Hujan Bulan Desember

Dimulai dari Hujan Januari lalu…..
&
Berakhir…
di… [sini]

Klik sumber gambar

barangkali hidup adalah doa yang panjang, dan sunyi adalah minuman keras. ia merasa Tuhan sedang memandangnya dengan curiga; ia pun bergegas.” 

― Sapardi Djoko DamonoHujan Bulan Juni

Hujan Bulan Desember. Ini mungkin akan menjadi catatan terakhir tentang cinta di tahun 2015. Ku harap ini memang yang terakhir. Entah bicara cinta atau apa, bagiku semua sama sekarang. Tidak ada beda. Aku sudah lupa bagaimana rasanya cinta, atau memang aku terlalu menenggelamkan diri untuk lebih mencintai diriku sendiri ?

Hujan Bulan Desember. Bisa saja ini  menjadi catatan rindu terakhirku di tahun 2015. Bersama hujan Desember yang kubiarkan menggali semua kenangan lama yang mulanya aku kubur dan tak pernah ingin aku sentuh lagi. Cinta atau rindu, semua nampak sama. Aku tak begitu lagi mengenali keduanya. Selain bahagia ya aku tertawa, atau selain bersedih lalu kemudian aku menitikkan air mata. Sisanya… Aku biarkan mengalir begitu saja. Seperti air hujan desember ini.

Mungkin Hujan ini berbeda dengan hujan tahun sebelumnya. Dimana mungkin, cinta dan rindu masih lekat aku rasa. Dimana mungkin bahagia dan pilu bisa aku samarkan seiring kepergiaan atau kedatangan cinta itu sendiri. Mungkin aku sedang ingin menutup Desember ini dengan sedikit cinta. Meski nyatanya yang kulihat hanya bayangan dari wajahku sendiri.

Berjalannya waktu yang terus membuatku tumbuh. Membuatku lebih jauh dari hanya sekadar bicara cinta. Sudah enggan rasanya aku bicara kamu. Bukan lupa, tapi jarak memang tercipta seiring waktu. Waktu menyeretku lebih dari sekedar ke perempatan. Lebih jauh lagi. Sampai aku sadar, aku benar-benar sudah tumbuh.

Sekarang, aku mencintai diriku. Sebagaimana dengan semua peristiwa yang tak kubiarkan secuilpun membuat jiwaku rapuh. Sekarang, aku mencintai masadepanku. Sebagaimana tak kubiarkan seorangpun mengganggu apa yang sedang berusaha aku raih. Sekarang, aku menghargai diriku. Sebagaimana tak kubiarkan satu cintapun membuatku lupa akan diriku.

Hujan ini memang sedikit membawa kenangan lalu. Mungkin terbawa angin, tapi aku biarkan. Toh, nantipun akan tersapu  hujan.

Bilamana ini memang layak jadi penutup. Aku tutup dengan seribu syukur. Bilamana ini memang pilihan akhir sekalipun tanpa pernah berani aku memilih, aku tetap akan menjalani ini dengan penuh rasa syukur.

Banyak hal yang aku dapat. Sebagaimana bukan hanya peristiwa kamu saja yang turut serta membuatku bergerak maju. Banyak hal bisa aku syukuri. Sekali mungkin sebelumnya aku sempat merasa sangat tidak bahagia. Bagiku, Cinta hanya sekedar waktu saja. Menunggu waktu untuk terbiasa tanpa, atau menunggu waktu untuk terbiasa ada. Tidak akan lebih dari do’a. Tidak akan pernah lebih dari takdir.

Sekarang aku menulis ini diwaktu senggang sambil menunggu adzan magrib. Diluar mendung, sedikit gerimis. Tak lama hujan akan turun mungkin. Aku meluangkan waktu untuk duduk didepan komputer. Menuangkan isi hati yang sebenarnya sudah tak memiliki maksud istimewa.

Semua berjalan lancar sepanjang tahun 2015. Sekalipun satu rencana gagal berantakan, tapi aku tidak patah begitu saja. Pekerjaanku jauh melesat dari sebelumnya. Pribadiku juga. Lebih bergerak kearah baik. Jauh. Aku kira begitu, ketika aku sadari siapa aku sekarang dan siapa aku setahun belakang.
Aku tetap menjadi aku yang sederhana dan tidak banyak omong ketika bertemu orang baru.
Dan satu yang lebih penting dari semuanya, dari semua omong kosong ini. Aku jauh lebih bahagia sekarang.

