You are nothing !

Aku sudah terbiasa bersembunyi dalam kecewa. Kuanggap biasa semua yang hampir menyakiti malah harusnya aku menangis tanpa berniat tertawa. Tapi bagiku kini, apapun biarlah terjadi bagaimana adanya. Aku tak lebih dari mengetahuinya. Tak berniat untuk merasa lalu meratapi dengan air mata. Aku hanya mencukupkan diriku untuk tau adanya. Bagiku tentangmu tak lebih besar dari masa kemarin. Tak kan pernah ada esok yang ku janjikan. Tak pernah ada nanti yang aku titipkan. Jangan hawatir, aku sudah terbiasa. Malah justru lebih kacaupun aku pernah merasa. Kali ini, ulahmu tak memberi efek apa-apa. Aku tetap bisa seperti biasa, tertawa tanpa di reka-reka. Dan bahagia tanpa merasa kamu tak ada.

klik sumber gambar

——————————————————–
Everybody knew you’re a liarEverybody knew you’re a playerEverybody knew you’re never seriousRisk your love at meAnd i tell you once again baby———————————————


@shintadutulityumtuk kamu yang gagal menyakiti


Heart Journey On Saturday


I would rather hurt myself
Than to ever make you cry
There’s nothing left to say but good-bye
You deserve the chance at the kind of love
I’m not sure I’m worthy of
(good bye – air supply )
   ( Lagu yang belakang jadi playlist rutin setiap pagi, siang dan malam. )

_______________________________________________________________________
_______________________________________________________________________

 Aku sedang tak mau banyak bicara. Entah aku kehilangan selera. Mengenai apapun. Aku sedang tak suka becanda. Aku sedang tak suka banyak bicara. Aku ingin diam saja. diamkan saja, aku. Memang aku sedang ingin menikmati sunyi. Sampai merasa benar-benar sendiri. Lalu terjerambab dalam sepi. Yang dulu aku benci karena sepi berhasil menemukanmu. Meskipun kamu sedang asyik di kota berbeda. Aku selalu berhasil menemukanmu. Dan aku tak suka. Tak pernah suka. 

Sekarang aku termakan lagi sepi. Tapi sunyi tak berhasil mengundangmu kembali. Diam tak berhasil membuatmu bicara. Kamu pergi terlalu jauh, atau rasaku yang sudah tak mampu.

Aku rindu. Hingga malam kubiarkan mengoyak semua memori tua. Aku rindu. Hingga mata kubiarkan terjaga begitu saja. Tapi kali ini aneh. Tidak seperti rindu yang bertahun-tahun belakang liar membuat sesak dada. Kali ini lebih lembut. Menyentuh malam. Menggetarkan bibir. Memaparkan doa. Untukmu. 

Aku tak tau apa rasa yang sedang berusaha aku sirnakan. Atau bisa saja aku pertahankan. Yang ku tau, aku tak begitu suka lagi mengingatmu. Aku tak begitu mudah lagi menemukan suaramu. Kamu menghilang. Tapi doa kebaikanmu tetap aku inginkan. Meski aku sudah tak ingin jadi yang engkau inginkan. Aku sudah cukup bahagia, menyediakan waktu malam untuk mendoakanmu. Menjadi wanita yang sepenuhnya ingin melihatmu tersenyum, bahagia. Dengan siapapun atau apapun yang membuatmu bahagia. Aku tak peduli. Asal kamu bahagia, cukup !

Klik Sumber Gambar

And I hope you find it,
What you’re looking for
And I hope it’s everything you dreamed your life could be
And so much more

And I hope you’re happy, wherever you are
( I Hope You’re Happy – Miley Cyrus )


__________________________________________________

__________________________________________________

Untuk Hati yang paling mulia.
ketika menjadi pecinta yang tak tau mau apa.
kecuali satu bahagianya yang menjadi tujuan nyata.

@shintadutulity

“Dari hatinya, aku bicara…” 12sept2015 (13:50)

Klik Sumber Gambar

“Dari hatinya, aku bicara…” 12sept2015 (13:50)

