Marriage Sindrom

“We are here together, reading and learning together.  He had his own book and so did I. Books of our lives. But for now, its not about “the book of Myself” anymore.  It is “the book of us” that matter. Start from a blank page again, ready to write a new book. We will always try to write the best in every chapter. What do you want to write together with your husband/wife? That is how the marriage goes. It is not about you; it is about the person you love. How you want to build your marriage is up to you. I know that we are not good enough for each other. We made mistakes. But we will always spend the entire life proving that we can be better. Insya allah. Helping each other to attain Jannah. Never get tired of doings things that leads us closer to Allah SWT.”

(Allysa Soebandono )

Klik Sumber gambar

                                            ________________________________

Saya menemukan sepenggalan kalimat cantik itu di Instagram milih AllysaSoebandono. Entah, saya ada kalimat trasnpalasi yang jatuh tepat di hati saya. akhir-akhir ini saya kena sindom “a marriage”. Dampaknya saya sangat menyukai artikel-artikel pendek tentang bagaimana memulai sebuah rumah tangga yang baik dan benar, menghindari berbagai konflik dan penyelesaiannya, cara menjadi istri idaman, cara me-manage administrasi dalam rumah tangga dan lebih jauh lagi cara mendidik anak sampai cara menemukan bakat si buah hati. Kadang saya terkikik sendiri menyadari hobby saya yang tahun-tahun ini lebih condong ke ibu rumah tangga, seperti mempertimbangkan biaya pengeluaran dengan cara memfilter setiap pengeluaran itu sendiri, lebih asyik lagi jika memburu kata “diskon”.Hmm.. yang lebih membuat aneh, dari yang tadinya saya suka sekali belanja fashion sekarang lebih condong ke belanja peralatan rumah tangga, melengkapi perlengkapan memasak, tertarik dengan imutnya piring-piring cantik, dan bergairah memulai percobaan menu baru dalam memasak. HAHA…coba tengok sebentar berapa umur saya sekarang ? 21 tahun !  that’s right. Ini terlalu cepat ? tapi tidak. Saya harus belajar dan mempersiapkan diri sedini mungkin. Itu tekad saya.

Lingkungan pergaulan saya sejak menjadi anak rantaupun turut mempengaruhi. Seperti di kantor, saya di suguhi partner (orang-orang yang juga kena sindrom got a marriage) dengan berbagai nasehat-nasehat juga pengalamannya. Di tambah lagi lingkungan kost, yang semua sudah berumur dan siap berumah tangga. Di tambah lagi saya turut serta mempersiapkan kebutuhan pernikahan teman kost.  Ya.. jadi bisa terbilang wajar kalaupun saya tertarik dan ingin menjamah dengan cepat sebuah bahtera itu. Tidak peduli seberapa umur saya sekarang, yang mungkin jika  melirik teman-teman sebaya saya yang masih berkutat dengan sekolahnya atau malah masih bermain-main dengan masa depannya. Saya tidak peduli seberapa jauh saya sudah meninggalkan dunia saya. seberapa jauh bentangan umur saya dengan kebiasaan saya. its oke. Im naturally and totally respect to my habits.


Ini bukan di buat-buat. Saya benar-benar menikmati hidup saya akhir-akhir ini,hidup beserta kebiasaan-kebiasaan baru juga rancangan-rancangan masadepan yang saya susun sedemikian rupa. Mengotak-ngatik pemikiran dengan kata “jika dan hanya jika” juka perhitungan-perhitungan matematis yang kerap bikin saya keblenger. Tapi sekali lagi saya menikmatinya. Jika ada yang bilang “hello.. anda masih muda, nikmatilah masa mudamu”. Saya titik beratkan lagi, saya sangat menikmati masa muda saya. sekalipun di habiskan dengan bekerja atau duduk membaca, atau merenung juga merancang mimpi-mimpi besar. menurut saya itu bukan hal biasa. Ya, saya memang pemikir. Memikirkan sesuatu dengan cabang-cabangnya bangkan sampai ke anak akarnya. Saya sangat ingin mempersiapkan diri untuk kejutan istimewa itu, saya ingin hidup lebih-lebih dan lebih baik lagi. Saya yakin, Tuhan melihat usaha dan perjuangan saya, pun mendengar jeritan do’a-do’a saya. dengan begitu saya yakin, Tuhan juga akan mempersiapkan waktu indah itu dengan sedemikian rupa bersama Dia (seseorang) yang juga sedang menyiapkan serta memperbaiki dirinya untuk bertemu dengan saya (amin).
Ternyara sindrom “marriage” benar-benar melekat entah sejak kapan mulainya, saya tidak begitu menyadari. Kadang teman sebaya saya berkomentar “duh, kamu ketuaan deh uda baca begituan” itu komentar seorang teman teman ketika  memergoki saya membaca “cara mengatur asupan gizi si buah hati”. But once again, I don’t care, this is my way to get my future, big future, and best future. Amiin.


