Manusia kadang-kadang (Heart’s Journey, 2)

Kadang ia mencintai kesendirian. Sampai petang bergelayut hanya dengan seribu bayangan. Mengingat, meraba, beberapa yang berhasil pergi sampai tak tersisa. Menghitung segerintil orang yang berhasil bertahan. Entah memang keinginan, atau keadaan yang memaksa. Ia selalu merasa jadi pendosa. Ketika mengingat bagian orang baik yang selalu ia sia-siakan. Terpejam mata. Mengingat manis perilaku yang tak pernah ia hiraukan. Hingga letih dan memilih pergi meninggalkan. Segerombolan orang itu ada yang sudah bahagia. Memilih yang lain, yang menurutnya lebih tepat untuk dipertahankan. Dan dia seorang diri, dibiarkan. Ia seorang yang akan menghalus ketika melihat keadaan memang lebih baik. memafkan semua yang berhasil pergi sekalipun tanpa kepastian. Dia memang pemaaf. Sekalipun hanya untuk beberapa orang.
Ya… dia pecinta kesendirian. Larut dalam beribu ingatan yang menyakitkan, sekalipun seribu lainnya lebih banyak yang membahagiakan. Dia pencetak rekor terbanyak dalam mengingat. Ingatannya kental akan masa-masa yang mengesankan dalam periode hidupnya. Sekalipun sekali lagi itu terjadi hanya beberapa hari dalam sebulan. Jika dia pecinta kesendirian, dan terjadi dalam waktu yang lama. Berarti dia lebih banyak waktu untuk mengenang. Mengendapkan segala yang tersisa biar jadi fosil. Dan benar, jika terjadi begitu lama lukanya benar-benar dalam.

Tapi ingat… kesendirian tak pernah di ingini oleh siapapun. Sekalipun tidak setiap kesendirian mengundang sepi, tapi kesendirian selalu berhasil menciptakan seribu aku di masalalu yang sulit dihentikan.
Yaa… Bila kali ini dia ingin sendiri, mungkin dia benar-benar perlu waktu lama untuk menutup mata. Menimbun semua jejak itu. Hingga tiba waktu lain, sekalipun jejak itu kembali Nampak, ia tak akan meronta atau memintanya pergi. Dalam hidup teori ini namanya ikhlas. Tanpa dendam. Tanpa amarah. Semua seperti awal mula. Sekalipun ada luka, hanya bekas saja. tanpa rasa sakit.
Dan jika tiba ia menjadi pecinta keramaian lagi. Berarti dia ingin kembali. Menyambut seribu bayangan duduk di kedai, berbagi obrolan riwayat singkat semasa  tanpa saling melibatkan, dan semoga ada tawa kembali. Sekali lagi, dia memang pemaaf.
Kali ini dia pecinta keramaian. Memilih menghabiskan banyak waktu di pusat perbelanjaan, bermanja-manja dengan perawatan ramah di salon, berbagi topic obrolan di bbm. Menjadi manusia seutuhnya. Pergi pagi, pulang malam. Dan semua dilibatkan dalam ikatan makhluk social.
—-
Dan jika dia itu perempuan. Dan itu aku, salahkah jika aku berubah-rubah setiap waktu ?
Dan jika dia itu perempuan. Dan itu aku, salahkah jika aku kadang ingin semua tahu ? tahu segala yang aku lalui, sekalipun jalannya dengan seribu tingkah gilaku ?
….
Klik Sumber Gambar
Note ini dibuat disela-sela bulan yang sebagian aku memilih mengurung diri dengan ingatan, selebihnya lagi aku bebaskan.  

@shintadutulity 19 june 2015 22:55

Heart’s Journey, Part 1

klik sumber gambar
Kadang aku merasa sangat berbeda denganmu. Begitu jauh. Sampai aku tak menemukan lagi kesamaan untuk jadi alasan bersatu. Aku ingin pergi, menjauh. Sampai bayanganpun tak lagi ada untuk memancing rindu.
Ya kita berbeda. Jauh sekali.
Semakin dewasa kita, semakin perbedaan itu jadi hal rumit yang pantas di perdebatkan.
Ya. Rumit untuk aku. Yang merasa sangat-sangat tidak pantas.
Aku malu, walau untuk sekedar jadi pengagummu. Apalagi untuk lebih berjuang mempertahankanmu. Aku malu, untuk membanggakan diri agar kamu memilihku. Sedang, aku hanyalah aku yang sangat tidak pantas untuk kamu pilih.
Aku dengan seribu aku yang ingin pergi karena aku terlalu merasa kecil di matamu. Aku dengan seribu diriku yang tetap mencintaimu. Walaupun aku sudah sangat-sangat tidak berani mengakuinya dihadapanmu.
Dengan segala kenyataan. Kamu yang hari  demi  hari terus lebih baik. kamu yang bulan demi bulan berada semakin di atasku. Kamu yang tahun demi tahun semakin jauh dari lingkaran hidupku. Sedang aku, masih disini. Dengan perasaan kagum yang semakin besar. Dengan cinta yang semakin merasa nyata. Juga tak lepas dengan aku, yang masih dengan kekuranganku. Aku tak lebih jadi baik. aku tak lebih jadi pantas. Aku masih selalu sama. Ada dibawahmu.
Tanpa sadar, semakin aku mengerti Tuhan maha segalanya. Dia yang memilikiku juga memilikku. Dengan dasar rasa cinta yang terus aku jaga sampai tak ada batas. Biar aku, yang mengagumi dari jauh ini mendekapmu dalam doa.  Setiap malam. Ku jaga kebaikkanmu. Ku jaga bahagiamu. Sampai Tuhan (mungkin) akan memberi seseorang lain yang lebih setara denganku. Sampai Tuhan memilih nama lain untuk aku sebut dalam do’a. Dan jika itu bukan kamu, doaku yang mungkin sudah jadi pesiar bukan perahu lagi, semoga mengantarmu ke pelabuhan yang engkau impikkan.