          Kita adalah satu. 
          Aku harap ini bukan hanya menurutku. Bukan hanya keyakinanku. Bukan hanya tentang penglihatan mereka saat kita bersama. Aku harap kita benar-benar satu. Sebut saja gagah. Lelaki jawa yang dengan gagah menyentil hidupku yang belakang hampa. Lelaki yang tau tatakrama yang dengan lembut mengajarkanku untuk berdiri lagi, saat sedang jatuh-jatuhnya. Aku fikir, aku hanya sedang terpesona. Kehadirannya yang tanpa sengaja membuatku enggan mengakui adanya. Kehadirannya yang pelan-pelan tak pernah luput dari lingkaran hidupku dalam keadaan susah maupun senang membuatku bergantung padanya. Dia Gagahku, yang benar-benar gagah memapahku. Menuntunku, menunjukkan arah rumah ternyaman untuk kami berdua. 
         Pelan-pelan aku menganggapnya lain, terlebih saat diapun mengutarakan hasrat untuk bersamaku slalu. Taukah, waktu seakan berhenti saat mengetahui Gagahku tersenyum karena ulahku. Taukah, betapa tenangnya aku saat bersandar dibahunya ?
        Selang waktu berlalu. Dan aku sadar, itupun sudah tak berlaku. Gagahku bukan lagi untukku. Aku sudah tak mau tahu apa yang menyebabkan dia pergi, karena nyatanya dia memang sudah tak lagi disini, menyemangati. Aku sudah tak mau ingat lagi cekcok ringan sampai hebat pada malam itu, yang ku tau dia pernah benar-benar tinggal disini. Melakukkannya dengan baik, pecinta yang sangat sempurna. Aku sedang tak ingin mengingat luka, apapun bekas pergimu. Sudah cukup aku menangis meski tanpa air mata. Sudah cukup aku mengecam meski dengan penuh cinta. Aku terlalu bahagia, hingga pergimu benar-benar hampir membuatku gila. Sudah, aku biarkan setahun membawa luka. Biarkan putih dinding menjadi teman setia. Biarkan malam mengais kasih yang sudah tak lagi setia. Aku ijinkan dia pergi. Apapun sebabnya, aku sudah tak ingin ambil hati. Bagiku baik dan buruk, sebabnya tetap mengundang air mata. Aku tak lagi mau tahu apapun dan bagaimanapun cara ia lupa, karena untukku tentang pergimu tak pernah membuatku tertawa.


  Kamu pecinta yang baik. Itu yang ku tau.  Kamu selalu ada, nyatanya memang begitu. Meski itu memang terjadi dulu saja. Yang ku tau, kamu selalu hadir membawa tawa. Lalu setelahnya jika luka yang kamu bawa, itu bukan kamu. Bukan kamu yang aku cinta. Karena yang aku cinta tak pernah ingin membuatku mengeluarkan air mata. Kamu adalah pahlawannya. Yang dengan gagah menuntunku dalam badai. Nyatanya memang begitu. Kamu seperti cahaya diantara gelap gulita. Kamu adalah orang yang menyemangati saat aku sedang jatuh-jatuhnya. Lalu jika sekarang justru yang membuatku jatuh adalah kamu, itu bukan kamu. Bukan kamunya yang aku yang senantiasa aku sebut dalam do’a.
 Aku bahagia memilikimu, jikapun sekarang aku terluka karena kehilanganmu, sekali lagi itu bukan keran kamu yang aku kenal.

Kini aku semakin sadar. Kamu memang pecinta yang baik. Paling sempurna diantara barisan lain yang sempat menimbulkan debar berbeda. Meski akhirnya kamu yang paling membuatku terluka. Ah sudahlah,,, aku benar-benar sudah mengijinkannya pergi. Bersama wanita pilihannya. Bersama wanita yang kini menjadi ibu anak-anaknya.
Ini catatan paling objektif. Tanpa luka ketika mengingat masa damai bersama. Meski hanya menonton film berdua sambil mencicipi masakan seadanya. Sekarang aku mulai berani lagi bercerita. Bercerita saja tanpa hasrat ingin mengulang. Bercerita saja tentang pria yang pernah dengan sempurna mencintaiku, bertahan dengan segala egoku. Biarkan aku bercerita tanpa cinta atau luka. Maaf untukmu yang sekarang sedang menggendong bayi perempuan. Aku tidak sedang marah atau dendam, aku sedang membanggakan ayah dari bayi perempuan yang mungkin sekarang masih belum bisa menyebutmu, Ayah. Aku membanggakan cinta dari pria yang sekarang sudah syah jadi imam perempuan sebrang. Sekali lagi izinkan aku bercerita…

Aku bahagia…

Saat pertama kali kamu menemaniku memasak sore itu. Membantuku mengiris bawang merah sambil terpedih-pedih. Iya itu kali pertama kamu memintaku memasak. Rendang. Itu makanan kesukaanmu. Dari jam 2 sore kamu sudah tiba di tempatku. Melepas jaket, dan langsung menyerbuku di dapur. Kamu tak menghiraukan kehadiran oranglain, kamu terlihat nyaman adanya. Sampai akhirnya kebiasaan itu berlangsung setiap akhir pekan.
Aku mulai menerima genggaman tanganmu kemanapun kaki melangkah. Aku mulai terbiasa dengan wangi parfummu. Aku mulai terbiasa dengan aroma bekas rokokmu yang tersisa di bajuku. Aku mulai benar-benar mengenalmu.
Aku nyaman bersamamu…
Yang ku tau itu. Hingga aku sudah tak lagi menyembunyikan rasa sedihku, hingga aku bisa dengan ringan menceritakan masalah hidupku. Aku berbagi semuanya, karena berbagi denganmu membuatku tau, aku tidak sendirian lagi sekarang. Ada kamu. Kamu yang sudah membebaskanku mengecek isi dompetmu. Membawanya, mengangapnya milikku saat kita jalan bersama. Kita benar-benar sudah terbuka. Dan aku benar-benar bahagia.
Kamu pahlawanku..
Itu yang aku sangat-sangat ketahui. Saat jatuhnya aku, dan saat benar-benar sendiri, kamu selalu datang. Lebih dari menyediakan pundak untuk bersandar. Kamu sempurna mengerti setiap marahku. Kamu sempurna mengalah dalam setiap tingginya egoku. Kamu sempurna menunggu dalam setiap ketidakperdulianku. Kamu sempurna mengertiku.
Jadi.. kalau sekarang mereka menghujatmu atas apa yang kamu lakukkan padaku. Jika mereka mengecapmu sebagai lelaki pengkhianat, aku membelamu didepan. Mereka tak pernah tahu, betapa baiknya kamu mencintaiku. Betapa sempurnanya kamu memperlakukanku. Hanya aku yang tahu. Meski sekarang kamu benar-benar sudah tak lagi sama. Kamunya aku, tetap pecinta yang baik. Jika sekarang berkhianat, itu bukan pengkhianatan. Tapi tugas, saat posisi cintaku bukan lagi prioritasmu. Jika aku terluka dan merasa tak lagi di bahagiakan, itu bukan karena kamu sudah membenciku. Tapi karena prioritas bahagiaku sudah bergeser. Terganti dengan gadis lain yang menurutmu lebih baik dan pantas.
Kamu pecinta yang baik. perlukah aku menjelaskan lebih detail tentang kebaikanmu ? hingga mereka mengerti bahwa kamu tak sejahat yang mereka fikir. Meski mungkin ada beberapa hari terakhir yang membuatku akhirnya menyesali pertemuan ini.

