Karena Saya Bukan Anda…

Catatan yang saya buat tidak tertuju kepada siapapun. Mohon maaf jika ada pihak yang terpojokkan.

________________

Salah jika saya berusaha lebih keras dari pada anda ?
Salah jika saya lebih di perbudak waktu dari pada anda ?
Saya bukan anda yang dengan leluasa menggunakan uang hanya untuk membeli kepuasaan pribadi.
Saya bukan anda yang bekerja hanya sekedar happy-happy.
Saya bukan anda yang sesuka hati berhenti saat tak lagi merasa happy.
Saya bukan anda yang bebas membeli hanya untuk sekedar diakui.

Saya hidup bukan hanya untuk saya.
Saya bekerja bukan hanya untuk sekedar mencukupi kebutuhan saya.
Saya bekerja lebih keras bukan hanya karena ingin membeli gagget kekinian, membeli tas branded, membeli baju mengikuti trend, atau pergi berlibur kesana kemari.
Kalau seperti itu, anda bisa berhenti sesuka hati,
Tapi tidak dengan saya.

Saya bukan orang kaya.
Dan saya pun tidak terlahir sebagai orang kaya.
Saya tidak seperti anda yang masih bisa mengandalkan orang tua jika anda sudah mulai bosan bekerja. Kembali ke pangkuan ibu. Terus dijejali materi sampai anda tak pernah merasakan apa itu kekurangan.
Saya adalah orang yang harus selalu kerja keras tanpa henti. Bukan untuk berlibur seperti anda. Tapi untuk mencukupi kebutuhan bukan hanya untuk saya pribadi. Saya punya orang tua yang mana suatu hari nanti tidak bisa berpenghasilan lagi, tidak ada dana pensiun. Dan saya punya kewajiban untuk menyiapkan masa tua nya yang nyaman. Apakah anda seperti saya ?
Sepertinya tidak.

Isi otak anda dan saya berbeda.
Anda cenderung mengejar pengakuan. Kesana-kemari membuang rupiah tanpa perlu khawatir dengan hari esok.
Sementara saya ? Selalu menghawatirkannya.
Jadi wajar jika saya lebih visioner. Karena saya tidak mau seharipun terlantar karena keegoisan saya. Wajar jika saya lebih perhitungan. Karena di otak saya bukan sekedar bersenang-senang hari ini.
Andai anda tahu. Berapa banyak saya berspekulasi dalam setiap pemikiran. Berapa banyak saya memperhitungkan ini itu nya agar hidup berjalan naik. Terus naik hingga saya bisa senyaman anda. Nyaman dengan masa depan saya sendiri, dan tentunya saya aman melihat masa tua kedua orang tua yang amat saya sayangi.

Jadi jika anda masih mempertanyakan mengapa saya bekerja sekeras ini ? Inilah jawabannya. Karena yang ingin saya amankan bukan hanya diri pribadi, yang ingin saya bahagiakan bukan hanya saya sendiri, yang ingin saya ajak liburan bukan hanya diri sendiri.

Saya terlahir dari keadaan yang memaksa saya untuk terus bekerja keras. Saya tidak ingin keegoisan saya menyita semua bahagia mereka. Sayapun tak ingin kemudaan saya dalam memilih pilihan hidup jadi alasan untuk berhenti. Saya ingin lebih baik. Menyiapkan yang terbaik untuk masadepan saya. Memanage segalanya dengan begitu detail. Saya ingin semua tersusun.

Jadi paham, kenapa saya masih terus mau bekerja sementara kebutuhan saya dimata anda sudah terpenuhi ? Yang menurut anda saya sudah ada di posisi nyaman dengan materi yang saya punya. Saya tak menghilangkan rezeki. Jika yang saya kejar bahagia diri sendiri, pengakuan trend seperti anda, saya bisa mendapatkannya. Tapi tidak. Jika saya mengikuti arus kehidupan seperti anda tanpa mempersiapkan apapun, kepada siapa saya berlari ? Kepada siapa saya menyandarkan hidup saya dan keluarga ? Kepada tas branded itu ? Kepada foto-foto liburan yang mendatangkan kepuasan itu ?