@shintajulianaa

Mei Kemarin !

aku masih sulit untuk mempercayai. Semua masih berada di luar daya nalarku sebagai anak kampung yang berusaha beradaptasi dengan segala keganjilan ibu kota yang sudah di anggap biasa. Aku masih terheran-heran mendengar kabar itu. Ya, kabar terakhir yang seperti petir di siang bolong. Aku yang masih lekat dengan mimpi-mimpi itu. Belum sadar sepenuhnya sekalipun kenyataan  menjatuhkanku berkali-kali. Belum sepenuhnya mengubur harap sekalipun ketidakmungkinan semakin terlihat begitu tak mungkin dihindari.
Tak bisa kujelaskan kabar apa yang ku dengar. Namun lebih dari pengkhianatan terpapar dengan begitu lantang. Kali ini, aku sudah habis daya untuk (ingin) bersamamu. Sudah habis cinta untuk bisa (mau) bersamamu.
Yang jelas. Ini bukan hanya akan menjadi antara aku, kau dan dia, juga mereka. Ada sosok lain yang tak mungkin lebih jauh untuk bisa diabaikan. Dan apapun yang jadi alasan. Kamu harus tetap bersamanya. Tak peduli apapun. Bagaimanapun. Tak peduli mereka mungkin akan lebih terluka dari pada aku. Ingat kamu harus tetap bersamanya. Menemaninya dalam segala masasulitnya. Menyaksikannya menua dan bergegaslah lebih baik.
Sekarang sosok itu masih hanya bisa menatapmu. Menyaksikan kamu yang mungkin berselisih faham dengannya. Mendengarmu berteriak mencaci makinya. Sadarlah sekarang, tingkahmu akan tercetak di sosok itu. Jadi lebih baiklah.

Pesanku. Pergilah. Nikmatilah hidupmu dengan apapun bagian terburuknya. Sampai waktu membuatmu jatuh hati sampai tak ingin pergi. Berjalanlah. Apapun yang akan terjadi. Sekali lagi, ini tak lagi tentang aku, kau, dia dan mereka. Ada yang lebih sensitive dari itu. Bergegaslah lebih baik. Sebentar lagi akan ada yang memanggilmu “ayah”. 
klik sumber gambar

tak mudah…

Klik sumber gambar

Kali ini aku menyerah. Melepasmu dengan begitu pasrah. Meski nyatanya aku menangis begitu keras. Mencoba mencari kekuatan namun nyatanya aku memang terluka parah. Kini aku menyerah. Memahami pergi memang tak semudah membayangkanmu akan kembali. Meski mungkin tak akan pernah terjadi.

Aku masih menimang-nimang semua yang terjadi belakang ini. Membanding-bandingkan beberapa kejadian yang benar-benar bertolak belakang dengan kepercayaanku selama ini. Malam berjalan tanpa hambatan. Namun, terasa begitu lama untukku. Begitu lama untuk semua kenyataan yang harus aku hadapi sekarang. Di mulai dengan malam ini. Dentuman jam dinding seolah memberiku aba-aba, aku harus terus terjaga. Menghindari mimpi yang hanya akan menambah luka.
Ternyata ada yang lebih perih dari memutuskan sendiri.
Ada yang lebih sakit dari setiap pertengkaran yang terjadi.
Ada yang lebih-lebih sadis dari semua perhatianmu yang mulai terbagi.
Ada.
Ya.
Saat kamu berkali-kali mengangap ku sudah biasa lagi. Dan mungkin memang sewajarnya kamu berfikir seperti itu.

