#TIDAKJELAS


Banyak hal yang ingin saya ceritakan. Banyak sekali, tapi terhenti begitu saja saat saya tahu, saya masih belum berhak leluasa meluapkan semuanya. Saya takut salah pilih orang. 
Seharusnya sampah-sampah perasaan ini tak lagi berserakan dimanapun. Seharusnya. Hanya saja, saya belum diberi orang yang pantas menjadi tempat saya meluapkan segalanya. Mungkin belum waktunya. 
Ternyata usia tidak bisa dijadikan patokan untuk menjadi diam. Dan diam tidak selalu menjadi symbol kedewasaan. Kedewasaan tidak bisa di ukur hanya dengan satu sudut pandang bukan ? 
Lantas apa ini semua hanya omong kosong ?
Saya rasa tidak. Tapi biar catatan ini tidak sampai kemana-mana, biar sampai disini saja, tidak jelas. Tapi saat saya membaca kembali suatu hari nanti, hati saya mengerti dan lengket betul pada hari ini.
@shintajulianaa
11 November 2016 ((20:04))
Masih di Kantor yang sama

Not For READ !


Sometimes..
When you bener-bener butuh buat cooling down, rehatin otak kamu yang terus berfikir keras, memaksa ngambil satu benang merah yang sebenernya enggak perlu dipaksa pun benang merah itu membentang sendiri. But… you just need effort more. For what ? hanya untuk ngeyakinin diri kamu sendiri, bahwa memang ini yang harus di jalani. No other way. What should you do ?

Sometimes..
When you bener-bener mikir keras sampe keluar semua isi otak kamu, just for give more fight when you remember  many of reason to you still fighting. To you still stand here, no body beside or with. Yes.. jejelin semua fikiran positif. Makin banyak ngunyah yang namanya kata “Yes, This is me. And I can do more.”
Konon,,, Tubuh yang mengandung banyak cairan di dalamnya itu lebih mudah dipengaruhi oleh apa yang kita masukan dalam fikiran. Semakin banyak fikiran positif yang masuk, maka tubuh kitapun akan menerima efek positif. Dapet dari mana ini ? dari temen yang waktu saya cerita panjang lebar, dan she just smiling and say.. “yang elu masukin itu pikiran negative, otomatis efeknya juga negative. Enggak jelas. So mulai belajar drive dirilu sendiri, buat mengatur asupan terbaik buat tubuh elu. Biar hasilnya juga baik.” Enggak banyak pembicaraan lagi. I just try that quote, just for lesson myself.


so ?

Ya.. jadi sekarang lebih ke keep fight dengan cara ngebangun focus terbaik buat hal-hal yang emang bermanfaat kedepan. Jejelin tuh banyak plan, plan a, b, c….z. For what ? biar air dalam tubuh saya mencerna, banyak target bermanfat dari sekedar memikirikan, menangisi, atau menyingkirkan kerikil. Lhoo kok kerikil enggak di singkirkan ? yaa.. bagi saya pribadi, biar saja kerikil itu ada di bawah. Kalo missal masih kecil, jalan terus. Kalo ngalangin jalan terus rupanya batu besar… jangan disingkirin. Karena batu itu ada disana karena proses alam. Ataupun karena tangan jahil manusia, biar saja. Panjat kalo bisa. Anggap saja ini bagian dari proses.

Jadi ini mau dikasih judul apa ? pengalihan focus.

Sometimes..
You need more rehat buat diri kamu sendiri.  Ya enggak bisa dipungkiri, bangun jiwa yang tetep adem ayem sekalipun di tiup angin beliung, atau bangun benteng yang kokoh biar gak roboh, itu gak mudah. Bikin planning dan grow with it itu gak mudah. Jadi untuk saya pribadi dan agar diinget kedepannya ya.. lebih baik ngumpulin macam-macam buku bacaan, baca deh sampe mata puyeng dan capek banget. Jadi gak ada waktu buat push diri kamu lebih ke hal-hal yang gak ada manfaatnya. Lagi puyeng dan jenuh sama plan a.. take plan b and for me plan B “read novel”.

Sometimes, kok isinya Cuma sometimes and sometimes. Ya, karena manusia juga isinya kadang-kadang semuanya. Baik itu story nya atau ya apapun yang dirasain nya juga bersifat sementara, kadang-kadang.
Okeh… Big note buat diri saya sendiri di catatan ini adalah :

“Ketika mulut punya andil banyak, I choose DIAM. Semoga diam melapangkan, sehingga dapat menampung segalanya hanya dalam DIAM”.

What you called is ?
Sabar ?
Same with it.
talk less, feel it and grown more
__________________________________________________________________________________
Ya, Big note banget buat diri sendiri, : ini pengalihan fokus pas lagi try to cooling down dan enggak panas-panas banget ya, jadi enggak banyak lagak nya la… satu lagi, yang dijejelin, ini quote dari temen saya lagi…

 “Nanem baik itu perlu, terus aja nanem.. kita nanem baik itu buat kita sendiri, buat amal juga sama Allah, masalah balesan dari orang itu urusan dia sama Allahnya. Urusan dia dengan tanamannya sendiri. Bukan sama kita.”

Jadi,,, terus berusaha lebih baik ya, keep istiqomah. Kalo sebelumnya pernah salah, pernah nanem buruk, mungkin yang saya alami juga adalah buah taneman saya dulu. ASAAAAALL… Jangan diulangi. Terus bertumbuh kearah yang lebih baik ya shin 🙂

Sekalipun kadang syaitan juga menghasut pikiran kita untuk sudah merasa lebih baik padahal diam di tempat.

Big note lagi ya for myself..

“ketika kita nilai sesuatu itu salah, coba deh kamu ganti kacamatanya.”

And Last…

 “Saya dilahirkan sebagai penikmat bukan sebagai hakim, jadi enggak punya hak buat menilai sesuatu secara berlebihan.”

Don’t Expect too Much

Don’t Expect too Much, Because Too Much… You’ll Only Be Disappointed !

Kadang dalam beberapa keadaan, kita di dorong untuk berharap lebih. Sebagai manusia yang hidup dengan dua pertimbangan, hati dan fikiran, yang mana kadang keduanya menyuguhkan poin-poin plus hingga akhirnya kita berani mempertaruhkan seberapa persen dari yang kita miliki di meja judi. Judi kehidupan. 
Untuk cakupan harapan (ekspektasi ) bolehkah kita berharap besar ? Sebagai seorang muslim tentu kita tahu, bahwa apa-apa yang terjadi dalam hidup kita adalah tentang ke-ridho’annya. Baik dan buruk, besar maupun kecil, terijabah atau tertunda, tergantikan atau hilang sekalipun, segalanya adalah sah, ditandatangani langsung oleh yang Maha Pemilik Segala. Termasuk permilik Skenario Hidup dan segala tindak-tanduknya didalamnya.
Lantas, Bolehkah kita berharap lebih kepada seseorang ? 
Perasaan berharap, atau menaruh harapan besar kepada selain Allah hanya akan membuat kita kecewa. Kenapa ? Karena jelas hal/orang yang kita kasih harapan itu tidak memiliki hak apa-apa untuk merubah atau mewujudkan pengharapan kita. Justru yang punya akses terbaik adalah diri kita sendiri. Melalui doa. Melalui munajat. 
Jadi,, If you Expect too much… So, wait, You will take disappointed so much !

