#Challenges 30 Hari tanpa MEDIA SOSIAL ( DAY-6 : “KENAPA KAMU DI UNFOLLOW ?” )

KENAPA SIH GUE DI UNFOLLOW ?

           Minggu kemarin, saya sempat melakukan voting ke beberapa teman saya tentang hal-hal apa saja sih yang menyebabkan kamu harus unfollow akun seseorang ?  Agak shocked juga dengan berbagai jawabannya. Diawali dengan motif iseng-iseng berhadiah recehan, mulailah chat sana-sini dengan tujuan menanyakan hal yang sama, “Apa yang bisa menyebabkan kamu harus mengunfollow akun seseorang”.  Ini merupakan jawaban dari “kenapa si Kamu di Unfollow?” 

 

Jika dirangkum, kira-kira jawabannya menjadi beberapa poin dibawah ini :

1. Akun yang isinya foto-foto selfi dengan tampilan full face

           Ladies, pasti enggak nyangka banget. Kalo ada beberapa cowok dengan karakter tertentu emang risih ngeliat postingan foto-foto full face yang berlebihan di sosial media. Selain risih, cowok dengan karakter ini, rata-rata termasuk kedalam good man yang emang ada niatan untuk jaga pandangannya.
           Nah, cewek juga pasti agak geli juga kan kalo ngeliat cowok yang doyan banget selfie. Kebanyakan si bilang Yess !
           Tapi, terkadang tangan-tangan usil kita ini, memang pengen banget ngepost muka kita dalam keadaan yang better atau best face. Tujuannya sama; ngeraih pujian. Kalo gak terlalu sering si, its oke ya. Tapi kalo sampe keseringan apalagi ketergantungan, yaa.. hati-hati entar ada yang ilang feeling.
           

Klik Sumber Gambar

2. Akun yang diduga menyebarkan kebencian atau provokasi

         Banyak orang yang berharap masuk keranah sosial media untuk mencari informasi atau mencari hiburan. Namun, seiring banyaknya isu ini dan itu, maka terbentuklah akun-akun pengguna sosmed yang emang demennya nebar-nebar kebencian, provokasi sana-sini, hingga yang timbul ujungnya adalah perasaan gerah.
         Nengok feed di instagram, ada postingan si anu yang hobby-nya nyinyir. Kadang, repost sesuatu yang kebenarannya belum pasti (HOAX). Yang dia like-in, akun-akun frontal yang isinya provokasi. Hm, untuk yang satu ini, wajarlah buat di unfollow.

3. Gak Begitu Kenal

        Dimulai dengan  bisikan, “Hm.. si A, B, C follow dia juga. Jangan-jangan dia adik kelas dulu pas di TK. Follow ajalah “. Eh ternyata, dilihat dengan teliti, kamu sama-sekali gak ngerasa kenal sama dia. Dan kamu termasuk pribadi yang membatasi pertemanan di dunia maya. So, Lets Unfollow  !
        Gak salah kan ? Malah better daripada kita terlalu mengekpose hidup kita tanpa kita tahu siapa yang melahap informasi tentang kita, pasti ada perasaan gak nyaman. Was-was, mengingat kejahatan dunia maya yang lagi marak terjadi belakangan.
        
4. Si Pesimis, Si Piktor (Pikiran Kotor), Si tukang Nyepam

        Karena instragram diperuntukan bagi semua kalangan. Dari mulai anak yang baru bisa bedain mana jempol mana telunjuk, sampe yang doyan nunjuk-nunjuk orang. Jadi merupakan hal yang wajar juga jika instagram dijadikan tempat pertemuan berbagai karakter. Tergantung bagaimana kita memfilternya aja.
       Ada yang risih dengan akun yang isinya caption menyek-menyek. Setiap hari postingnya sedih, pesimis sama hidup kayak abg labil yang baru di putusin.
      Ada yang males dengan akun si Piktor yang doyan posting, atau like sesuatu yang gak pantas. Setiap posting, isi captionnya menggiring kita buat berimajinasi liar.
      Ada juga si tukang nyepam yang doyan banget nyampah di mana-mana.

Setiap pengguna instagram, punya hak sama. Saat kita tidak bisa melarang, atau bahkan mengontrol postingan orang lain, maka lebih baik kita mengontrol tangan kita sendiri. Memilah dan memilih akun-akun mana saja yang pantas di ikuti dan akun mana saja yang pantas di skip.

