stop this pain ; I MISS U, Darl

“Jika teori jawa mengatakan witing tresno jalaran soko kulino. Maka kita adalah praktek yang tidak aku sadari.”

  ****

                Aku fikir, hatiku bisa dikemudikkan kemana aku mau. Aku fikir selama logika menyetujui itu tak akan pernah jadi perkara berarti. Dan selama ini, aku tidak ingin benar-benar menyukaimu. Karena bagiku, kamu hanya pelengkap dimana aku merasa sendiri. Tidak pernah lebih. Aku tak akan merindukanmu, kecuali jika aku sudah kehilangan lawan untuk bercerita. Kehilangan lawan untuk bermain games, atau ketika Gilang, Ardi, dan Derry sibuk dengan dunia-nya. Yang mungkin akan lebih berat jika mengikutsertakan aku bersama keasyikkkannya.

                Bagiku; kamu hanya teman jalan, teman nonton, teman ngobrol, tidak pernah lebih berarti dari pada teman-teman lelakiku. Bagiku; kita hanya label yang aku beli hanya agar mereka tidak lagi mencandaiku sebagai single atau lebih parah tuna asrama. Bagiku; hanya ada kamu dan hidupku, dan aku dengan kehidupanku. Tidak ada kita, tidak ada kehidupanmu. Bagiku; kamu hanya manekin.


                Mungkin aku tidak pernah menyadarinya dulu. Atau bahkan aku tak mau mengakuinya. Entahlah, yang jelas aku tak mau menyukaimu lebih dari manekin. Aku tak mau membutuhkanmu lebih dari sarapan pagi yang selalu kamu antarkan ke meja kerjaku. Aku tak mau mencarimu lebih dari aku membutuhkan teman untuk nonton film-film horor. Aku tak mau menelponmu, lebih dari aku meminta bantuanmu untuk segera datang ke rumah walau hanya sekedar menemaiku nonton dvd. Aku tak mau membanggakanmu lebih dari aku mengagumi kecantikkanmu. Hanya itu. Aku tak mau lebih dari itu.

                Dan tiba saat aku angkuh untuk merasa kamu benar-benar tak berarti hingga aku pergi dengan begitu pasti. Mungkin kamu tak pernah tau. Atau bahkan kamu benar-benar yakin, aku tidak akan pernah ingin lagi kembali. Seperti kataku malam itu. Saat permohonanmu hanya jadi bahan kepastianku menjauh. Melenggang meninggalkan dengan mudah. Kamu tahu, saat itu aku benar-benar puas telah berhasil pergi. Terlebih saat kamu menangis tanpa upaya untuk membuatku berhenti. Kali ini, sebenarnya aku tetap tak ingin mengakui. Kali ini aku masih ingin tetap meyakini, kamu tak akan pernah jadi berarti.

                Darl, taukah baru sekarang aku memanggil namamu setiap malam dalam sendiri. Taukah baru kali ini, aku tetap merasa sepi hingga menghabisi walau mereka setia menemani. Taukah aku berharap pagi membawamu lagi, walau sekedar untuk mengucapkan “selamat pagi. Hari ini aku masih mencintaimu.” Mungkin kamu sudah tak berniat untuk kembali. Mungkin kamu benar-benar telah mempercayai segala kebohonganku yang sebenarnya dulu aku yakini.

                Kamu tak pernah tau. Sama halnya dengan ku yang tak pernah tau pelan-pelan kamu bertahta di relung hatiku. Sudah sebulan aku menunggumu. Setiap pagi, siang dan malam yang ku harap kamu datang karena rindu yang mulai meradang. Tapi apa daya, tabiat burukku sudah berhasil membuat jera kamu.