__________________________________________________________________________________

 If You Really want something ? Say  in your private time ( Do’a )

_________________________________________________________________________________ 

Pindah Kost 22 Juli 2016

Bismillahirrahmanirrahim…
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh…

Mungkin sebagian akan kecewa. Bahkan yang paling besar adalah saya sendiri. Mengecewakan diri saya sendiri. Saya, orang yang tidak pernah menyukai perpisahan. Tidak pernah tertarik untuk mengucapkan salam perpisahan sekalipun disampaikan dengan kalimat baik-baik, pada akhirnya menelan bulat-bulat rasa tidak suka. 
Entah bagaimana mulanya, entah ini dorongan emang pengen banget “nabung” atau ada hal lain yang memberanikan diri untuk pada akhirnya melangkahkan kaki dari sweat kost, little home atau second home yang sudah menjadi tempat rasa rumah hampir empat tahun terakhir. 
Tempat buat saya bukan sekedar untuk melampiaskan segala bentuk kegiatan, bukan sekedar wadah pertemuan dengan berbagai orang, bukan sekedar objek terjadinya berbagai peristiwa. Bagi saya lebih dari itu. Tempat adalah sebuah alasan untuk pulang yang didalamnya tersusun dari beberapa partikel kenyamanan. Tempat adalah “rumah” meski mungkin tercipta di ruang terbuka. Tempat adalah “rumah” meski mungkin tidak terlihat karena bersemanyam dalam jiwa. Tempat adalah “rumah” meski mungkin adalah berupa wujud manusia.
Dan tempat yang tersusun dari partikel kenyamanan adalah tempat yang pantas untuk di jadikan tujuan pulang.


Jujur, ada rasanya bebas atau semacamnya yang menghadirkan bahagia luar biasa karena pada akhirnya saya bisa keluar dari zona nyaman demi sesuatu yang lebih baik. Tapi jujur pula, ada sebagian hati yang teriris. Mengingat banyak peristiwa di sini, banyak pembelajaran, banyak kerinduan, kebahagiaan, dan proses yang mengirim saya mengambil keputusan ini. Keputusan yang sebenarnya sudah saya inginkan sejak setahun yang lalu. 
Zona Nyaman ! Rumah kost ukuran 4 x 4 ini sudah menjadi alasan pulang selama hampir empat tahun belakang. Pulang untuk beristirahat dari rutinitas kerja. Pulang untuk menikmati waktu sendiri. Pulang untuk introspeksi sampai mungkin pulang untuk menangis. Pulang untuk tertawa dengan sanak-sodara atau teman-teman sekalipun hanya lewat layar pintar, pulang untuk mencoba menu baru hasil googling, pulang untuk mencicipi masakan ka selfi, Pulang untuk di ajak hangout sama Ka Merry, pulang hanya untuk duduk-duduk bosan menikmati sendiri, Pulang untuk bercerita panjang lebar dengan mba wati, pulang untuk bermain gitar dengan Corin (dulu), pulang untuk mendengar cerita ka Caca, Pulang untuk mendengar cerewetan ayu (dulu), Pulang buat denger sapaan ka Lia (dulu), Pulang buat sharing hasil bacaan novel seminggu dengan ka Hera, Pulang untuk di ceramahi Ka Diah (dulu), Pulang untuk mendengar ka Danti bercerita tentang diet mayonya, pulang untuk meminta ka dorin turun ke dapur masak spaggetti dan Pulang sekalipun hanya untuk menyunggingkan senyum lelah. Itu tujuan pulang selama hampir empat tahun terakhir.
Hidup memang selalu tentang perjalanan, yang dimana perjalanan selalu disertai perpindahan. Baik itu dalam bentuk fisik maupun psikis (klik).
Dan Hari itu akhirnya tiba. Jum’at 22 Juli 2016 (besok), saya harus mengepak semua barang. Memasukkannya kedus-dusnya, dan mengevakuasinya ke tempat baru. Untuk salam perpisahan sudah saya ucapkan tadi malam ketika kami berkumpul di ruang depan. Meski tidak seluruhnya karena kemarin malam hanya ada ka selfi, ka merry, dan Ka Caca. Ini akan saya rindukan. Duduk Malas, ditemani makanan-makanan kecil / buah dan yang penting obrolan-obrolan hangat dari mereka. Rencana wisata bersama, tentang masalah hari ini, diskonan terupdate, sepatu terbaik untuk muncak, dan harus tetap keep in touch.
Ini pilihan saya untuk keluar dari kehangatan mereka. Pilihan saya untuk menginjakkan kaki di tempat baru yang harapannya bisa lebih berhemat ( karena harga kost baru jauh lebih murah ), untuk memperbanyak teman dan…. Untuk hal lain yang entah apa.

( Birthday Ka Mery )
( dari  kiri ) Ayu, Ka merry, Saya, Ka diah, Ka lia & Ka selfi



 

Dan banyak lagi moment yang hanya cukup terekam kapasitas memori otak.
***

Dan inilah tempat pulang ke-dua. Second Home buat saya selama di Jakarta . Inilah tempat yang tersusun dari partikel-partikel kenyamanan. Tempat saya mematung sendiri dicandai takdir, menangisi malam, atau terbahak bahagia dengan kejutan Sang Illahi. Tempat berbagai kesimpulan menemui batas simpul terbaiknya. Tempat menyusun langkah-demi-langkah terbaik. Tempat…  i just wanna lying my bed. And that is life and I feel alive ! 





Maaf ! Saya Pernah Pacaran..

Bismillahirrahmanirrahim…
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh…

Hidup bukan tentang sebuah tujuan, tapi sebuah perjalanan. Demikian setiap perjalanan terdiri atas beberapa rentetan peristiwa, beberapa kali persimpangan, dan beberapa kali kita dihadapkan dengan banyak orang yang saling bersilihan jalan.

Tak kiranya sepanjang perjalanan itu tubuh kita telah banyak mendzolimi orang lain. Lidah yang tak luput dari cacian, hinaan, kebohongan, atau sebatas senyuman sinis dan bahkan lebih parahnya lagi digunakan sebagai perantara menyampaikan fitnah. Tangan yang lebih banyak digunakan untuk menghardik mereka yang lemah, berbuat dzolim, atau menyembunyikan kebenaran. Kaki yang senantiasa diperintahkan untuk menjauh dari RumahMu, atau bahkan dijadikan perantara untuk melakukan banyak perbuatan nista dan dosa.