Ini hanya tentang tugas. Dan tugasmu ketika mencintaiku sudah cukup baik. Terimakasih sudah pernah mencintaiku. Mempertahanku. Membuatku istimewa. Terimakasih, pria yang sekarang sudah menjadi ayah dari perempuan cantik berinisial  A. 

_______________________________________________________________________________
_______________________________________________________________________________
Terimakasih sudah membaca. Ini hanya kelanjutan tentang cerita gagah. Kisah Kinar yang meminta dilanjutkan. Selamat berbahagia untuk Gagah dan Mawar. Mau tau lebih banyak cuplikan-cuplikan ceritanya baca di sini
Sekarang Kinar sudah Move up, sudah mendapat kehidupan barunya. meski bukan bersama gagah. Gagah tetap tokoh pecinta sempurna yang memiliki dua cinta wanita yang sempurna juga.
salam hangat^^
@shintadutulity

Pentingnya Etika

Belakangan ini saya sering menemukan beberapa orang yang becandaannya diluar batas. Atau mungkin kedekatan membuat sebuah etika kesopanan hilang. Contohnya masalah hidup yang jadi bawan becandaan, nagih hutang di sosmed, terus gak ada lagi istilah jaga perasaan orang. Semua dibuat wajar. Saya terheran, saya yang memang kurang bergaul atau terlalu sensitive terhadap situasi di sekitar.  Sekalipun kejadian ini bukan dialami diri saya pribadi, tapi saya merasa sangat unrespect terhadap orang-orang yang sama sekali menurut saya tidak tahu sopan santun.
Ibarat penampilan, tatakrama adalah pakaian kita. Yang dimana jika pakaian kita tertutup, sopan, maka orangpun akan segan berbuat usil terhadap kita, tapi jika penampilan kita urakan, selengean, makan orangpun akan dengan mudah mencemoohkan kita. begitupun dengan tatakrama, semakin kita menjaga sikap, tau batas mana yang boleh dan tidak, tau mana daerah privasi oranglain dan mana daerah umum, tau bagaimana harus bertindak dan bersikap, tau dan mengerti betul batas-batas dalam pergaulan, baik gerak fisik maupun psikisnya, baik lisannya maupun tulisannya. Maka oranglain pun akan segan terhadap kita, menghormati kita, menghargai kita, dan akan berusaha berkomunikasi dengan kitapun dalam bahasa yang baik. Gak mau kan kalo tiba-tiba di ajak ngobrol terus gaya ngobrolnya kayak kenek di terminal ? Gak mau kan di deketin orang terus gaya ngedeketinnya kayak ngedeketin anak malam yang doyan nongkrong di Club ?

Ingat ya gaess, kualitas diri kita adalah urusan kita. berpandai-pandailah dalam hal ini. Karena kualitas diri kita, menentukan bagaimana orang lain akan bersikap (bukan tentang status social).

Ini bukan tentang status sosial seseorang, ini adalah tentang bagaimana seseorang itu pandai mengenakan cover. agar terlihat mewah, menarik, sekalipun mungkin dalamnya dekil atau kusam.

Pertama, saya juga bukan orang berpendidikan tinggi. Saya juga lahir dari keluarga yang penuh dengan kesederhanaan. Tapi sejak kecil, kedua orang tua saya mengajarkan lengket tentang bagaimana harus bersikap. Mengajarkan dengan detailnya batas-batas mana yang boleh dan mana yang tidak boleh. Apa kebebasan membuat merekapun bebas bertindak apa saja sekalipun diluar zona haknya ? Apa dalih be your self membuat mereka ogah-ogahan jaga image dan cenderung tidak lagi mementingkan tatakrama ? entah saya tidak begitu faham. Mungkin Jakarta menjadi lingkuran sebab di mana kebebasan menjadi dalih tatakrama pudar.