5. Akun Mantan ( Mantan Gebetan, Pernah suka, Pernah punya harapan dll)

         Nah yang paling banyak voting alasan  mengunfollow akun seseorang, berkaitan dengan mantan. Apalagi kalo mantannya sudah berhasil move on. Cuma orang-orang yang punya mental baja yang masih follow akun mantan. Hehe..
         Alasannya si simpel, ada yang bilang gak mau lagi berhubungan sama hal-hal yang menyangkut doi, ada yang bilang gak kuat ngeliat dia sama yang lain, ada yang bilang pengen memulai hal baru.
        Tapi ada juga yang menanggapi mantan biasa aja di sosial media. Yang cuek bebek ngeliat doi dengan gandengan barunya, yang gak terlalu di ambil hati dengan segala bentuk sindirannya. WOW.. dahsyat ya.

Klik Sumber Gambar

         Nah, itu dia simpulan dari hasil voting  minggu lalu. Terlepas dari semuanya, kembali lagi ke pribadi masing-masing.

Selamat hari sabtu, dan semoga bermanfaat !
       

@shintajulianaaa
#satuharisatutulisan

#30haritanpasosmed


        

Persahabatan Versi KAMI !

SAHABAT BAGI SAYA…
.
.
.
.
.
MEREKA YANG MEMAKSA SAYA  LEBIH BAIK !

     Coba perhatikan percakapan berikut,

Ketika menginjak usia kesebelasan.

Ana : Gue sebel sama si Ino. Masa dia genit-genit gitu.
Ani  : Iyaa ih, nyebelin banget. Gue juga sebel ngeliat gayanya yang sok kecapepan.

( Sahabat adalah Mereka yang sejalan sama kita. Mau salah mau bener, sing penting kebersamaannya. Si Ana gak suka si Ino, Si Ani pun harus gak suka sama si Ino. Masalah si Ana jadi masalah si Ani. Itu persahabatan versi anak usia kesebelasan.)

Ana : (Pesen tas, sepatu kembaran, biar dibilang sehati. biar lebih dikenal. Urusan hati beneran gimana entar, yang penting keren dulu).
Ani  : ( Ih, padahal gue gak suka sepatunya feminim banget. Kurang keren).
Anti : ( Si Ana ngatur-ngatur mulu si. Bete deh.)
Ana + Ani + Anti : ( Fake Smile )
.
.
.
Other : OH ITU GENK KACAPIRIT YANG SUKA NONGKRONG DI WARUNG BABEH DI POJOKAN SONO.

( Sahabat adalah mereka yang kemana-mana bareng, pake barang kembaran, biar lebih dikenal. Biasanya mereka megang prinsip “gak ada lu gak rame” sekalipun “ada lu, gue enek”. Haha… biasanya banyak fake nya si kalo sahabatan macam kayak gini. Keliahatannya solid, tapi isinya mungkin angin doang. Saling gak suka sama lain. Ini juga persahabatan versi anak usia kesebelesan.)

Ana : Ih si Anti mah gitu deh, suka ngupil sembarangan. Jorok. Ueeeekzzz
Ani  : Iya Masa, Upilnya dikasih gue coba kemarin pas lagi nongkrong di Babeh. Ih sebel deh.
( Versi Ana dan Ani saat Anti absen di tongkrongan)

Ana : Kemarin si Ani ngutang sama gue. Masa serebu perak aja ngutang si. Katanya orang kaya.
Anti : Iya, Gayanya doang belagu, dompet mah kere.
( Versi Ana dan Anti, saat Ani Absen di tongrongan)

Anti : Kemarin gue liat Hp si Ana. Isinya sms-an sama banyak cowok tau.
Ani  : Ih sok kecakepan. Mukanya doang sok alim. Taunya munafik.
( Versi Anti dan Ani, sama Ana absen di tongkrongan).

Terus aja gitu. saling ngejelekin satu sama lain. Itu yang namanya solidaritas ? Persahabatan versi sing penting tau privasi masing-masing, urusan dijaga atau enggak ya gimana nasib. haha…

SEMOGA AJA, TIFE PERSAHABATAN VERSI ANAK KESEBELASAN ITU HANYA TERJADI DI ZAMAN SAYA. TIDAK DIZAMAN KALIAN.

