![]() |
| Klik Sumber Gambar |
Author: Shinta juliana
Heart’s Journey, Part 1
![]() |
| klik sumber gambar |
Mei Kemarin !
![]() |
| klik sumber gambar |
tak mudah…
![]() |
| Klik sumber gambar |
Kali ini aku menyerah. Melepasmu dengan begitu pasrah. Meski nyatanya aku menangis begitu keras. Mencoba mencari kekuatan namun nyatanya aku memang terluka parah. Kini aku menyerah. Memahami pergi memang tak semudah membayangkanmu akan kembali. Meski mungkin tak akan pernah terjadi.
Jalan bahagia setiap orang berbeda…
22 masih galau !
EGO
Bagaimana jika aku membencimu berkali-kali tapi tetap mencintaimu hingga mati.
Bagaimana jika aku berkali-kali memintamu pergi, tapi tetap merindukkan hingga menyeretmu kembali untuk kesekian kali.
Bagaimana jika aku menyakiti, tapi tetap berusaha meletakkan namamu di hati.
Jika ini tak adil, berhak kah aku tetap memintamu disisi walaupun kamu berkali-kali aku lukai ?
Someday..
Suatu Hari Nanti…
Jika saya menikah dan bukan dengan kamu.
Percayalah.. itu tidak akan mudah. Saya tidak pernah mudah melupakkanmu. Sekalipun saya tidak punya hal lain untuk di banggakan tentang kita. Tidak punya cerita manis yang bisa saya jadikan acuan, kecuali masa-masa konyol itu.
Setiap saat saya menjalani kisah baru. Berharap hati saya bisa ikut seluruhnya tanpa pernah melihat kamu. Tapi entah kenapa, namamu selalu mengintai setiap jalan kisah hidup saya.
Jujur saya berat.
Mengingatmu dalam saat-saat seperti ini, saya benar-benar berat.
Perasaan hati yang campur aduk juga keyakinan masa depan akan jauh lebih baik jika seolah di depan nanti tak lagi ku temui kamu.
Ada sakit dan takut luar biasa, jika saya tahu dan harus terpaksa benar-benar melepaskanmu. Mengikhlaskanmu untuk wanita yang mungkin kelak akan kamu cintai jauh dan tidak ada apa-apanya di banding saya. Saya harus terpaksa menerima, jika memang bukan dengan kamu, saya menghabiskan sisa umur ini. Harus siap untuk setia kepada satu laki-laki dan itu bukan kamu. Harus mengenyahkan kamu dari fikiran hingga tak secuilpun namamu ada dalam setiap harapan saya. Bisakah ? Sementara sampai detik inipun, selalu kamu yang jadi pemeran utama.
Bisakah ? Saya melihatmu kecewa ? Tanpa daya upaya untuk menghiburmu ?
Saya tahu.
Kita hanyalah kisah yang tak pernah jadi sempurna. Kita hanyalah kisah yang selalu saya reka-reka akhirnya.
Jika suatu hari ini, saya duduk di pelaminan sementara kamu duduk menyaksikan. Entah perasaan apa yang berkecamuk dalam hatimu, Saya ingin tak ingin tau lagi. Saya ingin tetap mantap, bersikukuh untuk menjaga hati saya hanya untuk dia; Imam Saya.
Saya ingin, Jika suatu hari nanti saya sudah tinggal di rumah dengan segala rutinitas sebagai bentuk pengabdian. Sedang kamu masih hilir mudik mencari pelabuhan. Saya ingin tak ingin menoleh lagi dan berharap.
Saya ingin. Jika suatu hari nanti saya mulai menemukkan kekurangan dari pasangan saya. Saya ingin tak ingin membandingkannya denganmu. Saya ingin menjadikkan dia pasangan saya, satu-satunya yang akan saya perjuangkan. dalam keadaan apapun. Suka maupun duka.
Jika saya menikah dan bukan dengan kamu. Izinkah saya setia, lebih-lebih dari kesetiaan saya pada kita dalam sebuah konyol masa lalu.