Hujan Desember tak pernah mengubah rasa lain (lagi), jika sedikit menyeret masalalu, itu tak akan menjadi apa-apa. Sebab nyatanya, memang aku sudah tumbuh.

Perihal cinta, aku tak begitu ambil pusing. Banyak hal yang harus aku raih di tahun depan. Banyak. Tuhan punya misi lain tentunya. Cinta akan tiba pada saatnya. Lebih dari sekadar mengajarkan luka atau tawa. Kelak, Cinta itu meresmikan dirinya sendiri. Bersama skenario terbaiknya… tanpa cacat. Aku bersedia & siap berbagi segalanya.

Selebihnya, atau sekurang-kurangnya. Aku ingin berjalan dengan bahagia.

Terimakasih 2015.
Terimakasih Hujan Desember.
Terimakasih untuk waktu introspeksi yang panjang.

Terimakasih segalanya.

Aku tumbuh bersama januari, dan kembali saat hujan Desember (nanti).

@shintadutulity
yang tertinggal biar tinggal.
aku tetap ingin bergegas pergi !

You are nothing !

Aku sudah terbiasa bersembunyi dalam kecewa. Kuanggap biasa semua yang hampir menyakiti malah harusnya aku menangis tanpa berniat tertawa. Tapi bagiku kini, apapun biarlah terjadi bagaimana adanya. Aku tak lebih dari mengetahuinya. Tak berniat untuk merasa lalu meratapi dengan air mata. Aku hanya mencukupkan diriku untuk tau adanya. Bagiku tentangmu tak lebih besar dari masa kemarin. Tak kan pernah ada esok yang ku janjikan. Tak pernah ada nanti yang aku titipkan. Jangan hawatir, aku sudah terbiasa. Malah justru lebih kacaupun aku pernah merasa. Kali ini, ulahmu tak memberi efek apa-apa. Aku tetap bisa seperti biasa, tertawa tanpa di reka-reka. Dan bahagia tanpa merasa kamu tak ada.

klik sumber gambar

——————————————————–
Everybody knew you’re a liarEverybody knew you’re a playerEverybody knew you’re never seriousRisk your love at meAnd i tell you once again baby———————————————


@shintadutulityumtuk kamu yang gagal menyakiti


Sore yang terbuka

Klik Sumber Gambar
Selamat sore kamu di kotamu.
 Semoga selalu bahagia dan dalam kelapangan hati untuk mau terus mengerti.
Maaf aku akhir-akhir berhenti percaya. Kamu pasti tau, aku yang mudah terbawa salah. Hari minggu kemarin aku kemakan emosi, lebih lama itu timbul ego diri yang sulit untuk aku tahlukan. Aku berhenti percaya. Termakan banyak fakta. Ingin aku tanya agar semua lebih jelas adanya, tapi apa daya kita tak pernah diberi celah untuk saling memberi. Atau memang kamu yang tak mau ?
Hari itu sebelum aku melihat jempol  kamu berkeliaran di salah satu postingan yang “ah” sebut saja aku tak suka kenapa harus dia. Bukan untuk mendikte, nyatanya aku timbul seribu tanda tanya yang mengungkungku dalam berjuta kemungkinan. Aku tak bisa dan tak mau satuhalpun dari prasangka burukku jadi nyata. Oke, baik. Kamu boleh menyebutku cemburu, childish atau apapun. Tapi aku benar-benar tak suka. Aku fikir semua akan berhenti hanya disitu. Hingga tiba saat aku bercerita dan mengambil garis besar dari semua peristiwa,
seseorang teman berkata ;

aku terlalu bodoh bertahan dan bersedia untuk membuka hati hanya untuk seseorang sepertimu. Yang tak pernah mau berkorban atau lebih menghargaiku. Kamu yang katanya tidak pernah punya perasaan istimewa, kamu yang tak pernah ada anggapan lain dengan adanya kita. Kamu yang hanya menyuguhkan harapan hampa hanya agar aku merasa terbang. Kamu yang katanya buruk untuk lebih aku perjuangkan.