Satu poin penting  waktu yang tepat itu datang saat kita sudah tepat, tepat secara pemikiran, tepat secara emosional, tepat secara psikis. Untuk emosional, saya memang masih labil seperti usia saya seperti mereka-mereka yang seusia saya masih suka menggalau, masih suka ngelantur, masih suka menuruti ego. tapi dengan bayaknya asupan teman-teman yang jauh usianya di atas saya, dengan memperhatikan bagaimana mengatur emosi saat marah, meredakkannya, juga mengikhlaskannya, pelan-pelan saya sedikit demi sedikit saya akan bisa seperti sosok itu (sejatinya yang punya kesabaran dan ketabahan, seorang wanita akan terlihat lebih anggun, pun seorang pria). Saya tidak mau umur menjadi hambatan atau alasan untuk belajar lebih menjadi pribadi lebih baik, atau tingkat kewajaran menjadikan kadar boleh tidaknya berlaku labil.
Ya begitulah. Bagaimana pergaulan memperuhi banyaknya diri kita.
Sindrom “marriage” juga memberi langkah panjang bagi saya untuk menemukan seseorang itu. Seseorang yang bukan hanya akan menjadi pacar saya sekarang, bukan hanya jadi suami saya. tapi jangka panjangnya adalah seseorang yang akan menjadi ayah bagi anak-anak saya. yang kelak akan jadi tiruan dan panutan anak-anaknya. Saya berharap dengan adanya sindrom ini saya lebih dewasa dalam memfilter siapa dan bagaimana seharusnya. Lebih membidik saya untuk focus pada jangka panjang itu.
Oke.. catatan kali ini bagi yang bosen atau jenuh atau berkomentar “lebay” dan sederet komentar negative lainnya.. cukup di HOAAAAAAAMiiin aja ya temans. Kiss Love.





catatan saat menyadari pembicaraan sumbang dan tak lagi sinkron
dengan teman sebaya.
that is about LOL and XOX

selembar surat kecil di senja hari.

Selasa, 19 agustus 2014

bersama terbenamnya matahari,..
ini waktu senja.
panggil saja selembar surat kecil di senja hari..




Klik sumber gambar
Untuk kamu jodoh saya, dimanapun kamu berada.


Tuhan..
Jika Dia ada di jalan yang Salah, keluar dari LingkaranMu, saya berdo’a semoga Engkau tidak melepaskanNya lebih jauh. Kembalikan Dia ke tempat mana seharusnya, ke Tempat terbaik di mata agamaMu.
Tuhan..
Jika Dia sedang menyakiti perasaan wanita lain di luar sana, ampunilah. Ketuklah hatinya, kembalikanlah kelembutan hatinya.
Untukmu calon imam saya dimasa depan.
Yang kelak menjadi ayah dari anak-anak saya, yang kelak kepadanya Saya menyerahkan seluruh jiwa saya, menjadikannya sepenuhnya pemimpin dan panutan untuk saya. yang kelak kepadanyalah  saya menyandarkan hidup saya. saya berharap di manapun kamu berada, kamu selalu memantaskan diri. Yang saya harap Tuhan selalu memperbaikimu, menjaga seluruh iman dan islammu untuk menjadi imamku kelak.