![]() |
| Klik Sumber Gambar |
……………………………
*ketika terbawa suasana lagu someone like you-adele. semua menjadi lebaaaaaaaaaaaayyyy*
Karena Saya Bukan Anda…
Catatan yang saya buat tidak tertuju kepada siapapun. Mohon maaf jika ada pihak yang terpojokkan.
________________
Salah jika saya berusaha lebih keras dari pada anda ?
Salah jika saya lebih di perbudak waktu dari pada anda ?
Saya bukan anda yang dengan leluasa menggunakan uang hanya untuk membeli kepuasaan pribadi.
Saya bukan anda yang bekerja hanya sekedar happy-happy.
Saya bukan anda yang sesuka hati berhenti saat tak lagi merasa happy.
Saya bukan anda yang bebas membeli hanya untuk sekedar diakui.
Saya hidup bukan hanya untuk saya.
Saya bekerja bukan hanya untuk sekedar mencukupi kebutuhan saya.
Saya bekerja lebih keras bukan hanya karena ingin membeli gagget kekinian, membeli tas branded, membeli baju mengikuti trend, atau pergi berlibur kesana kemari.
Kalau seperti itu, anda bisa berhenti sesuka hati,
Tapi tidak dengan saya.
Saya bukan orang kaya.
Dan saya pun tidak terlahir sebagai orang kaya.
Saya tidak seperti anda yang masih bisa mengandalkan orang tua jika anda sudah mulai bosan bekerja. Kembali ke pangkuan ibu. Terus dijejali materi sampai anda tak pernah merasakan apa itu kekurangan.
Saya adalah orang yang harus selalu kerja keras tanpa henti. Bukan untuk berlibur seperti anda. Tapi untuk mencukupi kebutuhan bukan hanya untuk saya pribadi. Saya punya orang tua yang mana suatu hari nanti tidak bisa berpenghasilan lagi, tidak ada dana pensiun. Dan saya punya kewajiban untuk menyiapkan masa tua nya yang nyaman. Apakah anda seperti saya ?
Sepertinya tidak.
Isi otak anda dan saya berbeda.
Anda cenderung mengejar pengakuan. Kesana-kemari membuang rupiah tanpa perlu khawatir dengan hari esok.
Sementara saya ? Selalu menghawatirkannya.
Jadi wajar jika saya lebih visioner. Karena saya tidak mau seharipun terlantar karena keegoisan saya. Wajar jika saya lebih perhitungan. Karena di otak saya bukan sekedar bersenang-senang hari ini.
Andai anda tahu. Berapa banyak saya berspekulasi dalam setiap pemikiran. Berapa banyak saya memperhitungkan ini itu nya agar hidup berjalan naik. Terus naik hingga saya bisa senyaman anda. Nyaman dengan masa depan saya sendiri, dan tentunya saya aman melihat masa tua kedua orang tua yang amat saya sayangi.
Jadi jika anda masih mempertanyakan mengapa saya bekerja sekeras ini ? Inilah jawabannya. Karena yang ingin saya amankan bukan hanya diri pribadi, yang ingin saya bahagiakan bukan hanya saya sendiri, yang ingin saya ajak liburan bukan hanya diri sendiri.
Saya terlahir dari keadaan yang memaksa saya untuk terus bekerja keras. Saya tidak ingin keegoisan saya menyita semua bahagia mereka. Sayapun tak ingin kemudaan saya dalam memilih pilihan hidup jadi alasan untuk berhenti. Saya ingin lebih baik. Menyiapkan yang terbaik untuk masadepan saya. Memanage segalanya dengan begitu detail. Saya ingin semua tersusun.
Jadi paham, kenapa saya masih terus mau bekerja sementara kebutuhan saya dimata anda sudah terpenuhi ? Yang menurut anda saya sudah ada di posisi nyaman dengan materi yang saya punya. Saya tak menghilangkan rezeki. Jika yang saya kejar bahagia diri sendiri, pengakuan trend seperti anda, saya bisa mendapatkannya. Tapi tidak. Jika saya mengikuti arus kehidupan seperti anda tanpa mempersiapkan apapun, kepada siapa saya berlari ? Kepada siapa saya menyandarkan hidup saya dan keluarga ? Kepada tas branded itu ? Kepada foto-foto liburan yang mendatangkan kepuasan itu ?