Itu kali pertama aku tak suka. Aku tak suka dengan segala rasa yang aku biarkan tumbuh liar tanpa berusaha untuk aku punahkan. Itu untuk pertama kalinya aku benci semua yang pernah ada, semua kisah kita yang menuntunku untuk terus selalu suka. Dalam bahasa lebih kerasnya, itu untuk pertama kalinya aku benci sosok kamu. Yang tak pernah mau memberi hal berarti dalam ikatan pasti. Aku benci.
Sekali lagi aku tersungkur dalam lubang kebimbangan. Terlebih untuk maju dan berpaling lagi dengan pria lain atau terus seperti ini menikmati setiap fase yang kamu mainkan.
Maaf aku seterbuka ini disini. Tidak bisa bicara langsung atau bertanya langsung. Ini duniaku, dan disini aku bebas menuangkan apapun yang aku suka dan aku mau menulis kamu saat ini. semoga kamu tidak keberatan.Ini duniaku dan aku memang suka menulis menumpahkan apapun yang ku mau. penilaianmu atau mereka biar saja. aku ingin tak peduli.
Ingin aku hentikan jika memang ini hanya aku sepihak. Ingin sekali. Ini bukan kali pertama aku ingin berhenti. Hanya saja aku belum mampu. Kamu masih terlalu baik, dan aku belum begitu terluka. Coba Pergi dengannya, mungkin itu akan lebih mudah untukku bisa menerima. Biar kita hilang dan aku melanjutkan hidup tanpa sedetikpun kamu membayangi. Lakukkan itu, jika benar kamu tak pernah menganggap aku lain.
Aku tak bisa begitu saja berhenti hanya karena tegoran sepihak atau sakit yang masih bisa aku sirnakan. Kamu baik dimataku, Kamu tetap baik hingga kini sekalipun seribu orang kini memintaku untuk lebih memilih maju daripada mempertahankan kamu yang semu.

Bilang, Katakan, tunjukkan aku harus bagaimana…

Sakiti aku parah jika memang kamu ingin aku berhenti bahkan pergi. Kamu tau bagaimana caranya, kamu yang tahu bagaimana. Hingga harus aku mengepak semua kenangan, hingga mungkin aku harus mengubur semua mimpi dan harapan, hingga mungkin aku harus kuat untuk ditertawakan di belakang, dan jika kamu melakukkannya, kamu akan menghentikanku dengan pasti. Kamu akan kufikir mati karena menyakiti tanpa toleransi.
Ya. Aku yang mudah untuk kau sakiti. Sejak saat aku percayakan hatiku utuh untukmu. Kamu berhak melemparnya. Hingga berkeping-keping jika perlu. Agar aku lebih mudah untuk membenci.
Sekali lagi, aku tak mau segala prasangka burukku jadi nyata. Apalagi sampai hilang percaya.
Selamat sore kamu, dan semoga kamu diberi lebih untuk mengerti.
@shintadutulity
untuk soremu ada salam dari langit jakarta
kamu ditunggu disini 🙂

Terimakasih sudah tersenyum..

Kita tersenyum. Tersipu satu sama lain. Akankah itu berarti cinta ? atau hanya bahagia karena rindu akhirnya menemui penawarnya ? Aku ingin mendeskripsikan banyak hal. Senyumanmu yang tidak pernah berubah, bahkan hal terdetail yang tidak pernah bisa aku lupa. Kamu sama. Semoga itu bukan hanya karena aku terlalu bahagia.
Tertawapun syah-syah saja. walau tak ada lelucon yang berarti, melihat tingkahmu sudah cukup membuat dahaga bahagiaku tercukupi. Mungkinkah kamu semenarik itu ? mungkinkah benar sosokmu tetap jadi kamunya aku yang tidak akan pernah bisa aku sempurnakan ? kali ini aku biarkan seadanya. Aku cukup bahagia dengan pertemuan dua pasang mata yang tak sengaja ku curi. Bila itu yang terakhir, setidaknya aku sudah punya cukup modal untuk berpisah lagi, sekalipun mungkin aku tetap tak kan mau.
Kamu perlu tahu. Bersamamu walau tanpa hal istimewa sudah cukup membuatku kebal akan luka. Kamu harus tahu. Jika ini bukan cinta, kenapa aku bisa sesederhana itu tertawa lepas ? Jika bisa setiap waktu saat aku merasa ingin bahagia, bisakah aku berpaling disisimu ? Meski selepasnya kamu atau aku harus pergi. Entah kenapa, bertemu atau dekat denganmu meyakinkanku bahwa kepergian hanya tinggal sejengkal lagi dari binar-binar mataku. Entah kenapa kamu tidak bisa aku pertahankan atau mungkin kamu bertahan walau sekedar untuk membuatku tertawa ? mungkin ini bukan cinta. Aku tak ingin mendeskripsikan lebih jika hanya untuk kembali terluka. Biar adanya begini. Datang dan pergi sesuai kau mau. Aku mampu jadi rumah tempat kau pulang; kapanpun kau bersedia.  
Maaf. Aku menilaimu lebih dari seharusnya. Seperti pernah ku bilang. Aku malu untuk lebih bertahan. Aku tidak punya apapun yang bisa kubanggakan untuk lebih memperjuangkan.
Kamu mungkin lupa. Aku juga. Entah mulai kapan perasaan tulus ini tumbuh. Bukan perasaan seperti yang lain ada hasrat menggebu memilki. Aku tidak sebegitunya. Bukan perasaan sebelumnya yang dengan mudah aku tumpahkan dengan banyak rayuan. Aku tidak seberani itu. Bukan perasaan sebelumnya yang dimana tanpa gelisah aku dengan bebas bergerak mendikte ketidaknyamananku. Aku tidak selancang itu. Padamu !
Aku untukmu lain dengan ketika aku bersedia menemani dia ataupun mereka. Aku ketika bersamamu lain dengan ketika aku harus siap sedia melayani cerita mereka. Aku untukmu sebebas yang kamu mau. Kamu pergi, akupun pergi. Kamu datang, aku lebih dari sekedar senang. Jika kamu tak bahagia sepertiku, kamu berhak berlari menjauh dariku. Perkara bagaimana aku, itu urusanku. Aku untukmu ingin selalu menangkan. Tidak perlu dengan banyak hal yang kamu upayakan, tersenyumpun aku sudah cukup riang. Aku melepasmu. Pergilah dengan siapapun yang kamu ingini, sekalipun bukan bersamaku. Bahagiamu sudah cukup mengantarku ke gerbang cerita berikutnya.
Jujur saja. kebaikanmu aku utamakan lebih dari sekedar keinginanku. Entah ini apa, yang ku tau aku tak ingin meminta banyak dari apa yang bisa aku beri.
klik sumber gambar