Tuhan..
Engkau yang maha mengetahui apapun. Jaga hati dan jiwa saya dari mereka yang hanya ingin merusak iman dan islam saya. Jaga iman saya. jaga keyakinan saya. tuntunlah saya selalu untuk terus memperbaiki diri saya, menjaga hati saya dari perasaan sakit hati yang tidak perlu. Jaga pikiran saya dari sisi negative yang mengesampingkan nikmat syukur padaMu.
Tuhan…
Jauhkanlah saya dari siapapun yang berniat buruk. Saya percaya, sampai hari ini dan detik ini… perlindungan do’a dari kedua orang tua saya juga buah dari sujud malam saya, telah menunjukkan siapa-siapa yang buruk dan yang baik dengan begitu jelas. Saya teramat sangat bersyukur.
Tuhan…
Jangan tutup mata saya dari penglihatan yang memang menujukkan kebenaran, jangan butakan hati saya, mampukanlah saya (selalu) untuk dapat membedakan baik dan buruk dengan tegas. Tuhan, kokokkanlah hati saya. jaga bathin saya.
Untukmu calon ayah dari anak-anak saya dimanapun berada…
Saya tidak akan tergiur karena hartamu, jadi kamu tidak perlu menerobos jalan yang tidak baik untuk mendapatkan harta yang berlimpah. raihlah rezekimu dengan tetap di JalanNya, dengan begitu kamu akan mendapatkan berkah ketenangan lahir bathin. Sesungguhnya hati yang tuluslah harta yang saya idam-idamkan. hati yang mampu menerima saya apa adanya, dan bersedia menuntun saya untuk menjadi lebih baik lagi. Hati yang sabar dan mau meluruskan setiap kesalahan saya. hati yang tidak pernah letih untuk mengingatkan saya, tidak pernah letih untuk berada di samping saya.
Untukmu calon imam saya..
Saya tidak akan tergiur dengan seberapa kayanya orang tuamu, jadi kamu tidak perlu bersembunyi lama di balik ketiak mereka. Sesungguhnya tutur kata dan niat perjuangan kita bersama (nanti) itulah bekal harta yang paling menggiurkan. Tekad kuat kita untuk memulainya dari nol, tekad memberi tabungan terbaik baik lahir maupun bathin untuk anak-anak kita. itulah yang saya cari.
Untukmu calon panutan saya setelah ayah saya…
Dimanapun kamu berada…
Jika sedang sakit, semoga Tuhan memulihkanmu kembali.
Jika sedang sempit, semoga tuhan melapangkanmu lagi.
Dan yang terpenting:

“Jika kamu sedang berada jauh dari ajaran-ajaranNya, semoga Tuhan menyeretmu paksa untuk kembali (lagi).”

Tuhan.. pantaskanlah saya dengan sebaik-baiknya wanita agar Engkau menyandingkan saya dengan sebaik-baiknya pria.


untuk jawaban do’a saya (nanti)
ingatlah hati hari ini..

Tolong, jangan menangis lagi !

klik sumber gambar

“jangan menangis, saya mohon jangan menangis lagi”

               Mata itu panas. Selesai bercerita selalu berakhir dengan menangis. Setelah tercabik-cabik dengan kenangannya, setelah sesak yang begitu panjang dia selingi  dengan senyuman itu. Sekalipun saya tahu, itu hanya senyum seadanya, tidak seterbuka dan sebebas dulu. Iya dulu. Sebelum masadepan mencandainya begitu dalam. sebelum pahit dan nanar mengajarkannya hingga di dasar. Jangan terlalu di bawah sayang, mari bangkit !
               Setelah mimpi demi mimpi diberikan bertubi-tubi, seperti tidak pernah di ijinkannya celah kenyataan itu merenggut semua bagian dari hatinya. Setelah keyakinan di beri utuh tanpa sedikitpun celah untuk keraguan, sampai akhirnya di luluhlantakan oleh kebohongan. Disanalah kekecewaan berperan, mengambil alih kemudi, berputar, dan hilang kendali. Sudah tidak ada sepotongpun, ini berakhir dengan partikel-partikel hati yang sulit di rekatkan kembali. Tidak penah sedikitpun terlintas di pikirannya semua berakhir seperti itu. Takdir benar-benar sedang menggurui begitu dalam juga kejam. Menyeretnya jatuh dari semua bintang harapannya, tidak ada yang tersisa kecuali dirinya sendiri yang disadari masih rapuh.