5 TAHUN KEMUDIAN.

Saat semua sibuk dengan dunia barunya.

Saat semua sudah punya teman-teman bahkan sahabat baru.

Saat semua sudah punya prioritas baru. bukan lagi tentang “Solid, Keren, juga Beken” tapi tentang “Anak, Suami dan Pemasukkan.”

Saat itulah Alam dengan sendirinya memfilter siapa saja yang pantas ada disekeliling kita. Mereka yang punya visi dan misi sama, sehingga tidak lagi banyak menuntut hal-hal kecil yang berubah besar jika salah satu diantaranya menyalahi kesepakatan.

Pertemuan seperti ini, terjadi saat kedua belah pihak mulai disibukkan dengan dunia masing-masing yang memang punya prioritas penting. tidak seperti lima tahun lalu, dimana sahabat adalah segalanya. Sahabat adalah hal pokok yang harus kita hayomi kemauannya. Bukan lagi seperti ini. Kita yang semakin dewasa sadar, ada garis besar antara baik dan buruk, ada gambaran nyata tentang masadepan yang wajib kita realisasikan. Sahabat tidak lagi melulu tentang “Gak ada lu gak rame”, atau bukan juga tentang “Gue selalu dipihak lu, dalam keadaan apapun”. Semua ini tidak berlaku lagi. Karena saat menginjak dewasa, semakin kita menyayangi seseorang, semakin pula besar keinginan untuk melihatnya lebih baik.

Untuk sekarang, saya sangat bersyukur. Karena alam menjalankan tugasnya dengan sangat sempurna. Hingga dia menyisakan satu kawan lama dari semua filterannya.

Namanya Tika Azasi, sebentar lagi dia berusia 22 tahun. Tepatnya pada tanggal 2 Desember nanti. Bagi Saya dan Dia, Sahabat bukan mereka yang mau selalu ada disaat keadaan terasa buruk. Karena nyatanya kami punya intensitas pertemuan yang sangat minim. Dia tinggal di kota berbeda dengan saya.

Saya mengenalnya sejak berusia kesebelasan, pun mulanya dengan persahabatan kriteria kesebelesan. Untuk lebih lanjut bisa baca rincian persahabatan usia kesebelasan versi saya pribadi disini ( baca yu ).

Ya Alam memfilter semua dengan sangat unik. Tanpa konflik, tanpa keinginan, atau niat untuk memisahkan diri. Semua berjalan begitu saja. Keadaan dan waktu yang akhirnya menyisakannya.

Tuhan mungkin punya niat lain dari persahabatan kami. Dia mungkin ingin Saya belajar banyak darinya. Dia yang rendah hati dengan segala yang dia punya, dia yang sederhana dengan seribu keistimewaannya.

Kalian yang tidak mengenalnya akan beranggapan saya berlebihan. Tapi kalian yang sudah mengenalnya pasti akan punya penilaian yang sama. Meski mungkin sebagian dari yang sama juga akan punya apresiasi berbeda.

Tika Azasi, Sahabat, Teman, yang memaksa mengajak saya untuk lebih baik. Lebih mengenalkan bahwa semua yang kita punya memang hanya pinjaman, yang bisa dengan sewaktu-waktu harus dikembalikkan. Bahwa pada hakikatnya, baik tidaknya manusia tidak hanya sebatas harta, fisik, pendidikan dan status sosial. Dia yang punya banyak hal untuk bisa disombongkan ( kalo niat sombong ). Tapi dia tetap jadi seseorang dengan kehidupan sederhananya.

Sekali lagi saya bercermin darinya. Ditengah maraknya pencitraan melalui medsos, dia tetep selow dengan diri apa adanya. ah pokoknya take its flow banget. Dia yang punya seribu talenta tapi lebih memilih menjadi orang biasa yang terbiasa bisa melakukan apapun sendiri atau sebut saja mandiri.

Tika, Tika, Tika.

Kami bersahabat. Tanpa perlu banyak janji basa-basi untuk saling mengisi.
Kami bersahabat. Tanpa Ego ingin selalu dimengerti.
Kami bersahabat. Tanpa perlu banyak meminta bertemu.
Kami bersahabat. Untuk maju bersama. Lebih baik pastinya.