Terimakasih sudah tersenyum hari itu.
Terimakasih sudah bersedia ada. 
Satu do’a ku terwujud. 
Terimakasih Tuhan, terimakasih kamu !


@shintadutulity 



Dik… ( Part 1 )

Klik sumber gambar

Aku memang tak akan pernah jadi sempurna.Aku tak akan selalu memberi contoh baik untukmu.Tak akan selalu bisa memberi yang kamu mau.Tak selalu bisa menuruti apa yang kamu ingini.


                                               ****
Tertawa. Terus tertawa. 
“teh laptopnya rusak. kalo bisa beli lagi aja teh, yang ada cd roomnya. ” 
“teh otom mau belajar naik motor, tapi pengen yang matic aja teh.”
“teh katanya mau ngasih haandphone mana ih ? atau hp teteh aja buat otom.”
Semua permintaannya aku simpan. aku catat rapih dan simpan baik-baik dalam ingatan. segala harapannya, kecil dan besar aku ingat. selalu. meski tidak semua bisa aku wujudkan dengan cepat.

Dik..
Aku tahu, kamu sedang mengalami masa puber. Masa dimana kamu ingin tampil baik, masa dimana kamu lebih banyak bergaul, lebih banyak ingin menghabiskan waktu dengan teman sebayamu. Dulu, akupun pernah merasakannya. Ingin punya handphone canggih, ingin punya pakaian bagus, ingin punya ini-itu untuk bisa mengambil hati banyak orang di sekitar. Ya, saat ini, kamu masih memakan mentah kata “image”. belum memahami lebih jauh kedalam. Aku faham.

Aku memahami semua keinginanmu. semua harapanmu. semua permintaanmu. Percayalah. meski kadang, aku tak bisa mewujudkan semua yang kamu minta.

Dik…
aku ingin kamu banyak bergaul. untuk itu, aku akan mengupayakan kamu bisa diterima dilingkungan teman-temanmu. aku ingin kamu bisa menikmati usiamu. aku akan mengupayakan yang terbaik untuk itu. 
pelan-pelan. aku mengintai semua kegiatanmu. menanyakan orang rumah, dengan siapa saja kamu bergaul. mengintai akun facebookmu untuk tau lebih jelas bagaimana pandangan teman-temanmu terhadapmu. aku tak ingin kamu dikucilkan atau kamu merasa kecil, Dik.

Dik…

Aku menyayangimu dengan caraku sendiri. Menjaga setiap fase pertumbuhanmu agar selalu bisa berbaur dengan oranglain. Aku akan selalu berusaha menyetarakanmu seperti yang lain. Memberi masa depan terbaik untukmu. Memberimu banyak pilihan sekalipun dengan seribu keterbatasan. Menyanggupi setiap kesulitan dengan seribu keharusan. 