               Saya benar-benar muak dengan semua janji-janji yang diucapkan mulut jalang itu. Semua mulut jalang yang tak pernah punya daya fikir bagaimana dan apa. Entah manusia macam apa yang harus di jatuhi sesal dahulu baru tahu rasanya “merasa bersalah”.Haruskah seperti itu ? haruskah ada korban dahulu, membuat jalan tangisan dulu, haruskah ada memar dulu ? kenapa ? tolong jangan pernah buat air mata lagi. Tolong!
               Saya ingin memeluknya dengan sepenuhnya, saya menggigil mendengar cegukannya. Terlalu sakit. Iya. Terlalu banyak janji yang harus dia tagih atau sekedar dia lepaskan tanpa harus mengikatkan dirinya. Tuhan, saya tak ingin melihatnya menangis. Dia terlalu baik, sungguh terlalu baik.
               Tahun yang berganti tak pula ikut serta mengobati luka itu. Sesayup kabar angin saja langsung meluluhkannya lagi, tak tersisa, jatuh ke titik awal, dan kembali menjadi tahun-tahun yang sia-sia. Tolong, jangan menangis lagi. Berapa kata yang dia ucapkan, kadang diselingi senyuman. Saya tahu itu hanya selingan kecil di tengah lolongan kesakitan itu. Saya tahu.
               Tolong, jangan buat dia menangis lagi.

           Bangkit untuknya begitu sulit, setelah dia berdiri dan berjalan beberapa inci kedepan, tolong jangan gugat dia untuk kembali, apalagi hanya untuk menangis. Jangan. Tolong jangan lakukkan itu. Lagi, Lagi, dan Lagi.

untuk kawanku, tolong jangan menangis lagi.
pelangi menantimu di depan, jangan berpaling lagi kebelakang.

The Right One

“jangan menikah karena mencintainya, menikahlah karena kamu merasa syurga Allah lebih dekat ketika bersamanya”

               Itu chapters of secret pembuka wacana pagi. Masih dengan kepulan asap di atas cangkir putih tulang itu. Mata yang masih terkantuk-kantuk di depan monitor yang 180 derajat lebih antusias. Mendung dan berkabut, seperti itu kota saya pagi ini. Saya penjelajah lini setiap pepatah. Menerobos lemah dan menuntas sudah jera. Namun alnya saya lebih di propagandakan oleh hasrat yang memakai imbuhan “cinta”. Mungkin saja. Tapi mendengarnya, rasanya ingin mencibir. Cikal bakal catatan romantis pagi pertama di bulan agustus ini. bersama sederet rutinitas juga rasa jenuh dalam kotak yang tidak pernah terisi penuh. Melampaui batas setengah saja sudah bersyukur. Setengah laginya biar bunyi Palu dariNYa yang memberi isyarat.
               Bagi saya, hati bisa di kemudikan. Bisa berhenti, melaju dengan kecepatan tinggi, melamban, atau mundur. Tergantung bagaimana padanan situasi. Setahun terakhir ini kotak itu kosong, tidak pernah terisi yang menjadi buah bibir anak-anak muda. Mungkin saya sudah jemu. Karena toh cinta dan mencintai hanya seperti rutinitas dan tuntutan hak dan kewajiban. Bagi saya cinta bukan hal pokok untuk sebuah rutinitas baru yang akan di abdikan. toh cinta bisa tumbuh, berkembang dengan pupuk yang tepat juga tempat yang tepat. Begitulah kiranya. kalo kata para pujangga si “cinta itu bisa datang karena terbiasa” yaa. Untuk itu, saya sering men-skat siapa yang harus masuk dan membiasakan diri dengan hidup saya, karena saya tidak mau memupuk bunga yang hanya akan jadi parasite di taman.
               Tuhan saya tau, bagaimana cara terbaiknya untuk memberi pelajaran atau mengajarkan. Begitulah simpulan yang pas saat kita bertemu dengan seseorang. Tidak semua orang yang kita temui bisa dijadikan “The Right One”. Mungkin saja Tuhan sedang mengajarkan kita bagaimana menghargai, mengasihi, mengikhlaskan, merelakan, dan sederet nilai positif lainnya. Semua punya kadarnya.    Itulah sebabnya pencarian panjang ini terjadi. Karena toh, hati akan lebih tau dimana sepantasnya dia berlabuh. Tetap buka mata, telinga, dan tentunya hati. Biar semua yang dirasa, dilihat, dan di dengarlah yang memberikan pertimbangan apakah “the right one” itu sudah ditemukan, atau justru masih perlu berlayar lagi ?
               Kebersamaan itu bukan hanya tentang sebuah “status” bukan juga tentang selalu ada dalam senang atau susah. Tapi juga tentang ketenangan, dan kemantapan hati. Yang saat di dekatnya, kita merasa damai. Yang melangkah bersamanya, kita selalu menuju kebaikan. Yang berbagi dengannya, menenangkan. Yang melihatnya, kita mendapat kemantapan tanpa perlu penjelasan. Masalah “cinta” itu akan tumbuh mengikuti dengan keterbiasan. Keterbiasaan yang menuju pribadi lebih baik lagi. Mungkin pertanyaannya Dimana ? dimana ? entah saya juga tidak tau pasti. Tapi selama anak-anak doa tak pernah patah, selama sujud dan petunjuk masih dalam jangkauan tangan menengadah, yakinlah kelak akan ada jawaban pasti.
diantara pagi yang masih seperti malam.
bersama sederet nama yang dibiarkan mengendap, hilang !