Ya Allah.. Betapa berdosanya. Betapa banyaknya orang yang terluka atas setiap perkataan, perbuatan, dan segala tingkah laku saya. Seiring bertambahnya kesempatan yang Engkau berikan untuk saya terus diruntun banyak KaruniaMu. Kesempatan untuk hidup, diijinkannya saya untuk masih menetap disini, diBumiMu, disamping orang-orang yang Engkau Ridhoi.

Klik Sumber Gambar

Untuk segala yang tertinggal dibelakang. Untuk segala tindak-tanduk yang penuh marah. Untuk segala beban yang menghimpit dada yang penuh dendam. Untuk segala caci yang terungkap atau yang tergenap hanya menjadi risau hari. Untuk segala prasangka buruk yang menjadi asal-mu-asal segala dendam dan marah. Saya Mohon Maaf. Saya Mohon Maaf atas diri yang berdosa. Saya mohon maaf atas hati yang penuh cela. Saya mohon maaf atas mulut yang merobek hati hingga penuh luka. Saya mohon Maaf.

Ini bukan Catatan Semata-mata memeriahkan Hari Raya Idul Fitri 1437 Hijriah. Ini adalah Ibu dari Catatan-catatan saya sebelumnya.

Bismillah…

Saya bukan orang baik-baik. Jika terlihat baik dimata Kalian, itu atas Kebesaran Allah yang menutup Aib Saya sebegitu rapatnya.

Di catatan kali ini, ijinkan saya menyampaikan itikad baik untuk kedepannya. Dan semoga diberi keistiqomahan. Aamiin..

Sekali lagi saya bukan orang baik. Tapi saya ingin selalu berusaha untuk jadi orang baik. Sekiranya cukup untuk pantas mendapatkan Ridho dari Allah hingga Allah berkenan mengijabah semua do’a.

Untuk catatan yang pernah saya torehkan dengan penuh cinta atau bahkan murka. Cinta yang tidak hallal karena terjalin sebelum adanya ikatan syah di hadapan Allah. Cinta yang sembunyi-sembunyi karena tanpa ijab di hadapan orang tua. Dan saya akui, Saya pernah benar-benar mencintai seorang ikhwan bukan mahram. Saya pernah terjalin ikatan tidak hallal dengan lawan jenis. Singkatnya SAYA PERNAH PACARAN. Saya Mohon Maaf. Terutama maaf untuk imam saya kelak. Maaf karena saya tidak bisa menjaga hati hingga menjadikanmu yang pertama dan terakhir untuk menetap. Maaf.. Beribu Maaf karena pernah ada lelaki lain sebelum kamu yang saya perjuangkan mati-matian. Maaf… Beribu Maaf karena pernah ada lelaki lain sebelum kamu yang pernah saya cintai dengan sungguh-sungguh. Untuk semua kesalahan di belakang, Bolehkah Saya pada akhirnya memilih untuk sendiri sampai akad ? Bolehkah saya yang pernah pacaran ini pada akhirnya memilih jalur Taaruf untuk menjemput yang hallal ?

Saya tahu, tidak mudah mengambil jalan minoritas terlebih saya bukan ahli agama. Bukan perempuan dengan jilbab sempurna. Bukan Perempuan yang dinobatkan sebagai ahli syurga. Bukan perempuan yang mengundang kecemburuan bidadari-bidadari syurga. Bukan perempuan yang sering duduk di majlis mengikuti banyak kajian. Saya cukup sadar siapa saya. Saya cukup kenal baik atas diri. Tapi Ijinkan saya terus memperbaiki yang salah. Menghubungkan kembali apa-apa yang retak. Memungut segala yang berceceran. Saya ingin memperoleh RidhoMu ya Rabb.

Jika pada akhirnya saya meminta banyak bahkan berlebihan sedang saya hanyalah saya yang penuh kekurangan. Saya Mohon Maaf. Karena pada hakikatnya Saya tetap menginginkan imam yang baik dunia dan akhirat. Yang mampu memandu dan membimbing untuk memperoleh syurgaMu. Yang mampu menjadi panutan untuk anak-anak. Yang mampu menjadi sandaran gundah. Dan yang terpenting adalah yang bersedia dan ridho atas saya yang ingin memperoleh ridhoNya melalui ridho dirinya.

Aamiin !

 Jakarta, 11 July 2016 ( 10: 14 )
@shintajulianaa
 

Tips anti galau saat di tinggal nikah mantan.




Haii bloggers lahiran tahun 90, 91, 92, 93 yanglagi kena demam mendadak tentang pertanyaan klise “kapan nikah ?”  Lagi musim nikah ya.Nah karena musim ini, gak sedikit dari kita geram abis kalo pas kondangan terus ditanya “kapan nyusul?” kayaknya lebih baik ditanya “Nenek kamu siapa?” dari pada ditanya kapan nyusul. 

Bloggers, Coba cross cek dulu, sudah berapa teman kalian yang resmi melepas masa lajangnya ? atau bahkan sudah berapa banyak teman sekelas kalian yang sekarang sudah gendong bayi ? Banyak pemirsa ternyata. Sebenarnya si, topik utama nya bukan itu. Ya masih nyerempet-nyerempet dikitlah. Lebih spesifiknya si ditinggal nikah doi alias mantan. Okee nelen ludah dulu deh, siapin hati yang mantep. Kencengin lagi visi dan misi masa depan.

Door..

Mantan ? What is the meaning of MANTAN ? semacam hewan langka kah ? atau semacam predator yang harusnya dibumihanguskan ? atau semacam benda langka nan unik yang harusnya di abadikan di museum ? Whatever.  Mantan tetaplah mantan. Mau di benci, di hina, di caci dan dibenci pun, doi tetep jadi bagian dari bumi. lebih kecilnya lagi hari-hari kita di masa lampau. So,, Just keep it. 

 

Klik Sumber Gambar

Mantan itu bisa semanis madu, legit, endess kalo berakhir di pelaminan.  Bisa pait kayak nyicip empedu kalo ujungnya Cuma dua PUTUS dan PUTUUUUUS ! sama aja kali. Hahaa… Saya kasih beda. Untuk kategori putus pertama ya bisa dibilang putus dalam kategori normal. Tanpa drama berlebih. So, masih bisa lah kita berbaik hati buat sesekali inget dia. Bolehlah sekali-kali ketemu lagi kalo kangen.. #ehe ini modus lama. Hati-hati.

Nah, kategori putus ke dua ini yang lebih banyak dramanya. Lebih banyak nangisnya,apalagi kalo putusnya akibat di selingkuhin, terus gontok-gontokan bikin drama “pilih aku atau dia“, dan ternyata doi lebih pilih dia yang body nya kayak gitar spanyol dari pada kamu yang kayak papan white board.  Kelaaaaar deh idup lu ! 