Dik… aku akan berusaha menyiapkan masadepan terbaik untukmu.

Kita tidak terlahir sebagai orang terpandang. Tapi tuhan memberi kita dua mata untuk memandang jauh kedepan. Memandang jauh mimpi-mimpi kita untuk jadi nyata. Untuk lebih di gapai. Jika orang lain menggapainya cukup dengan berjalan, kita harus berlari dik. Jika oranglain cukup dengan duduk saja, kita harus merangkak dik.

Aku ingin melihatmu lebih baik. Lebih baik dariku. Aku ingin kamu lebih maju. Aku ingin kamu jadi orang yang bisa diandalkan. Bisa jadi sandaran keluargamu nanti. Aku ingin kamu jadi sosok yang diimpikkan setiap wanita karena keteduhan dan keteguhanmu. aku ingin, kelak kamu bisa memilih siapapun wanita yang kamu mau, tanpa harus merasa kecil. 

Dik… kita memang bukan keluarga berpendidikan. Tapi aku akan selalu mengupayakan kamu setara seperti mereka. Aku ingin kamu bisa menggapai mimpi-mimpimu. Apapun itu. Tanpa hambatan.

Aku akan membantu membuka pintu masadepanmu. Selebar-lebarnya. Hingga kesempatan untukmu begitu luas untuk berkembang.

Selamat ulang tahun Albi Maudina
aku menyayangimu…
dengan caraku.

@shintadutulity

Manusia kadang-kadang (Heart’s Journey, 2)

Kadang ia mencintai kesendirian. Sampai petang bergelayut hanya dengan seribu bayangan. Mengingat, meraba, beberapa yang berhasil pergi sampai tak tersisa. Menghitung segerintil orang yang berhasil bertahan. Entah memang keinginan, atau keadaan yang memaksa. Ia selalu merasa jadi pendosa. Ketika mengingat bagian orang baik yang selalu ia sia-siakan. Terpejam mata. Mengingat manis perilaku yang tak pernah ia hiraukan. Hingga letih dan memilih pergi meninggalkan. Segerombolan orang itu ada yang sudah bahagia. Memilih yang lain, yang menurutnya lebih tepat untuk dipertahankan. Dan dia seorang diri, dibiarkan. Ia seorang yang akan menghalus ketika melihat keadaan memang lebih baik. memafkan semua yang berhasil pergi sekalipun tanpa kepastian. Dia memang pemaaf. Sekalipun hanya untuk beberapa orang.
Ya… dia pecinta kesendirian. Larut dalam beribu ingatan yang menyakitkan, sekalipun seribu lainnya lebih banyak yang membahagiakan. Dia pencetak rekor terbanyak dalam mengingat. Ingatannya kental akan masa-masa yang mengesankan dalam periode hidupnya. Sekalipun sekali lagi itu terjadi hanya beberapa hari dalam sebulan. Jika dia pecinta kesendirian, dan terjadi dalam waktu yang lama. Berarti dia lebih banyak waktu untuk mengenang. Mengendapkan segala yang tersisa biar jadi fosil. Dan benar, jika terjadi begitu lama lukanya benar-benar dalam.

Tapi ingat… kesendirian tak pernah di ingini oleh siapapun. Sekalipun tidak setiap kesendirian mengundang sepi, tapi kesendirian selalu berhasil menciptakan seribu aku di masalalu yang sulit dihentikan.
Yaa… Bila kali ini dia ingin sendiri, mungkin dia benar-benar perlu waktu lama untuk menutup mata. Menimbun semua jejak itu. Hingga tiba waktu lain, sekalipun jejak itu kembali Nampak, ia tak akan meronta atau memintanya pergi. Dalam hidup teori ini namanya ikhlas. Tanpa dendam. Tanpa amarah. Semua seperti awal mula. Sekalipun ada luka, hanya bekas saja. tanpa rasa sakit.
Dan jika tiba ia menjadi pecinta keramaian lagi. Berarti dia ingin kembali. Menyambut seribu bayangan duduk di kedai, berbagi obrolan riwayat singkat semasa  tanpa saling melibatkan, dan semoga ada tawa kembali. Sekali lagi, dia memang pemaaf.
Kali ini dia pecinta keramaian. Memilih menghabiskan banyak waktu di pusat perbelanjaan, bermanja-manja dengan perawatan ramah di salon, berbagi topic obrolan di bbm. Menjadi manusia seutuhnya. Pergi pagi, pulang malam. Dan semua dilibatkan dalam ikatan makhluk social.
—-
Dan jika dia itu perempuan. Dan itu aku, salahkah jika aku berubah-rubah setiap waktu ?
Dan jika dia itu perempuan. Dan itu aku, salahkah jika aku kadang ingin semua tahu ? tahu segala yang aku lalui, sekalipun jalannya dengan seribu tingkah gilaku ?
….
Klik Sumber Gambar
Note ini dibuat disela-sela bulan yang sebagian aku memilih mengurung diri dengan ingatan, selebihnya lagi aku bebaskan.  