Tolong… jangan tanya lagi.
Saya bukan serakah.
Saya hanya sedang berjuang yang bukan hanya untuk diri sendiri. Pahami itu.
![]() |
| Klik Sumber Gambar |
__________________________________________
Terimakasih sudah menyimak.
Re-peat
Tahun lalu, kita pernah berhayal bersama. Di kedai kopi daerah kemang. Malam itu Bulang melengkung dengan sempurna. Semburat sinarnya sampai di teras-teras kota. Jam sudah menujukkan pukul 02.00 dini hari. Aku dan pria di depanku enggan beranjak pergi. Aku masih ingat tatapan itu. tatapan yang saat itu aku yakini sebagai perwakilan tatapan tulus.
Malam itu seolah semesta turut mendukung semuanya. menjadi saksi bisu atas bahagia yang meluap-luap jauh di dalam hatiku. Aku ingat bagaimana kamu becanda pagi itu. Mulai dari makanan favorite kamu yang jelas-jelas berbeda denganku. Aku si pecinta seafood dan kamu yang ogah-ogahan dengan seafood. Kamu suka keramaian dan aku pecinta kesendirian.
Malam itu kamu menjemputku seusai melaksanakam sholat taraweh. Kira-kira jam sepuluh malam, pertama kali kamu mengenalkan tempat itu. Tempat yang katamu jadi tempat terbaik untuk menghabiskan waktu. Aku hanya bisa mengikuti. Sambil menunggu waktu shaur, kita mengobrol kesana-kemari. Di awali obrolan ringan sampai obrolan berat dimana kamu mengutarakan mimpimu untuk menikahiku. Mulai dari rencana-rencana kecil perihal pengenalan kedua keluarga, resepsi, rencana tempat tinggal, tabungan bersama, mengajukkan deposito, asuransi untuk masa depan sampai hal besar tentang pandangan mendidik anak. Kamu yang membebaskanku untuk tetap bekerja di kantor dan aku yang memutuskan untuk menjadi ibu rumah tangga secara utuh, aku yang siap mengabdikan hidupku untuk merawat anak-anak dan juga memperhatikkan pertumbuhan detailnya. Kamu mungkin tak tau, obrolan pagi itu adalah obrolan mimpi-mimpi besarku yang mampu membuka bahagia yang begitu nyata. Mungkin kamu tak sempat melihat sinar mataku yang begitu antusias mendengarkanmu. Kamu mungkin tak pernah tau, aku begitu serius menanggapinya.
Mendekati pukul 2 dini hari, kamu memintaku untuk meyakini rencana indah itu. Memintaku bersedia untuk selalu mendampingimu dalam segala keadaan. Kamu mungkin tak tahu, bahagia itu meluap-luap dalam hati sampai aku lupa menyentuh greentea latte kesukaanku. Padahal kamu saja, sudah menghabiskan 2 gelas coffe hitam. Apakah malam itu kita berhayal terlalu jauh ? Atau kita hanya terbawa suasana ? Alunan music pop itu apa menyeretmu untuk berkata yang sebenarnya tidak begitu kamu inginkan ? Dan dingin malam itu, membuatku berharap banyak padamu ?
Setelah dialog malam itu, fikiranku dipenuhi segala perbekalan menuju kesana. aku mulai banyak membaca artikel cara mendidik anak, artikel menjadi istri yang baik, ah.. pokoknya aku mempersiapkan lahir dan bathinnya. sampai aku sepakat dengan diriku, untuk menyisihkan 1 juta dari penghasilan tiap bulan untuk masa depan kita. Ya, katanya kamu akan segera membuka tabungan bersama dengan ku. Segera mengurus deposito. Aku yang kesana-kemari mulai mengunduh banyak informasi tentang asuransi kesehatan, asuransi dana pensiun. Kamu yang mulai sering mengirim email brosur tagihan rumah, mendalami tentang KPR. Sungguh aku benar-benar menikmati proses itu.
