehatan melakukan gebrakan-gebrakan dengan tujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat agar mampu berperilaku hidup sehat, yang pada akhirnya dapat membentuk sumber daya manusia Indonesia yang kuat sehingga bisa menjadi pondasi bangsa Indonesia.
“Mari kita kobarkan semangat melayani, semangat menggerakkan, semangat untuk mampu menangkap aspirasi masyarakat, semangat memandirikan dan memberdayakan masyarakat dalam pencapain derajat kesehatan”,tambah Menteri Kesehatan RI, Nila Farid Moeloek, dalam sambutannya.
Kegiatan peringatan HKN-53 berlangsung dari pukul 06.00 – 10.00WIB yang dibuka dengan  melakukan senam peregangan yang dilakukan lebih dari 12 ribu peserta yang mana mendapat rekor MURI sebagai senam peregangan dengan peserta terbanyak. Senam peregangan ini sudah menjadi kegiatan rutin  di lingkungan kantor Kementerian Kesehatan, sebagai  remainder pada pukul 10.00 dan 14.00 WIB setiap harinya.
Selain senam peregangan, kegiatan ini juga diwarnai dengan berbagai acara seperti, lomba gerak jalan dan lomba foto on the spot, bazzar sayur, buah dan ikan, pemeriksaan deteksi dini faktor risiko penyakit tidak menular (PTM), karnaval dan ditutup dengan hiburan. Untuk hiburannya, HKN-53 turut serta dimeriahkan oleh Jenita Janet dan Rany D3 Academy.
Pagi berganti siang, acarapun semakin meriah. Tiba dipuncak acara yang sangat dinantikan oleh peserta karnaval , yaitu pengumuman pemenang. Aspek yang dinilai adalah kekompakan, kerapihan kreatifitas yel-yel, kostum atribut, dan atraksi sesuai dengan tema HKN. Berikut pemenang lomba karnaval (start Patung Kuda Silang Monas – Bundaran Hotel Indonesia pada pukul 06.15 WIB),

  • Juara I dengan total 13.750 diraih oleh Kementerian Pertahanan.
  • Juara II dengan total 13.380 diraih oleh BPPK Jakarta
  • Juara III dengan total 12.815 diraih oleh Lembaga Administrasi Negara (LAN)

Kemeriahan tinggallah kemeriahan. Semoga dengan adanya Peringatan Hari Kesehatan Nasional yang tiap tahunnya selalu diperingati bersama, dapat menumbuhkan kesadaran kita akan perilaku sehat. Yang bisa dimulai dari kegiatan paling kecil, yakni bangun pagi yang bisa dilanjutkan dengan berolahraga ringan seperti jogging atau senam peregangan. Dilanjutkan dengan menamkan pola hidup sehat seperti, menghindari rokok, minuman beralkohol, istirahat yang cukup, dan tentunya perbanyak mengkonsumsi sayuran dan buah.
Indonesia Sehat, Indonesia Kita.
Salam GERMAS,

Mengenal lebih dekat tentang OBESITAS

BILIK CERITA- Pada tanggal 7 November 2017, saya dan beberapa rekan dari blogger crony berkesempatan untuk menghadiri seminar‘Obesitas se-dunia’ yang diprakarsai oleh Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. Seminar yang bertajuk ‘Cegah Obesitas melalui germas’ dilaksanakan di Hotel Haris Kelapa Gading dengan mengundang beberapa blogger, media, dan tentunya pegawai dari Kementrian Kesehatan itu sendiri.
Sebelum berbicara terlalu jauh, mari kita bahas terlebih dahulu, pengertian dari obesitas itu sendiri.
Mengenal obesitas
Obesitas adalah suatu keadaan dimana terjadi penimbunan lemak yang berlebihan pada tubuh yang dapat menimbulkan resiko bagi kesehatan (WHO, 2013).
Beberapa resiko yang dapat menyerang penderita obesitas diantaranya,
  • Hipertensi & Stroke
  • Dibetes mellitus tipe 2 
  • Peyakit jantung coroner 
  • Penyakit kandung empedu 
  • Pelemakan hati 
  • Hormon reproduksi abnormal 
  • Asam urat dan Gout (pembengkakan pada sendi akibat asam urat) 
  • Penyakit kandung empedu 
  • Kanker 
Sedangkan obesitas itu terjadi disebabkan oleh kalori yang masuk lebih besar daripada kalori yang dikeluarkan dan tentunya aktifitas yang kurang. Pengen tahu lebih detailnya? Simak poin-poin berikut!
Penyebab Obesitas
Saat seminar Obesitas kemarin, Dr. Lili S. Sulistiowati, menerangkan bahwa penyebab obesitas selain karena factor genetic, psikologis, dan lingkungan, tentunya gaya hidup turut ambil serta menjadi pemicu seseorang terkena Obesitas. Seperti pola makan dan pola aktivitas.
  • Pola Makan
a)      Pola makan dalam porsi besar (berlebihan)
b)      Waktu makan tidak teratur
c)       Sering ngemil (kudapan)
d)      Makan dengan terburu-buru dalam jumlah banyak
e)      Penggabungan porsi makan (menghindari makan pagi dengan menambah porsi makan malam atau siang).
f)       Banyak mengkonsumsi makanan berminyak
g)      Kurangnya sayuran dan buah
  • Pola aktivitas
a)      Kurangnya latihan fisik
b)      Kurang gerak
Cara mengukur Obesitas
Kadang, kita salah menafsirkan antara obesitas atau kelebihan berat badan. Simak study kasus dibawah ini: 
 Petinju kelas dunia memiliki berat badan 120kg dan si B yang bekerja sebagai karyawan memiliki berat badan 80kg dengan tinggi 160m.
Kalian pasti akan menyimpulkan bahwa, kedua-duanya terkena OBESITAS. Padahal yang terkena obesitas hanya si B. karena petinju itu memiliki lemak yang cukup, air yang cukup dan massa ototnya yang berlebih.
 Massa Tubuh = Massa air + Massa lemak + Massa Otot 
 Obesitas         = Kelebihan lemak
Untuk mengetahui apakah seseorang terkena obesitas atau tidak, bisa dilakukan dengan mengukur lingkar perut lho. berikut ketentuannya,
  • Laki-laki >90 = Beresiko
  • Perempuan >80= Beresiko 
Untuk mencegah obesitas, kita dituntut untuk menanamkan pola hidup “CERDIK” yang merupakan kepanjangan dari :
C = Cek kesehatan secara rutin

E = Enyahkan asap rokok

R = Rajin aktivitas fisik

D = Diet Seimbang

I = Istirahat cukup

K = Kelola Setres.
Nah, sedangkan untuk mereka yang sudah terkena OBESITAS, berikut langkah-langkah penanggulangannya,
  •  Melakukan perubahan gaya hidup dengan cara mengatur pola makan dengan 3 kali makan utama dan 2 kali selingan. Makan utama seperti kentang rebus, jagung rebus dan lauk pauknya. Sedangkan makan selingan : Buah-buahan (tidak dijus). 
  • Untuk porsi makan yang terkena obesitas diharapkan menggunakan pola makan ‘piring T’ , dimana setengah dari piring diisi dengan sayur mayur, seperempat piring karbohidrat, dan seperempat sisanya untuk protein    Lakukan aktivitas fisik seperti berjalan kaki minimal 10 menit/hari.       
  • Lakukan pemeriksaan secara berkala 
  • Konsultasi medis untuk mendapatkan terapi lebih lanjut.
Nah, itu dia simpulan dari seminar kemarin. Untuk mengurasi resiko Obesitas, Yuk kita galakkan hidup seimbang dengan memperbaiki pola makan dan tentunya gaya hidup. Terimakasih dan salam bercerita.