@shintadutulity 19 june 2015 22:55

Heart’s Journey, Part 1

klik sumber gambar
Kadang aku merasa sangat berbeda denganmu. Begitu jauh. Sampai aku tak menemukan lagi kesamaan untuk jadi alasan bersatu. Aku ingin pergi, menjauh. Sampai bayanganpun tak lagi ada untuk memancing rindu.
Ya kita berbeda. Jauh sekali.
Semakin dewasa kita, semakin perbedaan itu jadi hal rumit yang pantas di perdebatkan.
Ya. Rumit untuk aku. Yang merasa sangat-sangat tidak pantas.
Aku malu, walau untuk sekedar jadi pengagummu. Apalagi untuk lebih berjuang mempertahankanmu. Aku malu, untuk membanggakan diri agar kamu memilihku. Sedang, aku hanyalah aku yang sangat tidak pantas untuk kamu pilih.
Aku dengan seribu aku yang ingin pergi karena aku terlalu merasa kecil di matamu. Aku dengan seribu diriku yang tetap mencintaimu. Walaupun aku sudah sangat-sangat tidak berani mengakuinya dihadapanmu.
Dengan segala kenyataan. Kamu yang hari  demi  hari terus lebih baik. kamu yang bulan demi bulan berada semakin di atasku. Kamu yang tahun demi tahun semakin jauh dari lingkaran hidupku. Sedang aku, masih disini. Dengan perasaan kagum yang semakin besar. Dengan cinta yang semakin merasa nyata. Juga tak lepas dengan aku, yang masih dengan kekuranganku. Aku tak lebih jadi baik. aku tak lebih jadi pantas. Aku masih selalu sama. Ada dibawahmu.
Tanpa sadar, semakin aku mengerti Tuhan maha segalanya. Dia yang memilikiku juga memilikku. Dengan dasar rasa cinta yang terus aku jaga sampai tak ada batas. Biar aku, yang mengagumi dari jauh ini mendekapmu dalam doa.  Setiap malam. Ku jaga kebaikkanmu. Ku jaga bahagiamu. Sampai Tuhan (mungkin) akan memberi seseorang lain yang lebih setara denganku. Sampai Tuhan memilih nama lain untuk aku sebut dalam do’a. Dan jika itu bukan kamu, doaku yang mungkin sudah jadi pesiar bukan perahu lagi, semoga mengantarmu ke pelabuhan yang engkau impikkan.

@shintajulianaa

Mei Kemarin !

aku masih sulit untuk mempercayai. Semua masih berada di luar daya nalarku sebagai anak kampung yang berusaha beradaptasi dengan segala keganjilan ibu kota yang sudah di anggap biasa. Aku masih terheran-heran mendengar kabar itu. Ya, kabar terakhir yang seperti petir di siang bolong. Aku yang masih lekat dengan mimpi-mimpi itu. Belum sadar sepenuhnya sekalipun kenyataan  menjatuhkanku berkali-kali. Belum sepenuhnya mengubur harap sekalipun ketidakmungkinan semakin terlihat begitu tak mungkin dihindari.
Tak bisa kujelaskan kabar apa yang ku dengar. Namun lebih dari pengkhianatan terpapar dengan begitu lantang. Kali ini, aku sudah habis daya untuk (ingin) bersamamu. Sudah habis cinta untuk bisa (mau) bersamamu.
Yang jelas. Ini bukan hanya akan menjadi antara aku, kau dan dia, juga mereka. Ada sosok lain yang tak mungkin lebih jauh untuk bisa diabaikan. Dan apapun yang jadi alasan. Kamu harus tetap bersamanya. Tak peduli apapun. Bagaimanapun. Tak peduli mereka mungkin akan lebih terluka dari pada aku. Ingat kamu harus tetap bersamanya. Menemaninya dalam segala masasulitnya. Menyaksikannya menua dan bergegaslah lebih baik.
Sekarang sosok itu masih hanya bisa menatapmu. Menyaksikan kamu yang mungkin berselisih faham dengannya. Mendengarmu berteriak mencaci makinya. Sadarlah sekarang, tingkahmu akan tercetak di sosok itu. Jadi lebih baiklah.