catatan senin pagi..

Kita ini manusia. Manusia yang tuhan percayakan untuk memerankan tokoh dan karakter berbeda di Bumi miliknya. Tidak pernah ada yang sama. Semua berhak jadi diri mereka. Tuhan juga tidak pernah banyak omong tentang pilihan yang akan kita ambil di sini, sekalipun Bumi ini miliknya, Dia tak pernah rewel. Hanya saja satu yang saya yakini, Dia akan memberikan akibat sesuai dengan pilihan kita sendiri. Menurut saya itu setimpal. Untuk saya pribadi, menjadi orang yang baik dan buruk itu bukan takdir tapi pilihan. Tergantung sejauh mana keyakinan kita pada sebuah kebaikkan yang akan memberi manfaat baik pula. Tapi ingat juga, tidak pernah ada kata sempurna dalam setiap orang. Kita bukan malaikat yang selalu baik, ramah, dan selalu tulus. Kita bukan nabi yang selalu bersabar dan juga memaafkan. Kita bukan Rasul yang selalu berada dalam jalur kebenaran. Kita adalah manusia yang kadang benar kadang salah. Tapi kebanyakan salahnya si. Kita punya batas buat setiap sikap, baik itu sabar, ramah, tulus, dan benar. Kadang kita merasa sudah melewati batas tertentu, padahal bukan masalah ketidakmampuannya ini hanya soal istirahat. Iya, saat berjalan panjang dan gersang, kita ingin menyerah dan selesai padahal itu bukan cara terbaik, justru yang kita butuhkan hanya istrahat sejenak.

Untuk kamu :)

Tak bisa di pungkiri, setiap orang dengan berbagai kehidupannya masing-masing dengan mengesampingkan baik dan buruknya di mata pihak ke-3 tetap menginginkan  hal terbaik dalam segala hal. Di dunia ini, kita berhak memilih peran seperti apa, drama yang bagaimana. Jadi baikkah atau jadi buruk. Keduanya punya dramanya sendiri. Tapi satu hal yang saya yakini, setiap pribadi tidak ada yang baik secara mutlak maupun yang buruk permanen. Setiap orang selalu punya sisi terbaiknya atau bahkan selalu punya kesempatan menunjukkan sisi terbaiknya sekalipun sudah menjadi menjadi syetan tinggal seberapa besar keseriusannya untuk merubah pola penilaian pihak ke-3 kepadanya.
Saya membuat note ini bukan untuk menjudge mereka yang buruk atau bahkan merasa saya lebih baik atau masuk predikat orang baik-baik. Tidak sama sekali. Note ini saya dedikasikan khusus buat seseorang yang mungkin sekarang sedang dalam perjalanan yang salah (mungkin) kiranya seperti itu. Atau saya harap saya hanya sedang memandangnya dari sudut berbeda.
Saya mengenalnya tidak utuh bahkan tidak pernah utuh. Banyak yang disembunyikan dari semua kehidupannya. Tapi karena saya seorang yang punya rasa ingin tahu yang kuat dan akhirnya saya mengetahui lebih dari yang ingin dia “saya tahu” maaf. Saya tidak bermaksud mengorek privasi dia. Saya hanya tertarik masuk kedalam apa yang ada dirinya. Saya ingin melihat sosok dia secara nyata bukan topeng lagi.
Untuk dia saya dedikasikan note ini. saya berharap kamu lebih baik, bahkan lebih baik dari saya. saya berharap semoga kamu cepat kembali kemana seharusnya kamu kembali. Ini tidak sulit, ini hanya masalah tentang sejauh mana kamu meyakini kebahagiaan bathin yang mungkin sudah lama hilang dalam diri kamu. Saya katakan, saya tidak akan menjudge kamu dengan semua kelakuan dan mungkin pilihanmu. Saya hanya ingin membantumu keluar, menemukan sisi baikmu lagi yang sering kamu gunakan di depan saya sebagai topeng. Saya ingin itu bukan hanya jadi topeng. Tapi itu dirimu baik di depan saya atau di belakang saya.