Teman. Ikatan itukah yang jadi pedoman kita sekarang ?
Bukankah teman tak boleh menuntut banyak ? tak boleh marah saat salah satu dari kita sudah malas meneruskan perbincangan ? tidak kesal saat di balas dengan jawaban singkat sedang pesan yang kita kirim begitu rinci ? tak boleh merasa “tak ada” jika memang pilihannya tak mau membalas pesan-pesan kita yang sangat tidak penting ?
Tapi sungguh. Aku masih merasa lain. Aku belum semampumu membiasakan sikap seperti padaku. Aku belum mampu melupakan mu dalam setiap cerita yang ingin aku bagi. Meski bagimu sudah tak penting lagi. Aku masih ingin meneruskannya. Sebagai teman.
Harusnya aku bisa. Bercerita tentang yang aku mau. Dan tak perlu merasa lain saat kamu lebih memilih mendengarkan tanpa berkomentar. Atau lebih parah saat kamu lebih memilih mengabaikan karena bagimu tak pernah penting.
Sebelum ini.
Kamu selalu meluangkan waktu untuk mendengarku bercerita. Berkomentar sekalipun hanya komentar seadanya. Kamu selalu membalas pesanku kapanpun. Kamu selalu mengklarifikasi jika kamu telat membalas pesanku. Kamu selalu ada. Itu janjimu kala itu. Dan kamu menepatinya.
Memang kamu selalu menghilang saat aku emosi. marah, kesal. Tapi disatu sisi aku tahu, kamu hanya menghindari pertengkaran berlebih denganku.
Kamu memang tak sempurna. Kamu sama seperti lelaki lain pada umumnya. Menuntut untuk di cintai, memimpikkan di sukai banyak wanita, dan kadang kamu menenggelamkan dirimu terlalu dalam hingga aku sukar menemukkanmu. Kamu kadang terlalu asyik dengan games kamu, terlalu bersemangat mengumpulkan harta di get rich, terlalu telaten memberi makan pow. Sampe kamu lupa pada ku. Saat itu aku akan marah besar denganmu. Suaraku melengking keras di telingamu. Mempertanyakan hal yang sejujurnya berkali-kali sudah aku yakini jawabannya.
Tapi ternyata ada yang lebih buruk dari itu. Ya kesabaranmu yang sudah menipis untuk bersamaku. Untuk memahami dan menerimaku.
Kamu memang tak selalu baik di depanku. Kadang kamu-pun cemberut saat aku sibuk dengan pekerjaanku. Kamu tetap lelaki yang tak mau aku dikte seenak jidatku. Kamu tetap ingin dihargai setiap keputusannya, ingin dinomor satukan. Dan selalu ingin diakui keberadaannya. Ya kamu memang egois. Egois untuk memilikiku satu sepenuhnya untukmu.
Tapi kali ini ada yang lebih keras dari pada semua keegoisanmu waktu itu yang masih bisa aku rampok dengan sedikit perhatianku. Kali ini, kamu benar-benar tak ingin menganggapku lain. Kamu benar-benar hanya menganggapku teman.
Ternyata sabarmu memang sudah tak tersisa lagi untuk lebih lama bersamaku. Sedang aku sudah mulai memahami semua tabiatmu. Aku sudah mulai melunak saat kita bertengkar. Aku sudah mulai sering mengalah saat memang kamu yang salah.
Terlalu sakit sekarang.
Membiasakan diri untuk tidak lagi memberitahumu tentang kabar keseharianku, tentang perkerjaanku, tentang rutitasku dan bahkan aku sudah tak ada lagi teman untuk becanda, tak ada teman untuk mengiba saat aku muak dengan semua yang aku jalani. Aku sendiri melalui itu sekarang, tanpa pundak dan belaian halus tanganmu.
Aku harus terbiasa dengan panggilanmu memanggil namaku tanpa embel-embel apapun. Aku harus terbiasa dinomorsekiankan saat memang aku benar-benar membutuhkanmu. Aku harus terbiasa di abaikan, memilih untuk tidak dilihat, atau lebih parah aku harus terbiasa saat kamu memang memilih untuk tidak ada aku lagi.
Apa seorang lelaki selalu seperti itu ?
Begitu mudah mengabaikan padahal sebelumnya begitu mendambakan ?
Begitu mudah melupakan padahal sebelumnya begitu antusias mengenang ?
Bagiku, tak mudah berteman denganmu, pun tak mudah menganggapmu orang lain yang sama sekali tak ku kenali. Terlalu banyak kejadian yang seharusnya kamu masih bisa seperti dulu.
Terakhir kamu bilang, kita akan sama-sama terbiasa, dan harus membiasakan. Apa itu bagian dari ritme yang sedang kamu jalani untuk melupakan ? dan kamu kesal karena aku selalu datang untuk mengacaukan ? begitukah ? hingga kamu lebih memilih mendiamkan ?

Entah apapun. Setidaknya dekati aku lagi, meski hanya  untuk mengajariku bagaimana melupakanmu dengan cepat dan tanpa perlu banyak syarat. Seperti dulu, kamu dekatiku, untuk mengajariku mengenalmu dengan cepat dan tanpa perlu banyak syarat. 
….
tadi pagi dengerin curhat dan jadilah ini.
catat penting :
gak mudah temenan sama orang yang dulu pernah lebih dari sekedar itu,-pun tak mudah menganggap nya orang lain sedang sebelumnya mengisi banyak waktu dimanapun. Bukan sekedar teman chat, teman bermain, atau teman suka-suka
@shintajuliana

Jalan bahagia setiap orang berbeda…

X : Gue bahagia kalo gue punya banyak pengalaman. Kesana-kemari, nikmatin ini-itu. Masalah uang bisa di cari lagi. Yang terpenting itu pengalaman yang lebih berharga dari uang.
Y : bahagia gue ya bisa beli apa yang gue mau. Bisa makan apa yang gue pengen. Itu cukup. Dan tentunya tanpa rasa takut dengan hari esok.
Z : Gue bahagia kalo gue merasa aman di hari tua. Dan gue gak keberatan kalo harus kehilangan hari libur gue dengan berdiam diri di kamar, dan tidur. Karena gue lebih khawatir gak punya uang dari pada dibilang cupu.
X + Y : please, lu enggak nikmatin hidup banget.
****
Sebut saja si Z. Wanita yang dididik keras dengan didikan jawa sekalipun tinggal di Jakarta. Perempuan yang masih mengenal unggah-ungguh sekalipun berada dalam lingkaran kehidupan bebasnya ibu kota. Masih mengenal Tuhan dengan baik, masih memiliki solidaritas tinggi sebagai makhluk social. Si Z, perempuan yang tidak pernah terbawa dengan ke-modern-angaya kehidupan ibu kota.
Saya sendiri kagum dengannya. Dengan sikapnya yang tegas, menolak pergaulan yang tak pernah memberinya manfaat. Yang dengan keras menyatakan “gue gak keberatan di bilang cupu hanya karena gue gak keluar malam. “