Bloggers, Apapun dan bagaimanapun cara atau alasan kalian putus dulu, tetep aja intinya, orang yang ngajak putus itu sudah gerah alias nyerah buat mertahanin kamu dalam lingkungan hidupnya. Bisa saja yang awalnya dimananya kamu terlihat seperti kelinci yang dianugerahkan gigi yang lucu, untuk mengalihkan dunia kamu kayak lirik lagu afgan, eh tiba-tiba berubah jadi parasit yang wajib di babat habis sampai ke akar-akarnya.

Jangan sedih Bloggers, orang yang pengen selalu sama kita, sekalipun nemu seribu cacat di diri kita, dia tetep bakal sama kita kok. Beda sama orang yang udah kapok, bosen, jenuh dan risih sama kita. Sekalipun kita sudah baik kayak bidadari langit lapisan ketujuh, kalo doi uda gak sreg, tetep aja doi melenggang pergi.

Back to Topik.

Di tinggal nikah mantan menjadi momok yang menakutkan bagi dia yang belum move on. Bagi dia yang belum cukup ikhlas dengan kandasnya hubungan di masa lalu. Dan yang lebih parah, bagi dia yang masih merangkai sejuta harapan untuk menjalani masa tua bersama. Eh ternyata, dia telah memilih orang lain dan itu bukan kamu. Mungkin kabar doi nikah bisa jadi shock therapy ringan buat kamu.

Klik Sumber Gambar

Nah, Buat ngadepin fenomena Di tinggal nikah mantan biar lebih easy dan that is nothing for your life. Saya mau bagi-bagi tips anti galau saat di tinggal nikah mantan.

Tips anti galau saat di tinggal nikah mantan.

1.  Re-View Ulang Kisahmu.

Bagi kalian yang sudah nemu cacat, bengkok, lembek, atau noda di kepribadian doi, ini akan lebih mudah. Coba ingat-ingat lagi, bagaimana dia mengecewakan kamu, bagaimana dia menyakiti kamu,
sampai dia meninggalkan kamu. Ingat, kamu baik dan pantas dapat yang lebih baik. Bagaimanapun kamu, tidak ada satu orangpun yang berhak menyakitimu. Kilas balik semua kisahnya, baik seorang diri atau bercerita dengan sahabat. Luapkan semua kecewaan, kekesalan, tuntaskan semuanya cukup di hari ini. Jika sudah lega, mulailah babak baru dengan cintai diri sendiri sebelum memutuskan mencintai orang lain. 
 

Klik Sumber Gambar

2. Menyibukkan diri

Seperti yang kita tahu, obat mujarab dari proses melupakan adalah menyibukan diri meski hanya berhasil untuk sementara waktu. Tapi, kesibukan bisa menghindarkan diri dari perbuatan-perbuatan negatif disaat perasaan sedang tidak stabil.Sering kali, saat perasaan campur aduk, emosi terasa di permainkan nafsu yang berlebihan, atau random feeling akan mengacu kita mengeluarkan komentar negatif. Apalagi jika waktu luang digunakan dengan hal-hal yang malah tambah memungkinkan komentar negatif itu membuncah. Contohnya stalking media sosial doi. Fix, kamu bakal ngerasa ngenes abis. Jadi, hindarin deh stalking pas suasana hati masih rawan-rawannya. Gunakan waktu lebih dengan kegiatan positif. Menyalurkan bakat, membaca hal-hal bermanfaat, intinya sibukkan diri sampai kamu enggak ada celah waktu buat mengingat, mengenang berlanjut sampai menangis berhari-hari ataupun waktu buat stalking media doi sampai istrinya doi. STOP ! Sibukan diri dengan hal-hal bermanfaat. Jadilah pribadi yang berkualitas.

3. Dekatkan diri dengan Tuhan.

Bloggers, Jodoh itu sudah di gariskan oleh Allah dalam kitab Lauh Mahfuzh. Kita adalah makhluk ciptaaanNya. Maka Dia jauh lebih mengerti diri kita dari pada kita sendiri. Dia yang tahu takdir terbaik untuk kita, seperti apa, dengan siapa. Dan apabila bukan dengan orang yang kita inginkan, dambakan, mungkin ada mudarat dari, jika kita memaksakan keinginan kita. Cobalah dekati pencipta kita, kenali anugerah-anugerahnya yang bahkan jauh lebih besar dari yang mungkin sebelumnya kamu merasa bahwa mantanmu adalah anugerah terindah yang pernah kamu miliki seperti lagu sheila on 7. Pasrahkan semuaNya hanya pada Allah. Tugasmu hanya terus memperbaiki diri. 

4. Iam Ready to say “Happy Wedding”.

Nah, ketika hati sudah berdamai dengan luka, diri telah kembali tenang hingga langkah menjadi ringan, aura positif terpancar dengan  jelas, kamu sudah siap mengucapkan “Happy Wedding kamu yang dulu pernah aku harapkan menjalani skenario ini bersama ku.”

Bloggers itu tips dari saya, semoga bermanfaat. Dan ingat hidup tidak melulu tentang cinta, dan tidak hanya terfokus pada cinta adam dan hawa. Masih ada keluarga, masadepan, dan kematian. Persiapkan semuanya dengan seimbangya.

See you soon…

by @shintajulianaa

KOMA (,)

Klik Sumber Gambar

Malam tak kunjung berganti pagi, sekalipun pagi tetap hanya bercerita tentang jiwa yang mati. Mungkin aku bukan satu-satunya. Aku tidak sendirian, dan ini bukan kali pertama. Penat. Sungguh penat. Entah ungkapan macam apa yang berhasil mewakili jiwa yang hanya diperbudak tuntutan agar tetap hidup. Waktu seakan hanya menjadi skala usia. Menjadi batas manis antara tua dan muda. Tapi jiwa tetap saja seperti biasa. Ini apa ? Aku harap ini hanya sebatas retroverso. Membutuhkan nyali lebih untuk memutar kenop ke sisi lain hanya agar menemukan banyak.

Manusia oh manusia. Jiwa yang tak pernah ada batas untuk terus merajuk. Tak pernah putus untuk meminta lebih. Akankah hidup hanya perkara tentang menunaikan apa yang dibutuhkan ? lalu penikmat tidak lagi terkecap pada berbagai indera ?

Malam terasa benar-benar panjang. Tak ada bunyi lain selain bunyi detik yang seolah mengejekku yang enggan untuk terlelap. Dan hati, bersuara lebih besar, banyak kurcaci menari-nari di otak, mengirim impuls agar aku makin merasa penat. Sunyi di luar tapi bak pasar pagi di dalam. Riuh. Hiruk pikuk bak euforia pesta kemenangan. Bedanya disini aku yang kalah. Hatiku dan segala bisikan-bisikannya menjadi kan aku terkungkung dalam dilema yang amat dalam. Logika mengambil alih kegiatan untuk berdiskusi lebih panjang. Oh Tuhan.. Aku penat.