Mie Ongklok Longkrang


 

Mie Ongklok Longkrang

Jalan-jalan ke Dieng, kayaknya gak lengkap kalau belum makan mie ongklok. Kamu pernah dengar apa itu mie ongklok? Mie ongklok adalah makanan khas dari daerah Wonosobo dan setahu saya, hanya ditemukan di wonosobo. Jadi, buat kamu yang ada rencana berwisata ke daerah Wonosobo, kamu wajib mencicipi mie ongklok.
Kenapa dinamakan mie ongklok? Hal ini disebabkan karena penyajian mienya yang dicampur dengan sayuran kol segar dan potongan daun kucai. Dimana kol dan kucai adalah sayuran khas Wonosobo. Sementara kuah mie ongklok begitu kental bahkan lebih kental dari kuah kari karena terbuat dari campuran saripati singkong, gula merah, dan udang kering.

Suasana Mie Ongklok Longkrang

Cara pembuatan mie ongklokpun hampir sama dengan mie ayam. Yang membedakan adalah sayuran dan mie di mie ongklok dimasukan ke gayung yang sudah berisi bumbu, lalu dicelupkan beberapa menit di air mendidih secara berulang-ulang. Nah, cara pembuatan inilah yang disebut mie ongklok.

Bagi kalian yang penasaran dengan rasa mie ongklok, kalian waijib banget mencoba mie ongklok Longklang. Terletak di Jalan Ronggolawe No. 14, Wonosobo. Kenapa harus mencoba mie ongklok longkrang? Memang warung mie ongklok banyak sekali kita jumpai sepanjang jalan di daerah Wonosobo. Namun, mie Ongklok Lokrang memiliki karakteristik berbeda dengan mie ongklok kebanyakan. Selain sudah melegendaris, karena sudah menjadi turun temurun sejak tahun 1976, Mie ongkrok Longkrang memang memiliki rasa yang tiada dua.
Nomor Antrian Mie Ongklok Longkrang

“Saya kurang suka sama mie ongklok tapi pas nyoba mie ongkrok longkrang, rasanya lebih nyata. Kuahnya enak banget bikin nagih”, tutur Hari Misbah seusai menyeruput kuah mie sampai tandas.

Mie ongklok longkrang buka setiap hari mulai pukul 10 pagi sampai 7 malam. Untuk harga mie ongklok longkrang sendiri sangatlah terjangkau. Cukup dengan Rp. 8000-, kamu sudah bisa menikmati kelezatan mie ongklok longkrang. Sedangkan  harga satenya Rp. 11.000/5 tusuk. Gimana murahkan?
Meu di Mie Ongklok Longkrang
Suasana mie ongklok longkrang tak pernah sepi pengunjung. Jika kamu berniat mencicipi kelezatan mie ongklok longkrang, disarankan untuk datang lebih pagi. Disana, kamu akan mendapat nomor antrian. Tapi jangan khawatir, sekalipun nomor yang tertera bukan nomor hoki (read: diatas angka 20), kamu bisa menungu dengan santai sambil mengobrol ringan dengan kawan. Berdoa saja semoga masih ada tempat duduk yang tersisa.
Gimana ? Tertarik menikmati lezatnya kuah mie ongklok longkrang? Catat alamatnya atau aktifkan paket internet XL kamu, dan ikuti maps dibawah ini! 

Jangan lupa bawa gandengan ya! 

Perjalanan menjemput Golden Sunrise, Sikunir


 Bagiku, yang terpenting dari sebuah perjalanan bukan tentang secepat apa kita sampai. Tapi, seberapa banyak pelajaran dan tentunya dimana kita pada akhirnya  ‘sampai’. ditujuan itu atau mungkin berputar arah sebelum sampai pada tujuan itu sendiri.
Sudah lama, begitu lama dan begitu banyak rencana perjalanan yang hanya cukup berakhir sebagai wacana. Tak pernah jadi nyata, muluknya sampai bisa mejeng di rekaman memory. Tapi, entah kemarin itu faktor lucky atau memang sudah waktunya kaki ini menginjak satu destinasi yang dulu hanya mampir di alam mimpi.
Perjalanan ini bermula dari rasa jenuh yang tak kunjung mereda, malah makin terasa sampai sesak di dada, lagi dan lagi. Awalnya sempat kuberi nama perjalanan ini sebagai “pelarian”, Namun pantaskah disebut pelarian jika pada akhirnya aku ingin menjadikan pelarian itu tempat pulang? Skip for this statement.  
Bisa dibilang, perjalanan ke Dieng adalah sebuah perjalanan yang tak disengaja. Karena awalnya aku lebih memilih mengunjungi Malang daripada Dieng karena penasaran dengan kampung wisata disana. Sebenernya ini merupakan aksi nekat juga sih, karena awalnya aku ingin solo backpacker. Tapi, saat aku cek tiket kereta Malang untuk keberangkatan 11 Agustus 2017, kemarin, ternyata sudah sold. Mungkin alam belum memberi restu perempuan yang hanya modal nekat ini sok-sokan solo backpack. 
Nah, karena aksi nekat solo backpacker gak bertahan lama, akhirnya aku mengajak satu partner buat nemenin lari dari Jakarta sejenak. Dia adalah Rizka Wulandari, founder hijabransel.com. Bermula dengan ajakan singkat di whatsapp.
 “Ceu.. Liburan yuk!” 
“Yuk, Kemana?” 
“Jogja.”
Ketika aku butuh piknik, layar laptop semua terlihat seperti ini ;p