saya mencintai kamu dengan segala sisi burukmu yang saya harap masih bisa di perbaiki. Saya menerimamu dengan segala masalalumu yang saya harap tidak akan lagi kamu ulangi. Saya mencintai kamu lebih baik, dan menginginkan kamu jadi orang yang lebih baik.

welcome June :)

Sudah bulan juni ternyata.. kemana perginya mei ? entah sudah tak ada yang tersisa bahkan saya harus terbiasa. Sttttt________________________________________ ini sudah bulan juni.
Sudah juni ternyata, januari sampai mei yang tak terasa.
Sudah di awal juni ternyata, mei yang sudah tak pernah terbaca.
Ini benar-benar sudah menginjak Juni ternyata, dan mei berlalu tanpa kesan istimewa.
WELCOME JUNE, 
bersatulah dengan rindu yang tak pernah terbaca.

Wake-up !

Saya Fikir jika berjalan lurus terus nanti juga nemuin cahaya, dari pada belok dan tau-taunya malah mentok. Tapi setelah berjalan terus, cahaya itu masih belum Nampak. Atau bahkan tak kan pernah Nampak. Saya kira, memang perlu berbelok atau banting stir. Saya benar-benar tersesat.

 *
             Setelah melewati sepanjang minggu dengan nonton korea. Duduk di depan tv, makan, dan tidur. Saya kira hari senin akan jauh lebih baik. Begitukah ? saya suka sekali menonton drama korea. Bukankah dengan melakukkan apa yang kita sukai bisa menjadi moodboster ? tapi kali ini, saya gagal. Menonton serial drama korea tak cukup. Senin ini masih kurang bergairah.

             Mungkin weekand nanti, saya akan mencoba datang ketempat spa dan relaxation. Saya benar-benar butuh penyegaran. Semuanya benar-benar menyedot pikiran saya. semua aura negative benar-benar ada dalam diri saya. saya butuh penyegaran. Benar-benar butuh penyegaran.

             Kali ini mungkin yang benar-benar namanya “hidup tapi seperti tak hidup”. Dari bulan-bulan ini, mungkin teman terdekat saya merasa sulit menghubungi saya begitupun keluarga. Entah, saya tidak sedang menghindar dari siapapun. Tapi saya sedang asyik dengan melamun. Saya selalu asyik sendiri. Entahlah saya siapa ? saya lupa bagaimana diri saya sebenarnya. Seperti apa saya ? saya lupa !


              Rupanya saya benar-benar akan kehilangan semuanya jika terus seperti ini. sebelum itu terjadi, saya benar-benar butuh pembangkit mood yang berkekuatan extra. Entah bagaimanapun. Entah dengan teriak di karaoke, menjalani long trip, atau menghabiskan sepanjang hari dengan pijatan ringan di salon. Whatever, I must wake-up.

Klik Sumber gambar

Random; ampas kopi !

Klik Sumber Gambar
             Seandainya tiga tahun lalu saya menolak, mungkin bukan seperti ini, persoalannya tidak sepelik ini, tidak serumit ini. Seandainya saya mendengarkan apa kata orang tua saya, untuk tetap tinggal di Cilegon, mencari sekolah disana dan bekerja disana, mungkin semua gak akan seperti ini. tiga tahun. Sudah tiga tahun rupanya saya tinggal di Jakarta. Bersatu dengan beribu-ribu orang dari berbagai suku bangsa. Saat itu usia saya masih 18 tahun, saat saya menginjakkan kaki di Jakarta. Dulu sewaktu kecil, sekalipun saya sering berkunjung ke Jakarta tidak ada sedikitpun impian untuk tinggal lama di kota besar ini. dulu saya lebih ingin kembali ke Cilegon, Banten. Kota kelahiran mamah. Saya lebih ingin tinggal di desa Cakar, tepat di kaki gunung (saya lupa namanya). Disitu mamah masih punya hak rumah dari orangtuanya yang sekarang ditempati oleh wa emus (saudara laki-laki mamah). Sebelumnya saya ingin kembali kesana, setidaknya disana lebih damai dari pada di Majalengka apalagi di Jakarta. Disana wa emus juga mendirikan pondok ngaji untuk anak-anak sampai dewasa. Suasana yang masih jauh dari perkotaan. Angkutan umum yang masih jarang dan samasekali tidak ada yang beroperasi di waktu malam. Orang-orang disana sopan, dan tentunya sangat taat beragama. Benar-benar suasana yang menyuguhkan ketenangan bathin. Tapi saat hari kedua saya menginjakkan kaki disana, memutuskan untuk menghabiskan liburan pascah ujian sambil mencari lowongan dan sekolah yang lebih lanjut, kabar itu datang. Di mulai dari malam itu, malam di mana tante saya yang di Jakarta menawarkan pekerjaan di tempat suaminya. Malam itu, saya memutuskan untuk hidup di Jakarta.