Jika dalam diri manusia ada keadaan dimana semua aktivitas stabil, berjalan sesuai rencana. Pagi bekerja dan malam di isi dengan membangun kastil di alam bawah sadar, bersandar pada bantal tua yang baunya sanggup melelapkan. Tapi sayang, sebagian jiwa sudah terlanjur mengkristalkan dirinya sendiri. Yang ada hanya tinggalan duplikasi tanpa jiwa. Semua bergerak bagai robot. Dari satu misi ke misi lain. Dari satu tempat ke tempat lain. Akankah hidup hanya mengenai misi ? lalu jika ya, kenapa harus ada jiwa jika robot pun mampu menuntaskan semua.

Waktu benar-benar sedang mencandaiku. mengajakku menari-nari dalam kekalahanku sendiri. Menginginkan aku berpesta diatas kematian jiwaku sendiri. Kemarin, awal tahun dan segala hari yang telah terlewati, seolah menjadi musuhku. Mengajakku untuk bercengkrama sekaligus memintaku menjadi jaksa semua kesalahanku. Aku makin tersungkur.

Apa yang kucari ? Tak perlu lagi harusnya aku kemana-mana. Karena yang ku cari tinggalah aku gali dalam diri.

Jiwa apa kabar kamu ? Lama tak berua. Matikah ? atau hanya sekedar koma, menungguku menangis, meronta, memintamu kembali ada.  Jiwa.. Badanku remuk termakan semua rutinitas palsu. Ya, Palsu. Karena rutinitasku hanya sekeder agar aku tetap bertahan hidup. Memberi makan raga tapi lupa akan kamu wahai jiwa.

Jiwa, tercenungkah kamu. Otakku terus menguras semua yang tersisa. Aku lelah menyelesaikan semua ini sendiri. Hatiku terlalu lemah untuk di timpa banyak hal tanpa penyeimbang. Otakku terlalu individualis lagi egois. Ragaku terlalu ringsek untuk bisa mengatur ritme-nya.

Aku masih tercenung. Kali ini butir-butir itu jadi saksi bisu. Aku tak ingin jadi yang kalah. Apalagi kalah hanya untuk sekedar ego menguasai segala hal yang halus dalam diri. Aku tak ingin jadi keras. Meski mungkin selagi kau koma, aku sudah terlanjur berada di garis tebal untuk mati rasa. 

Jiwa.. Suaraku menggema—-seolah mencari celah untuk menyusup ke bagian paling peka untuk mengantarmu kembali ada. Aku benar-benar lelah untuk memperbudak raga yang lemah ini. Aku butuh jiwa yang tenang lagi anggun dalam meniti setiap misinya. Aku butuh jiwa yang tegar untuk berjalan beriringan dengan hati yang lemah. Aku butuh Jiwa yang ketika berdiskusi dengan otak tak lagi berkiblat pada ego semata. Aku butuh itu.

Tak ada yang lain. Tak ada di tempat lain. Tak ada.

Jiwaku hanya tertanam pada ragaku. Dan jika dia mati, aku ingin dia hidup kembali. Menentramkan lagi mendamaikan.

Dan yang ada hanya euforia pertemuan kembali antara logika, hati, dan ruhnya.

@shintadutulity
malam mengais kenangan

HORE ! Lima Tahun Nge-BLOG

Assalamualaikum..

Selamat Pagi Bloggers, Selamat hari Jum’at di Minggu Pertama bulan Juni. Selamat pagi juga untuk langit-langit Jakarta yang sedikit terlihat gundah karena mentari masih malu-malu untuk mengeluarkan seluruh bagian tubuhnya. 

Hm, Mulai dari mana ya. Oke, mungkin tulisan kali ini lebih mengarah ke pembicaraan dengan diri sendiri. Teringat bulan ini, Juni adalah bulan dimana saya untuk pertama kali memutuskan Ng-blog sekitar  lima tahun lalu (tulisan pertama sudah kedelete). Masih berdomain di julianashinta.blogspot.com dan masih dengan nama yang sama sejak hampir 23 tahun yang lalu “SHINTA JULIANA”. 

Awalnya blog ini berjudul SENI KEHIDUPAN mengingat saya menulis segala kemelut rasa, baik itu secara fiksi maupun fakta, segala rasa sedih, bahagia, kecewa, patah, optimis, bangga dan rasa lainnya yang menjadi komposisi yang pas untuk dijuluki sebuah kehidupan. Waktu pertama kali saya menulis blog sekitar tahun 2011 lalu, Usia saya masih 18 tahun. Sesuai dengan usia, tulisan sayapun seperti remaja kebanyakan. Pokoknya kalo misal di review ulang suka bikin ketawa sendiri. Tapi, bagaimanapun itu tetap karya dari rasa yang saya alami waktu itu. Baik rasa yang benar-benar ada atau hanya buah dari cerita pihak ke tiga. Seiring waktu berjalan, pribadi perkembang, blog sayapun turut berubah sedikit demi sedikit. Mulai dari gaya bahasa, cara penulisan sampai ke pengolahan konten, semua menjadi saksi perkembangan pribadi saya tahap demi tahapnya. Beberapa tahun yang lalu, saya mengubah judul blog menjadi “SHINTA’S ROOM” karena kebanyakan dari tulisan isinya tentang kehidupan disekitar saya. Tentang pengalaman teman, pengalaman saya pribadi, atau tentang siapa saja yang ada di fikiran saya.

Mengalami Pasang Surut.
Seperti kegiatan lainnya, ngeblog juga ada pasang surutnya. Kalo lagi semangat-semangat, banyak ide buat nulis, waktu juga mendukung, terus fikiran juga mendukung, sebulan bisa mencapai sepuluh atau lebih postingan. Tapi, kalo mood lagi down, ide banyak tapi stuck enggak tahu mulai dari mana, waktu juga gak mendukung buat feel free di depan pc, ya bisa jadi dalam sebulan tidak ada postingan sama sekali. Atau tulisan hanya bersarang jadi draft yang ceritanya menggantung. 

HOREEEE ! Lima Tahun Nge-BLOG !

Alhamdulillah… walaupun Nge-Blognya angot-angotan, isinya gak karuan, pengunjungnya itu-itu aja atau bahkan minim banget pembacanya, tapi Blog ini sudah berjalan selama lima tahun.