Saat itu saya dan rekan-rekan terlibat dalam perbincangan random. Tentang makna kebahagiaan. Sebagian dari kita, ada yang rela menghabiskan jutaan rupiahnya untuk mencari pengalaman. Liburan ke luar negeri, mencicipi makanan-makanan enak, memberi makan ego hanya untuk sebuah pengakuan popularitas. Itu. Sebagian dari kita, bahagianya di hasilkan dari hal seperti itu.
Sebut saja si X. yang sebagian besar penghasilnya di gunakan untuk foya-foya. Menikmati panorama yang katanya bisa mengunduh rasa kepuasan yang luar biasa. Yang katanya, di luar sana selalu ada banyak hal yang bisa dipelajarinya. Jauh lebih dari kicauan petuah-petuah belaka. Bahagianya terletak pada kepuasan mata memandang.
Lain lagi dengan si Y. Yang bahagianya terletak pada kepuasan akan rasa penasaran. Si Y yang berani mengeluarkan berapa rupiahpun untuk mencari tahu apa yang belum di ketahuinya. Mencicipi apa yang belum di rasakannya. Mendatangi apa yang ingin dia datangi. Semua itu hanya untuk rasa keingintahuannya.  Bahagianya terletak pada kepuasan “ketahuannya” akan sesuatu.
Dan sangat berbeda kubu dengan si Z. yang hidup lurus dan ternilai flat untuk seorang X maupun Y. yang dari kecil banyak menghabiskan waktu di kamar, di depan televisi, atau berlarut-larut dalam mimpi tidurnya. Si Z yang cenderung berprinsip.
Pernah suatu ketika, dia bercerita tentang kesehariannya. Yang menurut sayapun yang tidak tergolong di si X atau si Y saja menilai hidupnya sangat-sangat membosankan. Tenggelam dalam pekerjaan di waktu weekday, di waktu weekend, si Z pun menikmati meekendnya hanya dengan leha-leha di kamar. Dia menyebutnya syurga, me time-nya seorang Z. Padahal dia tidak kuper untuk seukuran perempuan modern. Dia memiliki banyak teman dari berbagai kalangan. Tapi itu tadi, dia tidak mudah terpengaruh. 
Lalu dimana letak bahagianya ? bagaimana menikmati bahagianya dengan uang hasil jerih payahnya ?
Berbagi. Dia yang besar di Jakarta yang mengenal betul hukum-hukum berbagi dengan sesama. Dia yang menafkahi bathinnya dengan berbagi. Dia yang rela menghabiskan penghasilannya untuk menolong orang lain. Dia yang kepuasannya di titik tumpukan kepada kebahagiaan orang-orang disekitarnya.
Ya. Dia si Z yang saya kagumi. Sangat-sangat saya kagumi.
Tidak perlu muluk-muluk. Ini Jakarta. Dimana keluar malam dan pulang pagi sudah jadi pemandangan “biasa”. Dimana club sudah menjadi tempat “asyik” yang tidak lagi di hindari. Dimana “pergaulan” lawan jenis sudah tidak lagi di anggap tabu. Tapi Dia. Membiarkan Jakarta menjadi Jakarta bagi mereka penikmat kebebasan, dan dia tetap menjadi si-Jawa yang memegang teguh hukum Tuhan dan tatakrama turun temurunnya.
Saya yang baru seumur jagung di Jakarta-pun sudah pernah mencicipi bagaimana bahaya melewati malam di Jakarta. Sekalipun hanya sesekali. Sedang dia tidak pernah sekalipun melangkahkan kakinya, keluar dari rumah lebih dari jam 11 malam.
Dia yang tidak pernah menghambur-hamburkan waktunya dengan obrolan tak penting dalam sebuah tempat nongkrong walau sekedar mencicipi secangkir kopi. Dia yang sama sekali tidak tahu apa itu club dan bagaimana kerasnya dentuman musik dalam ruang yang serba gemerlap itu. Dia yang tidak pernah termakan rasa penasaran akan rasa minuman alcohol atau sekedar setetes anggur merah kualitas ekspor. Dia yang sama sekali tidak termakan kepopuleran shisha pada zamannya. Dia yang lebih memilih menonton di depan televiie dari pada dalam ruang gelap berlayar penuh seperti bioskop. Dia yang lebih memilih masakan mamanya dan tidak pernah tergiur dengan makanan-makanan di luar sana. Ya bagi kalian penikmat dunia modern, pasti menganggap dia cupu, kampungan, norak dan lain sebagainya. Tapi sekali lagi, itu adalah jalan bahagianya.
Jujur saya pribadi terkagum-kagum dengannya. Singkat cerita, saya sebelum memutuskan berjilbab. Ya sekitar 2 tahun yang lalu. Sayapun pernah tergiur dengan apa yang di suguhkan ibu kota. Mencicipi sekali dua kali pulang pagi, walaupun hanya sekedar nongkrong di warung kopi. Pernah sekali menginjak club sekalipun hanya untuk menjemput seorang teman. Pernah menikmati bau anggun merah yang sangat menyengat. dan untuk masalah boros, saya masih ada pada lingkaran itu sampai detik ini.
Well. Ini hanya catatan tentang sudut pandang kebahagiaan setiap orang, yang tidak bisa kita sama-ratakan. Bagi saya, semua sah-sah saja. Jadi si X, Y ataupun si Z, semua halal-halal saja. Asal selama melakukkannya tidak merugikkan orang lain.
Salam..
@shintajulianaa
Yang menyempatkan ngblog di waktu perut keroncongan.