               Lucu. Saya keluar dari rumah dengan tujuan berlibur di Banten akhirnya hanya bisa berlibur empat hari saja. Setelah itu saya langsung berangkat ke Jakarta, tanpa kembali ke Majalengka. Hari pertama saya di Jakarta, saya masih riang. Jujur, saya terpikat dengan gedung-gedung pencakar langit yang dibangun bagi mereka yang siap mewujudkan mimpinya sampai ke atas langit. Saya terpikat dengan segala macam tempat yang belum pernah saya sambangi (maklum anak kampung masuk kota). Keadaan berlanjut. Hari terus berganti. Berbagai masalah mulai datang. Pilihan-pilihan besar mulai berdatangan. Konsekuensi pahit mulai merengkuh berniat mendewasakan. Sejak saya keluar dari rumah, sejak itu pula saya mantapkan. Dimanapun saya nanti akan tinggal, seberat apapun hidup saya di luar sana, saya akan kembali ke rumah hanya dengan kabar bahagia. Inilah resiko dari si anak rantau yang mencoba berani. Berusaha menembus terik sekalipun tanpa alas kaki.
               Ya, sudah tiga tahun berlalu saya di Jakarta, sekaligus sudah mau genap tiga tahun saya bekerja di Sini. Suka, duka, pahit, getirnya sudah saya rasa. Pulang sore sampai pulang malam sudah saya sambangi. Berangkat terbit sampai pulang saat kelelawar keluar kandang sudah saya lakoni. Di injak, di judge, di khianati, sudah pula saya lewati. Disini, di Jakarta. Memang Jakarta kota yang kejam. Dan mungkin ini bulan-bulan paling menyedihkan bagi saya di kota ini. tidak ada satu alasanpun untuk mempertahankan toh smua benar-benar sudah sirna sampai sempat saya berfikir mati. Tapi tidak. Tiga bulan perbandingan dengan tiga tahun, saya harap kesabaran saya masih tersisa. Di banding dengan tiga tahun itu, sungguh tiga bulan sudah tidak ada arti. Setelah tiga bulan itu, saya akan benar-benar menjadi saya. saya yang mau melangkah kemanapun sesuka hati saya. yang bisa memilih apapun. Dan tentunya bisa mencari jalan bahagianya sendiri. Tak peduli lagi apa kata orang. Yang tertinggal hanya tinggal kata hati saya sendiri.
               Saya harap waktu bisa bergerak lebih cepat dari biasanya. Menjemput harapan yang terbenam dalam. saya harap masih bisa menemukan alasan untuk tersenyum setelah pahit mendidik. Sudah cukup. Saya rindu tiga tahun lalu, masa bahagia saya sebelum ini. sebelum saya menginjakkan kaki di Jakarta. Sebelum saya memutuskan untuk keluar dari rumah, sebelum saya memutuskan untuk menutupi semuanya dari mamah.
 Saya masih ingat dengan tiga tahun sebelum ini. Saat itu saya masih masih duduk di bangku SMA. Sungguh tahun-tahun yang sangat indah. Punya sahabat yang selalu membuat saya tersenyum di sekolah. Dan punya tempat pulang terhangat di rumah yaitu sebuah keluarga. Masa SMA itu masa yang penuh kebodohan. Namun karena kebodohan itu juga  yang menjemput kebahagiaan yang tanpa alasan. Hari ke hari berjalan begitu cepat. Di sekolah, maupun di rumah, keduanya sama-sama syurga. Syurga bagi setiap manusia adalah selalu berada dekat dengan mereka yang menyayangi kita tanpa alasan. Mereka yang siap membuat kita tertawa, dan menyeka setiap air mata. Masa-masa itu, masa-masa yang tidak pernah ada gurat kesedihan. Selalu tertawa, riang. Tidak peduli dengan masalah, semua biarlah berjalan sebagai bumbu. Hanya sebagai bumbu. Tapi waktu memang selalu jadi pembatas atas segalanya. Masa-masa itu juga kini terbatasi oleh kedewasaan yang disertai persoalan-persoalan pelik.