Kenapa si Tetep Nge-blog ?
Dari kecil saya suka menulis. Menulis apa saja. Menulis ya bukan penulis. Kalo penulis harus punya pembaca, kalo menulis cukup punya kegiatan tanpa perlu pembaca.  Dari kecil, saya suka menulis baik itu puisi, cerpen, suka ngayal juga. Misal kalo lagi denger lagu mantan terindah khahitna, coba membayangkan diri sendiri ada di posisi seperti di lagu itu. Atau misal denger cerita temen yang di selingkuhin, muncul fikiran “kalo saya seperti itu, gimana ya?” dan terus memposisikan diri jadi siapapun yang saya inginkan. Tapi sayang, saya bukan pencerita yang baik. Jika mendengar sebuah kisah, lebih nyaman dituangkan dalam sebuah tulisan dari pada harus di dongengkan. Nah, Jadi bisa disimpulkan bahwa, “apa yang saya tulis di blog ini tidak melulu tentang kisah saya.”

Sebelumnya saya pernah membahas alasan kenapa tetap Ng-BLOG disini, tapi cuma poin besarnya aja si. Ya intinya, jika suatu hari nanti, entah beberapa tahun kedepan dari sekarang ketika saya membaca kembali tulisan saya, saya bisa kembali mengingat meski mungkin sensasi rasanya sudah berubah, tapi  ingatan tidak bisa di elakan menuju kemana tulisan saya ketika menulisanya.

Mengenai pembaca, buat saya pribadi itu bukan hal yang dinomor satukan. Karena saya menulis, saya Nge-Blog itu lebih ke untuk diri saya pribadi. Ya tapi jika ada pembaca yang menyukai tulisan saya, itu lebih dari senang juga si. Hehehe..

Jadi, tulisan ini mengarah kemana ?

Tidak mengarah kemana-mana. Hanya menikmati euforia mengingat Blog saya sudah berjalan Lima Tahun.  

Harapan Kedepan.
Semua orang pasti punya harapankan ? sama saya juga punya harapan tentang blog saya kedepannya, meskipun saya cuma blogger amatiran. hehe.. Amatiran soalnya isinya gak ada juntrungannya. Ketika orang lain sibuk fokus ke tema blognya, misal temanya tentang travelling, maka isinya fokus (kebanyakan) tentang travelling. Jika temannya tentang Life Style, maka isinyapun tentang life style. Tentang kuliner ya isinya tentang kuliner juga. Nah, Terus Blog saya kiblatnya kemana ? Entah lah.. Nano-nano gitu deh.

Fiction [ Cerpen dkk ] — Draft [ monolog, dialog, puzzle novel yang masih bersarang di otak ] — Travelling [cuma itungan jari] — Re-View [Care and Beauty] Tips & Trik — dan kebanyak personalnya.

Harapannya si, semoga kedepan tulisan saya lebih berkembang ke Berbagi Informasi atau kalopun fiksi ya lebih berbobotlah. Pokoknya pengen  ada gunanya lah ketimbang isinya curhat gak jelas. 

Oh ya.. satu lagi yang kepengen banget saya tambahkan di setiap postingan saya. Yaitu Konten Gambar yang hasil tangan saya sendiri. Jadi enggak perlu nyomot dari google. OOOH… pengen jago gambar juga. Entahlah… dari sejak TK, saya tidak dianugerahi bakat menggambar. Kalopun menggambar, di benak saya hanya gunung segitiga dua buah, yang tengah-tengahnya ada matahari muncul, lengkap dengan awan dua buah kanan kiri dan burung terbang dua buah. Tak terlewatkan juga, beberapa petak sawah di samping jalan raya yang ujungnya menyempit. Titik. imajinasi saya dalam pengolahan gambar hanya berkisar pemandangan umum. Teruuuus, gimana mau jago ngegambar pake software kalo ngegambar di buku gambar aja masih kayak anak TK. Oke.. wassalam deh buat harapan yang ini. Huhuhuu..

Padahal suka banget, kalo pas lagi blogwalking nemu blog yang ada meme-memenya gitu ( bukan nyomot dari mbah google ). Tapi apalah daya, saya cuma bisa ngiri sambil berbisik pada diri, “Kapan ya saya bisa ngegambar?”

Gak terasa Bloggers, tulisan tanpa arah ini uda memuat beberapa paragraf. Cukup panjang juga si. Jam di depan saya juga sudah menunjukkan jam 11 siang. Uda cukup lama juga ya percakapan ngalor ngidul ini. 

Yaa… sampai sejauh ini, terimakasih buat yang sudah membaca, sudah ikut andil merealisakin — saya jadi blogger abal-abal— dengan postingan cukup banyak tapi kebanyakan gak berbobot dan minim pembaca. Terimakasih kepada teman, kawan, sahabat, buku-buku dan lagu-lagu yang sudah menjadi bahan tulisan saya.     

Sekali lagi…

Selamat. ANDA SUDAH NGEBLOG SELAMA LIMA TAHUN, SHIIIIIIN ! HOREEEEEEEEE

 See You soon Bloggers

@shintajuliana
sedang dalam tahap perbaikan diri.    

 

Selamat Menikah Mba Puji & Mas Edi



Bismillahirahmanirrahim..

Telah menikah “PUJI ASTUTI” dengan “EDI PURWANTO” pada tanggal 15 Mei 2016.

Alhamdulillah..

Alhamdulillah..

Terjawab sudah satu pertanyaan. Terlihat dengan jelas sudah nama partner menuju syurga Allah.

Ya.. Dia Suamiku.

Ya.. Dia Imamku.

Ya.. Dia pembimbingku untuk meraih Ridha”

Puji Astuti ( 15 Mei 2016 )

By Shinta Juliana

STAFF PHI-JAKARTA ( Tidak semua, hanya sebagian. Lapaknya enggak cukup atau kitanya yang ribet. heheehe)


———————————————————————————————————–

Lima tahun sudah saya mengenalnya. Tidak sedikit kepelikan menyingkapi setiap jalannya. Jatuh bangun untuk menggenggam mahkota dari sebuah kata yang katanya “cinta”. Banyak hal, pelik. Saya cukup tau bagaimana wajah itu tergempur habis bom-bom takdir lima tahun lalu. Semua harapannya hancur , berkeping-keping. Bahkan yang lebih parah, dia sendiri yang harus memungut puing-puing reruntuhannya. 
Saya pernah menulis kisahnya pertama kali  ( di sini ).  Saat itu takdir tanpa aba-aba mengkacaubalaukan mimpinya, hingga dia kehilangan kemudi. Hilang arah. Terpontang panting tak tahu menahu kemana harus di arahkan. Bukan ! bukan tak tau. Lebih tepatnya dia kehilangan kendali. Terlalu meyakini hal yang bukan menjadi bagian dari haknya. Itu terjadi 5 tahun lalu. Dengan sisa-sisa keyakinan dia bangkit. Tidak sebentar. Butuh waktu lama untuk menetralisir lukanya. Butuh waktu lama untuk berdamai dengan dirinya. Dan butuh waktu yang lama untuk kembali mempercayai “harapan”nya. 
Tapi, Bukankah Allah mengijinkan sesuatu terjadi dalam hidup kita atas maksud yang baik ? Bukankah setiap petaka yang menurut kita mengundang seribu duka itu dibaliknya terdapat suka yang kemudian membuat lupa akan rasa rasa dukanya ? Bukankah pelangi yang indah hanya datang setelah badai ? Dan bukankah Allah selalu punya rencana baik untuk orang-orang yang sabar dan ridho atas segala ketetapnnya ?
Saya melihat itu sekarang. Saya melihat garis takdir indah setelah badai hebat itu di barisan kisah hidupnya.  Titipan Allah yang Maha Indah. Takdir Allah yang Maha Bijak. 