Tolong… jangan tanya lagi. 
Saya bukan serakah. 
Saya hanya sedang berjuang yang bukan hanya untuk diri sendiri. Pahami itu.


Klik Sumber Gambar



__________________________________________

Terimakasih sudah menyimak.



@shintajulianaa

Mimpi Besar ( Teruntuk ayah dan Ibu “selamat hari Ibu”)

Bismillah…

Malam ini saya mengikuti seminar super dengan tema “hidup itu pilihan” dibawakan oleh perempuan super. Saya bener2 berkaca-kaca, apalagi pas tiba di slide ke empat dengan poin :

“Seberapa pentingkah kebahagian orang-orang yang kalian sayang?”

Klik sumber gambar

Saya hampir tak bisa bernafas, saat menyadari saya belum bisa berbuat apa-apa untuk kedua orang tua. Sementara itu, saya masih terus berkutat dengan kebahagiaan saya sendiri. Mengabaikan kehidupan dan kebahagian mereka. Ya allah, betapa lamanya, saya sudah menutup mata. Mengedepankan ego dengan dalih “orang tua akan bahagia jika aku bahagia.”

Malam ini saya benar2 terdobrak hatinya. Betapa sedihnya saya langsung menelpon keluarga di rumah yang letaknya jauh dari tempat saya berada. Lagi-lagi saya ingin menutup telinga saat bapak saya meyakinkan “teu nanaon, neneng sing jongjong bae di jakarta.” Lalu apa kabar dengan kebahagiaan mereka.

Saya ingat terakhir saya melihat bapak saya, sekitar 2 bulan lalu. Dia jauh lebih kurus daripada 3 tahun lalu. Uban hampir menutupi seluruh rambut hitamnya. Tidak,, bapak sudah semakin menua. Terlebih kabar terakhir yang saya dengar, bapak kena diabetes. Dan saya masih belum berbuat apa-apa.

Ya allah, ampuni saya.

Saya tidak ingin terus-terusan seperti ini. Apa jadinya saya, jika saya kehilangan kesempatan untuk membuat mereka bangga. Apa jadinya saya, jika sudah tidak ada lagi waktu untuk membahagiakan lagi mereka.

Ya allah,,, saya ingin bermimpi.

Bersama langkah pertama saya terjun mencoba peruntungan di dunia bisnis. Belajar, kerja, kerja, dan kerja. Saya harus bisa membeli kebahagiaan untuk kedua orang tua saya. Saya ingin mereka memiliki kehidupan lebih baik di masa tua nya. Saya ingin bapak tak perlu lagi berfikir untuk membeli nasi serta lauk pauknya. Ya allah,.. izinkan saya bermimpi dan ridhailah jalan untuk meraihnya.

2015 tinggal menghitung hari.
2011-2012-2013-2014.

Cukup di tahun itu saya mengedepankan ego saya. Membeli bahagia untuk saya sendiri dan berharap merekapun bahagia walau sekedar hanya melihat saya berkecukupan.

2015. Izinkan saya mencukupi kebutuhan orang tua saya. Mewujudkan mimpi-mimpi kecil mereka.

Ya allah… mereka benar-benar penting bagi saya. Sekalipun sering saya mengesampingkan mereka. Sering saya menutup mata, menutup telinga, dan berusaha percaya mereka akan selalu berkecukupan tanpa perlu saya bantu.

Tidaaaak. Cukup shintaa. Cukup.

Keegoisan yang sungguh kekanak-kanakkan. Lepaskan mimpi-mimpi yang hanya ingin dibangun demi nama keren sebagai orang sukses. Bukan sukses namanya jika tak menyandingkan mereka di setiap langkah, mengedepankan kebahagiaan juga tawa penuh haru mereka.

Saya tahu. Tidak ada yang tidak mungkin, tapi ketidakmungkinan untuk menjadi mungkin butuh usaha dan kerja keras untuk menakhlukkannya. Bismillah, saya ingin kerja keras. Saya ingin menebus masa tua kedua orang tua saya dengan penuh kebahagiaan. Saya siap menebus itu dengan keringat saya. Saya siap ya allah.

Semoga Allah meletakkan saya kepada barisan terkokoh dalam setiap medan perang. Melapisi tekad saya dengan baja terbaik. Memfokuskan hati, pikiran saya untuk satu tujuan. Ya masadepan yang lebih baik, untuk saya, untuk orang tua saya, dan tabungan untuk masadepan anak-anak saya (nanti).