Kalo ada yang ngmong “pasti dia orangnya serius. so perpect”. Kalian salah besar ! ! !

DIA ITU………….
.
.
.
.
GILAAAAA
> Gak terlalu mementingkan trend dalam berbusana. Sing penting “nutup aurat.”
> Gak terlalu jaga image ( Mau bukti ? liat aja instagramnya di https://instagram.com/tikadudesti/ ) Kalian akan tau betapa Gilanya dia dengan semua postingan yang ehmmmm…… #HAHA )

Kalo ada yang mau temenan Follow aja, lumayan bisa bikin ketawa.

Cukup deh ya. Intinya si, saya sangat beruntung kenal Tika. Tika yang demen banget becanda, tapi tetep punya nilai seriusnya. Tika yang agak somplak tapi tetep dengan seribu nasehat jitunya. Tika yang humble tapi tetap dengan keanggunannya.

Semoga pertemanan kami langgeng. Dan kalopun kemudian Alam memfilter lagi, lalu menjauhkan dia kemudian, bagi saya itu tak masalah. Karena kedatangan terbaik adalah mereka yang bisa memberikan kesan baik. Dan kesan baik datang dari nasehat baik untuk keadaan lebih baik. Dan dia sudah memiliki itu. Giliran dia tebar semua istimewanya untuk yang lain. Jika memang bagian saya sudah harus terganti.

Hey kamu yang hadir dengan seribu ke-absurd-an. Yang ketika bersamamu aku tak peduli orang mau bilang apa. Ketika ketidakwajaran kita menjadi sebuah irama meski tanpa tatakrama. Kamu yang selalu aku cari saat hari sedang butuh canda. Kamu teman, sahabat, keluarga, yang tak bisa ku minta untuk selalu ada. Tapi hadirmu selalu membuat aku tertawa bahagia. Terimakasih sudah ada dan tolong ajarkan aku lebih gila. . . Seharusnya caption ini tertuju buat pacar. Tapi tak apalah, kamu wanita. Kalopun lelaki mungkin kita sudah berijab depan mertua. #enggaknafsujugasiklodeselaki . . Intinya aku nyaman. Sekalipun harus ubnormal. Sukses interviewnya… doa aku mengiringi langkah suksesmu. Ingat kalo berhasil, ada doaku yang turut berperan. Tapi maaf doaku tak berniat mengiringmu ke belahan dunia manapun. Doaku memintamu disini, untuk lebih dekat dan dengan hasil terbaik. Jakarta menunggu… hahahahamiiiiiiinn ! . . Bdw idung aku jongkok banget yee,,,, hahahahaha
A photo posted by Shinta Juliana (@shintadutulity) on

( Gambar  diambil pas kami liburan di Bandung. Bukan liburan deh, lebih tepatnya sekedar main. Kalo mau tau lebih lengkap cerita di Bandung, NEXT ya…)

#SiapaYangMinat  #BacanyaAJAmales  #AMATIR  #OKE  #SUKASUKALU


@shintadutulity 
Untuk Tika yang menjamah duniaku dengan gila

ANAK RANTAU VS HARGA KOST

Selamat pagi bloggers J

Sebenernya sudah dari jauh-jauh hari pengen banget bahas ini. Suka dukanya anak rantau dengan harga kostan yang setiap tahunnya mengalami kenaikan. Well, saya juga masih dalam tahap shock therapy akibat kenaikan harga kost yang melejit mulai pembayaran September nanti. Sementara ya readers, perusahaan baru akan mengalami kenaikan pertahun setiap bulan Februari. And you know lah simpulannya berarti harus pangkas dana sana-sini buat nombokin budget kostan yang nambah.
Klik Sumber Gambar

A : “Kostan gue naik ni.”
B: “gue juga, naek 200rb”
A: “gaji mah belum naik”
B: “Belum tentu juga gaji naeknya 200rb-an”
A & B : “-____________-“