Awalnya, aku memilih Jogja sebagai destinasi cadangan setelah Malang. Namun, emang belum jodohnya buat kesana, setelah menemukan kawanpun, ternyata harga tiket gak sesuai budget banget. Jogja? lewat. Ngobrol ngalor ngidul, dan tiba-tiba tercetuslah destinasi final yaitu ‘Sunrise di Sikunir, Dieng Wonosobo’.
Dari mulai pemesanan tiket kereta, jadwal yang cocok, dan teman yang siap sedia mengantar, cukup membuat matang perjalanan kali ini. 
Menuju Dieng dengan berteman Kabut dan Gerimis
“Berapa jam lagi sampai Dieng?” Tanyaku di alun-alun Barjarnegara sambil menikmati teh hangat warung kaki lima.
“Target jam 8 sampe”.
“Tapi tau jalankan, Ri?” Aku bertanya entah keberapa kalinya. Selain karena  ini perjalanan malam, aku ingin memastikan temanku benar-benar ‘sadar’ dengan keadaan jalan di malam hari.
“Shin.. buka maps, bisik salah”. (bisik salah=takut salah bhs.sunda)
Untungnya sekalipun di daerah perbukitan, signal XL tetep konsisten. Dengan berbekal maps di tangan, kamipun melajukan motor kami membelah jalanan Barjarnegara menuju Dieng. 
Pelan tapi pasti, langit mulai menampakan awan hitam bertanda akan turun hujan. Semakin malam, udara dingin semakin menembus pori-pori. Tepat pukul 19.00, perjalanan kamipun ditemani gerimis yang kian membesar. 
“Lanjut, kuatkan?”
“Kuat”. 
Dan akhirnya, kami mengabaikan gerimis yang pelan-pelan menjadi hujan. Memasuki daerah Wonosobo hujan reda, berganti dengan kabut pekat yang menghalangi pandangan. Jarak pandangan hanya sepelemparan batu. Belum lagi sepanjang jalan yang kami tempuh sangat-sangat minim penerangan. Semakin ke atas, semakin dingin, aku mulai merasa menggigil. Jalanan yang lengang tidak membuat kita memacu kendaraan dengan kecepatan tinggi. Sadar rute disini sangat berbahaya, selain jalanan berkelok, naik dan turun, minim penerangan juga kabut yang semakin pekat, membuat kami hanya mengandalkan penerangan dari lampu motor. 
“ternyata purwokerto-Dieng itu jauh”. Batinku yang mulai merasakan pegal. 
Rizka dan Ino terus mengekor di belakang. Entah apa yang mereka bicarakan agar tetap fokus dengan situasi jalan. Yang jelas aku sudah sangat-sangat mengantuk. 
Selain karena hawa dingin yang sudah mulai masuk ke pori-pori dan daya ‘melek’ mata yang tinggal bersisa beberapa watt karena selama diperjalanan Jakarta-Purwokerto aku hanya bisa tidur 2 jam, alhasil saat menuju dieng dengan cuaca mendukung buat tidur bener-bener membuatku pengen cepet-cepet berselimut manja di guest house
Karena telat turun dari Curug Jenggala, membuat kami harus menempuh perjalanan malam menuju Guest House terdekat dengan Sikunir. Ya, sesampaikannya  di Purwokerto pagi tadi, aku dan Rizka diboyong untuk menikmati pesono Curug Jenggala. Merasa dinina bobokan dengan suara alam ketika air jatuh ke permukaan bumi, kami baru meninggalkan lokasi Curug Jenggala selepas ashar.
Setelah melewati gelap dan gelap, bahkan hanya beberapa kendaran saja yang lewat, atau kadang tersisa hanya dua motor kami yang terus melaju menembus malam yang semakin naik keperaduan.
Segala macam lagu sudah aku nyanyikan, selain agar tetap terjaga, lumayan juga buat hiburan. Dari mulai lagu barat tahun 90’an, lagu pop indo tahun 90’an, lagu sunda, lagu dangdut, sampai keroncong, turut serta mewarnai perjalanan kali ini. Sekalipun suaraku semakin gak karuan, yang penting intinya jangan diem. Tak apalah, kerjaku selama perjalanan hanya bernyanyi, itung-itung timbal balik dengan temenku yang bersedia mengantarku.
Akhirnya, lampu-lampu rumah warga mulai tertangkap mata. Sebentar lagi memasuki kawasan rumah warga. Sesampainya disana, ku tengok kanan-dan kiri mencari penginapan yang kira-kira cocok di kantong. Satu kali turun, nego, dan gagal, beranjak lagi ke lokasi kedua. Alhamdulillah, harganya lumayan oke. Akhirnya kami sepakat bermalam disini. Cukup murah, untuk dua kamar tidur seharga 250rb.

Sungguh lelah hari ini, membuat kami menarik selimut lebih cepat. Siapkan stamina buat besok menuju Golden Sunrise Sikunir.
Ketika Semua diluar prediksi
Rencana tinggalah rencana, kalo ternyata drama lebih banyak mengambil makna, maka kita harus menjadi pemain yang tetap harus menikmati segala perannya.

“Pak, sekang kene teng sikunir pirang menit?”

“15 menit”
Kami sudah terbangun dari jam 4 subuh. Siap-siap segala perlengkapan untuk menuju Sikunir. Selesai sekitar 4.30, Harry dan Ino dengan sigap memanaskan motor. Sengaja berangkat lebih awal, takut-takut dengan segala kemungkinan terjadi, kita tak pernah tau apa yang akan terjadi sebelum benar-benar terjadi
“Kita subuhan di sana?” Tanyaku sambil menenteng ransel yang berisi air minum, alat sholat, sarung tangan dan kain kemul takut-takut disana lebih dingin dari pada perjalanan tadi malam.
“Iya disana aja”.
Baru juga mau melangkahkan kaki, suara adzan di Masjid sebrang berkumandang nyaring. Akhirnya, kami memutuskan untuk lebih mendahulukan kewajiban kami sebagai muslim. Aku dan rizka masuk kembali ke penginapan, sementara kedua temanku (Ino dan Harry) berlalu ke Mesjid Sebrang.
Harry dan Ino baru kembali dari Masjid sekitar pukul 5.00 pagi. Aku dan Rizka sudah siap nangkring di jok motor. Lagi-lagi drama kedua muncul.
“Gaes.. perut gue melilit. Pengen toilet dulu”. Rizka lari terbirit-birit kembali masuk ke penginapan.
Tik tok tik tok. Detik berganti menit, jam di pergelangan tangan sudah menunjukan pukul 5.15.
Setelah rizka meminta maaf dengan dramanya, kamipun melaju dengan kecepatan yang lumayan demi mengejar sunrise di pukul 05.46.
Ku fikir, dramanya cukup sampai perut yang sembelit. Ternyata di tengah jalan, karena minim petunjuk arah, kamipun salah memilih arah menuju Sikunir. Ada sekitar 7 menit waktu terbuang sia-sia. 
Waktu terus bergerak maju, semburat sinar merah keemasan mulai muncul dari ufuk timur menyibak gelapnya malam. Malam sudah berganti pagi, dan kami terpaksa menikmati sunrise di atas jok motor dengan harapan masih tersisa beberapa derajat sebelum benar-benar matahari naik.

Sikunir Golden Sunrise
Kau tahu apa hikmah dari menikmati sunrise sebegininya? Apalah bedanya dengan sunrise yang kita nikmati di balik jendela kamar? Yang aku tahu, sunrise yang didatangi dengan sebegininya adalah tanda wujud akan rasa syukur kita, karena Allah senantiasa memberi lembaran baru. Dan lembaran itu perlu dijemput dengan kerja keras, niat yang kuat agar lembarannya bisa terbuka dengan sempurna. Seperti runrise yang sempurna jika dinikmati di tempat yang tepat, disini. Bersama nyanyian alam, dan mata menerawang menangkap banyak ciptaan Sang Maha Besar.
Ternyata, pesona Sikunir tak hilang meskipun matahari sudah seperempat naik. Sekalipun kami baru sampai puncak sikunir pukul 06:20, aku tetap bisa merekam sisa-sisa euphoria dan rasa syukur mereka disini.
Akhirnya, aku sampai disini. Mungkin dimata mereka, aku gagal menikmati sunrise. Tapi bagiku sendiri, aku tetap  menang. Karena bagiku, kemenangan sebuah perjalana  bukan tentang secepat apa kita sampai, tapi tentang dimana kita sampai dan bagaimana kita bisa sampai. Dan aku cukup bangga dan senang bisa berdiri disini. Karena ini adalah tujuan awal, tidak patah harap apalagi sampai berputar arah. Saat ini, Minggu, 13 Agustus 2017 bersama Rizka, Harry dan Ino, mengabadikan ciptaannya, mengkristalkan perjalanannya.  Terimakasih.