                Taukah. Aku rindu kamu bukan sekedar untuk menemani nonton film horor, atau duduk di samping mengunyah popcorn. Kali ini, aku ingin kamu melakukkannya lagi. Memasak pagi-pagi, membangunkanku lebih pagi, menjadi alarm pengingat ini itu, mengantar sarapan di meja kerjaku, mengucapkan ucapan sederhana seperti kata i love you. Kali ini aku benar-benar merasa kehilangan.

                Rupanya kebiasaan-kebiasaan kecilmu mampu mengisi hari-hariku lebih dari sekedar pelengkap sepi. Rupanya kebiasaan munculmu yang tiba-tiba, yang dulu sering membuatku jengkel karena kamu datang sesuka hati, kali ini aku ingin kamu melakukkannya lagi. Datang tiba-tiba. Aku tak peduli jika kamu ingin datang sesuka hati lagi bahkan ketika aku sedang menikmati kesendirianku. Aku tak peduli jika kamu ingin selalu turut serta dalam setiap acara malamku. Aku tak peduli jika kamu mau terus mengingatkanku untuk berhenti merokok. Aku tak akan lagi peduli atau keberatan. Jadi aku mohon, datanglah lagi.

                Setiap hari sejak hari aku memutuskan pergi, aku tetap baik-baik saja. Tak ada yang berubah. Aku tetap pecinta dunia kerja, tetap lupa makan saat fokus bermain games, tetap ketakutan saat aku menonton film horor. Tidak ada yang berubah, hanya saja ada yang kurang dan beda. Mungkin karena tidak ada lagi kamu. Tidak ada lagi nasehat-nasehat kecil yang membuatku pusing. Tidak ada lagi larangan merokok di dalam ruang, tidak ada lagi larangan tidur tengah malam, kali ini aku bebas seperti apa mauku. Tapi kenapa aku tak merasakan lebih bahagia ?

                Kamu bisa bicara “datang saja jika aku mulai ingin kembali.” Tapi  bukankah kamu yang paling tahu aku ? aku yang tak pernah mau mengaku, aku yang angkuh, aku yang terlalu mengutamakan harga diri yang ku junjung hingga mati. Aku yang lebih berprinsip.

                Bila seperti ini maukah kamu mengalah lagi ? untukku ? dan mungkin akan lebih mudah jika aku mulai bisa mengakui adanya kita.

                Darl, aku merindukanmu. Merindukkan kebiasaan-kebiasaan kecilmu. Maukah kamu melakukkannya lagi ? dan aku tak akan memintamu berhenti apalagi pergi.

Add caption

Will you come home and stop this pain tonight

Stop this pain tonight

I Miss You | Blink 182







jangan pernah menganggap remeh kebiasan-kebiasaan kecil.
karena jika di lakukkan terus menerus, kebiasaaan akan memintanya melakukkan lagi.
@shintajuliana



Perkara Tinggal dan Tetap tinggal, tanpa pernah ada Pergi !

“Kalau lilin saja tidak mempermasalahkan kesetiannya untuk menerangi gelap sekalipun dia harus terbakar, kenapa aku harus mempersulit hati ku untuk berhenti mencintaimu hanya agar aku terhindar dari patah ?”

Klik Sumber Gambar

            Pahami; aku lebih akan patah saat aku tak berhasil menemukanmu di setiap pagi ku. Aku akan lebih sesak, saat wangi parfummu semakin menjauh dariku. Aku akan lebih gila, saat kamu tak mau tau lagi bagaimana aku. Sekalipun aku lebih tau, itu hanya jadi basa-basi semata. Tapi sekali lagi, semata-mata itu berharga hanya untuk meyakini hatiku, kamu masih di sampingku.

           Jadi, jangan coba-coba pergi. Jadi, jangan coba-coba melepaskan genggamanmu atau menghempaskan tanganku yang melingkar kuat di pinggulmu. Apalagi untuk alasan gila yang akan benar-benar akan membuatku gila.