Aah. Lelah rasanya. Sudahlah. Semoga Saya masih punya sisa kekuatan untuk melalui tiga bulan ini. semoga. 


Keep trying to find the right path. Remember that the right path not always on  the right side, but sometimes on the left side. Keep trying and always open your mind, there are a lot of chance and possibilities.

Random; bad time !

Klik sumber gambar
Malam..
Apa kabar ?
Malam ini di kota saya sedang tidak ada bintang, mungkin langit sudah bosan terus saja menerangi malam yang tak pernah seterang siang. Ah, tapi rasanya bukan seperti itu. Mungkin mereka sedang berselisih paham. Hanya untuk malam ini, bintang tak bisa disisinya. Mungkin hanya malam ini. Butuh waktu untuk berpikir tentang kesetiaannya yang kekal. Butuh waktu untuk mencerna setiap kepekatannya yang tak pernah berniat memberi ruang untuk pagi. Tapi takdir mereka indah. Selalu di pertemukan kembali setelah satu malam saling sendirian. Takdir mereka memang menjadi paketan yang tak pernah bisa saling dilepaskan. Setelah habis beberapa malam berselisih atau bahkan kedua-duanya saling menangis, membuncahkan ribuan rintik  anak sungai ke bumi, setelah itu malam berikutnya akan lebih sempurna dengan perdamaian.
Bagaimana dengan kotamu ? 
lebih spesifiknya dengan rumahmu? 

Apa yang sedang kamu lakukkan ? 
Saya masih dengan Komputer hidup di depan. Mempertahankan mata yang harus dan masih perlu terbuka, ini belum waktunya untuk tidur. Terlalu dini untuk tenggelam dalam mimpi yang entah apa. Bagi saya, mimpi itu bukan obat terbaik dalam bagian dunia saya yang sekarang. Bukan terlalu pahit hidup yang sekarang, tapi saya membiarkan waktu menunjukkan arahnya, tentang apapun.
Ini bukan catatan tentang kerinduan seperti berbulan-bulan yang lalu, bukan juga tentang kekecewaan seperti seminggu kemarin, atau ini juga bukan tentang rutinitas saya. entahlah, saya hanya ingin menulis. Dan di awal adalah pembukaan tentang kabarmu. Bukan, saya sama sekali bukan sedang merindukanmu. Apalagi ingin bernostalgia dengan bayanganmu. Tidak, bukan itu maksud saya. Saya hanya ingin tau kabarmu malam ini, itu saja.
Ceritamu begitu indah. Bahkan lebih indah dari cerita-cerita pendek yang selalu saya ceritakkan padamu. Lebih tepatnya cerita patamorgana yang hanya bersemayam di otak saya.
Hey..
Mungkinkah kamu juga sama sepertiku ? sedang duduk di depan computer sambil menyeruput teh hangat yang asapnya masih mengepul ? setau saya, kamu lebih suka dengan kopi hitam yang pekat. Seperti langit di kota saya malam ini. Kamu juga bukan seorang pencerita yang baik apalagi penyair. Yang pasti kamu mungkin sedang disibukkan dengan game terbaru. coba sudah sampai level berapa kamu ? itu pertanyaan yang lebih lazim untuk seorang sepertimu.
Ah, sudahlah. Ternyata saya terlalu banyak menghabiskan waktu di depan Komputer. Saking pengennya menulis, mengisi blog padahal sama sekali tidak ada ide apapun ya jadinya melangkah mundur kebelakang. Semakin lama, pastinya semakin banyak potongan kejadian yang memaksa ingatan untuk mengunduh ulang. Jadi sebelum itu terjadi, sudah sepatutnya saya menyudahi catatan kali ini.

Selamat malam *sign out sambil nyengir lebar* *jarang-jarang bikin nb kayak gini*