Siang

Siang.
Waktu di tempat saya sedang menunjukkan pukul 12:00 kurang sepuluh menit. Di luar sedang panas-panasnya. Matahari bersinar terlalu bersemangat. Harusnya ini waktu makan siang, tapi saya memilih duduk di depan computer menunggu giliran. Ya, tepatnya karena kurang orang. Jadi saya memilih menunda makan siang dan menggantinya dengan jam makan sore misalnya. Jarang sekali saya menunda jam makan kecuali lain hal kalo lagi puasa ya.

Waktu.  Lucu. Waktu itu memang obat paling mujarab dalam segala hal. Dalam menetralisir segala bentuk perasaan. Rasa benci, suka, sayang, sedih, kecewa, ah semuanya, bisa kita serahkan. Waktu cukup baik untuk menjadi seorang teman. Bercerita misalnya. Meskipun tak jarang waktu tak pernah ingin mengerti sedang dalam posisi apa kita. Waktu. Iya. Waktu memang selalu menjadi obat untuk luka. Menyerahkan pada waktu selalu menjadi alternative terbaik.

Pilihan Besar

klik sumber gambar
Hidup memang tentang pilihan-pilihan besar.

Tidak ada yang gratis untuk sebuah kebahagiaan.

 Semua selalu punya pilihan dan kesempatan.


Itu simpulan percakapan malam ini. Dia berkata tentang perubahan besar masa depan saya. Namun ada bayaran seumur hidup untuk semuanya “balas budi”. Siang tadi saya baru usai menulis note, menceritakan keajaiban, menceritakan janji kebahagiaan. Malam ini setelah mendengar detailnya, saya merubah kata “keajaiban”itu. Sedikit menggesernya beberapa senti dari puncak. Tapi bukan tak benar dengan kekuatan do’a yang dengan semangat saya kibarkan siang tadi. Hanya saja saat itu saya terlalu polos. Tidak ada yg gratis. Itu lebih realistis.


Memang tinggal selangkah lagi. Janji masadepan yang dia janjikan begitu nyata, tidak semu. Hanya saja, dia juga menggamblangkan pengorbanan dan perjuangannya lebih nyata pula. Sebandinglah. 
Dalam percakapan yang berlangsung kira-kira 45 menit itu benar-benar membuat saya terhenyak. Ada buah nyata yang akan saya peroleh jika mengambil kesempatan yang dia berikan. Iya, buah perjuangan selalu manis. Itu memang tak pernah salah. 

Saya menatap kedua orang itu dengan bimbang. Salah satunya keluarga sedarah saya. Yang benar-benar mengerti arti perjuangan. Perempuan berumur 37th yg sudah merasakan pahit, asam, manis, getirnya perjuangan. Dan dia juga sudah meneguk buah manis dari semuanya. Saya terlalu lemah. Dan saya tidak pernah mampu untuk terikat selamanya dengan seseorang, terikat karena kebaikkannya yang Mengharuskan saya menglingkarkan diri saya selalu rapat. Entah, hidup memang tidak pernah menjanjikan kemudahan. Ini keputusan besar. 

Mungkin saya akan menyesal untuk setahun atau 10 tahun kedepan untuk penolakan saya malam ini. Saya memilih menjalani hidup sederhana dengan berbagai pilihan saya. Saya tidak peduli jika akan jatuh karena ulah saya sendiri, setidaknya itu lebih baik. Allah memang selalu memberi jalan, hanya saja kali ini saya benar-benar tak bisa menerima. Okeh, saya yakin setiap pilihan manapun pasti tersimpan keistimewaan sekalipun tidak terlalu menjanjikan. 

Hidup memang selalu tentang pilihan-pilihan berefek.

Banyak definisi kebahagiaan di bumi ini. dan entah kebahagiaan seperti apa yang sebenernya dicari banyak orang termasuk saya. bahagia yang bagaimana ? apakah kebahagiaan tentang kepuasan mendapat apa yang diinginkan ? apakah tentang kepuasan ? atau mungkin ketenangan lahir dan bathin ? atau tentang kelengkapan hidup ? tapi bukankah tidak pernah ada kata kesempurnaan ?

jika sepuluh tahun akan datang saya benar-benar menyesal tentang keputusan ini, sayabiarkan. Setidaknya itu memang pilihan saya. biarlah. Pilihan memang tak melulu tentang kebenaran. Tak melulu juga tentang penghakiman.