Allah Berfirman dalam QS. An-Nur Ayat 26:
“Wanita-wanita yang tidak baik untuk laki-laki yang tidak baik, dan laki-laki yang tidak baik adalah untuk wanita yang tidak baik pula. Wanita yang baik untuk lelaki yang baik dan lelaki yang baik untuk wanita yang baik.” ( QS. An Nur:26 )

Ya allah menjanjikkan bahwa akan selalu ada wanita yang baik untuk lelaki yang selalu memperbaiki diri. Begitupun dengan sebaliknya. 
Perjalanan kisah mba puji, terlempar dan dilempar dari yang dia kira pelabuhan tempat terbaik untuknya pulang. Tapi setiap fasenya dia gunakan untuk terus memperbaiki diri. Banyak hal berubah dari dirinya jika dibandingkan 5 tahun yang lalu. Dari lebih sabar, lebih kalem, lebih lembut. Semua perubahan itu mengarah kearah yang positif. Hingga takdir mempertemukannya dengan mas Edi yang tak lain adalah orang yang dia kenal sepuluh tahun yang lalu. Lihat ? bukankah mudah baginya menjodohkan mereka di awal jumpa ? kenapa harus ada perjalanan sepuluh tahun, baru kemudian dipersatukan ?   Semua ini bukan karena sebab. Bukan tanpa rencana indah. Bukankah Allah menyatukkan jodoh dalam waktu yang tepat ?? Allah memberikan waktu sepuluh tahun untuk keduanya saling memperbaiki diri. Hingga takdirNya berjalan dengan begitu sempurna. Subhanallah.

Dear Mba Puji..

Selamat membangun “rumah” baru..

Rumah yang semoga didalamnya dilimpahkan rahmat, anugerah, dan ribuan berkah dari Allah..

Selamat berwisata..

Semoga Syurga menjadi tempat terakhirnya..

Aamiin..
@shintajulianaa
HWD Mba Puji Astuti 

Polemik Ibu Rumah Tangga VS Wanita karir


Klik Sumber Gambar


Belakangan ini sering terjadi perdebatan panas antara wanita karir dan ibu rumah tangga. Di zaman yang sudah mengalami reformasi besar-besaran dalam berbagai aspek, yang mana kedudukan wanita sudah diakui sah di mata hukum, bersejajar dengan kedudukan pria. Maka hal ini dijadikan satu acuan penting, bahwa wanita juga berhak atas kesuksesan di dunia luar. Wanita punya porsi yang sama untuk berkarir.
Disini, saya hanya berperan untuk menyampai pendapat, tidak untuk membenarkan kubu manapun. Karena bagi saya, menjadi ibu rumah tangga atau wanita karir, keduanya adalah panggilan jiwa yang mana tidak hanya cukup dinilai dengan “sekedarnya”.
Sebagai seorang wanita yang sudah berani melangkah ke jenjang pernikahan, mereka sadar betul, bahwa dalam cangkupan kehidupannya bukan lagi hanya berpusat di dirinya. Ada orang lain yang berhak banyak atas dirinya, yang mana orang lain itu menjadi bagian penting kehidupannya.
Tapi adakalanya beberapa prioritas lain yang turut serta mengambil bagian dari dirinya.
Wanita, disini kami paham betul apa peran seorang istri. Begitupun hak yang dimiliki anak-anak atas peran ibu. Begitupun dengan banyak orang yang pada akhirnya memilih berkarir dari pada menjadi ibu rumah tangga secara utuh.
Beberapa hal mendasar yang menjadi faktor pendukung di antaranya :

1. Alasan ekonomi

Mari kita bicara faktor ini dalam cakupan ekonomi menengah ke bawah. Pernikahan dalam cakupan luas adalah menyatukan dua keluarga yang semula tidak tau menahu, menjadi saling. Yang mana, tau menahui itupun dijabarkan dalam tindakan nyata, seperti saling menolong dalam kesulitan, saling mensupport, saling meluangkan waktu, saling memberi, dll.
Lelaki, taukah beberapa hal yang berkecamuk dalam beberapa wanita yang harus meninggalkan pekerjaannya untuk tetap di rumah ?
Taukah beberapa kebimbangan yang mendominasi pikiran yang beratnya bukan kepalang ? Ya keluarga pihak wanita. 
Ada beberapa wanita yang setelah menikahpun tetap menghawatiran kehidupan orang tuanya, masa depan adiknya. Open your mind, dalam kasus ini tidak semua orang beruntung memiliki ekonomi cukup. Banyak kasus yang menyebutkan, bahwa seorang wanita rela menjadi wanita karir adalah tuntutan keadaan yang mana dia tidak bisa menutup mata saat orangtua nya butuh bantuan, tidak bisa menutup telinga atau lantas mematungkan diri atas beberapa duka yang menerjang keluarganya. 
Al-qur’an dan Al-hadist berkali-kali menyebutkan, bahwa hak penuh atas diri seorang wanita setelah menikah bukan lagi ada pada orang tuanya, melainkan suaminya. Tapi naluriah seorang anak atas rasa iba tetap tidak ada matinya, sekalipun dia telah berkeluarga. 
Sebagian orang mungkin akan bicara dengan lantang,“milik suami adalah milik istri.” Namun, dalam bukti nyata, bagi mereka yang punya mental mandiri, meminta kepada suami adalah hal-hal yang tidak mudah. Bagi mereka yang terbiasa mandiri, yang terbiasa menopang susah sendiri, yang terbiasa bisa lantas tiba-tiba harus bergantung penuh pada penghasilan suami, hal ini lumayan menggelitik ego diri. Ada rasa malu yang menguar.
Nah, alasan itulah yang kemudian memicu sebagian wanita untuk kembali terjun kedunia karir bahkan setelah berkeluarga.