           Jika kamu lelah menggenggamku, aku bersedia menggenggammu erat. Seerat dan sebisa mungkin sampai tak ku biarkan siapapun merebutmu. Bila akhirnya kamu membenciku karena merasa tercekik karena ke egoisanku ? Aku tak akan patah karena itu. Asal selama kamu melakukkan itu, kamu tetap berada di sampingku.

Aku bersedia patah jika untuk menemanimu. Bahkan aku akan mematahkan keseluruhan yang aku miliki jika di perlukan untuk modal menemanimu sepanjang waktu.
Aku bersedia tuli jika untuk selalu mendengarkan segala teriakanmu yang tak kuat lagi berada di sampingku.
Aku bersedia buta jika untuk melihatmu tak menginginkan lagi adanya aku di hidupmu.
Aku bersedia gila jika untuk tak menyadari kamu mencintai perempuan lain.
Aku bersedia mati jika untuk bersamamu.

          Ini gila. Itu katamu. Kamu merasa gila karena terkungkung bersamaku. Dan aku gila karena selalu menutupi alasan kepatahanku. Kamu bilang melepaskanmu adalah kado terbaik dari ku. Tapi bagiku melepaskanmu adalah awal dari kegilaanku yang lebih lagi. Kenapa ? Aku tak bisa membiarkanmu bahagia jika harus lepas dari ku. Kenapa ? Aku menyakitimu ? Biar. Biar sama-sama saling tersakiti. Dengan begitu kita bisa saling bersama sekalipun hanya untuk melukai. Itu lebih baik dari pada aku membiarkanmu pergi. Lantas kamu bahagia sementara aku mati sendiri. Lantas kamu pergi sementara aku tetap merasa terlukai.

Jangan salahkan aku.
Jangan salahkan cintaku yang membodohi.
Jangan salahkan cinta besarku.

         Kamu yang memulainya. Aku hanya menjalaninya hingga tak pernah ku temui ujung. Aku hanya bermain peran. Hanya saja peranku sebagai wanita yang mencanduimu, Gagah. Bila akhirnya kamu tak menginginkanku, itu perkaramu. Bila akhirnya ini menjadi sulit, itu masalahmu. Yang tak mau lagi memahami ku.

         Ingat… 3 tahun lalu kamu memulainya. Memberi perhatian, menatapku lekat-lekat, memperlakukkanku manja, menjadikan aku satu-satunya bahagiamu, menjadikan aku ladang untukmu berbagi. Jika akhirnya berlainan dan berubah. Itu bukan perkaraku. Mungkin kamu sedang melihatku dari sudut lain atau mungkin aku sudah membuatmu jenuh ?

         Aku tidak pernah berubah. Aku tetap wanita yang selalu menginginkanmu, selalu. Ingat selalu. Aku tidak pernah berubah. Aku masih selalu memberimu perhatian sekalipun kamu lebih sering mengabaikan. Aku tetap menemanimu setia sekalipun kamu lebih sering mengasingkan. Aku tetap akan disisimu, mencintaimu sekalipun kamu sudah tak lagi menginginkan. Aku tak akan berubah.

Bagaimana rasanya ?
Merasa beruntungkah dicintai wanita sepertiku ?
Atau merasa sangat-sangat malang ?

 
         Sekali lagi aku tak peduli. Aku mati rasa. Kamu sudah terlalu sering menyakiti hingga berkaca-kaca bahkan tumpah air mata. Tersakiti sudah jadi perkara biasa.

Aku ingin kamu di sisiku, selamanya tanpa tapi.
Aku ingin mencintaimu, selamanya tanpa mati.

Jika kamu berfikir aku gila. Ini belum seberapa jika aku benar-benar kehilanganmu.

         Sekali lagi pahami.
         Aku tetap akan di sampingmu sekalipun kamu tak pernah mau melihat. Aku akan berbicara dan selalu memberikan perhatian terbaikku sekalipun kamu tak sudi mendengar. Aku akan di sisimu, selamanya. Sekalipun kamu tak meminta. Aku akan tetap menyimpanmu di ruang hati paling dalam dan ruang paling besar. Sekalipun mungkin aku sudah tidak lagi memiliki secuil apapun dari yang kamu punya.