KEKUATAN DO’A

03 mei 2014

15:43

Ini keajaiban pertama.

Ini berita kejaiban pertama setelah hampir tiga tahun saya bersabar.

               Tepat hari ini saya mendengar kabar yang sangat-sangat membahagiakan. Ini tentang mimpi saya tiga tahun silam. Tentang doa-doa yang saya panjatkan dalam tiga tahun terakhir. Tidak tepatnya 1 tahun pertama saat saya menginjakkan kaki di Jakarta. Aah, saya tak bisa menjelaskan mimpi seperti apa yang sebentar lagi bisa diwujudkan. Yang saya ingin bagikan disini adalah tentang KEKUATAN DO’A dan KEAJAIBAN DARI SEBUAH KESABARAN.
               Tiga tahun lalu saya punya mimpi besar. Ya cukup besar untuk orang kecil seperti saya. terlalu besar untuk seorang anak yang di lahirkan di tengah keluarga yang sederhana. Sangat-sangat sederhana. Mungkin bagi orang yang berkecukupan mimpi saya, hanya mimpi biasa saja. Bahkan bukan mimpi mungkin jadi sebuah keharusan untuk beberapa golongan diatas kemampuan keluarga saya. tapi saat itu saya memang PEMIMPI.

Saya tidak peduli dengan keadaan yang saya inginkan adalah mimpi saya. apapun dan bagaimanapun caranya, saya harus bisa meraih dan mewujudkannya. Sampai pada satu waktu, satu keadaan yang memojokkan. saya pernah menulis beberapa pengalaman tentang mimpi yang harus saya buang jauh-jauh di catatan sekitaran tahun 2011 blog ini, tentang sebuah pilihan yang sebenarnya bukan kita yang memilih, justru pilihan itu yang memilih kita. Dari ribuan orang didunia, dua pilihan besar yang sama-sama berarti buat saya menghampiri, membuat saya harus jeli dan membedakan mana yang lebih penting. Padahal saat itu, kedua-duanya sangat penting. Tapi bukan pilihan namanya jika tidak ada harus tersingkirkan. Bukan pilihan namanya jika tidak ada perbedaan nomor penting. Itu. Hingga akhirnya saya membuang jauh semuanya. Jangan tanya bagaimana rasanya… saya tidak ingin membahas kekecewaan (lagi).

               Setelah saya focus, dengan berat hati saya mengubur rapat-rapat segala kesempatan tentang mimpi saya. hanya dalam do’a, saya berani bersuara. Tahun pertama, saya masih merasa berat menjalani hidup yang tidak sesuai rencana. Tidak sesuai harapan saya. tapi, bukankah scenario terindah hanya milik Allah ? bukan saya ? ya saya tahu. Dalam ketidakmungkinan, saya masih berdo’a. meminta yang terbaik, meminta kesabaran dan keikhlasan menjalani setiap fase cobaan-Nya. Hingga di tahun kedua, saya sudah cukup memberi ruang pada kekecawaan yang tumbuh liar. Saya mencoba mengikhlaskan. Dan saya mengganti mimpi saya. bukan lagi mimpi di tahun pertama. Mimpi yang lebih simple. Lebih sederhana. Tahun kedua berjalan jauh lebih cepat dari tahun pertama. Rutinitas panjang yang sudah mendarahdaging, rutinitas yang melelahkan sudah benar-benar saya terima. Tanpa beban. Intinya saya berdamai dengan hati saya. Di tahun kedua, saya membuat dreamlist yang lebih sederhana. Lebih focus. Dan tentunya realistis. Masih berdo’a. dalam kesulitan dan serba tidak mungkin itu, Allah selalu memberi kebaikkan-Nya meskipun dengan versi berbeda.
               Menginjak pertengahan tahun kedua, saya sudah benar-benar melupakan mimpi saya di tahun pertama. Tapi benar Allah tidak pernah menyia-nyiakan do’a hambanya. Dia hanya memberi waktu. Memberi test kesabaran. Dan saat ini, saat saya sudah tidak menginginkan mimpi itu. Saat saya sudah benar-benar punya mimpi yang baru. Allah menjawab mimpi pertama saya. Allah menjawab setiap jengkal do’a saya. Allah menjawab setiap darah perjuangan saya. iya, tidak akan pernah ada yang sia-sia. Apalagi do’a. sekecil apapun do’a, Allah selalu mendengarnya. Dan siap mewujudkannya di saat-saat yang tidak pernah terduga bahkan ditengah-tengah ketidakmungkinan.
               Saya benar-benar merasakan angin kesejukan. Buah dari perjalanan panjang yang terjal. Buah dari pahit-getirnya drama kehidupan. Ini adalah milik saya. setelah hampir tiga tahun, saya mengkungkung pembicaraan itu. Agar samasekali tidak pernah jadi bahan perbincangan (lagi). Cukup ditahun pertama saya membicarakannya dalam do’a. dalam hati, juga perjuangan saya yang selalu menginginkan itu terwujud. Ini benar-benar keajaiban. Sebuah kesempatan emas yang saya tunggu-tunggu. Allah benar-benar memberi lembar kemungkinan terbaiknya diakhir dobrakan do’a malam itu. Inilah yang terbaik menurutNya dan ini caraNya mengasihani ku.
               Saya benar-benar bersyukur. Teramat sangat bersyukur atas smua karunia ini. sekalipun masih dalam itungan bulan, setidaknya saya tahu “anak-anak doa itu melesat tepat di induknya”.