Sekian cerita perjalanan menjemput Golden Sunrise Sikunir. Untuk review Sikunir Golden Sunrise yang lebih lengkap, insyaallah akan aku post nanti berikut tracking, tiket masuk, dan info-info lainnya.
Salam..

Bukan pemburu memory, hanya penikmat proses 🙂

Yuk, jadilah bagian ‘Indonesia Berqurban’ di ACT-Global Qurban!


Indonesia Berqurban


Seperti yang tekah kita pelajari sejak di bangku Sekolah Dasar, berqurban adalah serangkaian ibadah umat muslim dengan tujuan lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan jalan menyembelih hewan qurban berupa sapi, kambing, kerbau, atau unta sesuai dengan syariat-syariat islam
.

Ibadah Qurban disyariatkan merupakan bentuk pengorbanan dan rasa syukur hamba beriman kepada Sang Pencipta. Sejarah berqurban pertama kali ada pada jaman Nabi Ibrahim AS, dimana Al-Qur’an pun menceritakan bahwa pada masanya, Nabi Ibrahim AS pernah diperintahkan Allah SWT untuk menyembelih putranya yakni Nabi Ismail AS. Namun firman Allah turun, yang dimana Nabi Ibrahim AS diminta mengganti putranya dengan hewan qurban. 

Jika dilihat dari hukum pengerjaannya, hukum berqurban adalah sunnah muakad. Artinya adalah sunah yang sangat dianjurkan untuk dikerjaan dan tidak bisa diwakilkan.

Kurban, Bahagiakan Warga Priangan Timur
Melaksanakan perintah Allah merupakan keinginan bagi setiap muslim yang beriman. Begitupun dengan berqurban, setiap muslim pasti memiliki keinginan untuk berqurban. Namun, terkadang keinginan itu terhalang oleh beberapa situasi dan kondisi. Salah satunya perihal harga hewan kurban yang mengalami kenaikan signifikan saat mendekati Hari Raya Idul Kurban (Adha). Sangat disayangkan jika niat mulia harus terpending atau bahkan gagal karena keadaan ini. Nah, karena inilah, Aksi Cepat Tanggap hadir membawa berita gembira melalui programnya yaitu Global Qurban yang diharapkan dapat memudahkan dan melancarkan semua itikad baik dari setiap orang yang hendak berkurban. 
Aksi Cepat Tanggap – Global Qurban

Sebelum berbicara lebih jauh, mari kita kenali dahulu apa itu Global Qurban. Global Qurban adalah salah satu campaign yang didirikan oleh forum Aksi Cepat Tanggap (ACT) yang menjadi ikon kepedulian muslim kepada dunia melalui ibadah berqurban.

Global Qurban juga berperan sebagai penyalur amanah bagi mereka yang ingin berkurban. Karena penyaluran dan pendistribusian hewan qurban dari ACT-Global Qurban merambah hingga 27 negara distribusi, termasuk wilayah-wilayah yang terkena bencana, wilayah miskin yang rentan kelaparan, dan wilayah-wilayah yang sedang rentan konflik seperti  Palestina, Suriah, Somalia, Afrika Tengah, Yordania, Afrika Tengah, Myanmar, Filipina, Laos, Vietnam, Bangladesh, Kamerun, Srilanka, Thailand, Kamboja, Timor Leste, Tiongkok, dll. Hal inilah yang menyebabkan Global Qurban merupakan wadah yang pas untuk mengantar amanah Anda.

Peta Distribusi Hewan Qurban di ACT-Global Qurban

Kelebihan Global Qurban

Seperti yang telah saya sampaikan diawal, bahwa Aksi Cepat Tanggap membawa kabar gembira bagi Anda yang ingin berkurban melalui program yang bernama ‘Global Qurban’ yakni, cukup dengan menyisihkan uang sebanyak Rp. 1.750.000- Anda sudah bisa berkurban di Global Qurban.  Jelas lebih murah daripada saat Anda berqurban secara konvensional. 

Selain harganya yang murah, Global Qurban juga memiliki Tabungan Qurban yang fleksibel dimana pequrban bisa mengatur besaran dan waktunya. Bagi Anda yang senang  berbelanja atau yang kebetulan sedang berbelanja online, Anda dapat berkurban dengan mudah melalui www.bukalapak.com atau globalqurban.com. Ikuti 3 langkah didalamnya, maka pekurban sudah terdaftar secara resmi sebagai peserta global Qurban.

   
Nah, setelah membahas tentang kelebihan dari Global Qurban, Anda pasti bertanya-tanya,Mengapa berqurban bisa semurah itu? Jawabannya adalah Karena ACT-Global Qurban menawarkan pemesanan hewan qurban di awal waktu melalui program QURBAN PROGRESSIF. Sedangkan untuk hewan Qurbannya sendiri merupakan hasil perdayaan masyarakat melalui program LUMBUNG TERNAK MASYARAKAT yang telah berjalan sejak tahun 2007 di berbagai daerah nusantara. Lambung Ternak Masyarakat yang telah banyak berperan dalam program ACT-Global Qurban adalah LTM Blora Jawa Tengah, LTM Yogyakarta, LTM Bojonegoro Jawa Timur, LTM Tasikmalaya Jawa Barat, dan LTM Nusa Tenggara Barat.

Jadi, sudah jelas bahwa program Global Qurban merupakan program yang sudah banyak memberi benefit bagi masyarakat secara global. Selain itu ibadah qurbannya lebih terencana, pequrban juga turut memberdayakan dan meningkatkan taraf hidup masyarakat khususnya masyarakat peternak yang membutuhkan. 
Bagi Anda yang ingin berqurban melalui Program Global Qurban, daftarkan Diri Anda segera di BNI Syariah (52 outlet/kantor cabang, capem dan Kantor Kas di Jabodetabek) dan Bank Muamalat Cabang Fatmawati ( dengan 7 capem dan KK : Capem Cirendeu,Cilandak, Bona, UIN, Cinere serta Kantor Kas Masjid Pondok Indah dan PB Sudirman) melalui program TABUNGAN QURBAN.

Untuk informasi lebih lanjut, Anda bisa kunjungi website resmi ACT-Global Qurban di https://www.globalqurban.com/
Tunggu apalagi, daftarkan diri anda segera dan jadilah bagian dari Indonesia Berqurban di ACT-Global Qurban!


[REVIEW] Nongkrong di MiABi ditemani semangkuk Mie

Berbicara tentang tempat tongkrongan di Jakarta, emang gak ada habis-habisnya. Dari mulai kawasan elit seperti Kemang dan Dharmawangsa, sampai Ciputat daerah perbatasan Jakarta dan Tanggerang, warung tongkrongan sudah gampang banget Kita temukan.  Mulai dari warung tongkrongan yang didesain nyentrik sampai minimalis, bisa Kamu nikmati di Jakarta.