Ng-KOST !
Anak rantau pasti akrab banget sama nama ini. Iya semacam bangunan pengganti rumah yang diusahakan senyaman rumah juga. Meskipun nyatanya mustahil banget. Rumah tetap akan jadi tempat pulang ternyaman. Tapi ya buat kita yang berada jauh dari rumah dan dituntut bertahan dalam suatu kota yang gak ada family,  ya alternatifnya pasti ngkost. Mungkin buat yang punya family dan pengen hidup “bebas” pasti akan lebih memilih ngkost ketimbang numpang dirumah sodara. Bebas yang dimaksud bukan hal-hal aneh ya, tapi bebas yang saya maksud adalah bebas ketika kamu lagi males ngerjain kerjaan rumah dan milih leyeh-leyeh tanpa harus ada rasa gak enak karena hal itu. Taulah gimana bebannya tinggal sama sodara. Saya dulu pernah ngalamin ya, dan cuma bertahan sekitar satu minggu. Bukan karena diusir atau tidak diinginkan ada ya, tapi karena perasaan gak enaknya itu lho.

Oke back to “ngkost” !
Harga kost di kota-kota besar salah satunya Jakarta memang cukup merogoh kocek buat mereka yang hanya berpenghasilan pas-pasan. Hanya cukup buat makan 30 hari, bayar kost, dan keperluan pribadi. Jadi harus ekstra ketat dalam pengaturan keluarnya itu duit, kalo enggak ? ya siap-siap ngutang sana-sini. Hihi…
Anak rantau. Yang mau saya bagi disini adalah versi saya ya. Versi anak rantau yang sudah bekerja dan berusaha mandiri sengan seberapapun penghasilannya. Garis besar yang harus dicatet, anak rantau belum sepenuhnya disebut anak rantau jika apa-apa masih minta sama orang tua. Babebubebonya masih ngadu sama orang tua. Buat saya kalo seperti itu, hanya sekedar pindah tidur bukan merantau. Malah lebih bagus lagi, sekalipun kita dalam keadaan pas-pasan tapi masih menyisihkan uang untuk berbagi. That a great person J

Ngkost itu suka dukanya apa aja si ?


1.       Bebas. Kalo bahas poin ini banyak banget deh, panjang cakupannya. Pokoknya anak kost itu bebas mau pulang jam berapa aja, pergi kemana aja, sama siapa aja,  tanpa perlu ijin dulu atau dengerin rentetan nasihat yang kalo dirumah mungkin perginya 2 jam doang nasehatnya bisa sampe 5 jam. Bebas juga ngatur waktu seenak jidat. Nyuci kapan aja, atau bahkan sampe cucian lumutan, kamar sampe berantakan, susah bedain mana cucian mana pakaian bersih, kuping kamu tetep bakal adem deh. Gak akan ada yang neriakin panjang lebar. Keadaan ini Cuma berlaku buat kamu-kamu yang males akut ya. Pokoknya anak kost itu bebas mau gaya apa juga, tetep gak akan ada yang peduli. Termasuk pas kamu sakit. Yess, ini dukanya. Saking bebasnya dan gak ada satupun yang peduli kamu mau ngapain di kamar sepetak kamu itu, sampe pas sakit pun, kamu harus masak dan makan sendiri. Secara mau ngandelin siapa ? Pacar ? temen ? sodara ? sahabat ? yaelah.. pas kamu happy aja gak pengen dirungsingin hidupnya sama orang, sekarang pas susah ngerengek-rengek minta di perhatiin ? kamu fikir hidup orang Cuma berkutat dingurusin kamu doang ? nyiapin bubur terus nyuapin kamu ? sepenting itukah kamu ? sorry kalo buat saya pribadi selagi masih bisa sendiri ya ngapain minta tolong sama orang. Manja banget tauuuuu… *oke saya songong*
2.      Mandiri. Untuk beberapa tife manusia mungkin ngkost aja gak bisa buat seseorang mandiri. Iya, ngkost gak bakal bikin seseorang itu mandiri jika masih terus bergantung ke orang tua. Saya pernah punya temen kost. Dia uda berpenghasilan lumayan lah, tapi setiap bulannya masih nerima kucuran dana dari orang tua. Masih nerima kiriman banyak makanan. Sorry kalo ada yang kesinggung ya. kalo buat saya si, ketika kita udah punya penghasilan sendiri, ya kita dituntut untuk bisa mencukupi kebutuhan sendiri. Kurang dan lebihnya nikmati sendiri. Disini , dikeadaan sulit seperti ini, yang mana teman dan yang mana h a n y a teman akan jelas terlihat.
Nah, sekedar masukan ya.. buat mereka-mereka yang berniat merantau apalagi tujuan rantauannya Jakarta harus punya pendirian kuat ya. Jangan sampe berubah kepribadian. Jangan sampe terbawa arus terus kehilangan jati diri. Jangan sampe tergiur dengan kesenangan sesaat. Jangan berubah. Tetep harus jadi diri sendiri.
Pernah ada temen yang bilang seperti ini, “hidup itu jangan terlalu flat, kali-kali nyobain deh hal-hal yang baru.” Dan akhirnya tanpa dia sadari hal baru itu menjadi kebiasaan yang akhirnya merubah citra dia. Ingat perilaku orang terhadap kita, tergantung segimana baiknya kita dimana orang itu.
Eh-eh ko jadi merembet ke pergaulan ya ? haha.. gak apa-apa ya sekalian aja, mumpung tangan lagi rajin ngetik. Tapi beneran lho bloggers, pergaulan emang lengket banget sama anak kost yang hidup bebas. Apalagi di ibu kota, iiih pandai-pandai jaga diri ya J