Doa memang tak pernah semata-mata jadi ucapan kata belaka.
Doa tak pernah semata-mata harapan kita.
Tapi Doa adalah Bahasa hati antara anak-anak langit dan induknya.
Doa tak pernah jadi semata-mata do’a.

Itu yang benar-benar saya rasakan selama tiga tahun ini. dan ini adalah keajaiban. Jawaban do’a terbesar saya di tahun pertama. Semoga di tahun berikutnya, Allah juga menjawab runtutan do’a saya di tahun kedua.
Teruslah berdo’a. teruslah berjuang. Teruslah bersabar. Jalan panjang tak selamanya gelap. Tak selamanya kering, tak selamanya tandus. Bersabarlah. Karena buah dari kesabaran itu benar-benar amat teramat sangat manis.

Anak Langit

Ini tentang anak langit. yang menghabiskan sepertiga dari malamnya dengan bersujud. memanggut-manggut dalam bait yang suci. menengadahkan tangan, mengungkap seribu harap. ini tentang anak langit. yang terjaga di antara banyak tetangga. mereka saling berlomba merajut mimpi yang selalu berusaha di ingat di kala pagi. namun, hanya bertahan beberapa menit saja. sebelum saatnya mengkabur bersama senyawa pagi. ini tentang anak langit, yang bermimpi untuk menjadi besar.

Klik Sumber Gambar

@shintajulianaa

Wacana di Waktu Fajar

Kali ini, aku sedang bahagia. Sepertinya kamu akan lebih faham. Aku bisa tertawa sendiri, menangis sendiri, jika kamu mulai lagi menari-nari di ingatan. Sedikit geli jika lagi dan lagi aku bercerita tentang kamu. Sedikit gombal jika terus dan terus aku bicara tentang rasa yang tak pernah enggan untuk engkau sapa. Ah, terlalu gila rasanya. Tapi memang ini nyata, lebih sekedar dari rasa sementara.

Mungkin, dalam detiknya aku bisa lupa. Tapi di menit kemudian aku kembali lagi. Pernah beberapa saat tertunda. Terselingi beberapa kisah lain yang tak pernah bisa benar-benar meng-enyahkan kita di kata dulu. Rasanya segalanya tak pernah berakhir, rasanya segalanya masih dalam lingkaran yang tak pernah berujung. Tapi semua hanya cukup rasanya dan sekedar aku saja yang rasa.

Di kali ini, waktu fajar. Setelah malam yang aku habiskan dengan mengunggah ingatan lalu. Dan baru selesai di fajar ini, diantara batasan malam dan pagi. Mengingatmu itu seperti mentari yang memberi rasa hangat yang luar biasa. Tapi juga ada bagian malam yang dingin beku saat aku mulai sadar itu telah jauh tiada.