Pernah sekali-kali saya memergoki teman yang gaya obrolannya seperti ke teman sebaya, padahal posisi lawan bicara jauh usinya diatasnya. Memakai bahasa tubuh yang sewajarnya dilakukan dengan teman sebaya. Saya sempat berfikir, kok bisa seperti itu ? bukannya sebagai yang lebih muda wajib memilah-milih bahasa mana yang pantas dilontarkan ketika lawan bicara lebih tua, sebaya, atau berada dibawah usia kita ? kenapa semua menyamaratan ? dalih kedua adalah “keakraban”. Mereka menyebut keakraban sebagai sebab dimana kita berhak menggunakan gaya bahasa yang katanya gaul. Keakraban membuat “jaga image” sudah tak diperlukan. Memang, saya akui. Jaga image yang berlebihanpun tidak membuat orang lain nyaman ketika bersama kita. Pun, jaga image juga diperlukan untuk memilah bagian keburukan diri kita mana yang harus tetap kita sembunyikan. Karena bagi saya pribadi, tidak semua hal tentang kepribadian kita di publikasi. Karena tidak semua orang bisa menerima. Malah akan sangat lebih baik, seiring keburukan itu disembunyikan juga dibarengi dengan perubahan kearah yang lebih baik. Mungkin sebagian akan menganggap saya bertopeng, so perpect, atau gak jadi diri sendiri. Pahami kita bebas menunjukkan diri kita seadanya dengan batas-batas kewajaran dan tentunya dibarengi etika.
Orang tua saya pernah berkata, 

“Yang menjadi pembatas pergaulan itu bukan level kekayaan, pendidikan, atau hal apapun yang dianggap punya nilai sosialitasnya, tapi etikalah batasnya. Maka sekalipun kita bukan orang kaya, tidak pandai, tidak berpendidikan, tapi tetap jaga etika, jaga tatakrama, sopan santun, agar dengan siapapun kita bergaul maka orang-orang akan menghargai kita.”

 jadi sedekat apapun dengan oranglain, orang lain tetap manusia yang punya perasaan.  Tetap punya zona pribadi. Hargai itu ya gaeeess….

Klik Sumber Gambar
Terimakasih sudah membaca.
ini hanya tentang kacamata saya pribadi, maaf jika ada kesalahan.
@shintadutulity 

ANAK RANTAU VS HARGA KOST

Selamat pagi bloggers J

Sebenernya sudah dari jauh-jauh hari pengen banget bahas ini. Suka dukanya anak rantau dengan harga kostan yang setiap tahunnya mengalami kenaikan. Well, saya juga masih dalam tahap shock therapy akibat kenaikan harga kost yang melejit mulai pembayaran September nanti. Sementara ya readers, perusahaan baru akan mengalami kenaikan pertahun setiap bulan Februari. And you know lah simpulannya berarti harus pangkas dana sana-sini buat nombokin budget kostan yang nambah.
Klik Sumber Gambar

A : “Kostan gue naik ni.”
B: “gue juga, naek 200rb”
A: “gaji mah belum naik”
B: “Belum tentu juga gaji naeknya 200rb-an”
A & B : “-____________-“


Ng-KOST !
Anak rantau pasti akrab banget sama nama ini. Iya semacam bangunan pengganti rumah yang diusahakan senyaman rumah juga. Meskipun nyatanya mustahil banget. Rumah tetap akan jadi tempat pulang ternyaman. Tapi ya buat kita yang berada jauh dari rumah dan dituntut bertahan dalam suatu kota yang gak ada family,  ya alternatifnya pasti ngkost. Mungkin buat yang punya family dan pengen hidup “bebas” pasti akan lebih memilih ngkost ketimbang numpang dirumah sodara. Bebas yang dimaksud bukan hal-hal aneh ya, tapi bebas yang saya maksud adalah bebas ketika kamu lagi males ngerjain kerjaan rumah dan milih leyeh-leyeh tanpa harus ada rasa gak enak karena hal itu. Taulah gimana bebannya tinggal sama sodara. Saya dulu pernah ngalamin ya, dan cuma bertahan sekitar satu minggu. Bukan karena diusir atau tidak diinginkan ada ya, tapi karena perasaan gak enaknya itu lho.

Oke back to “ngkost” !
Harga kost di kota-kota besar salah satunya Jakarta memang cukup merogoh kocek buat mereka yang hanya berpenghasilan pas-pasan. Hanya cukup buat makan 30 hari, bayar kost, dan keperluan pribadi. Jadi harus ekstra ketat dalam pengaturan keluarnya itu duit, kalo enggak ? ya siap-siap ngutang sana-sini. Hihi…
Anak rantau. Yang mau saya bagi disini adalah versi saya ya. Versi anak rantau yang sudah bekerja dan berusaha mandiri sengan seberapapun penghasilannya. Garis besar yang harus dicatet, anak rantau belum sepenuhnya disebut anak rantau jika apa-apa masih minta sama orang tua. Babebubebonya masih ngadu sama orang tua. Buat saya kalo seperti itu, hanya sekedar pindah tidur bukan merantau. Malah lebih bagus lagi, sekalipun kita dalam keadaan pas-pasan tapi masih menyisihkan uang untuk berbagi. That a great person J

Ngkost itu suka dukanya apa aja si ?