Jika aku membunuh diriku dengan gila karena ini.
Aku akan membiarkannya sampai benar-benar mati.
Jika aku turut membunuhmu dengan perkara ini.
Aku akan tetap melakukannya sampai kita sama-sama mati.


untuk mawar. 
cintanya yang sudah tertanam hingga mati.
karena baginya cinta hanya perkara tinggal dan tetap tinggal.
tanpa pernah berhenti apalagi pergi.
@shintajuliana 

The Missing !


Klik Sumber Gambar


Aku ingin bercerita lagi. Seperti lupa dengan jarak yang sudah terlampau tinggi.

Aku ingin bercerita lagi. Seperti dulu sebelum gengsi menghabisi.

Aku ingin bercerita lagi. Seperti kata penuh jenaka tanpa memikirkan kamu akan terlukai.

Aku ingin bercerita lagi. Seperti sepotong sore tanpa takut tak kan ku jumpai lagi.


———–


ini bukan versi galau. cuma lagi dimainkan segerombolan ingatan. bisa dibilang terdorong karena denger lagu jadul.
sekali lagi ini bukan versi gegana ya. cuma lagi ngintip sedikit cerita yang dulu jadi alasan tinggal.
tapi tetap saja. semua berlalu dan pergi. tanpa ada kesempatan untuk memilih. 

tinggal atau pergi ? 

jika di beri pilihan apa yang hendak kau pilih, Teman ? 



@shintajuliana




Sketsa di Tengah Hujan

Siang ini Hujan turun lebat… Berusaha menenangkan setiap pasang yang sedang berdebat hebat. Menjadi Soundtrack yang setiap irama berhasil menyentuh hati hingga lekat. tapi sayang, dinginnya lebih mendominasi, menjadi Pawang hati yang siap mati. 
Kamu yang ingin selalu menang.
Meletakkan banyak alasan untuk di benarkan dalam perang.
Bagiku kamu semakin terlihat seperti pecundang.
Meneriaki dia yang menurutmu pantas kau tendang.
Lalu tertawa sambil bertolak pinggang.
…..
Saya hanya orang ketiga diantara sapaan setiap cerita.
Mencoba jadi penengah nyatanya saya tetap berat sebelah.
Saya benci pertengkaran. Apalagi sampai melibatkan sebuah tamparan.
Saya benci teriakan. Apalagi sampai berisi umpatan.
Klik sumber gambar
#nomention
@shintajuliana

Berhenti Menyalahkan Diri, Aku Muak untuk Memuji

klik sumber gambar
“Kamu sibuk mencari. Tanpa sadar, kamu akhirnya berlari. setahuku kamu akan tersesat lagi. Mungkin kamu hanya perlu berjalan sambil meneliti.”
“Terlihat berlari, nyatanya aku hanya sedang menikmati. Waktu yang bergeming tanpa aku takuti. Aku hanya menyibukkan diri. Bukan berlari.”
“Sayangnya kamu terlihat mati. Hidup hanya dengan sendiri yang katanya engkau cintai. Sayang aku terlalu menyadari. Sendirimu tak pernah engkau ingini.”
“Apa yang ingin kau ketahui ? kesengasaraanku yang tak pernah berhasil pergi ? lalu engkau rayakan kemenangmu dengan party-party.  Bersorak mencandaiku yang berhasil engkau lukai ?”
“Sedalam itukan aku kau benci ? aku tak pernah ingin memaki.”
“Hidupku perihal aku. Sekalipun aku berlari, itu tak akan menautkanmu lagi. berhenti bersandiwara hanya untuk membela diri. aku terlalu muak untuk pura-pura mengerti.”

sajak monolog.
berhenti menyalahkan diri.
aku muak untuk memuji.
@shintajulianaa

Akankah ini Kontrak Mati ? ( Cinta Gagah )

Saya masih tercengang dengan keputusan yang saya buat sendiri. Entah yang jelas saya merasa mantap untuk kembali kepada Mawar. Setelah saya mendatanginya lagi di Apartement yang sempat jadi tempat tinggal saya, ada kilatan-kilatan masa lalu yang manis memaksa saya untuk melangkah lebih jauh lagi, meyakinkan mawar untuk sudi menerima saya kembali.