22 masih galau !

“Setiap apa yang datang, apapun. Itu pasti sejajar dengan kualitas diri kita.” Kata mba puji setelah selesei sholat magrib.
“Ibarat Naik gunung, semakin kita ke puncak, semakin banyak lagi tanaman yang bisa kita lihat dan semakin berkulalitas juga” lanjutnya.

****

Selamat pagi..
Pagi-pagi udah pengen banget cuap-cuap. Banyak banget, terlalu banyak jadi susah buat mulai dari mana. Padahal terlalu pagi buat bahas apapun yang nilainya sangat-sangat gak penting. Apalagi disela-sela seminar kayak gini. Tapi tangan udah geli sendiri, pengen ngblog. Biar nanti gak lupa sama peristiwa ini. Iya, saya ngbelog, suka menulis, panjang ataupun pendek itu karena saya hanya ingin menyimpan semuanya dalam bentuk catatan. Biar nanti sesekali, saat saya baca kembali membaca catatan saya. Disitu saya yakin, dulu saya benar-benar pernah mengalaminya. Terus saat sudah tak lagi muda dan mungkin udah malas menulis ataupun terlalu sibuk dengan lingkungan, bisa jadi saya benar-benar berhenti ng-blog. Tapi gak akan sia-sia catatan ini, nanti di samping saya bercerita lisan kepada anak cucu nanti, biar mereka membaca sendiri gemuruh gejolak perjalanan neneknya dulu. Please, ini kejauhan shin. Mungkin 40 tahun yang akan datang yang populer bukan blog lagi.
Ini catatan pagi yang sebenernya hanya untuk membantu saya mengingat bagaimana cara saya meluapkan sebuah perasaan gak jelas. Iya Nak, iya cu.. dulu juga nenek pernah muda, dan pernah galau. Sebenernya saat ngalamin situasi yang bener-bener negbingungin dan gak tau harus gimana, disitu mungkin ya namanya galau versi anak 90’an. Apa sih yang dilakuin kalau lagi galau ?
Poin pertama. Galau lebih baik yang jelas sebabnya. Biar nangisnya jelas. Sakitnya jelas. Dan perginya juga jelas. Itu buat saya. Kalo saya lagi galau dalam situasi kayak gini, paling mood down tapi gak menggila. Cukup diem seribu bahasa, nangis sampe sesenggukan. Udah itu bebass.
Poin kedua. Galau karena hal yang gak jelas. Gak jelas sebabnya, yang jelas Cuma sakitnya. Disituasi kaya gini, saya susah banget nangis dan malah menggila gak jelas. Cuap-cuap gak jelas, ngomel sana-sini, ngomentarin apapun yang sebenernya gak perlu, ngajak ngobrol orang yang sebenernya gak ada yang perlu di bahas, marah-marah gak jelas, ketawa sampe bener-bener ngakak, ngegodain temen-temen yang lagi focus. Please, sebenernya ini gila. Lebih gila. Maaf ya buat semua temen yang sering saya ganggu hanya untuk mengobati segala apa yang gak tentu.
Sebenernya saya lebih nyaman sama dengan poin pertama. Biar sakit hati ya sakit hati sendiri. Gak perlu bertingkah aneh, gila, atau membuat masalah baru.
Iya cu, iya na.. nenek pernah alay. Dan masih bertingkah childish saat mau menginjak 22 tahun.


Saya sebenernya malu. Walau udah gak pernah numpahin masalah ke sosmed atau nyinyir pihak kedua. Tapi tetep saya membabi buta dalam hal ngoceh. Ngocehnya kearah gak penting. Bener-bener gak penting. Seperti bahas kenapa harus telur dulu dari pada ayam. Bahas tentang harimau-harimau dari ragunan yang di pake syuting 7 manusia harimau. Bahas tentang artis dengan lagu-lagunya. Bahas dispenser dan lemari es. Ah semuanya. Yang benar-benar gak penting.
Sampe ketawa karena banyak yang ngomentarin aneh, gak jelas, atau ada juga yang nimpalin. Ya itu saya pas lagi galau. Gak enak kan ?
Udah jelas-jelas mending nangis seharian. Ngurung diri di kamar. Besoknya udah bebas. Gak banyak orang tau. Dan gak perlu di  Tanya macam-macam.
Ketika udah waras lagi dan inget kelakuan, malu banget. Malu sama umur, malu sama temen-temen. Maluuuu. Hikssss….
Tapi natural banget. Itu emang cara saya ngeluapin bebel di hati yang gak bisa ditumpahin dengan tangisan. Yang gak cukup jelas dan yakin bagaimana menanganinya.
*nak, cu.. jangan tiru nenekmu ini*
Terus penyebabnya apa ?
Singkat jawab “cinta”.
Emang cinta itu apa ?
itu semacam nenek sama kakek, dan ibu sama ayah. *please mulai ngelantur lagi*
*sign out. Bye !