Amiin yra.

doa kecil untuk mereka.
selamat hari ibu mamah 🙂
@shintajuliana 

Yanase… Bicaralah !

Hari ini saya bertemu lagi dengan anak itu. Dia banyak berubah sekarang. Rambutnya lebih panjang dari sebelum dia meninggalkan tempat saya bekerja. Dia tumbuh dengan cepat, kira-kira 5cm lebih tinggi dari sebelumnya. Tapi dia tetap dengan sikapnya yang mengangumkan. Saya selalu mengawasinya. 

INTROVERT. Itu mungkin sebutan untuknya. Dia tidak banyak bicara, malah cenderung tidak suka berinteraksi. Dia pendiam mutlak. Saat melihatnya, saya berhasil menjadi pemerhati yang baik. Saya ingat, 6 bulan yang lalu saat dia masih menghabiskan 4-5 jam di tempat saya bekerja, saya selalu jadi orang pertama yang mengucapkan “helloo.. Selamat Sore”, atau sekedar menawarkannya untuk duduk. Kadang saya selalu berusaha berbicara dengannya, meskipun akan berakhir seperti berbicara sendiri karena jawabannya pasti hanya berupa anggukan, gelengan, atau sekedar senyuman. Tapi saya merasa sangat puas.

Pernah sekali saat saya pertama kali tertarik dengannya. Saya terheran kenapa dia tidak pernah mau bergabung dengan anak-anak yang lain malah terkesan menjauh dari mereka. Saat teman sekelasnya sedang asyik berkumpul sambil mengerjakan tugas, dia memilih memojok di ruang berlainan sambil membaca buku seadanya. Saat seisi ruangan penuh dengan perbincangan-perbincangan seusianya (biasanya waktu istirahat), dia lebih memilih memerhatikan ikan di Aquarium. Inilah waktu yang tepat untuk mengajaknya mengobrol, atau sekedar bertanya “kenapa tidak berkumpul dengan teman-teman lain?”. Tapi ingat dia sama sekali tidak mengalami keterbelakangan mental. Buktinya saja, dia bisa mengikuti semua mata pelajaran tanpa kesulitan. 

Sudah 5 bulan dia pindah ke cabang. Dan sudah lima bulan juga saya tidak pernah melihatnya lagi. Hari ini adalah pertama kali saya melihatnya lagi setelah 5 bulan. Dia tetap adik kecil saya. Dia yanase yang akan selalu saya kagumi dengan semua sikap introvert-nya. Dan Saya adalah orang yang akan selalu berusaha mengakrabkan diri dengannya. Yanase.. Saya ingin mendengar kamu bicara.

klik sumber gambar

Dia berbeda. tapi saya mengaguminya
@shintajulianaa 

Perpindahan

Saya pernah berkali-kali berkata, saya benci dengan perpindahan.

klik sumber gambar

Tapi nyatanya hidup memang tentang sebuah perpindahan. Yang mana sebagian darinya akan membawa separuh atau bahkan seluruhnya hati kita. Perpindahan memang pasti terjadi berkali-kali, camkan. Ya bukan hanya sekali-kali, tapi berkali-kali. Lantas kenapa perpindahan tidak pernah mengajarkan kita untuk “terbiasa”.  Bukankah sesuatu yang terjadi berkali-kali lama-lama akan terbiasa ? Tapi nyatanya selalu ada sepotong rindu di tempat lama, tertinggal disana dan mengembang di waktu-waktu yang tidak pernah terbatas; kapansaja.
Perpindahan memang wajib terjadi untuk perkembangan pribadi kita kedepannya. Untuk pertumbuhan jaringan pertemanan juga pengenalan tanpa batas ruang. Coba selami, dari kecil kita sudah berkali-kali mengalaminya. Contoh kecilnya perpindahan usia dari bayi yang tumbuh jadi anak-anak, anak-anak tumbuh jadi remaja, remaja tumbuh jadi dewasa, dewasa tumbuh jadi orang tua. Perpindahan usia yang merupakan contoh kecil dan pasti setiap orang mengalaminya. Memaksa seseorang untuk tumbuh lalu berkembang. Bermetamorfosa menjadi sosok yang di impikan. Tapi apa kita nyaman ? tidak ! pasti ada banyak gemblengan untuk setingkat lebih maju dari sebelumnya. Gemblengan mental misalnya yang cenderung memporsir jam kerja otak lebih lama. Mulai dari sebelumnya kita tak pernah berfikir tentang bagaimana esok sampai akhirnya kita menjadi sosok visioner dengan rencana beberapa tahun kedepan yang sangat matang. Bukannya itu perpindahan ? perpindahan pribadi tepatnya.