Pesanku. Pergilah. Nikmatilah hidupmu dengan apapun bagian terburuknya. Sampai waktu membuatmu jatuh hati sampai tak ingin pergi. Berjalanlah. Apapun yang akan terjadi. Sekali lagi, ini tak lagi tentang aku, kau, dia dan mereka. Ada yang lebih sensitive dari itu. Bergegaslah lebih baik. Sebentar lagi akan ada yang memanggilmu “ayah”. 
klik sumber gambar

22 masih galau !

“Setiap apa yang datang, apapun. Itu pasti sejajar dengan kualitas diri kita.” Kata mba puji setelah selesei sholat magrib.
“Ibarat Naik gunung, semakin kita ke puncak, semakin banyak lagi tanaman yang bisa kita lihat dan semakin berkulalitas juga” lanjutnya.

****

Selamat pagi..
Pagi-pagi udah pengen banget cuap-cuap. Banyak banget, terlalu banyak jadi susah buat mulai dari mana. Padahal terlalu pagi buat bahas apapun yang nilainya sangat-sangat gak penting. Apalagi disela-sela seminar kayak gini. Tapi tangan udah geli sendiri, pengen ngblog. Biar nanti gak lupa sama peristiwa ini. Iya, saya ngbelog, suka menulis, panjang ataupun pendek itu karena saya hanya ingin menyimpan semuanya dalam bentuk catatan. Biar nanti sesekali, saat saya baca kembali membaca catatan saya. Disitu saya yakin, dulu saya benar-benar pernah mengalaminya. Terus saat sudah tak lagi muda dan mungkin udah malas menulis ataupun terlalu sibuk dengan lingkungan, bisa jadi saya benar-benar berhenti ng-blog. Tapi gak akan sia-sia catatan ini, nanti di samping saya bercerita lisan kepada anak cucu nanti, biar mereka membaca sendiri gemuruh gejolak perjalanan neneknya dulu. Please, ini kejauhan shin. Mungkin 40 tahun yang akan datang yang populer bukan blog lagi.
Ini catatan pagi yang sebenernya hanya untuk membantu saya mengingat bagaimana cara saya meluapkan sebuah perasaan gak jelas. Iya Nak, iya cu.. dulu juga nenek pernah muda, dan pernah galau. Sebenernya saat ngalamin situasi yang bener-bener negbingungin dan gak tau harus gimana, disitu mungkin ya namanya galau versi anak 90’an. Apa sih yang dilakuin kalau lagi galau ?
Poin pertama. Galau lebih baik yang jelas sebabnya. Biar nangisnya jelas. Sakitnya jelas. Dan perginya juga jelas. Itu buat saya. Kalo saya lagi galau dalam situasi kayak gini, paling mood down tapi gak menggila. Cukup diem seribu bahasa, nangis sampe sesenggukan. Udah itu bebass.
Poin kedua. Galau karena hal yang gak jelas. Gak jelas sebabnya, yang jelas Cuma sakitnya. Disituasi kaya gini, saya susah banget nangis dan malah menggila gak jelas. Cuap-cuap gak jelas, ngomel sana-sini, ngomentarin apapun yang sebenernya gak perlu, ngajak ngobrol orang yang sebenernya gak ada yang perlu di bahas, marah-marah gak jelas, ketawa sampe bener-bener ngakak, ngegodain temen-temen yang lagi focus. Please, sebenernya ini gila. Lebih gila. Maaf ya buat semua temen yang sering saya ganggu hanya untuk mengobati segala apa yang gak tentu.
Sebenernya saya lebih nyaman sama dengan poin pertama. Biar sakit hati ya sakit hati sendiri. Gak perlu bertingkah aneh, gila, atau membuat masalah baru.
Iya cu, iya na.. nenek pernah alay. Dan masih bertingkah childish saat mau menginjak 22 tahun.