EGO

 Bagaimana jika aku membencimu berkali-kali tapi tetap mencintaimu hingga mati.
 Bagaimana jika aku berkali-kali memintamu pergi, tapi tetap merindukkan hingga menyeretmu kembali untuk kesekian kali.
Bagaimana jika aku menyakiti, tapi tetap berusaha meletakkan namamu di hati.
 Jika ini tak adil, berhak kah aku tetap memintamu disisi walaupun kamu berkali-kali aku lukai ? 


ego; 06 april 2015
@shintajulianaa

Someday..

Suatu Hari Nanti…

Jika saya menikah dan bukan dengan kamu.

Percayalah.. itu tidak akan mudah. Saya tidak pernah mudah melupakkanmu. Sekalipun saya tidak punya hal lain untuk di banggakan tentang kita. Tidak punya cerita manis yang bisa saya jadikan acuan, kecuali masa-masa konyol itu.

Setiap saat saya menjalani kisah baru. Berharap hati saya bisa ikut seluruhnya tanpa pernah melihat kamu. Tapi entah kenapa, namamu selalu mengintai setiap jalan kisah hidup saya.

Jujur saya berat.
Mengingatmu dalam saat-saat seperti ini, saya benar-benar berat.
Perasaan hati yang campur aduk juga keyakinan masa depan akan jauh lebih baik jika seolah di depan nanti tak lagi ku temui kamu.

Ada sakit dan takut luar biasa, jika saya tahu dan harus terpaksa benar-benar melepaskanmu. Mengikhlaskanmu untuk wanita yang mungkin kelak akan kamu cintai jauh dan tidak ada apa-apanya di banding saya. Saya harus terpaksa menerima, jika memang bukan dengan kamu, saya menghabiskan sisa umur ini. Harus siap untuk setia kepada satu laki-laki dan itu bukan kamu. Harus mengenyahkan kamu dari fikiran hingga tak secuilpun  namamu ada dalam setiap harapan saya. Bisakah ? Sementara sampai detik inipun, selalu kamu yang jadi pemeran utama.

Bisakah ? Saya melihatmu kecewa ? Tanpa daya upaya untuk menghiburmu ?

Saya tahu.
Kita hanyalah kisah yang tak pernah jadi sempurna. Kita hanyalah kisah yang selalu saya reka-reka akhirnya.

Tapi, ada hal yang dalam tentang kamu yang sulit saya hapus. Entah apa itu. dan saya harap itu bukan apa-apa jika memang kita tak pernah akan jadi kita dalam ikatan Ridho_NYA.

Jika suatu hari ini, saya duduk di pelaminan sementara kamu duduk menyaksikan. Entah perasaan apa yang berkecamuk dalam hatimu, Saya ingin tak ingin tau lagi. Saya ingin tetap mantap, bersikukuh untuk menjaga hati saya hanya untuk dia; Imam Saya.

Saya ingin, Jika suatu hari nanti saya sudah tinggal di rumah dengan segala rutinitas sebagai bentuk pengabdian. Sedang kamu masih hilir mudik mencari pelabuhan. Saya ingin tak ingin menoleh lagi dan berharap.

Saya ingin. Jika suatu hari nanti saya mulai menemukkan kekurangan dari pasangan saya. Saya ingin tak ingin membandingkannya denganmu. Saya ingin menjadikkan dia pasangan saya, satu-satunya yang akan saya perjuangkan. dalam keadaan apapun. Suka maupun duka.

Jika saya menikah dan bukan dengan kamu. Izinkah saya setia, lebih-lebih dari kesetiaan saya pada kita dalam sebuah konyol masa lalu.

Klik Sumber Gambar

Someday, when I must always stand beside someone but not you
Someday, when I must left you. Forgot everything and stop thinking of you
This is about someday. When I must grow old, but without you.
Then someday. When you just an OLD FRIEND. And about us, just a memories.

……………………………

*ketika terbawa suasana lagu someone like you-adele. semua menjadi lebaaaaaaaaaaaayyyy*


@shintajulianaa



Karena Saya Bukan Anda…

Catatan yang saya buat tidak tertuju kepada siapapun. Mohon maaf jika ada pihak yang terpojokkan.

________________

Salah jika saya berusaha lebih keras dari pada anda ?
Salah jika saya lebih di perbudak waktu dari pada anda ?
Saya bukan anda yang dengan leluasa menggunakan uang hanya untuk membeli kepuasaan pribadi.
Saya bukan anda yang bekerja hanya sekedar happy-happy.
Saya bukan anda yang sesuka hati berhenti saat tak lagi merasa happy.
Saya bukan anda yang bebas membeli hanya untuk sekedar diakui.

Saya hidup bukan hanya untuk saya.
Saya bekerja bukan hanya untuk sekedar mencukupi kebutuhan saya.
Saya bekerja lebih keras bukan hanya karena ingin membeli gagget kekinian, membeli tas branded, membeli baju mengikuti trend, atau pergi berlibur kesana kemari.
Kalau seperti itu, anda bisa berhenti sesuka hati,
Tapi tidak dengan saya.