Setelah janji-janji buatan yang saya lontarkan dengan mudah, sedikit rayuan, bujukan, dan perilaku manis yang saya berikan kepadanya, akhirnya Mawar kembali. Gagah kembali kepada Mawar. Masih memeluknya, saya kembali meyakinkan. Berharap ini adalah jalan terakhir bagi saya dan mawar. Tak kan lagi menemui perpisahan. Tak kan lagi berniat menyerah dan pulang. Mawar teringsak-ingsak menangis dalam pelukkan saya. Mengecup kening saya berkali-kali. Ya, saya pun merindukkan sentuhan nya. Dan saya lebih yakin, mawar benar-benar mencintai saya.

“akhirnya kamu kembali, aku sayang sama kamu. Tolong jangan pergi lagi.” 
Dia enggan melepaskan pekukkannya.
Shintajulianaa 22/11/14
Cinta Gagah 

Kinar POV ( Cinta Gagah )

Aku masih tak percaya. Aku masih ingin mempercayai janji-janjinya. Aku masih ingin bermimpi dan mewujudkannya. Tapi Tuhan menampar aku keras. Sampai aku tak bisa lagi menemukkan jalan untuk kembali kepada Gagah. Mungkin ini jawaban doa-doaku. Tapi yang aku tak minta pada Tuhan untuk menjauhkanku dengannya, aku hanya minta petunjuk untuk di lancarkan dalam menjalani setiap fase hubungan kami. Rupanya tuhan punya rencana berbeda. Hingga dia memampangkan apa yang tidak kulihat jadi terlihat begitu jelas. Mempertontonkan drama di belakang panggung itu dengan tirai terbuka. Apa aku harus bersyukur atau merintih ? Meminta tuhan mengembalikkan gagah padaku.

Sore itu gagah menemuiku. Masih dengan muka kusut bekas menangis sedari pagi aku menemuinya. Hampir sebulan dia tidak menemuiku. Kita hanya berkomunikasi lewat telpon dan itupun dengan intensitas jarang. Aku fikir, dia benar-benar sibuk. Aku fikir dia benar-benar sedang bekerja keras untuk masa depan kami. Tapi nyatanya, ada drama lain di balik semuanya.

Kali ini aku berhasil menatapnya lamat-lamat. Dia, gagahku yang sebentar lagi akan meninggalkanku. Aku tak kuasa membayangkan apapun. Mataku buram oleh air mataku sendiri. Pelan-pelan aku tertunduk. Sebelah tanganku mencengkram pagar kost-kostan berusaha mencari kekuatan. Aku menangis tersedu-sedu.

Terbayang wajah kecewa atau mungkin wajah perihatin dari kedua orang tuaku jika aku memberitahukan kabar ini. Tidak akan pernah ada pernikahan. Tidak akan pernah ada Gagah dalam keluarga kita. Aku masih terhunyung. Entah mulai dari mana menjelaskan semua ini.

Bulan ini, hubungan kami menginjak bulan ke 6. 2 bulan yang lalu, aku sudah mengenalkannya mantap kepada keluarga besarku. Aku berharap banyak darinya. Dan bulan depan, gagah berniat mengajakku ke Majalengka. Menemui orang tuanya sekaligus menentukan hari besar kami. Menentukkan kapan orang tua ku siap bertemu dengan orang tuanya. Tapi rencana tinggalah rencana. Aku tak tau pasti apa yang membawanya kembali kepada Mawar. Tapi aku tau, aku tak buta, ada pengkhianatan besar yang di lakukkan gagah. Baik padaku, ataupun kepada Mawar.