Okee… gitu aja sih note nya. Sekarang Saya mau nyari kost dulu. Semoga dapet yang lebih nyaman, memadai, dan tentunya nyaman di kocek. Dadaahh baabaaaayy…. J

Kalo mau baca lebih lengkap suka dukanya versi hipwee baca disini ya (klik me) !


@shintadutulity
yang lagi galau-in harga kostan !

Kenapa NG-BLOG ?

Klik Sumber Gambar
Sore tadi ada teman saya yang dari dulu suka menulis.
 Dia bilang :
1.       Banyak si gue nulis, tapi di laptop doang.
2.       Gue sebenernya pengen banget post tentang kisah gue, tapi horror orangnya baca.
3.       Gue belum berani, takut ada yang salah ngartiin tulisan gue.
3 point tadi yang bikin si A jadi bergerak seadanya di dunianya sendiri. Ya menurut saya,  setiap orang punya dunianya masing-masing dalam artian dimana dia bisa bebas berekspesi. Orang yang suka nulis, otomatis dong dia mengekpresikan apa yang di dengar, di rasa, di lihat dengan bentuk tulisan. Orang yang suka melukis ya dengan melukis. Orang yang suka bernyanyi, dengan bernyanyi. Begitupun seterusnya. Bebas.
Dan kami yang rajin posting ini-itu di blog atau situs lainnya. Saya tekankan lagi ya, ini bukan ajang cari muka atau pengen di perhatikan banyak orang. Bukan ingin tersohor atau dinilai punya peran. Kami hanya ingin menulis. Itu saja. tentang apapun yang ingin kami sampaikan.

Dan kalo ada yang nanya apa ini berguna, saya jawab iya untuk saya. Mungkin buat pembaca si enggak ya. Cenderung curhat kalo isinya cuma cerita sehari-hari. Cenderung pesimis jika isinya keluhan. Dan sok menciptakan image bijak kalo isinya semua tentang positif energy. But, disamping semua itu “menulis” buat yang hobby nulis yang emang berguna banget. Lebih simplenya kita bisa mengulang semua history cerita kita hanya dengan kembali membacanya. Merasakan lagi moment-moment sejarah hidup kita. Berasa punya album kenangan dalam bentuk tulisan sendiri. Dan kalopun semua isinya semu, itu bukan berarti seseorang itu pemimpi justru dia perasa. Punya perasaan kuat terhadap sekitar, bisa berperan jadi siapapun yang dia dengar. Bisa hidup dalam seribu karakter secara bersamaan.
Kalo gunanya gitu ya apa bedanya ngesave tulisan di laptop. Saya dulu juga sering banget nulis yang Cuma berakhir  jadi draft aja. Gak ada yang baca. Gak butuh juga si. Toh tujuannya hanya ingin mengabadikan setiap potongan ceritanya. Hingga tiba waktu, laptop rusak. Dan semua keformat. Zzzzzz… Damn moment banget !
Satu hal lagi di poin pertama. Kita bisa merasakan kembali sensasi kesedihan atau kebahagiaan saat membaca kembali tulisan ketika pada detik setahun atau sepuluh tahun yang lalu. Coba kalo misal cuma asal cerita, pasti kita gak yakin pernah mengalami hal itu. Banyak pertanyaan, “bener gak sih ? emang iya dulu pernah begini, begitu, bla-bla-bla.”Kalo ada tulisan kan ada bukti nyatanya. Kita sendiri yang menulis kalimat bahagia itu. Atau bahkan kita sendiri menguntai sedih sedemikian pilu itu.
Untuk poin kedua. Pengen ketawa dulu. Ya. Poin ini saling berhubungan sama poin ketiga. Hm, awalnya ya panas dingin si. Ngeri. Horor. Tapi sekali lagi, disini kita sebagai tuan rumah. Mereka hanya tamu yang gak di undang. Jadi kalo misalkan yang dituju itu membaca atau ngerasa, ya itu tentang urusannya. Dia yang bersedia masuk ke ranah dunia kita. Itu biar jadi urusannya selanjutnya. Berani klarifikasi atau cukup tenggelam dalam “kegeerannya” sendiri. Karena saya pastikan; “tidak semua apa yang ditulis itu tentang penulisnya.”