Saya bukan orang kaya.
Dan saya pun tidak terlahir sebagai orang kaya.
Saya tidak seperti anda yang masih bisa mengandalkan orang tua jika anda sudah mulai bosan bekerja. Kembali ke pangkuan ibu. Terus dijejali materi sampai anda tak pernah merasakan apa itu kekurangan.
Saya adalah orang yang harus selalu kerja keras tanpa henti. Bukan untuk berlibur seperti anda. Tapi untuk mencukupi kebutuhan bukan hanya untuk saya pribadi. Saya punya orang tua yang mana suatu hari nanti tidak bisa berpenghasilan lagi, tidak ada dana pensiun. Dan saya punya kewajiban untuk menyiapkan masa tua nya yang nyaman. Apakah anda seperti saya ?
Sepertinya tidak.

Isi otak anda dan saya berbeda.
Anda cenderung mengejar pengakuan. Kesana-kemari membuang rupiah tanpa perlu khawatir dengan hari esok.
Sementara saya ? Selalu menghawatirkannya.
Jadi wajar jika saya lebih visioner. Karena saya tidak mau seharipun terlantar karena keegoisan saya. Wajar jika saya lebih perhitungan. Karena di otak saya bukan sekedar bersenang-senang hari ini.
Andai anda tahu. Berapa banyak saya berspekulasi dalam setiap pemikiran. Berapa banyak saya memperhitungkan ini itu nya agar hidup berjalan naik. Terus naik hingga saya bisa senyaman anda. Nyaman dengan masa depan saya sendiri, dan tentunya saya aman melihat masa tua kedua orang tua yang amat saya sayangi.

Jadi jika anda masih mempertanyakan mengapa saya bekerja sekeras ini ? Inilah jawabannya. Karena yang ingin saya amankan bukan hanya diri pribadi, yang ingin saya bahagiakan bukan hanya saya sendiri, yang ingin saya ajak liburan bukan hanya diri sendiri.

Saya terlahir dari keadaan yang memaksa saya untuk terus bekerja keras. Saya tidak ingin keegoisan saya menyita semua bahagia mereka. Sayapun tak ingin kemudaan saya dalam memilih pilihan hidup jadi alasan untuk berhenti. Saya ingin lebih baik. Menyiapkan yang terbaik untuk masadepan saya. Memanage segalanya dengan begitu detail. Saya ingin semua tersusun.

Jadi paham, kenapa saya masih terus mau bekerja sementara kebutuhan saya dimata anda sudah terpenuhi ? Yang menurut anda saya sudah ada di posisi nyaman dengan materi yang saya punya. Saya tak menghilangkan rezeki. Jika yang saya kejar bahagia diri sendiri, pengakuan trend seperti anda, saya bisa mendapatkannya. Tapi tidak. Jika saya mengikuti arus kehidupan seperti anda tanpa mempersiapkan apapun, kepada siapa saya berlari ? Kepada siapa saya menyandarkan hidup saya dan keluarga ? Kepada tas branded itu ? Kepada foto-foto liburan yang mendatangkan kepuasan itu ?

Tolong… jangan tanya lagi. 
Saya bukan serakah. 
Saya hanya sedang berjuang yang bukan hanya untuk diri sendiri. Pahami itu.


Klik Sumber Gambar



__________________________________________

Terimakasih sudah menyimak.



@shintajulianaa

Re-peat

          Tahun lalu, kita pernah berhayal bersama. Di kedai kopi daerah kemang. Malam itu Bulang melengkung dengan sempurna. Semburat sinarnya sampai di teras-teras kota. Jam sudah menujukkan pukul 02.00 dini hari. Aku dan pria di depanku enggan beranjak pergi. Aku masih ingat tatapan itu. tatapan yang saat itu aku yakini sebagai perwakilan tatapan tulus.

          Malam itu seolah semesta turut mendukung semuanya. menjadi saksi bisu atas bahagia yang meluap-luap jauh di dalam hatiku. Aku ingat bagaimana kamu becanda pagi itu. Mulai dari makanan favorite kamu yang jelas-jelas berbeda denganku. Aku si pecinta seafood dan kamu yang ogah-ogahan dengan seafood. Kamu suka keramaian dan aku pecinta kesendirian.

           Malam itu kamu menjemputku seusai melaksanakam sholat taraweh. Kira-kira jam sepuluh malam, pertama kali kamu mengenalkan tempat itu. Tempat yang katamu jadi tempat terbaik untuk menghabiskan waktu. Aku hanya bisa mengikuti. Sambil menunggu waktu shaur, kita mengobrol kesana-kemari. Di awali obrolan ringan sampai obrolan berat dimana kamu mengutarakan mimpimu untuk menikahiku. Mulai dari rencana-rencana kecil perihal pengenalan kedua keluarga, resepsi, rencana tempat tinggal, tabungan bersama, mengajukkan deposito, asuransi untuk masa depan sampai hal besar tentang pandangan mendidik anak. Kamu yang membebaskanku untuk tetap bekerja di kantor dan aku yang memutuskan untuk menjadi ibu rumah tangga secara utuh, aku yang siap mengabdikan hidupku untuk merawat anak-anak dan juga memperhatikkan pertumbuhan detailnya. Kamu mungkin tak tau, obrolan pagi itu adalah obrolan mimpi-mimpi besarku yang mampu membuka bahagia yang begitu nyata. Mungkin kamu tak sempat melihat sinar mataku yang begitu antusias mendengarkanmu. Kamu mungkin tak pernah tau, aku begitu serius menanggapinya.