Aku masih belum lupa. Ingatanku masih kental dengan peristiwa tadi pagi. Niatnya, aku akan memberinya tiket kereta. Ya dua tiket kereta yang sudah aku booking dari jauh-jauh hari. Semalaman, aku menelponnya. Jawabnya singkat. Bilangnya ada teman. Ada bos. Tak enak. Dan sebagainya. Itulah yang memutuskanku untuk menemuinya di kost-kostannya.

Sekitar jam 7 pagi aku sudah sampai disana. Aku sengaja datang lebih pagi, karena aku ingin sarapan bersamanya. Sudah lama, kita tak pernah makan bareng lagi. Masih dengan keyakinan dan senyum yang lebar aku mengetuk pintu kamarnya. Namun, senyum itu tak lagi tersungging dari bibirku. Mawar membuka pintu kamar dengan penampilan acak-acakkan. Seperti baru bangun tidur.

Ini pertama kali aku melihatnya langsung. Ya, aku tau betul siapa mawar. Mantan Gagah yang amat teramat sangat mencintainya. Mawar yang rela mengorbankan apapun demi kebahagiaan gagah. Hal yang tidak bisa aku berikan padanya, Mawar bisa berikan dengan senang hati.

Seperti petir menggelegar. Ada badai hebat bergejolak di hati. Menguras emosi, seperti memancing sebuah luapan air mata. Tidak, aku tak boleh menangis sekarang. Aku pastikan aku tak akan menangis sekarang.

Gagah yang kemudian berdiri di belakang mawar dengan telanjang dada itu mematung melihatku. Entah apa yang ingin dia katakan. Kita terdiam. Tidak ada perkenalan, dan mawar terhimpit dalam empat mata yang saling berpandangan.

Aku berusaha mencari ketegaran.entah dari mana, aku harus bisa biasa saja. Aku harus bisa membuka percakapan.
“Hey mas… ini titipan kamu. Sorry datang sepagi ini. Permisi mba, mas”. Tanpa sepatah katapun aku bergegas pergi. Nampaknya Gagah memang tak ingin menjelaskan apa-apa. Dia tak berniat mengejarku. Atau bahkan sekedar membujuk ku untuk percaya padanya.

Sore ini, Gagah melihatku begitu rapuh. Dia berhasil menyakitiku. Dia berhasil mempermainkanku. Dia berhasil. Aku benci diriku sendiri, kenapa selalu menemukkan jalan untuk memaafkannya jika dia minta maaf. Kenapa selalu ada jalan untuk mencintainya lagi setelah pengkhianatan ini. Kenapa aku lebih takut kehilangannya. Aku mulai di perbudak oleh cinta. Dan gagah masih berdiri di depanku, tanpa sepatah katapun. Tanpa penjelasan. Atau kata maaf.

Entah apa yang rasa. Saya harap Gagah akan menjelaskan dan bicara semua yang aku lihat salah. Semua yang terjadi tidak seperti apa yang aku bayangkan. Aku harap, aku salah. Atau setidaknya Gagah akan bicara menyesal dan memohon padaku untuk memberinya kesempatan ke-2. Aku sudah terlalu cinta padanya. Aku tidak bisa kehilangannya.