2. Jenuh dengan rutinitas

Poin kedua mungkin banyak orang kontra. Tapi pada kenyataan di lapangan, seorang wanita yang terbiasa bekerja, terbiasa bersosialisasi dengan dunia luar, bercakap tentang banyak hal, menyelesaian banyak tantangan di dunia kerja, menghandle berbagai problematika seputar pekerjaan, lantas tiba-tiba harus berdiam di rumah, bercengkrama dengan bumbu-bumbu dapur, berteman dengan cucian kotor, percayalah ini sangat butuh latihan dan kesadaran tinggi.
Jika kita membaca buku tentang family guide, yang di dalamnya memaparkan banyak kegiatan-kegiatan kecil di rumah, pembelajaran mendasar untuk anak, pastilah naluriah kewanitaan akan sedikit tercongkel. Tapi, hal ini bagi sebagian wanita tetap tidak bisa memberi roh pada jiwanya yang haus akan prestasi.
Well, saya gak mau banyak komentar untuk poin kedua, yang mana fakta ini sebetulnya banyak ditemukan di kota-kota besar dengan sebutan “ibu masa kini”. Kota yang haus akan reputasi dan prestasi.
3. jaga-jaga untuk kemungkinan terburuk

Hidup memang tak selalu menyuguhkan bahagia, tidak melulu tentang tawa. Ada kalanya cacat menjadi awal duka. Begitupun dengan pondasi rumah tangga. Iman seseorang ada naik turunnya, begitupun dengan keasadaran. Manusia tak luput dari khilaf. Sebagian wanita memilih tetap bekerja sealipun sudah menikah adalah takut-takut si suami berbelot arah, tidak lagi bisa mempertahankan keutuhan dengan alasan berbeda prinsip atau hal lainnya. Maka, alasan ketakutan perceraian itulah yang menyebaban sebagian wanita tetap memilih bekerja.
Mungkin di poin ini banyak yang mendengus, tapi dalam catatan ini saya ingin membuka pandangan, tanpa unsur menitikberatkan pada satu kubu. Tidak, tulisan ini saya buat netral berdasarkan banyak kasus disekitaran.

Mari tinggalkan faktor pendukung seseorang memutuskan tetap bekerja setelah menikah. Mari beralih ke beberapa kehawatiran yang menghinggapi, mengendap di pikiran sehubungan dengan naluriah seorang wanita yang mana sudah menjadi seorang ibu.
 Diantaranya :  
1. Tidak dapat memenuhi kewajiban seorang istri secara penuh.
Pernikahan. Suami dan istri. Wanita manapun yang sudah menjadi seorang istri pasti berharap bisa merauk amal yang sebanyak-banyaknya dari ridho suami atas apa yang dikerjakannya. Dan seorang istri yang bekerja di luar rumahpun, pasti menghawatirkan dirinya tidak bisa full memberikan apa yang menjadi kebutuhan seorang suami. Seorang wanita yang sudah menjadi seorang istri paham betul, bahwa suami menginginkan ketenangan, kesejukan, ketika berada di rumah. Dan hal ini, menjadi endapan pikiran tersendiri bagi sebagian wanita yang tetap memilih bekerja setelah menikah.
 
Dunia kerja yang menuntut selalu fokus, dunia kerja yang tentunya menyedot banyak energy, dunia kerja yang memporsir tenaga, tentunya menjadi kehawatiran tersendiri. Takut-takut setiba di rumah, malah langsung tidur karena kelelahan. Takut tidak bisa memberikan ketenangan saat suami pulang bekerja karena fisik dan pikirannya pun sama lelahnya.
Ya, seburuk apapun seorang wanita, dia tetap ingin menjadi istri terbaik untuk suaminya.
2. Tidak bisa memenuhi hak anak atas peran seorang ibu.
Yang paling berat dalam topic ini adalah “peran ibu” yang mana tidak seorangpun yang bisa menggantikan peran ibu walau semenit.  Jika kita sering membaca artikel tentang family guide, atau buku-buku parenting, pastilah di dalamnya mengkupas habis tentang peran ibu dalam pembentukan karakter seorang anak. Peran ibu sebagai wadah pembelajaran pertama bagi seorang anak, peran ibu sebagai media penghubung anak dengan dunia luar, mengenalkan hal-hal kecil hingga besar.
Baik ibu yang fulltime berperan sebagai ibu rumah tangga, atau yang menjadi wanita karir, pertumbuhan dan perkembangan anak tetap mejadi hal utama. Meskipun  keduanya punya cara berbeda dalam menunjukannya.
Siapa sih ibu yang tak ingin melihat anaknya tumbuh sempurna, menjadi anak-anak yang peka terhadap lingkungan, anak-anak pintar baik akademik maupun non akademik, anak-anak yang tumbuh dengan pengertian baik. Semua ibu menginginkannya.
Tapi balik lagi ke faktor pemicu, hingga pada akhirnya kedua hal yang menjadi kehawatiran itu hanya  akan menjadi perang battin sampai batas waktu yang tak bisa ditentukan 
____________________________________________________________________________
Finally…..
Berdasarkan kasus di atas, akhirnya saya membentangkan satu garis lurus antara ibu bekerja dan ibu rumah tangga, yaitu :Seorang wanita yang sudah berkeluarga tetap harus punya penghasilan sekalipun hanya berdiam di rumah.

Itu Garis besarnya !
Tapi menuju kesana, tentulah tidak mudah. Harus ada persiapan matang baik itu dana pensiun atau otak cerdas dalam memanage modal. Well, akhirnya ini mengarah pada usaha/wiraswasta, atau kegiatan lain yang bisa menghasilan uang. Di zaman yang serba modern ini, yang mana onlineshop sudah menjamur yang gampang tumbuh dimana-mana, hal ini bisa dijadikan acuan untuk ladang usaha. Atau bagi yang punya banyak modal, boleh mencoba berwiraswasta. Tidak perlu besar, yang penting ada pemasukkan.
Pekerjaan seperti itu tidak perlu menghabiskan banyak waktu di luar, tetap bisa fokus mendidik anak, memperhatikan pertumbuhan dan perkembangan anak, memberi perhatian full pada suami, disamping itu tetap bisa membantu keluarga dan tetap punya kegiatan yang bermanfaat dari sekedar duduk dan bergosip. Untuk cakupan pergaulan, semoga dengan adanya interaksi dari berwiraswata, pergaulanpun makin bertambah.

Perlu di garis bawahi, Saya Shinta dan belum melangkah ke-mahligai pernikahan. Semua pandangan yang saya tuangkan dalam tulisan ini adalah mutlak dari hasil mendengarkan, melihat lingkungan sekitar. Jadi susah mudahnya, masih berupa pengalaman mendengaran, melihat tidak melibatkan diri secara langsung.


JADI, SIMPULANNYA : 

JIKA MEMILIH UNTUK TETAP BERKARIR, HARAP MENJADIKAN KEWAJIBAN ISTRI DAN ANAK DI ATAS PEKERJAAN. MENJADIKAN PRIORITAS TERBESAR ATAS DIRI SEORANG WANITA YANG BERKELUARGA TERLETAK PADA PERAN IBU DAN ISTRI.
KEDUANYA, SEMOGA MENDAPAT RIDHO DARI SUAMI, YANG MANA RIDHO ALLAH TERLETAK PADA RIDHO’ SEORANG SUAMI.


@shintajulianaa