1.       Bebas. Kalo bahas poin ini banyak banget deh, panjang cakupannya. Pokoknya anak kost itu bebas mau pulang jam berapa aja, pergi kemana aja, sama siapa aja,  tanpa perlu ijin dulu atau dengerin rentetan nasihat yang kalo dirumah mungkin perginya 2 jam doang nasehatnya bisa sampe 5 jam. Bebas juga ngatur waktu seenak jidat. Nyuci kapan aja, atau bahkan sampe cucian lumutan, kamar sampe berantakan, susah bedain mana cucian mana pakaian bersih, kuping kamu tetep bakal adem deh. Gak akan ada yang neriakin panjang lebar. Keadaan ini Cuma berlaku buat kamu-kamu yang males akut ya. Pokoknya anak kost itu bebas mau gaya apa juga, tetep gak akan ada yang peduli. Termasuk pas kamu sakit. Yess, ini dukanya. Saking bebasnya dan gak ada satupun yang peduli kamu mau ngapain di kamar sepetak kamu itu, sampe pas sakit pun, kamu harus masak dan makan sendiri. Secara mau ngandelin siapa ? Pacar ? temen ? sodara ? sahabat ? yaelah.. pas kamu happy aja gak pengen dirungsingin hidupnya sama orang, sekarang pas susah ngerengek-rengek minta di perhatiin ? kamu fikir hidup orang Cuma berkutat dingurusin kamu doang ? nyiapin bubur terus nyuapin kamu ? sepenting itukah kamu ? sorry kalo buat saya pribadi selagi masih bisa sendiri ya ngapain minta tolong sama orang. Manja banget tauuuuu… *oke saya songong*
2.      Mandiri. Untuk beberapa tife manusia mungkin ngkost aja gak bisa buat seseorang mandiri. Iya, ngkost gak bakal bikin seseorang itu mandiri jika masih terus bergantung ke orang tua. Saya pernah punya temen kost. Dia uda berpenghasilan lumayan lah, tapi setiap bulannya masih nerima kucuran dana dari orang tua. Masih nerima kiriman banyak makanan. Sorry kalo ada yang kesinggung ya. kalo buat saya si, ketika kita udah punya penghasilan sendiri, ya kita dituntut untuk bisa mencukupi kebutuhan sendiri. Kurang dan lebihnya nikmati sendiri. Disini , dikeadaan sulit seperti ini, yang mana teman dan yang mana h a n y a teman akan jelas terlihat.
Nah, sekedar masukan ya.. buat mereka-mereka yang berniat merantau apalagi tujuan rantauannya Jakarta harus punya pendirian kuat ya. Jangan sampe berubah kepribadian. Jangan sampe terbawa arus terus kehilangan jati diri. Jangan sampe tergiur dengan kesenangan sesaat. Jangan berubah. Tetep harus jadi diri sendiri.
Pernah ada temen yang bilang seperti ini, “hidup itu jangan terlalu flat, kali-kali nyobain deh hal-hal yang baru.” Dan akhirnya tanpa dia sadari hal baru itu menjadi kebiasaan yang akhirnya merubah citra dia. Ingat perilaku orang terhadap kita, tergantung segimana baiknya kita dimana orang itu.
Eh-eh ko jadi merembet ke pergaulan ya ? haha.. gak apa-apa ya sekalian aja, mumpung tangan lagi rajin ngetik. Tapi beneran lho bloggers, pergaulan emang lengket banget sama anak kost yang hidup bebas. Apalagi di ibu kota, iiih pandai-pandai jaga diri ya J

Okee… gitu aja sih note nya. Sekarang Saya mau nyari kost dulu. Semoga dapet yang lebih nyaman, memadai, dan tentunya nyaman di kocek. Dadaahh baabaaaayy…. J

Kalo mau baca lebih lengkap suka dukanya versi hipwee baca disini ya (klik me) !


@shintadutulity
yang lagi galau-in harga kostan !

Kenapa NG-BLOG ?

Klik Sumber Gambar
Sore tadi ada teman saya yang dari dulu suka menulis.
 Dia bilang :
1.       Banyak si gue nulis, tapi di laptop doang.
2.       Gue sebenernya pengen banget post tentang kisah gue, tapi horror orangnya baca.
3.       Gue belum berani, takut ada yang salah ngartiin tulisan gue.
3 point tadi yang bikin si A jadi bergerak seadanya di dunianya sendiri. Ya menurut saya,  setiap orang punya dunianya masing-masing dalam artian dimana dia bisa bebas berekspesi. Orang yang suka nulis, otomatis dong dia mengekpresikan apa yang di dengar, di rasa, di lihat dengan bentuk tulisan. Orang yang suka melukis ya dengan melukis. Orang yang suka bernyanyi, dengan bernyanyi. Begitupun seterusnya. Bebas.
Dan kami yang rajin posting ini-itu di blog atau situs lainnya. Saya tekankan lagi ya, ini bukan ajang cari muka atau pengen di perhatikan banyak orang. Bukan ingin tersohor atau dinilai punya peran. Kami hanya ingin menulis. Itu saja. tentang apapun yang ingin kami sampaikan.