Shintajulianaa ( Cinta Gagah )
22/11/2014 (16:01)

Kontrak Mati ( Cinta Gagah )

“Jangan kayak anak kecil lagi ya… sekarang umur aku udah 27, kamu gak niat ngelamar aku apa ?” 
Sungutnya dengan gaya sok manjanya. Saya melangkah pelan kearahnya merangkulnya seperti biasa. Tidak pernah berubah sejak 7 tahun lalu.
“Emang kamu masih takut kehilangan aku lagi?”
“Setiap detik”
“Aku tak akan pernah mampu pergi jauh dari orang yang selalu berhasil membuat aku nyaman dan bahagia. Aku sudah punya malaikat hidupku, aku tak butuh apa-apa lagi”
“Gombal”
 kali ini dia memeluk saya lebih erat. Sampai tak ada celah lagi antara kami. Baru kali itu, saya benar-benar menyadari cinta besarnya mampu membuat saya terlena. Saya dan wanita dalam pelukkan saya, seperti kontrak mati yang tidak bisa lepas. Begitusaja.
***

Cinta gagah (shintajuliana)

Saya Lelaki Bajingan ( Cinta Gagah )

Saya mematung di depannya. Gadis yang 6 bulan lalu saya yakini sebagai pilihan saya. Gadis yang mengajarkan saya banyak. Gadis terbaik yang pernah saya kenal. Kinar.. saya benar-benar minta maaf. Saya tak menyangka akan menjadi seperti ini. Saya tak pernah main-main dengan rencana kita kemarin. Memilih rumah masa depan, berkenalan dengan keluargamu, mengajakmu mengenal keluarga saya, saya tak pernah main-main. Saya benar-benar ingin menghabiskan waktu denganmu. Bisik hati kecil saya.

Kami saling bertatapan. Semakin lama, saya semakin mampu menyelami perasaan dia. Entah dari mana saya harus menjelaskan. Dia sudah tau semuanya. Dia memergoki mawar ada di kostan saya sepagi itu. Jelas, dia tau apa yang sudah terjadi. Kinar tahu betul tentang Mawar berikut kisah lengkap kami. Hanya saja, Mawar tak pernah tahu soal Kinar. Saya tak ingin memberi tahunya. Saya menghawatirkan Kinar. Bodoh, saya menghawatirkan Kinar terluka. Tapi saya sendiri yang melukainya dalam. Sangat dalam.

“Kinar” akhirnya saya bersuara. Beribu kata maaf tak akan mengembalikkan semuanya. Hatinya sudah saya hancurkan. Harapannya, mimpinya. Tuhan, kenapa harus Kinar. Kenapa lebih mudah bagi saya menyakiti Mawar daripada Kinar. Lebih mudah bagi saya melihat Mawar menangis daripada Kinar. Apa karena kinar perempuan baik-baik bahkan sangat baik, jadi sudah sewajarnya saya merasa bersalah seperti ini. Lantas kenapa bukan kinar yang saya pilih ?

Saya tak sanggup lagi berkata-kata, Kinar mulai menangis sesenggukan di depan saya. Nafas cepat yang dia ambil di sela-sela senggukkan, saya tau ada bebel sakit yang tak tertahan di rongga hatinya. Tanpa berbicara, dia menyerahkan cincin tunangan kita.

“Kinar… ” aku berniat merengkuhnya yang terpojok di depan gerbang kost-kostan nya. Tolong berhenti menangis. Saya ingin seketika menghapus tangisnya. Tapi bagaimana, saya tidak bisa. Saya menggenggam tangannya, tapi kinar langsung menepisnya dan kembali menjauh. Mungkin memang lebih baik menjauh. Bahkan jika bisa terulang lagi, saya tak akan pernah lari kepada Kinar. Saya tak ingin mengenalnya jika hanya untuk menyakitinya.

“Mas gagah memang untuk Mawar, bukan buat aku. Pergi Mas… jangan pernah temui aku lagi.” Dengan terbata-bata di sela tangisnya. Dia berusaha tegar mengucapkan itu. Kinar berdiri tegak di depan saya yang menunduk lemah.

“Bagaimana orang tuamu Nar ?”

“Itu urusanku Mas. Orang tua ku pasti lebih mengerti” kinar menghela nafas dalam. Lalu menghapus air matanya dengan jemari tangannya. Yang tersisa tinggal merah di matanya, tidak ada lagi gumpalan air mata.