Di sekolah dari sejak duduk di bangku kelas 1 SD kita sudah akrab dengan perpindahan kelas. Dari yang semula hanya belajar bagaimana memegang pensil dengan benar sampai akhirnya belajar menyelesaikan soal-soal aritmatika. Dari belajar bagaimana berkenalan yang baik dan benar sampai belajar bagaimana menghadapi klien agar bersikap pro terhadap semua argumentasi kita. Ini juga bisa di sebut perpindahan.
Tapi yang akan saya bahas disini bukan perpindahan seperti terurai diatas. Yang saya bahas disini adalah “perpindahan perasaan” yang berawal dari “perpindahan tempat”.

Posisi saya disini sebagai anak rantau. Sudah 3 tahun saya hidup di Jakarta dan sudah 3 kali juga saya melakukkan perpindahan tempat. Bagi saya perpindahan tempat itu membawa semua perpindahan lainnya, seperti perpindahan mental, psikis, fisik, juga perasaan akan turut serta di dalamnya.
Perpindahan pertama tahun 2011 silam. Letak tempat kost yang jauh dari tempat kerja mengharuskan saya pindah. Untuk waktu juga tenaga yang efisien, saya harus mencari kost yang jauh lebih dekat ke kantor. Tidak lama saya bertahan di kost’an daerah Blok A itu, hanya 3 bulan. Setelahnya saya pindah ke daerah bhayangkara, Cilandak. 3 bulan bukan waktu yang lama, alhasil saya tidak merasa banyak hal yang “berat” ketika meninggalkan kost itu. Lingkungan sekitar yang ramai penduduk karena berada di tengah-tengah rumah warga-pun menjadi alasan kepindahan saya. karena bagi pekerja seperti saya yang menghabiskan banyak waktu di kantor memerlukan tempat tinggal yang tentram dan tentunya tidak terlalu berisik untuk memudahkan mengunduh kembali energy yang sudah terkuras habis.
Perpindahan ke-dua di pertengahan tahun 2012. Pergantian pemilik lama ke pemilik baru membuat kost-kost’an yang saya tempati menaikkan harganya dan tentunya bertambah pula pelaturannya. Saya bertahan di kost ini selama 8 bulan. Saya sudah benar-benar nyaman dengan semua bagian kost ini. punya teman-teman baik dan menyenangkan, tempat yang nyaman untuk istirahat. Ah pokoknya tak pernah sedikitpun berniat untuk pindah. Tapi keadaan memaksa. Perpindahan kedua ini-lah yang “berat”. Membayangkan lagi betapa malasnya saya mencoba mengenal teman-teman baru lagi, mencoba masuk dengan mereka lagi, betapa malasnya saya harus kembali menyesuaikan diri dengan lingkungan kost yang baru. Banyak sekali pertanyaan-pertanyaan gantung. Tapi sekali lagi hidup memang untuk perpindahan. Tanpa di elakkan perpindahan yang membawa bejuta perasaan berat itupun terjadi. Pisah dengan teman-teman menyenangkan juga tempat yang sudah terasa sehati.
Saya fikir itu perpindahan terakhir dalam masa rantau. Tapi ternyata tidak. Setelah saya benar-benar sangat nyaman di kostan baru di daerah BNI (masih daerah cilandak) perpindahan itu kembali harus saya lakukkan. Setelah 2 tahun bersama kaka-kaka kost yang senantiasa memberi nasehat, memberi motivasi juga semangat, lagi-lagi perpindahan harus kembali menjadi alasan bentangan jarak. 2 tahun adalah range waktu terlama buat saya. mengenal Ka Diah, Ka selfi, Ka Merry, dan Ayu adalah sebuah hal penting buat Saya. banyak pembelajaran dari hidup mereka. Dan entah masih banyak pertanyaan menggantung dalam diri saya. apakah saya bisa tidur senyenyak di tempat ini ? apa saya bisa senyaman bercerita, senyaman berbagi seperti sekarang ? ENTAH ! pertanyaan ini masih belum terjawab karena masih akan terjadi dalam kurun waktu 20 hari kedepan.
Dan kami anak rantau yang dipermainkan dengan harga sewa kost-kostan. Gaji mengalami kenaikkan begitu pula dengan harga sewa. Lantas kapan saya melasa longgar ?? :’(
Ini teori yang berujung curhat perpisahan. Maaf apabila ada unsur ke-lebay-an.
@shintajulianaa