Dan kalo ada yang nanya apa ini berguna, saya jawab iya untuk saya. Mungkin buat pembaca si enggak ya. Cenderung curhat kalo isinya cuma cerita sehari-hari. Cenderung pesimis jika isinya keluhan. Dan sok menciptakan image bijak kalo isinya semua tentang positif energy. But, disamping semua itu “menulis” buat yang hobby nulis yang emang berguna banget. Lebih simplenya kita bisa mengulang semua history cerita kita hanya dengan kembali membacanya. Merasakan lagi moment-moment sejarah hidup kita. Berasa punya album kenangan dalam bentuk tulisan sendiri. Dan kalopun semua isinya semu, itu bukan berarti seseorang itu pemimpi justru dia perasa. Punya perasaan kuat terhadap sekitar, bisa berperan jadi siapapun yang dia dengar. Bisa hidup dalam seribu karakter secara bersamaan.
Kalo gunanya gitu ya apa bedanya ngesave tulisan di laptop. Saya dulu juga sering banget nulis yang Cuma berakhir  jadi draft aja. Gak ada yang baca. Gak butuh juga si. Toh tujuannya hanya ingin mengabadikan setiap potongan ceritanya. Hingga tiba waktu, laptop rusak. Dan semua keformat. Zzzzzz… Damn moment banget !
Satu hal lagi di poin pertama. Kita bisa merasakan kembali sensasi kesedihan atau kebahagiaan saat membaca kembali tulisan ketika pada detik setahun atau sepuluh tahun yang lalu. Coba kalo misal cuma asal cerita, pasti kita gak yakin pernah mengalami hal itu. Banyak pertanyaan, “bener gak sih ? emang iya dulu pernah begini, begitu, bla-bla-bla.”Kalo ada tulisan kan ada bukti nyatanya. Kita sendiri yang menulis kalimat bahagia itu. Atau bahkan kita sendiri menguntai sedih sedemikian pilu itu.
Untuk poin kedua. Pengen ketawa dulu. Ya. Poin ini saling berhubungan sama poin ketiga. Hm, awalnya ya panas dingin si. Ngeri. Horor. Tapi sekali lagi, disini kita sebagai tuan rumah. Mereka hanya tamu yang gak di undang. Jadi kalo misalkan yang dituju itu membaca atau ngerasa, ya itu tentang urusannya. Dia yang bersedia masuk ke ranah dunia kita. Itu biar jadi urusannya selanjutnya. Berani klarifikasi atau cukup tenggelam dalam “kegeerannya” sendiri. Karena saya pastikan; “tidak semua apa yang ditulis itu tentang penulisnya.”

Jadi buat yang suka menulis, tulis saja apapun yang ingin kamu tulis. Berperanlah jadi siapapun. Nikmati setiap sandiwaranya. Kita yang punya panggung, kita juga yang punya cerita. Penonton cukup membaca. Komentar tak akan pernah jadi apa-apa. Biar berkoar diluar.
@shintadutulity
Note ini didedikasikan khusus untuk Dina Purnamasari.
Selamat menulis.

Sore yang terbuka

Klik Sumber Gambar
Selamat sore kamu di kotamu.
 Semoga selalu bahagia dan dalam kelapangan hati untuk mau terus mengerti.
Maaf aku akhir-akhir berhenti percaya. Kamu pasti tau, aku yang mudah terbawa salah. Hari minggu kemarin aku kemakan emosi, lebih lama itu timbul ego diri yang sulit untuk aku tahlukan. Aku berhenti percaya. Termakan banyak fakta. Ingin aku tanya agar semua lebih jelas adanya, tapi apa daya kita tak pernah diberi celah untuk saling memberi. Atau memang kamu yang tak mau ?
Hari itu sebelum aku melihat jempol  kamu berkeliaran di salah satu postingan yang “ah” sebut saja aku tak suka kenapa harus dia. Bukan untuk mendikte, nyatanya aku timbul seribu tanda tanya yang mengungkungku dalam berjuta kemungkinan. Aku tak bisa dan tak mau satuhalpun dari prasangka burukku jadi nyata. Oke, baik. Kamu boleh menyebutku cemburu, childish atau apapun. Tapi aku benar-benar tak suka. Aku fikir semua akan berhenti hanya disitu. Hingga tiba saat aku bercerita dan mengambil garis besar dari semua peristiwa,
seseorang teman berkata ;

aku terlalu bodoh bertahan dan bersedia untuk membuka hati hanya untuk seseorang sepertimu. Yang tak pernah mau berkorban atau lebih menghargaiku. Kamu yang katanya tidak pernah punya perasaan istimewa, kamu yang tak pernah ada anggapan lain dengan adanya kita. Kamu yang hanya menyuguhkan harapan hampa hanya agar aku merasa terbang. Kamu yang katanya buruk untuk lebih aku perjuangkan.