Nah, buat Kamu yang ingin mencoba suasana baru atau ingin melipir dari warung-warung tongrongan di Jakarta, Kamu perlu menjajaki satu tempat tongkrongan di Daerah Bintaro Sektor 9. Tepatnya di Jl. Maleo Raya Blok Je 5 No. 56, Bintaro Sektor 9, Pd. Pucung, Pd. Aren, Kota Tangerang Selatan, Banten.  Disana Kamu akan menemukan sebuah warung mie pinggir jalan dengan nama MiABi a.k.a Mie Ayama Bintaro. Lokasinya berdekatan dengan Masjid Bintaro Jaya Sektor 9, atau berdekatan dengan Puri Bintaro.

Mie Ayam Bintaro

Seperti warung mie dikebanyakan tempat, MiABi-pun menjadikan Mie Ayam sebagai menu utama. Buat Kamu yang demen banget makan mie, Kamu perlu datang ke MiAbi. Selain kualitas mienya yang diproduksi sendiri tanpa bahan pengawet, Mie Ayam di MiABi pun disajikan dalam banyak varian, seperti :

1.      Mie Ayam Original
2.      Mie Ayam Bakso
3.      Mie Ayam Pangsit Goreng
4.      Mie Ayam Komplit
5.      Mie Ayam Yamin ( manis/pedas)
6.      Mie Ayam Yamin Bakso ( manis/pedas)
7.      Mie Ayam Yamin Pangsit ( manis/pedas)
8.      Mie Ayam Yamin Komplit ( manis/pedas)
9.      Mie Ayam Tauge
10.  Mie Ayam Tauge Bakso
11.  Mie Ayam Tauge Komplit
12. Mie Goreng Ayam


Harga Mie di MiABi hanya dibandrol sekitar  16K – 28K untuk menu Mie Ayam komplitnya. Cocok banget untuk kantong mahasiswa atau anak anak rantau  ditanggal tua. Gimana dari harga sudah pasti tergiur kan ?

Mie Goreng Ayam 

Nah, Kemarin Saya dan beberapa teman dari Blogger Jakarta (Om Stem, Mas Angga, Mas Robit, Mba Monica, Mas punto, Iput, dan windy ) berkesempatan untuk nongkrong-nongkrong cantik di MiABi sekalian mencicipi menu-menu andalan dari Warung ini. Dari awal Saya tiba di MiABi, gambar menu Mie Goreng Ayam yang dipajang di bagian dalam warung begitu menggugah selera. Potongan ayamnya yang terlihat jelas dengan warna kuning kecoklatan karena bercampur dengan bumbu mie, semakin membuat lidah bergoyang. Begitupun dengan timun, tomat, dan selada yang makin mempercantik tampilan  dari Mie Goreng Ayam. Tanpa fikir panjang, Saya langsung memesan satu porsi Mie Goreng Ayam lengkap dengan telor mata sapinya.

Mie Goreng Ayam

Setelah menunggu beberapa saat, pesananpun datang. Dan benar saja, rasa mienya yang lembut karena hasil olahan sendiri langsung terasa pada kunyahan pertama. Gurihnya ayam yang menyatu dengan bumbu dipadukan dengan potongan sayuran membuat lidah makin menikmati setiap kecap rasa. Jika kalian penggila pedas seperti Saya, Kalian bisa menambahkan saus cabe lengkap dengan acar di atas Mie Goreng Ayam, lalu aduk sausnya hingga merata dengan mie dan bumbunya. Saran Saya, agar dapat menikmati sensasi pedasnya lebih nendang, mohon untuk disantap saat masih hangat. Hm, Makin Kumplit rasanya. Ada rasa pedas yang pecah di mulut, gurih, manis, asam. Aah… Recommended banget pokoknya.

Dolce Vanilla Latte
IDR 12K

Selain Mie Ayam, Warung MiABi juga menawarkan menu coffee andalan seperti vietnam drip, Espresso, Cappucino, Dolce Vanila Latte yang dicampur dengan iced. Nah, Kemarin berhubung cuaca lagi panas, Saya ingin mencicipi kesegaran Dolce Vanilla Latte. Cukup menunggu beberapa saat, Dolce Vanilla Lattepun terhidang didepan mata. Yey !

Pada tegukan pertama dolce Vanilla Latte, lidahmu akan bertemu dengan rasa manis berkat sentuhan susu didalamnya. Tapi rasa manis lattenya tidak menutupi rasa khas dari kopinya. Jadi, Kamu tetap bisa menikmati esensi minum kopi dingin dalam balutan rasa manis. Kebayangkan manisnya susu bertemu dengan dinginnya iced. Ah makin membuat tenggorokan segar, sesegar abis mutusin do’i yang doyan selingkuh. *eh

Selain Mie Ayam dan Kopi, Warung MiABi juga menyediakan menu lain seperti Empek-empek lenggang dan Terong tepung Penyet.

Terong Tepung Penyet
IDR 15K


Empek-Empek Lenggang
IDR 25K


Gimana ? Kamu tertarik mencicipi menu dari Mie Ayam Bintaro ? langsung aja yuk ajak temen-temen kamu, pacar kamu, gebetan kamu ataupun selingkuhan Kamu nongkrong cantik di MiABi sekalian nyobain menu rekomendasi dari Saya. Yuk merapat kesini !

LOKASI MIE AYAM BINTARO !

Semua foto yang digunakan disini, adalah hasil jepretan dari om stembaya dan melalui proses editing Saya sendiri😁

Terimakasih,

Salam foodblogger 🙇

Nasi Goreng ‘JUNET’ ganjel yang pas untuk perut keroncongan.


        Kalo ngomongin  tentang makanan, setiap orang punya favoritenya masing-masing. Tiap lidah punya selera berbeda. Cocok bagi lidah Saya, belum tentu cocok buat Kalian. Tapi kali ini ijinkan Saya mencoba mereview satu makanan yang sering banget Saya santap untuk ganjel perut lapar dalam jangka waktu yang lama di malam hari. Namanya Nasi Goreng Kornet Keju (Junet) Roti Bakar Wiwied. Sebelum kenalan dengan menu andalan Saya, Kalian perlu tahu dulu tentang Warung Roti Bakar Wiwied.

         Roti Bakar Wiwied adalah salah satu tempat makan yang tak pernah sepi pegunjung. Terletak di bilangan Fatmawati Jakarta selatan. Tepatnya di Jl. RS. Fatmawati no. 40. RT.3/RW 5. Cilandak Barat. Buka dari jam 5 sore sampai 2 dini hari. Roti Bakar Wiwied menyajikan beberapa menu makan malam seperti roti bakar, pisang bakar, indomie, nasi goreng, bubur ayam, dan siomay.  Untuk masalah harga jangan khawatir, dengan 50rb kalian bisa traktir satu teman kalian atau gebetan kalian buat makan disini. Ramah banget kan buat kantong anak-anak kost ?

Nah ini dia Menu di Roti Bakar Wiwied Fatmawati.

           Menu yang paling Saya suka disini adalah Nasi goreng Junet (Keju kornet). Memang Nasi Goreng junet mudah kita temukan di tempat makan lain. Sudah banyak tempat makan yang buka  malam hari semacam warung kaki lima yang menyediakan menu ini, tapi kenapa saya terpikat banget sama Nasi goreng Junet buatan Wiwied disini, alasannya adalah…. Cekidooot ! !