Pilih saja, satu !

Kau tau sebuah cerita nak ? Cerita dimana ada dua mimpi yang tak bisa berjalan dengan beriringan.

Hanya salah satu saja yang bisa kau bawa pulang lalu menjunjungnya tinggi-tinggi.

Jika kau masih tetap berusaha menggapai kedua-nya, tidak ada waktu sedetikpun untukmu menghela nafas apalagi duduk melepas gerah.

Jika kau mengotot meraih keduanya kau akan kelelahan dan hancurlah keduanya.

Percayalah nak… jangan terlalu serakah. Fokuslah satu. Dan wujudkanlah.

klik sumber gambar

@shintajulianaa

Lebih dari Berfikir…

Apa yang sedang saya pikirkan ? Banyak.
Banyak sekali.

Saya memikirkan besok, sebulan kedepan, tahun depan, sampai sepuluh tahun kedepan. Apa sejauh ini saya sudah melakukkan yang terbaik, memilih yang terbaik. Apakah saya tidak akan menyesal nanti dengan pilihan-pilihan sekarang ini. Dan apakah dengan jalan yang saya pilih, akan membuat saya mendapatkan mimpi-mimpi saya ? Apa saya sudah cukup dan bisa mengambil resiko lebih untuk pilihan lain dan keluar dari zona nyaman ? Apakah kelak anak-anak saya akan bercerita bangga memiliki ibu seperti saya ? Apakah kelak suami saya akan bangga memiliki seorang istri seperti saya atau justru sebaliknya? Apakah saya sudah melakukkan yang terbaik sampai sejauh ini ? Apakah saya sudah menjalankan cerita Tuhan berdasarkan alurNya. Ya Tuhan banyak sekali yang saya fikirkan.

Saya ingin kelak keturunan saya bercerita bangga kepada teman-temannya, bangga di lahirkan dari rahim seorang perempuan seperti saya. Jika keturunan saya sudah dewasa kelak, saya ingin tanpa ragu dia mengenalkan saya pada calon pendamping hidupnya. Saya ingin dia bisa dan selalu membanggakan saya di depan rekan-rekan kerjanya. Saya ingin menjadi tempat cerita dan selalu memberi kedamaian kepada keturunan saya, memberi jawaban dari setiap gelisah hatinya. Tapi apakah saya sudah punya modal untuk itu ?

Seseorang memang perlu menabung, menabung pada diri sendiri. Menjadi bagian yang berhasil lebih baik dari hari kehari. Selain untuk diri sendiri, itupun bagian tabungan untuk anak kita nanti. Saya harus bisa menjadi contoh nantinya. Agar saat saya menceritakan masa muda saya dan perjuangannya tentulah ada hasil nyata dari masa muda ini. bukan hanya kata yang disusun jadi cerita. Agar kelak saya bisa memberikan contoh yang sebaik-baiknya.

Sungguh banyak sekali takut yang menghinggapi pikiran saya malam ini. terutama takut akan hal-hal dan segala kemungkinan yang terjadi 10 tahun kedepan setelah hari ini. Padahal sungguh segalanya sudah di atur oleh yang Maha mengatur. Tugas saya hanya berusaha menjadi yang terbaik. sisanya biar upaya saya yang menjadi bahan pertimbangannya.