Sekarang saja aku masih senyum-senyum sendiri jika menyambangi tempat itu dengan teman-teman. Bahkan dalam ramaipun, bayangan mu masih jelas merajuk memintaku mengunduh lebih banyak lagi ingatan itu. Aku tak suka itu, tapi indahmu mampu membujukku.
“Kita tinggalin jakarta, kita pilih hidup tenang di kampung. Bangun keluarga yang nyaman, tenang, dan aku mau rumah kita ramai dengan bacaan alqur-an. Aku mau nasehat-nasehatmu membentuk karakter terbaik untuk anak-anak kita. Kamu mau kan ? Kamu gak keberatan kan ? pasti menyenangkan pulang ke rumah masakan uda tersedia, lihat anak-anak yang tumbuh dengan baik.” matamu menerawang, seolah benar-benar menghidupkan mimpi-mimpi itu. Aku hanya bisa menganggukkan kepala.
Saat itu kamu terlihat visioner. Segala pengeluaran sudah kamu rancang. Mulai dari memiliki tabungan bersama. niat berwirausaha untuk ku sekedar menghilangkan jenuh.
“Setahun. Kamu mau tunggu setahun kan ?” Simpulmu mantap setelah menghitung jangka waktu pencairan deposito yang sengaja akan kamu ambil dalam kurun waktu 6 bulan kedepan. Kamu berniat akan menggunakannya untuk dp rumah. Aah.. rasanya jika aku mengingat rencana-rencana dulu denganmu terlalu indah. Terlalu muluk.
Mimpi-mimpi itu membuatku lupa akan kejatuhan yang pelan-pelan menghampiriku. Keyakinanku padamu, membuatku buta akan perubahan sikapmu. Kepercayaanku yang begitu besar, membuatku menutup segala prasangka miring tentangmu. Hingga tiba di suatu waktu, kamu begitu yakin meninggakanku sedangkan aku begitu yakin kepergianmu hanya untuk sementara, kamu hanya sedang becanda. Kamu akan segera kembali dan mewujudkan mimpi-mimpi kita.
Apa kabar ? Aku menunggumu di kedai itu. Berharap kamu datang sekedar untuk melepas suntuk. Nyatanya tidak. Kamu pergi tanpa berniat kembali. Kamu benar-benar pergi tanpa berniat memintaku menunggu lagi. Mungkin benar, kemarin itu kamu hanya sedang berbual. atau mungkin kamu hanya butuh pendengar sejati. iya, aku yang cenderung menerima semua rencanamu. Aku yang manut atas apapun yang kamu rancang. dan aku yang cukup bodoh untuk meyakini semua itu.
Sekarang aku sudah mulai bangkit. Tuhan memang selalu memberi rencana terbaiknya. Memberi petunjuk dalam setiap panjatan doa tahajudku. Memberi kekuatan atas kesertaanNya dalam setiap cobaan menyertaiku. Hey kamu… sekarang kamu boleh kembali menatapku. lihat aku. Aku sudah jauh lebih tegar dari sebelumnya. Aku yang aku pastikan jauh lebih baik dari sebelumnya. Aku yang tak akan lagi menyia-nyiakan waktuku untuk mempercayai omongan-omongan yang hanya sekedar keluar dari mulut saja. Aku dengan segenap mimpiku. Aku yang senantiasa selalu berdoa agar diberi yang lebih baik dari kamu dalam panjatan tahajudku. Dan bagaimana denganmu ? lebih baik kah ? aku harap kamu tak akan melupakkanku. seperti aku yang tak akan melupakan kejatuhanku karena ulahmu.
————————————————————————————————————————–
![]() |
| Klik Sumber Gambar |
(Ini hanya kisah perempuan dengan mimpinya. Percayalah Mimpi membuatmu lebih kuat sekalipun kamu harus jatuh terlebih dulu)