Itu kali pertama aku tak suka. Aku tak suka dengan segala rasa yang aku biarkan tumbuh liar tanpa berusaha untuk aku punahkan. Itu untuk pertama kalinya aku benci semua yang pernah ada, semua kisah kita yang menuntunku untuk terus selalu suka. Dalam bahasa lebih kerasnya, itu untuk pertama kalinya aku benci sosok kamu. Yang tak pernah mau memberi hal berarti dalam ikatan pasti. Aku benci.
Sekali lagi aku tersungkur dalam lubang kebimbangan. Terlebih untuk maju dan berpaling lagi dengan pria lain atau terus seperti ini menikmati setiap fase yang kamu mainkan.
Maaf aku seterbuka ini disini. Tidak bisa bicara langsung atau bertanya langsung. Ini duniaku, dan disini aku bebas menuangkan apapun yang aku suka dan aku mau menulis kamu saat ini. semoga kamu tidak keberatan.Ini duniaku dan aku memang suka menulis menumpahkan apapun yang ku mau. penilaianmu atau mereka biar saja. aku ingin tak peduli.
Ingin aku hentikan jika memang ini hanya aku sepihak. Ingin sekali. Ini bukan kali pertama aku ingin berhenti. Hanya saja aku belum mampu. Kamu masih terlalu baik, dan aku belum begitu terluka. Coba Pergi dengannya, mungkin itu akan lebih mudah untukku bisa menerima. Biar kita hilang dan aku melanjutkan hidup tanpa sedetikpun kamu membayangi. Lakukkan itu, jika benar kamu tak pernah menganggap aku lain.
Aku tak bisa begitu saja berhenti hanya karena tegoran sepihak atau sakit yang masih bisa aku sirnakan. Kamu baik dimataku, Kamu tetap baik hingga kini sekalipun seribu orang kini memintaku untuk lebih memilih maju daripada mempertahankan kamu yang semu.

Bilang, Katakan, tunjukkan aku harus bagaimana…

Sakiti aku parah jika memang kamu ingin aku berhenti bahkan pergi. Kamu tau bagaimana caranya, kamu yang tahu bagaimana. Hingga harus aku mengepak semua kenangan, hingga mungkin aku harus mengubur semua mimpi dan harapan, hingga mungkin aku harus kuat untuk ditertawakan di belakang, dan jika kamu melakukkannya, kamu akan menghentikanku dengan pasti. Kamu akan kufikir mati karena menyakiti tanpa toleransi.
Ya. Aku yang mudah untuk kau sakiti. Sejak saat aku percayakan hatiku utuh untukmu. Kamu berhak melemparnya. Hingga berkeping-keping jika perlu. Agar aku lebih mudah untuk membenci.
Sekali lagi, aku tak mau segala prasangka burukku jadi nyata. Apalagi sampai hilang percaya.
Selamat sore kamu, dan semoga kamu diberi lebih untuk mengerti.
@shintadutulity
untuk soremu ada salam dari langit jakarta
kamu ditunggu disini 🙂

Terimakasih sudah tersenyum..

Kita tersenyum. Tersipu satu sama lain. Akankah itu berarti cinta ? atau hanya bahagia karena rindu akhirnya menemui penawarnya ? Aku ingin mendeskripsikan banyak hal. Senyumanmu yang tidak pernah berubah, bahkan hal terdetail yang tidak pernah bisa aku lupa. Kamu sama. Semoga itu bukan hanya karena aku terlalu bahagia.
Tertawapun syah-syah saja. walau tak ada lelucon yang berarti, melihat tingkahmu sudah cukup membuat dahaga bahagiaku tercukupi. Mungkinkah kamu semenarik itu ? mungkinkah benar sosokmu tetap jadi kamunya aku yang tidak akan pernah bisa aku sempurnakan ? kali ini aku biarkan seadanya. Aku cukup bahagia dengan pertemuan dua pasang mata yang tak sengaja ku curi. Bila itu yang terakhir, setidaknya aku sudah punya cukup modal untuk berpisah lagi, sekalipun mungkin aku tetap tak kan mau.
Kamu perlu tahu. Bersamamu walau tanpa hal istimewa sudah cukup membuatku kebal akan luka. Kamu harus tahu. Jika ini bukan cinta, kenapa aku bisa sesederhana itu tertawa lepas ? Jika bisa setiap waktu saat aku merasa ingin bahagia, bisakah aku berpaling disisimu ? Meski selepasnya kamu atau aku harus pergi. Entah kenapa, bertemu atau dekat denganmu meyakinkanku bahwa kepergian hanya tinggal sejengkal lagi dari binar-binar mataku. Entah kenapa kamu tidak bisa aku pertahankan atau mungkin kamu bertahan walau sekedar untuk membuatku tertawa ? mungkin ini bukan cinta. Aku tak ingin mendeskripsikan lebih jika hanya untuk kembali terluka. Biar adanya begini. Datang dan pergi sesuai kau mau. Aku mampu jadi rumah tempat kau pulang; kapanpun kau bersedia.  
Maaf. Aku menilaimu lebih dari seharusnya. Seperti pernah ku bilang. Aku malu untuk lebih bertahan. Aku tidak punya apapun yang bisa kubanggakan untuk lebih memperjuangkan.
Kamu mungkin lupa. Aku juga. Entah mulai kapan perasaan tulus ini tumbuh. Bukan perasaan seperti yang lain ada hasrat menggebu memilki. Aku tidak sebegitunya. Bukan perasaan sebelumnya yang dengan mudah aku tumpahkan dengan banyak rayuan. Aku tidak seberani itu. Bukan perasaan sebelumnya yang dimana tanpa gelisah aku dengan bebas bergerak mendikte ketidaknyamananku. Aku tidak selancang itu. Padamu !
Aku untukmu lain dengan ketika aku bersedia menemani dia ataupun mereka. Aku ketika bersamamu lain dengan ketika aku harus siap sedia melayani cerita mereka. Aku untukmu sebebas yang kamu mau. Kamu pergi, akupun pergi. Kamu datang, aku lebih dari sekedar senang. Jika kamu tak bahagia sepertiku, kamu berhak berlari menjauh dariku. Perkara bagaimana aku, itu urusanku. Aku untukmu ingin selalu menangkan. Tidak perlu dengan banyak hal yang kamu upayakan, tersenyumpun aku sudah cukup riang. Aku melepasmu. Pergilah dengan siapapun yang kamu ingini, sekalipun bukan bersamaku. Bahagiamu sudah cukup mengantarku ke gerbang cerita berikutnya.
Jujur saja. kebaikanmu aku utamakan lebih dari sekedar keinginanku. Entah ini apa, yang ku tau aku tak ingin meminta banyak dari apa yang bisa aku beri.
klik sumber gambar