Teman saya berkata “perbaikilah nilai dirimu, ini bukan hanya untuk kamu, tapi juga untuk keturunanmu, kebanggaan suami dan anakmu kelak”. Yah itu benar. Jika sulit berbuat untuk dirimu sendiri, jika dirimu mampu hanya jadi seperti ini. Tak apa. Lantas bagaimana keturunanmu,Bangga kah dengan dirimu yang hanya seperti ini ?

saya harus berhasil keluar dari zona nyaman ini.
bergeraklah untuk sepuluh tahun kedepan dari hari ini.


Tunjukkan, Kamu bisa :)

Saya ingin bicara banyak, berpura2 mengerti banyak. Memberi nasehat seolah saya maha bijak. Izinkan. 

Kemarin saya sempat mengobrol banyak tentangmu, bersama seorang teman yang juga temanmu. Dia bercerita terlalu banyak bahkan terlalu detail sampai saya begitu sangat teramat mengenalmu lagi. Tak satupun peristiwa yang luput dari perbincangan kami. sekalipun sebenarnya saya sudah terlebih dulu meninggalkanmu di belakang, jauh sangat jauh di belakang. 

Saya benar2 sangat prihatin dengan keadaanmu sekarang. Saya turut sangat menyayangkan dengan apa yang terjadi dengan keluargamu setahun terakhir ini. Kejadian bertubi2 yang saya yakin itu cukup membuatmu hilang pegangan. Dengan kebiasaan2mu dulu sebelum kejadian belakangan ini, saya tau.. kamu benar2 butuh kekuatan. Kamu terlalu lemah untuk berdiri sendiri, terlebih untuk jadi pegangan dan tumpuan hidup keluargamu. Kamu terlalu polos untuk bisa mengartikan dan memahami tidak semua dari mereka bisa kamu jadikan pijakan. Tidak semua. Kamu terlalu polos, benar-benar polos. Kamu terlalu suka bersenang2. Untuk itu, saya tau kamu terlalu sulit untuk mengerti keadaan sekarang yang memaksamu berubah lebih banyak. Saya paham. Tapi ini sudah terjadi dan kamu harus merubah banyak gaya hidupmu. Sekalipun terpaksa saya yakin kamu akan terbiasa, dan kamu akan jadi pribadi yang lebih baik. Pribadi yang dewasa yang bisa di jadikan sandaran untuk keluargamu. Menjadi seorang kaka yang bisa dibanggakan. Jika keadaan ini menyiksa dan menyita seluruh fikiran, lahir, dan bathinmu, percayalah kelak kamu akan menyadari betapa kejatuhan mengajarkanmu banyak. Tolong jangan berpaling kepada sesuatu yang salah. Atau mengambil tindakan bodoh. Bangunlah dan berdirilah.
Benarkan, saya berbicara banyak bahkan terlalu banyak. Mengajarkan dan menyemangatimu lebih dan lebih. Ini saya lakukan bukan karena saya berpura-pura mengerti. Tidak. Saya sebenarnya tidak mengerti bagaimana rasanya. Tapi satu yang saya percaya, Kamu bisa melewati masalahmu, dan saya juga bisa menakhlukkan hidup saya. Mari.. kita berjuang sekalipun berlainan jalur percayalah kita akan sama-sama menang.

Ini mungkin hanya akan jadi catatan penyemangat belaka. tidak akan lebih. sekalipun ini hanya catatan hati yang tidak akan pernah bersuara. Percayalah, saya tulus menulisnya. bersama sekumpulan doa terbaik yang saya harap segera menghampirimu. 
Klik sumber gambar



tunjukkan pada kami semua, kamu bisa menaklukannya.

@shintajulianaa

Because I’m Human

Klik sumber gambar


 “aku mencarimu. Kamu selalu berhasil melenyap. Dasar Childish” -inbox, aprl 3’14

Entah ada aura apa di sepotong pagi ini. bagi saya biasa, selalu menjadi debar yang biasa. Dalam banyak hal di dunia ini, terkadang alam terkesan angkuh tak pernah ingin mengambil porsi lebih. Buktinya saja senandung malam tadi, tetap cerah sekalipun hati saya dilanda hujan deras (misalnya). Dan pagi ini, matahari tidak begitu mengerang dengan panasnya. Sedikit malu-malu untuk menampakkan seluruh wajahnya. Alam saja punya acara sendiri untuk mengatur bumi ini, berbagi royalitas. Termasuk saya.