Jadi buat yang suka menulis, tulis saja apapun yang ingin kamu tulis. Berperanlah jadi siapapun. Nikmati setiap sandiwaranya. Kita yang punya panggung, kita juga yang punya cerita. Penonton cukup membaca. Komentar tak akan pernah jadi apa-apa. Biar berkoar diluar.
@shintadutulity
Note ini didedikasikan khusus untuk Dina Purnamasari.
Selamat menulis.

Jalan bahagia setiap orang berbeda…

X : Gue bahagia kalo gue punya banyak pengalaman. Kesana-kemari, nikmatin ini-itu. Masalah uang bisa di cari lagi. Yang terpenting itu pengalaman yang lebih berharga dari uang.
Y : bahagia gue ya bisa beli apa yang gue mau. Bisa makan apa yang gue pengen. Itu cukup. Dan tentunya tanpa rasa takut dengan hari esok.
Z : Gue bahagia kalo gue merasa aman di hari tua. Dan gue gak keberatan kalo harus kehilangan hari libur gue dengan berdiam diri di kamar, dan tidur. Karena gue lebih khawatir gak punya uang dari pada dibilang cupu.
X + Y : please, lu enggak nikmatin hidup banget.
****
Sebut saja si Z. Wanita yang dididik keras dengan didikan jawa sekalipun tinggal di Jakarta. Perempuan yang masih mengenal unggah-ungguh sekalipun berada dalam lingkaran kehidupan bebasnya ibu kota. Masih mengenal Tuhan dengan baik, masih memiliki solidaritas tinggi sebagai makhluk social. Si Z, perempuan yang tidak pernah terbawa dengan ke-modern-angaya kehidupan ibu kota.
Saya sendiri kagum dengannya. Dengan sikapnya yang tegas, menolak pergaulan yang tak pernah memberinya manfaat. Yang dengan keras menyatakan “gue gak keberatan di bilang cupu hanya karena gue gak keluar malam. “