          Mendekati pukul 2 dini hari, kamu memintaku untuk meyakini rencana indah itu. Memintaku bersedia untuk selalu mendampingimu dalam segala keadaan. Kamu mungkin tak tahu, bahagia itu meluap-luap dalam hati sampai aku lupa menyentuh greentea latte kesukaanku. Padahal kamu saja, sudah menghabiskan 2 gelas coffe hitam. Apakah malam itu kita berhayal terlalu jauh ? Atau kita hanya terbawa suasana ? Alunan music pop itu apa menyeretmu untuk berkata yang sebenarnya tidak begitu kamu inginkan ? Dan dingin malam itu, membuatku berharap banyak padamu ?

          Setelah dialog malam itu, fikiranku dipenuhi segala perbekalan menuju kesana. aku mulai banyak membaca artikel cara mendidik anak, artikel menjadi istri yang baik, ah.. pokoknya aku mempersiapkan lahir dan bathinnya. sampai aku sepakat dengan diriku, untuk menyisihkan 1 juta dari penghasilan tiap bulan untuk masa depan kita. Ya, katanya kamu akan segera membuka tabungan bersama dengan ku. Segera mengurus deposito. Aku yang kesana-kemari mulai mengunduh banyak informasi tentang asuransi kesehatan, asuransi dana pensiun. Kamu yang mulai sering mengirim email brosur tagihan rumah, mendalami tentang KPR. Sungguh aku benar-benar menikmati proses itu.

           Sekarang saja aku masih senyum-senyum sendiri jika menyambangi tempat itu dengan teman-teman. Bahkan dalam ramaipun, bayangan mu masih jelas merajuk memintaku mengunduh lebih banyak lagi ingatan itu. Aku tak suka itu, tapi indahmu mampu membujukku.

“Kita tinggalin jakarta, kita pilih hidup tenang di kampung. Bangun keluarga yang nyaman, tenang, dan aku mau rumah kita ramai dengan bacaan alqur-an. Aku mau nasehat-nasehatmu membentuk karakter terbaik untuk anak-anak kita. Kamu mau kan ? Kamu gak keberatan kan ? pasti menyenangkan pulang ke rumah masakan uda tersedia, lihat anak-anak yang tumbuh dengan baik.” matamu menerawang, seolah benar-benar menghidupkan mimpi-mimpi itu. Aku hanya bisa menganggukkan kepala.

            Saat itu kamu terlihat visioner. Segala pengeluaran sudah kamu rancang. Mulai dari memiliki tabungan bersama. niat berwirausaha untuk ku sekedar menghilangkan jenuh.

“Setahun. Kamu mau tunggu setahun kan ?” Simpulmu mantap setelah menghitung jangka waktu pencairan deposito yang sengaja akan kamu ambil dalam kurun waktu 6 bulan kedepan. Kamu berniat akan menggunakannya untuk dp rumah. Aah.. rasanya jika aku mengingat rencana-rencana dulu denganmu terlalu indah. Terlalu muluk.

           Mimpi-mimpi itu membuatku lupa akan kejatuhan yang pelan-pelan menghampiriku. Keyakinanku padamu, membuatku buta akan perubahan sikapmu. Kepercayaanku yang begitu besar, membuatku menutup segala prasangka miring tentangmu. Hingga tiba di suatu waktu, kamu begitu yakin meninggakanku sedangkan aku begitu yakin kepergianmu hanya untuk sementara, kamu hanya sedang becanda. Kamu akan segera kembali dan mewujudkan mimpi-mimpi kita.

           Apa kabar ? Aku menunggumu di kedai itu. Berharap kamu datang sekedar untuk melepas suntuk. Nyatanya tidak. Kamu pergi tanpa berniat kembali. Kamu benar-benar pergi tanpa berniat memintaku menunggu lagi. Mungkin benar, kemarin itu kamu hanya sedang berbual. atau mungkin kamu hanya butuh pendengar sejati. iya, aku yang cenderung menerima semua rencanamu. Aku yang manut atas apapun yang kamu rancang. dan aku yang cukup bodoh untuk meyakini semua itu.

          Sekarang aku sudah mulai bangkit. Tuhan memang selalu memberi rencana terbaiknya. Memberi petunjuk dalam setiap panjatan doa tahajudku. Memberi kekuatan atas kesertaanNya dalam setiap cobaan menyertaiku. Hey kamu… sekarang kamu boleh kembali menatapku. lihat aku. Aku sudah jauh lebih tegar dari sebelumnya. Aku yang aku pastikan jauh lebih baik dari sebelumnya. Aku yang tak akan lagi menyia-nyiakan waktuku untuk mempercayai omongan-omongan yang hanya sekedar keluar dari mulut saja. Aku dengan segenap mimpiku. Aku yang senantiasa selalu berdoa agar diberi yang lebih baik dari kamu dalam panjatan tahajudku. Dan bagaimana denganmu ? lebih baik kah ? aku harap kamu tak akan melupakkanku. seperti aku yang tak akan melupakan kejatuhanku karena ulahmu.

————————————————————————————————————————–

Klik Sumber Gambar 

(Ini hanya kisah perempuan dengan mimpinya. Percayalah Mimpi membuatmu lebih kuat sekalipun kamu harus jatuh terlebih dulu)



#nomention
@shintajulianaa