Setiap orang punya caranya sendiri untuk membebaskan diri dari hal yang menurutnya rancu. Seperti saya yang kerap lari dari mereka yang hanya menciptakan sendu. Lari bukan berarti membenci. Hanya saja saya selalu menciptakan batas-batas sendiri dalam lingkup pribadi. Mungkin si terkesan kekanak-kanakan saat saya selalu berhasil melenyap tuntas. Dengan trik mendelete contact atau pertemanan di lini masa. Pokoknya apapun yang bisa menciptakan komunikasi lagi. Hanya saja saya benar-benar melakukkan ini atas dasar kebaikan. Bagi saya syah-syah saja.
Dan benar. Karena trik saya ini, saya kerap berhasil lolos dengan tuntas. dan pastinya move on dengan cepat. Dengan terbatasnya ruang untuk “kepo” mengharuskan saya benar-benar memacu kecepatan tinggi untuk segera bergerak. Di tambah lagi, saya cenderung tidak mampu berkomukasi lagi dengan beberapa orang yang sudah memababat habis rasa respect saya. jadi setelah di fikir-fikir dan beberapa penimbangan lebih baik tak perlu lagi. Sudah beberapa orang yang kerap menjudge saya dengan kata-kata yang sama “kekanak-kanakan”.But whatever, this is me. This is my life, This is my rules.
Bagi saya, Seseorang tidak bisa langsung di labeli “childish” hanya karena satu pola pikir atau satu kebiasaan konyol. Tapi kedewasaan seseorang bisa dilihat sejauh mana dia bisa menakar sebuah masalah dan meminimalisirnya. Sejauh mana dia bisa tetap berfikir jernih saat permasalahan hidupnya begitu rancu, dan sejauh mana dia masih bisa melangkah (baik) saat dia kehilangan keseimbangan. Satu poin penting bagaimana bersikap dan menempatkan masalah itu. Jangan sampai memambah masalah atau melempar masalah itu kepada orang lain. Yes, that is enough. If you can’t do that, check your attitude. please !

Hmm.. ini hanya semiliran pendapat yang tiba-tiba membisik di telinga kanan saya. seiring bertambahnya lagi orang yang menjudge kata yang sama. Rupanya saya masih menemukan sisi manusiawi di diri saya. salah satu contohnya adalah selalu melakukan pembelaan. So, absolutely I’am human. Hihii…

Kamu-kamu juga pasti punya acara sendiri untuk menghindar dari beberapa hal kan ? atau bahkan kamu tergolong orang yang pasrah ? menerima dan tidak pernah memfilter apapun ? membiarkan seadanya ? its oke !! just follow your heart, and make felt better anymore.

start to go…


@shintajulianaa

Re-mind !

Saya benar-benar belajar banyak.
Sekarang saya paham, saya mengerti. Saya tidak akan menggampangkan lagi posisi kamu. Kamu semua yang pernah patah secara tiba-tiba dan di tinggilkan pergi begitu saja dengan ribuan mimpi-mimpi itu. Tanpa haluan lagi dan terombang ambing seperti itu, iya karena kamu sudah menyerahkan kemudimu padanya tapi sekarang dia terjun menjauh dari kemudi. Kamu yang duduk nyaman di belakang dan terlanjur nyaman dengan posisi itu hanya bisa terpana, dan membiarkan kemudi berjalan seadanya. Tertabrak-menabrak-ditabrak; kamu biarkan seadanya.
Mungkin jatuh saja tidak cukup bagi kamu untuk pergi dan berlalu. Tidak. Kamu harus Jatuh sampai ke dasar dengan disertai timpaan tangga bertubi-tubi sampai kakimu patah, biar. Biar kamu sadar. Sadar dan paham bangaimana sulitnya berdiri dengan kedua kaki yang sempat patah. Biar, biar kamu rasakan bagaimana mengumpulkan lagi mimpi yang sudah tuntas tanpa pernah menjadi nyata. Mengumpulkan lagi keberanian untuk tidur dan bermimpi lagi, mengumpulkan kepercayaan bahwa bermimpi terlalu tinggi tidak hanya untuk bangun lalu terjatuh. Biar, biar jatuhnya kedasar sendirian membuat kamu mengoreksi penyebab lukamu sendiri. Menangislah, mengumpatlah, sampai sesak itu hilang tertimbun amarah. Setelahnya biar lukamu mendewasakan. Mengajarkan lebih dari pada saat kamu berdiri sampai berjalan lalu terbang. Biar bau tanah ini kelak mengingatkanmu bagaimana kamu terkapar tanpa daya, termakan hari yang tak pernah ingin berbagi.
Kadang memang kamu perlu disia-siakan lalu di hancurkan. Agar kamu ingat sulitnya merapikan lagi kepingan-kepingan yang tergeletak tak karuan. Memang mungkin harus seperti itu. Agar kelak kamu lebih menghargai dirimu, tidak seonyong-oyongnya menyerahkan perasaanmu pada mereka yang salah. Pada mereka yang hanya ingin mencicipi singgasana hatimu lalu pergi meninggalkanmu tak peduli. Memang pelajaran selalu kejam untuk membuat mengerti apalagi paham.
Sekarang saya paham.