Saat itu saya dan rekan-rekan terlibat dalam perbincangan random. Tentang makna kebahagiaan. Sebagian dari kita, ada yang rela menghabiskan jutaan rupiahnya untuk mencari pengalaman. Liburan ke luar negeri, mencicipi makanan-makanan enak, memberi makan ego hanya untuk sebuah pengakuan popularitas. Itu. Sebagian dari kita, bahagianya di hasilkan dari hal seperti itu.
Sebut saja si X. yang sebagian besar penghasilnya di gunakan untuk foya-foya. Menikmati panorama yang katanya bisa mengunduh rasa kepuasan yang luar biasa. Yang katanya, di luar sana selalu ada banyak hal yang bisa dipelajarinya. Jauh lebih dari kicauan petuah-petuah belaka. Bahagianya terletak pada kepuasan mata memandang.
Lain lagi dengan si Y. Yang bahagianya terletak pada kepuasan akan rasa penasaran. Si Y yang berani mengeluarkan berapa rupiahpun untuk mencari tahu apa yang belum di ketahuinya. Mencicipi apa yang belum di rasakannya. Mendatangi apa yang ingin dia datangi. Semua itu hanya untuk rasa keingintahuannya.  Bahagianya terletak pada kepuasan “ketahuannya” akan sesuatu.
Dan sangat berbeda kubu dengan si Z. yang hidup lurus dan ternilai flat untuk seorang X maupun Y. yang dari kecil banyak menghabiskan waktu di kamar, di depan televisi, atau berlarut-larut dalam mimpi tidurnya. Si Z yang cenderung berprinsip.
Pernah suatu ketika, dia bercerita tentang kesehariannya. Yang menurut sayapun yang tidak tergolong di si X atau si Y saja menilai hidupnya sangat-sangat membosankan. Tenggelam dalam pekerjaan di waktu weekday, di waktu weekend, si Z pun menikmati meekendnya hanya dengan leha-leha di kamar. Dia menyebutnya syurga, me time-nya seorang Z. Padahal dia tidak kuper untuk seukuran perempuan modern. Dia memiliki banyak teman dari berbagai kalangan. Tapi itu tadi, dia tidak mudah terpengaruh. 
Lalu dimana letak bahagianya ? bagaimana menikmati bahagianya dengan uang hasil jerih payahnya ?
Berbagi. Dia yang besar di Jakarta yang mengenal betul hukum-hukum berbagi dengan sesama. Dia yang menafkahi bathinnya dengan berbagi. Dia yang rela menghabiskan penghasilannya untuk menolong orang lain. Dia yang kepuasannya di titik tumpukan kepada kebahagiaan orang-orang disekitarnya.
Ya. Dia si Z yang saya kagumi. Sangat-sangat saya kagumi.
Tidak perlu muluk-muluk. Ini Jakarta. Dimana keluar malam dan pulang pagi sudah jadi pemandangan “biasa”. Dimana club sudah menjadi tempat “asyik” yang tidak lagi di hindari. Dimana “pergaulan” lawan jenis sudah tidak lagi di anggap tabu. Tapi Dia. Membiarkan Jakarta menjadi Jakarta bagi mereka penikmat kebebasan, dan dia tetap menjadi si-Jawa yang memegang teguh hukum Tuhan dan tatakrama turun temurunnya.
Saya yang baru seumur jagung di Jakarta-pun sudah pernah mencicipi bagaimana bahaya melewati malam di Jakarta. Sekalipun hanya sesekali. Sedang dia tidak pernah sekalipun melangkahkan kakinya, keluar dari rumah lebih dari jam 11 malam.
Dia yang tidak pernah menghambur-hamburkan waktunya dengan obrolan tak penting dalam sebuah tempat nongkrong walau sekedar mencicipi secangkir kopi. Dia yang sama sekali tidak tahu apa itu club dan bagaimana kerasnya dentuman musik dalam ruang yang serba gemerlap itu. Dia yang tidak pernah termakan rasa penasaran akan rasa minuman alcohol atau sekedar setetes anggur merah kualitas ekspor. Dia yang sama sekali tidak termakan kepopuleran shisha pada zamannya. Dia yang lebih memilih menonton di depan televiie dari pada dalam ruang gelap berlayar penuh seperti bioskop. Dia yang lebih memilih masakan mamanya dan tidak pernah tergiur dengan makanan-makanan di luar sana. Ya bagi kalian penikmat dunia modern, pasti menganggap dia cupu, kampungan, norak dan lain sebagainya. Tapi sekali lagi, itu adalah jalan bahagianya.
Jujur saya pribadi terkagum-kagum dengannya. Singkat cerita, saya sebelum memutuskan berjilbab. Ya sekitar 2 tahun yang lalu. Sayapun pernah tergiur dengan apa yang di suguhkan ibu kota. Mencicipi sekali dua kali pulang pagi, walaupun hanya sekedar nongkrong di warung kopi. Pernah sekali menginjak club sekalipun hanya untuk menjemput seorang teman. Pernah menikmati bau anggun merah yang sangat menyengat. dan untuk masalah boros, saya masih ada pada lingkaran itu sampai detik ini.
Well. Ini hanya catatan tentang sudut pandang kebahagiaan setiap orang, yang tidak bisa kita sama-ratakan. Bagi saya, semua sah-sah saja. Jadi si X, Y ataupun si Z, semua halal-halal saja. Asal selama melakukkannya tidak merugikkan orang lain.
Salam..
@shintajulianaa
Yang menyempatkan ngblog di waktu perut keroncongan.