Terimakasih sudah tersenyum hari itu.
Terimakasih sudah bersedia ada. 
Satu do’a ku terwujud. 
Terimakasih Tuhan, terimakasih kamu !


@shintadutulity 



Dik… ( Part 1 )

Klik sumber gambar

Aku memang tak akan pernah jadi sempurna.Aku tak akan selalu memberi contoh baik untukmu.Tak akan selalu bisa memberi yang kamu mau.Tak selalu bisa menuruti apa yang kamu ingini.


                                               ****
Tertawa. Terus tertawa. 
“teh laptopnya rusak. kalo bisa beli lagi aja teh, yang ada cd roomnya. ” 
“teh otom mau belajar naik motor, tapi pengen yang matic aja teh.”
“teh katanya mau ngasih haandphone mana ih ? atau hp teteh aja buat otom.”
Semua permintaannya aku simpan. aku catat rapih dan simpan baik-baik dalam ingatan. segala harapannya, kecil dan besar aku ingat. selalu. meski tidak semua bisa aku wujudkan dengan cepat.

Dik..
Aku tahu, kamu sedang mengalami masa puber. Masa dimana kamu ingin tampil baik, masa dimana kamu lebih banyak bergaul, lebih banyak ingin menghabiskan waktu dengan teman sebayamu. Dulu, akupun pernah merasakannya. Ingin punya handphone canggih, ingin punya pakaian bagus, ingin punya ini-itu untuk bisa mengambil hati banyak orang di sekitar. Ya, saat ini, kamu masih memakan mentah kata “image”. belum memahami lebih jauh kedalam. Aku faham.

Aku memahami semua keinginanmu. semua harapanmu. semua permintaanmu. Percayalah. meski kadang, aku tak bisa mewujudkan semua yang kamu minta.

Dik…
aku ingin kamu banyak bergaul. untuk itu, aku akan mengupayakan kamu bisa diterima dilingkungan teman-temanmu. aku ingin kamu bisa menikmati usiamu. aku akan mengupayakan yang terbaik untuk itu. 
pelan-pelan. aku mengintai semua kegiatanmu. menanyakan orang rumah, dengan siapa saja kamu bergaul. mengintai akun facebookmu untuk tau lebih jelas bagaimana pandangan teman-temanmu terhadapmu. aku tak ingin kamu dikucilkan atau kamu merasa kecil, Dik.

Dik…

Aku menyayangimu dengan caraku sendiri. Menjaga setiap fase pertumbuhanmu agar selalu bisa berbaur dengan oranglain. Aku akan selalu berusaha menyetarakanmu seperti yang lain. Memberi masa depan terbaik untukmu. Memberimu banyak pilihan sekalipun dengan seribu keterbatasan. Menyanggupi setiap kesulitan dengan seribu keharusan. 

Dik… aku akan berusaha menyiapkan masadepan terbaik untukmu.

Kita tidak terlahir sebagai orang terpandang. Tapi tuhan memberi kita dua mata untuk memandang jauh kedepan. Memandang jauh mimpi-mimpi kita untuk jadi nyata. Untuk lebih di gapai. Jika orang lain menggapainya cukup dengan berjalan, kita harus berlari dik. Jika oranglain cukup dengan duduk saja, kita harus merangkak dik.

Aku ingin melihatmu lebih baik. Lebih baik dariku. Aku ingin kamu lebih maju. Aku ingin kamu jadi orang yang bisa diandalkan. Bisa jadi sandaran keluargamu nanti. Aku ingin kamu jadi sosok yang diimpikkan setiap wanita karena keteduhan dan keteguhanmu. aku ingin, kelak kamu bisa memilih siapapun wanita yang kamu mau, tanpa harus merasa kecil. 

Dik… kita memang bukan keluarga berpendidikan. Tapi aku akan selalu mengupayakan kamu setara seperti mereka. Aku ingin kamu bisa menggapai mimpi-mimpimu. Apapun itu. Tanpa hambatan.

Aku akan membantu membuka pintu masadepanmu. Selebar-lebarnya. Hingga kesempatan untukmu begitu luas untuk berkembang.

Selamat ulang tahun Albi Maudina
aku menyayangimu…
dengan caraku.

@shintadutulity