Kamu yang sudah dengan yakin ada jalur yang benar lalu begitu saja terpanting ke sebelah arah yang salah. Dengan seketika. Kamu yang begitu yakin itu bukan sekedar mimpi, tapi juga susunan partikel yang bagian dari kenyataan. Lalu tiba-tiba tergerus oleh nyatanya kenyataan. Tidak ada tangis, tidak ada juga umpatan. Itulah sakit sesungguhnya. Kamu terlalu sibuk berdiskusi, menciptakan monolog dengan nada meyakinkan “benarkah, nyatakan ? atau ini hanya mimpi”. 
Sekarang saya tak bisa menyemangatimu dengan kata-kata “sabar dan selalu sabar”. Karena saya tahu, yang dibutuhkan bukan hanya kesabaran untuk menghadapi kenyataan yang sudah meluluhlantakkan mimpimu sampai tak tersisa. Bukan hanya itu. Kamu perlu ketenangan dan rasa menerima. Kamu perlu jiwa besar dan kelapangan untuk membalas semuanya dengan senyuman.

Sekarang saya mulai belajar banyak seperti kamu.
Kadang kita harus di bohongi habis-habisan agar kelak saat ingin menjatuhkan sebuah kepercayaan harus di filter ulang. Agar kelak tidak semua orang bisa kita sandarkan sebuah kepercayaan.
Kadang kita harus patah sepatah-patahnya sampai menjadi partikel-pertikel yang sulit direkatkan agar kelak kita bisa menghargai setiap kepingan hati kita. tidak begitu saja memberikannya kepada mereka yang tidak tau bagaimana dan siapa keterangan lanjutnya.
Saya benar-benar mengerti.


Betapa waktu benar-benar tajam ketika dihabiskan dengan potongan-potongan kisah. Betapa tidak sedikit orang terseret dan tidak mampu berjauhan satu sama lain, karena sudah banyaknya waktu yang terlewati. Kebersamaan dalam lingkaran waktu; suka duka tak pernah jadi hal lain saat hati menyatu. Saya tidak ingin mengabaikan waktu dan penggalan kisah lagi. Karena bagaimanapun, waktu itu tajam. waktu selalu punya andil besar. Semakin lama dan semakin panjang, semakin dalam juga bekas lingkaran kebersamaan.
Saya tidak ingin lagi mengataimu lagi. Saya bersyukur mengenalmu dengan cepat. Dengan begitu dengan cepat pula terjatuh dan belajar. Jatuh semuda mungkin, pahit semuda mungkin, agar esok lebih hati-hati. saya benar-benar bercermin, mengoreksi, dan kamu yang mengajarkan. teriamakasih… dongrak paling kuat bagi saya untuk memperbaiki diri sendiri. cermin paling nyata untuk membenahi pribadi.
klik sumber gamabr
Sekarang saya mengerti.

Sekarang saya belajar. 

Sekalipun terlempar begitu keras, saya akan bangun dengan cepat. Percayalah,,,,



Tuhan punya cara sendiri untuk mengajarkan,
sekalipun keras,
percayalah itu cara terbaiknya mengartikan sebuah ketegaran