Saya sebenernya malu. Walau udah gak pernah numpahin masalah ke sosmed atau nyinyir pihak kedua. Tapi tetep saya membabi buta dalam hal ngoceh. Ngocehnya kearah gak penting. Bener-bener gak penting. Seperti bahas kenapa harus telur dulu dari pada ayam. Bahas tentang harimau-harimau dari ragunan yang di pake syuting 7 manusia harimau. Bahas tentang artis dengan lagu-lagunya. Bahas dispenser dan lemari es. Ah semuanya. Yang benar-benar gak penting.
Sampe ketawa karena banyak yang ngomentarin aneh, gak jelas, atau ada juga yang nimpalin. Ya itu saya pas lagi galau. Gak enak kan ?
Udah jelas-jelas mending nangis seharian. Ngurung diri di kamar. Besoknya udah bebas. Gak banyak orang tau. Dan gak perlu di  Tanya macam-macam.
Ketika udah waras lagi dan inget kelakuan, malu banget. Malu sama umur, malu sama temen-temen. Maluuuu. Hikssss….
Tapi natural banget. Itu emang cara saya ngeluapin bebel di hati yang gak bisa ditumpahin dengan tangisan. Yang gak cukup jelas dan yakin bagaimana menanganinya.
*nak, cu.. jangan tiru nenekmu ini*
Terus penyebabnya apa ?
Singkat jawab “cinta”.
Emang cinta itu apa ?
itu semacam nenek sama kakek, dan ibu sama ayah. *please mulai ngelantur lagi*
*sign out. Bye !

Someday..

Suatu Hari Nanti…

Jika saya menikah dan bukan dengan kamu.

Percayalah.. itu tidak akan mudah. Saya tidak pernah mudah melupakkanmu. Sekalipun saya tidak punya hal lain untuk di banggakan tentang kita. Tidak punya cerita manis yang bisa saya jadikan acuan, kecuali masa-masa konyol itu.

Setiap saat saya menjalani kisah baru. Berharap hati saya bisa ikut seluruhnya tanpa pernah melihat kamu. Tapi entah kenapa, namamu selalu mengintai setiap jalan kisah hidup saya.

Jujur saya berat.
Mengingatmu dalam saat-saat seperti ini, saya benar-benar berat.
Perasaan hati yang campur aduk juga keyakinan masa depan akan jauh lebih baik jika seolah di depan nanti tak lagi ku temui kamu.

Ada sakit dan takut luar biasa, jika saya tahu dan harus terpaksa benar-benar melepaskanmu. Mengikhlaskanmu untuk wanita yang mungkin kelak akan kamu cintai jauh dan tidak ada apa-apanya di banding saya. Saya harus terpaksa menerima, jika memang bukan dengan kamu, saya menghabiskan sisa umur ini. Harus siap untuk setia kepada satu laki-laki dan itu bukan kamu. Harus mengenyahkan kamu dari fikiran hingga tak secuilpun  namamu ada dalam setiap harapan saya. Bisakah ? Sementara sampai detik inipun, selalu kamu yang jadi pemeran utama.

Bisakah ? Saya melihatmu kecewa ? Tanpa daya upaya untuk menghiburmu ?

Saya tahu.
Kita hanyalah kisah yang tak pernah jadi sempurna. Kita hanyalah kisah yang selalu saya reka-reka akhirnya.

Tapi, ada hal yang dalam tentang kamu yang sulit saya hapus. Entah apa itu. dan saya harap itu bukan apa-apa jika memang kita tak pernah akan jadi kita dalam ikatan Ridho_NYA.

Jika suatu hari ini, saya duduk di pelaminan sementara kamu duduk menyaksikan. Entah perasaan apa yang berkecamuk dalam hatimu, Saya ingin tak ingin tau lagi. Saya ingin tetap mantap, bersikukuh untuk menjaga hati saya hanya untuk dia; Imam Saya.

Saya ingin, Jika suatu hari nanti saya sudah tinggal di rumah dengan segala rutinitas sebagai bentuk pengabdian. Sedang kamu masih hilir mudik mencari pelabuhan. Saya ingin tak ingin menoleh lagi dan berharap.

Saya ingin. Jika suatu hari nanti saya mulai menemukkan kekurangan dari pasangan saya. Saya ingin tak ingin membandingkannya denganmu. Saya ingin menjadikkan dia pasangan saya, satu-satunya yang akan saya perjuangkan. dalam keadaan apapun. Suka maupun duka.

Jika saya menikah dan bukan dengan kamu. Izinkah saya setia, lebih-lebih dari kesetiaan saya pada kita dalam sebuah konyol masa lalu.

Klik Sumber Gambar

Someday, when I must always stand beside someone but not you
Someday, when I must left you. Forgot everything and stop thinking of you
This is about someday. When I must grow old, but without you.
Then someday. When you just an OLD FRIEND. And about us, just a memories.

……………………………

*ketika terbawa suasana lagu someone like you-adele. semua menjadi lebaaaaaaaaaaaayyyy*


@shintajulianaa