1. Rasa
         Roti Bakar Wiwied merupakan tempat makan yang mengandung unsur “no msg”. Ya, makanan disini tidak menggunakan msg. Saya termasuk orang yang menghindari kadar msg berlebihan, bukan berarti anti, tapi kalo bisa ya dihindari. Makanya Saya lebih sering memilih masak sendiri. Selain biar hemat, Saya juga bisa mengatur bumbu dan sedikit mengurasi kadar msg di masakan sehari-hari.
          Sejak tinggal di Fatmawati kira-kira 5 tahun yang lalu, Saya sudah jatuh hati dengan cita rasa yang ditawarkan Wiwied. Rasanya yang tidak begitu gurih, aromanya tidak begitu kuat, dan khusus untuk nasi goreng kornet keju,  rasa kornet sapinya bener-bener natural banget. Kejunyapun pas banget, tidak terlalu asin tapi tidak menyebabkan ‘eneg’ ketika disantap dalam porsi besar.
          Selain itu acarnya juga seger banget, gak kecut, sayurannya tetep seger. Jadi kalo disantap tetep ada ‘kres-kresnya’.
 2.Tempat 

  

         Roti Bakar Wiwied, tempatnya didesain sederhana seperti warung tenda kebanyakan. Tapi bedanya ada tempat makan berupa ruko untuk menampung pembeli dengan tempat duduk yang terbatas. Jika kalian ingin dapat tempat duduk, usahakan jangan datang malam-malamnya. Soalnya disini, semakin malam suanana semakin ramai. Dan tidak akan heran jika pada akhirnya banyak menemukan orang yang terpaksa memilih makan di dalam mobil atau di emperan kios sebelah. Di dalem Full brooh !

          Suasana yang ditawarkan disini adalah suasana yang hangat dan akrab. Kesan ramainya dapet banget. Selain berasal dari lalu lintas fatmawati yang gak pernah mati, kesan ramaipun berasal dari anak-anak belia yang menghabiskan sepenggal malamnya untuk berbincang-bincang hangat atau sekedar menghilangkan suntuk. Kadang adapula musisi jalanan yang menyumbangkan suaranya disini, menjadi backsound setiap percakapan atau setiap santap malam para pengunjung. Masalah kualitas musisinya juga patut diacungi jempol. Kita juga boleh request lagu apa yang hendak dinyanyikan. Hm, menambah kesan hangat bangetkan. 
3. Porsinya
           Nasi goreng kornet keju di Wiwied dibandrol dengan harga Rp.29.000/porsi. Perporsi bisa untuk porsi makan berdua. Cocok banget buat bekal anak kost yang ingin begadang semalaman. Saya biasa mampir kesini dalam keadaan perut yang benar-benar lapar atau membutuhkan makanan yang bisa bertahan lama. Contohnya jika besok mau puasa, tak jarang saya menjadikan menu nasgor kornet keju ini menu andalan untuk santap sahur. Selain porsinya yang pasti bisa bertahan lama, harganyapun gak begitu mahal. Atau posisi pulang kerja dengan perut keroncongan seperti malam ini. Nasi Goreng Junet bener-bener nendang banget.
 
           Nah, Karena malam ini Saya datang di waktu yang sudah cukup malam dan posisinya sendirian, jadi Saya memilih untuk menikmatinya di rumah. Dibungkus atau dinikmati langsung di lokasi, Porsinya tetep banyak. Tetep bisa dinikmati berdua.
Porsi Nasi Goreng Junet Take-away
         For your Information, Jangan heran jika kalian memesan makanan disini, pelayan tidak mencatat pesanan kalian. Tapi jangan khawatir, pelayan disini bisa mengingat detail pesanan Kalian kok.

            Ketika ngomong tentang tempat nongkrong, pasti idealnya ada fasilitas Wifi gratisnya. Nah, kebetulan, Saya kurang tahu apakah Wiwied menyediakan fasilitas ini atau tidak. Tapi sepanjang pengalaman, Saya tidak pernah mendengar kata wifi disini. Dan salahnya lagi, Saya tidak bertanya. Saya sudah terlanjur nyaman-nyaman aja tuh hidup tanpa wifi. Kenapa ? karena Saya punya kuota XL yang cukup banyak. Koneksinyapun gesit banget. Jadi kalo lagi bener-bener suntuk di Kost sendirian dan pengen nyari angin segar, Cukup berkekal gadget, powerbank, dan kuota XL yang cukup, Saya nekad Jalan sendiri dan menghabiskan waktu malam dengan menyantap pisang bakar keju disini jika datang dalam keadaan kenyang, dan nasi goreng junet jika dalam keadaan lapar. Posisinya yang sangat dekat dengan kost saya, membuat saya semakin sering menyambangi tempat ini. Cukup melangkahkan kaki sekitar 30 langkah, sudah sampai dan disambut keramaian Wiwied.

Nah, itu dia review tentang nasi goreng junet kesukaan saya. Kalian mau coba juga, langsung datang aja yuk !

Hati-hati sama Jempol !

https://www.youtube.com/watch?v=G7bmRiolA5I
JEMPOLMU, IDENTITASMU !

“Hati-hati sama jempol”. Posisinya masih sama duduk didepanku, tangannya bersidakep, dan bibirnya tersenyum jahil. Temanku yang satu ini suka memulai omongan berat dengan sunggingan senyum khasnya. Senyum khas anak SMA yang masih doyan ngeledek teman sebangku pake nama Ayah.

“Eh,Maksudnya?” sontak Aku bertanya. Temannya yang kala itu sedang mengaduk kopi langsung terhenti dan langsung menatapnya. Begitupun Aku yang sedari tadi asyik membuka feeds instagram langsung menghentikan aktivitas.
“Iya jempol Kamu. Jangan sampe orang salah menilai Kamu hanya karena jempol Kamu itu”. Aku masih tak faham dengan maksudnya. Dan Diapun berceloteh panjang menjelaskan.

         Jempol. Sebagai user dunia maya, kita  pasti mengerti bahwa “jempol” bertebaran sebagai tanda suka terhadap sebuah postingan yang dibuat oranglain. Entah itu jempol bertebaran atas dasar memang kita menyukai postingan tersebut, atau sebagai ajang penghargaan karena kita mengenal orang yang mempostingnya. Temanku bilang, bahwa setiap gerak-gerik Kita bisa mencatat satu nilai diri. Saat jempol kita bertebaran pada yang bukan seharusnya, maka khalayakpun dibuat tahu bahwa Kita penggemar hal-hal seperti itu. 
             Sebut saja saat Kita doyan menyukai postingan-postingan quote pernikahan, maka akan ada segerombolan orang yang berpendapat bahwa Kita lagi ngebet banget nikah. Saat kita rajin menyukai postingan tentang kesedihan atau kegalauan, maka akan ada segerombolan orang yang melabeli kita barisan orang-orang galau. Memiliki rasa yang sama seperti isi postingan tersebut. Dan bagaimana jika Kita doyan menyukai gambar-gambar tidak senonoh di sosmed ? Atau bagaimana jika jempol kita sering nyangkut di akun-akun 18+ ? Tanpa Aku jelaskan, Kamu pasti bisa mengerti apa yang akan orang lain fikirkan tentan itu.
               Memang, apapun yang Kita lakukan baik dan buruk akan selalu  ada komentar miring. Tapi selagi Kita bisa mencegah, why not ?
“Emang Kamu gak gerah kalo misal nih Kamu niat diseriusin sama orang tapi misal orang itu masih demen banget like foto-foto selfie cewek atau lebih parah foto sexy. Gimana ?”