“Pulanglah,, semoga bahagia. Assalamualaikum”. Kinar berbalik, membuka pintu gerbang. Tertinggal saya sendiri.. menatap punggungnya sampai dia menghilang di balik dinding.

Cinta Gagah 22/11/15
shintajulianaa

Pulang

Maaf aku kembali untuk ke berapa kalinya. Yang jelas ini bukan kali pertama, kedua, atau ketiga.
Maaf aku mengusikmu untuk berulang kalinya, mencari celah kelengahanmu lagi. Berharap kamu akan jatuh cinta lagi.
Maaf aku menggodamu lagi, merajuk manja lagi, berusaha menarik mu lagi. Memintamu mencintaiku lagi.
Maaf aku selalu kembali padamu, hanya setelah dunia berpaling dariku. Hanya kala itu.
Maaf aku selalu ingin bersama mu lagi, hanya ketika mereka menjatuhkanku. Hanya saat itu.
Maaf aku datang lagi. Berbagi tawa lagi, dan aku harap kamu akan jatuh cinta dengan ceritaku lagi.
Maaf aku memelukmu lagi. Erat terutama saat aku menjatuhkan seluruh letihku di dadamu. Yang ku harap kamu bersedia menenangkanku lagi. Setelahnya kita kembali. Jatuh cinta.
Maaf aku harus kembali pergi (lagi). aku sudah tenang, dan dunia sudah mendekapku indah (lagi). dan kamu ku biarkan jatuh cinta berulang-ulang hanya untuk melihatku pergi (lagi).


Nanti, mungkin kamu akan membentak saat aku datang hanya untuk menggodamu, menarikmu, membuatmu jatuh cinta lagi. Sesaat setelahnya aku kembali pergi… berkelana lagi.
Nanti, mungkin kamu membenci.. menyadari kebodohanmu mencintaiku berulang2 lagi tapi tak pernah bisa menahanku pergi.
Nanti, mungkin kamu tak akan jatuh cinta lagi. Padaku dan berulang2. Dan aku harap kemungkinan itu tidak pernah terjadi. Aku harap aku akan selalu berhasil menemukan celahmu, untuk mencintaiku lagi, lagi, dan lagi. Tentunya saat dunia mengabaikanku, hanya kala itu.
….
Tapi nyatanya kamu tidak sebodoh itu. Kamu tidak akan jatuh cinta berulang-ulang lagi padaku. Tentunya setelah berkali-kali aku menyepelekan perasaanmu. dan aku kembali, kembali berulang-ulang, dan kali ini kamu berhasil. Tidak jatuh cinta lagi. Aku ? Aku tidak lagi becanda kali ini.
….
Kali ini aku datang dan tidak ingin lagi pergi. Di tahan atau dibiarkan begitu saja, tetap aku ingin disini, tidak mau lagi pergi mencari. Kali ini aku yang jatuh cinta lagi, bukan hanya untuk membuatmu mau. Hanya mungkin ini bagianku. Ya, bagianku. Bagianmu sudah habis telak. Kini bagianku.

kali ini aku yang jatuh cinta dengan bodoh (lagi), memintamu mempercayaiku seperti sebelumnya. hanya meminta saja, tidak memaksa. tapi aku harus bermain peran ini lebih lama. Rupanya kamu berhasil tidak jatuh cinta lagi. Dan aku gagal menyelinap masuk dalam ingatan sebelum tidurmu lagi.
….
Aku gagal kali ini, ini bagianku. Bagianmu sudah habis telak.
Aku sendiri kali ini, ini bagianku. Bagianmu diriku dulu. Mainkanlah aku, seperti aku memainkamu.

Klik sumber gambar

teringat satu kebiasaan. ingatlah kembali jangan main-main.
akan ada bagiannya. kamu bermain peranmu yang dulu kamu sutradarai.