            And then, Aku sepimikiran sama temanku. Saat kita ingin dijaga perasaannya, ingin dijaga pandangannya, Maka hal pertama yang harus Kita lakukan adalah memulai yang Kita inginkan itu pada diri kita.
            Dan setelah percakapan itu berakhir, Aku mendapat pelajaran berharga. Jaga jempolmu biar kelak jempolnyapun dijaga buat menghargai posisimu. Mungkin banyak orang yang akan bilang ini berlebihan. Tapi bagi diriku sendiri, membangun personal branding itu penting. Dan aku tidak ingin dikenali dengan hal-hal negative yang menempel pada diriku.
Ngelike boleh, jempol berkeliaran boleh, asal tau mana yang perlu diberi jempol dan mana yang cukup diabaikan.
Mengenai inipun berlanjut pada chat malam hari dengan temanku lagi.
“Shin.. Masa Aku liat doi suka ngelike’in foto begituan. Padahal Do’i kan. Ah you know lah ya. Apa karena posisi udah married ya shin”.

Intinya sih, Selagi kita bisa membuat hal-hal yang baik-baik biar dikenali baik dan siapa tau didekaki orang baik, Kenapa harus acuh tak acuh tentang ini ?
Ini bukan tentang ‘Be Your Self’, karena ‘Be Your Self’ yang baik harus di ikuti dengan ‘Ya, Aku begini tapi aku akan berusaha untuk menghilangkan sifat burukku minimalnya diminalisir agar kelak menuju baik’.

Cukup sampe disini sharing nya, Semoga bermanfaat. See you~~

Berawal dari Malam yang tanpa Wacana !

Setiap pertemuan pasti ada maksud tertentu. Entah itu berupa faedah atau mudarat, tergantung bagaimana kita meracik pertemuan itu.Jadi racunkah, atau jadi obatkah ? Setiap pertemuan itu menghasilkan peristiwa yang akan berkaitan dengan peristiwa lainnya, membentuk sebab akibat yang menentukan bagaimana kita kemudian. 
 Cerita ini bermula dari ajakan teman lama untuk ngumpul bareng di filosofi Kopi Melawai, berlanjut ke Gulai Tikungan Belakang Mall Blok M Plaza dan berhenti di Tenggo Food Street Pondok Indah. Pertama kali kumpul, langsung 3 destinasi.
Awalnya Aku agak ragu menerima ajakan dari Meila kala itu. Selain ini acara dadakan, kebetulan bebarengan dengan ritual malam Mingguku yang diisi dengan nonton Thai Movies sampe tengah malam. Menonton Thai Movies bagiku adalah refreshing jangka pendek yang lumayan bisa memperbaiki mood sepulang kantor di Hari Sabtu (Catet ! sabtu masih ngantor ). Ceritanya yang lucu penuh komedi yang disajikan dalam drama sederhana namun dibungkus dengan apik, mampu membuat Thai Movies menjadi tontonan wajib setiap sabtu malam. Setiap orang pasti punya jalan masing-masing untuk menghilangkan setres kan ? Nah buat Aku pribadi nonton drama Thailand adalah obat mujarab buat memperbaiki mood.
Untuk kali itu, aku mengikhlaskan beberapa film yang baru di download siang tadi dengan lancarnya berkat XL di situs lk21 seperti fabulous 30, One day, Back to the 90s, cat a waab,  yang  di pending sampai minggu malam. Download film sebanyak itu kuota apa kabar ? Alhamdulillah kuota Aku baik-baik aja tuh sekalipun sering banget download film kapasitas besar. XL emang provider yang paling mengerti Kami barisan tukang download film.
 Dengan perasaan setengah hati akhirnya Aku bergabung bersama Meila, Dinda, Idan, dan Singgih malam itu. Selain karena Thai movies yang aku tinggalkan, Akupun enggak begitu dekat dengan Mei, Dinda, dan Idan. Lain halnya sama Singgih yang sudah beberapa kali hangout bareng Aku, Tika, dan Haris.Tapi atas dorongan rasa gak enak karena Aku sudah berkali-kali menolak ajakan kumpul dari Mereka, Akhirnya malam itu, Aku bisa mendorong tubuh ini bergabung bersama Mereka.
Malam itu suasana mendukung banget buat yang mau jalan-jalan keluar. Angin bertiup sepoi-sepoi, rasi bintang Orion di sebelah barat  jelas terlihat dengan mata telanjang. Ya, malam itu Tuhan memberikan jatah langit cerahnya pada Kami. Padahal jujur Aku ngarepnya Hujan biar bisa jadi alasan mangkir.
Aku termasuk orang yang susah nerima orang baru, dan gak banyak ngomong kalo belum kenal dekat. Jadi berasa di dalam jaring aja kalo lagi sama orang-orang yang belum begitu deket. Tapi, gimana mau deket, kalo Aku sendirinya juga menutup diri. Yasudahlah… akhirnya Aku bergabung dengan Mereka seusai magrib. 

“Ih shinta mah sombong asli, susah banget diajak kumpul”. Celetuk Singgih yang mungkin bisa dibilang paling akrab denganku daripada yang lainnya saat itu.
“Lagi sibuk apa Shin sekarang?”Tanya mang Idan sambil memotong martabak special dari Tenggo.
“Eh iya, kamu tuh bikin brand hijab ya, mau atuh sih”. Lanjut Dinda kemudian
“Masih dalam tahap percobaan Din, Aku juga lagi butuh artis endorse, followers Kamu sama Mei kan lumayan ya di IG, boleh atuh Aku endorse. Sesama teman mah Gratiskan?” Begitulah obrolan mengalir. Sampai suasanapun menjadi cair. Aku mulai menikmati cerita mereka, leluconnya, sampai akhirnya bisa terbahak mendengar cerita salah satu dari Mereka. 

Kedekatan Kami terutama Aku dengan Mereka dimulai dari Tenggo Food Street Daerah Pondok Indah, yang disusul dengan banyak jadwal hangout setiap akhir pekan di kemudian hari. Pertemanan aku, dinda, Mei, membawa manfaat ke bisnis kecil-kecilanku. Begitupun dengan pertemananku dengan Mang Idan yang membawa manfaat ke ajang seru-seruan alias bagi-bagi humor penghilang setres walaupun isinya lempar-lempan lelucon konyol.

“Eh Foto-foto Yuk”.
“Sing keceh atuh kali aja di endorse”.
“Singgih fotoin ih biar hits kayak kamu”.
“Pengenlah di foto sama kamera terFujilah”.
“Pengenlah di foto sama anak Hits MNC”.
“Deuh.. pengen sih foto OOTD mang”.

Dan banyak lagi celetukan-celetukan ringan setiap Kami kumpul. Tapi celetukan yang aku sebut di atas, tak pernah Alfa di setiap pertemuannya. Mungkin Cuma mang Idan yang paling cool diantara kami berlima saat itu. Yang Cuma berkomentar
“Terserahlah kemana aja aku mah”.
“Ikut baelah, sok bae”.

***
 Jadi inti dari cerita ini adalah : 
 Jangan terlalu menutup diri dalam bergaul, kita tak pernah tau “manfaat” apa yang akan diberikan dari teman sepergaulan. Pun jangan terlalu terbuka dalam bergaul, kita tak pernah tau, “mudarat” apa yang akan diberikan dari hasil pergaulan. Yang terpenting, drive pribadi kita untuk terus menjaga ukhuwah dengan jalur-jalur yang benar. Tanpa kita sadar, banyak hal baru yang bisa kita pelajari dari teman sepergaulan. Dari ceritanya, dari kisahnya, dari pribadinya. Banyak ketidaktauan yang akhirnya mendapat asupan pengetahuan sehingga ilmu kita bertambah karena berawal dari dialog-dialog ringan dengan seorang teman.
Jangan pernah menyepelekan interaksi. Dan.. jangan pernah membatasi diri untuk terus memulai hal-hal baru. Karena kita tidak tau, interaksi dan hal baru mana yang membawa kita pada perubahan lebih baik.
       Caption—>  IG @Shinjuku.id  march 15

Jodoh Pasti Bertemu

JODOH PASTI BERTEMU!

Kadang kita merasa ada pada batas ujung, sampai sulit membedakan mana putus asa atau memang pasrah lillah karena ikhlas.
Dalam perjalanan ini, kita sama. Sama-sama ingin saling menemukan. Tapi, bisakah kita menemukan tanpa saling membuka diri ?
Ini bukan tentang kriteria. Jikapun Maumu yang cantik, pintar, & kaya. Maka, Aku hanya bagian dari remahan itu semua.
Ajari aku untuk menjadi baik. Karena akupun, ingin berusaha selalu menjadi istri dan ibu yang baik untuk rumah kita dimasa nanti.


📌Jakarta, 3 July 2017

***

“Tung, kayaknya gue nikahnya lama deh”. Ucapnya memecah sunyi. Kira-kira lima menit setelah aku selesai bercerita tentang masalah pekerjaan kala itu. Aku sempat tersedak. Aku tahu kemana arah pembicaraan ini, dan Aku tak ingin melebar ketopik yang pada akhirnya membuat perasaan kami sama-sama tak menentu.

“Apalagi gue bon“. Cukup kujawab sampai disana.

“huhu.. Gue masih kuliah, masih panjang. Masih banyak pengennya, ini itu. Masih pengen gawe, yaelah masih kieu-kieu bae”. (kieu-kieu bae = Gini-gini aja )

“Tapi gue khawatir bon, takut lama”. Akhirnya Akupun terpancing berbicara banyak. Mengalir seperti air, deras seperti perasaan kala itu.


“Kita sama  deh kayaknya”. Itu kiranya simpulan percakapan yang tak ingin tersentuh namun akhirnya membuncah lebih dari seharusnya. Mengambil lebih banyak waktu dari pada topik yang lainnya.

Ciputat, 7 November 2016
         Utung adalah panggilan sayang Bonita padaku sejak kita masih duduk di bangku Sekolah. Dan itu. Kira-kira itu potongan percakapan aku dan teman kecilku di Sorabi Teras November 2016 kemarin.  Bercengkrama dalam rangka Aku yang butuh tempat cerita dan Dia yang lagi pengen banget makan serabi. Lama gak bertemu, membuat bahan percakapan makin banyak. Mulai dari masalah kerjaan yang gak kelar-kelar, cerita masa lalu, keluarga, masa depan, masa kecil, dan sampai ke hal-hal berat.
         Aku mengenalnya bukan dalam waktu yang singkat, begitupun dengan Dia. Kita teman satu SD, beda SMP, satu SMA, dan satu perantauan. Dia yang humble, tentu berbeda denganku yang agak sulit menerima orang-orang baru. Kadang Aku ingin seperti dia yang gampang bergaul. Eh tapi ternyata, diapun ingin sepertiku yang setia. *asyik setia ceritanya* Manusia oh manusia, emang suka gitu kali ya.
         Waktu bergulir begitu cepat. Aku yang kini terlepas dari hal yang semula Aku jaga baik, dan Dia yang akhirnya terikat oleh sesuatu yang lebih pasti. Lantas dimana salahnya ? Mungkin Allah masih ingin Aku belajar menerima yang baru lalu melepaskan  yang kujaga baik dengan cara yang ikhlas. 
          Namanya juga jodoh, Bonita yang waktu itu ngomong menunda nikah, hari ini tepatnya 2 july 2017 dikhitbah oleh seorang lelaki asli Jakarta. Dan mungkin itu yang namanya jodoh. Gak ada rencana, gak pernah terbayang sebelumnya, tau-tau datang begitu saja atas kehendakNya.
         Dan Aku sendiri sudah ada di fase capek dengan siklus gitu-gitu aja. Boleh dibilang fase pedekate, fase pengenalan, fase baik-baiknya, dan sampai di fase memperbaiki hati kembali pada akhirnya. Kejadian yang berkali-kali bikin hati Aku bener-bener capek, sampai pada akhirnya Aku cuma bisa bilang, “Yaudahlah gimana Allah aja, Aku ikutin aja mauNya”.
         Dulu sempet aneh sama orang yang ngomong “capek” sama perasaan yang gak nemuin ujung. Buat Aku sendiri yang kala itu mungkin masih menikmati setiap fase sekalipun tanpa kejelasan. Menikmati setiap rasa, momen, meskipun tanpa pembicaraan masa depan. Dan sekarang bener-bener berasa ketampar sendiri. Oh, Jadi ini ya yang dibilang capek sama fase ketidakpastian. Sampe nyari kesibukan sana-sini, sampe nyari temen sana-sini, sampe bener-bener jenuhnya bikin nangis. Sebenernya bukan karena ingat atau pengen ngulang yang lalu, cuma rasanya pengen banget ngomong, “Ya Allah,, Udahlah temuin segera. Enggak mau salah orang lagi”.
       
         By the way, kenapa juga harus ngomong panjang lebar kayak gini ya, padahal ini harusnya catatan yang berisi letupan kebahagiaan karena Sahabat kecil Aku pada akhirnya bertemu dengan jodohnya. Setelah lama bekelana, lebih jauh dan lebih dalam dari pada aku yang masih gini-gini aja.
Ah sudahlah mari kita akhiri catatan kali ini. Pada akhirnya, curhatan masalah seperti ini akan dijawab “Jodoh pasti bertemu kok, shin…”
Akan datang seseorang yang mampu menerima mu dengan baik.
Akan datang seseorang yang mampu memaklumi dengan baik.
Tak perlu berubah jadi orang lain.
Tak perlu takut untuk membuka diri.
Kelak akan ada yang datang dengan kesungguhan.
Dengan segala kepastian.
Menemui walimu.
Meminta ijin menikahimu.
Meminta ijin membahagiakanmu.
Meminta ijin memilikimu.
Kelak.
Dan, Jika tiba saat itu.
Kamu hanya bisa terharu.
Bahagia dan Syukur jadi satu.
Dan sakit itu, sekejap kamu lupa.


Jakarta, 3 July 2017