Masihkah kamu tertarik dengan rasa yang tak pernah berani untuk kita rengkuh ? bukankah kamu sudah cukup waktu untuk berfikir, mencerna, kata yang katanya itu bukan sekedar kata sementara ?

tapi ternyata diam kamu itu memang sudah mendarahdaging. Ya, itulah kamu. Kamu yang selalu jadi Kamu dalam setiap ceritaku. Kamu yang selalu jadi mindset setiap bait hari-hariku. Kamu yang selalu jadi rindu. Kamu yang selalu jadi candu, Kamu yang cukup aku kenal dan selalu aku mengerti sendiri dalam malam. Dan ketika fajar datang, Kamu berakhir seperti mimpi malam yang selalu ingin aku ulang-putar ulang-lagi-lagi-dan lagi di setiap waktu tidurku.

Aku bisa cekikikan sendiri menyadari setiap wacana yang aku susun dengan rapih dan segalanya tetap dengan satu topik sama. Pernah sekali-kali, ah bukan sekali-kali, sudah sering aku berganti topic. Mencoba membuat skema yang lain, berandai-andai dengan mimpi yang lain, tapi tak seindah wacana yang aku rangkai dengan topik kamu. Bodoh sekali ya. Tapi tidak untuk setiap manusia yang sedang menikmati bahtera yang kata nya cinta. Tapi ini juga terlalu berlebihan jika aku menyebutnya bahtera. Bukankah bahtera itu tersusun dari komponen yang nyata ? tidak abstrak ? terlalu sekonyong-konyong aku menyebutnya bahtera jika yang ditemui hanya aku yang terus saja memelihara, mengutik yang lalu.
waktu fajar ini, benar-benar membawaku dalam satu kabut. Menyudutkan. Lalu menghempas. Aku sadar, dan kembali lagi aku tersadar. Ini sekedar waktu yang diberikan untuk mengingat, bernostalgia begitu kata setiap para remaja.

Sudahlah tak baik berlama-lama dengan yang lalu-lalu. Seindah-indahnya itu tepat punya waktu yang berbeda. Dulu dan sekarang memang punya dua sekat yang berlainan. Tapi ku harap tidak dengan hatimu. Sedemikian lah Fajar ini aku lalui dengan mengunduh kamu, merenggutmu paksa masuk dalam imajinasiku. Di waktu fajar ini, dan akan berakhir saat mentari mulai memintaku kembali. Kembali pada waktu sekarang yang sebenarnya masih ingin kusertakan namamu dengan pantas dan jelas.

Klik Sumber Gambar

20!

 Jakarta, 27 Juli 2013 


Tuhan yang baik.Tuhan yang tidak pernah letih memberiku petunjuk.Tuhan yang tidak pernah henti melindungiku.Tuhan yang Maha Segalanya.

Hari ini umurku tepat-20tahun.
Aku bersyukur padaMu atas semua nikmat yang Engkau limpahkan padaku. Tidak kurang, tidak lebih.
Engkau memberiku anugerah terbesar, memberi satu kesempatan terindah dalam hidup yang cuma sekali ini.
Kesempatan karena aku telah lahir sebagai SHINTA JULIANA dari keluarga sederhana, dari ayah dan ibu yang tidak pernah kekurangan satu apapun karena selalu bersyukur atas smua pemberianMu. Ayah yang kuat dan Ibu yang lembut yang selalu mendoakan kebahagian juga kebaikkanku. Kesempatan terindah di duniaMu ini. aku jadi kaka dari “ALBI” juga adik dari seorang kaka perempuan cantik “SARI”. Anugerah yang Engkau berikan, kesempatan hidup yang aku habiskan diantara orang-orang yang menyayangiku tanpa pamrih. Tanpa pernah menuntutku untuk jadi orang lain, cukup jadi seorang Shinta.. aku berlimpahan kasihsayang. Makasih Tuhan J


Hari ini umurku tepat 20Tahun.
Aku bersyukur atas semua rizkiMu, atas kehadiran mereka orang-orang yang ada disekelilingku baik yang pro ataupun kontra. Aku bersyukur mengenal mereka ( singkat atau lamanya ) tetap mereka punya andil besar dalam hidupku. Terimakasih untuk orang yang pernah hadir dan sekarang sudah berlalu pergi. Karena dari orang-orang seperti itulah aku belajar bangkit, aku belajar mengenal, aku belajar berjalan, aku belajar melafalkan nama, sampai akhirnya aku belajar terpuruk juga mengikhlaskan semuanya.

Hari ini umurku tepat 20 Tahun.
Tuhan yang baik lagi Maha Mengetahui. Segala yang tidak pernah terjamah oleh pancaindraku. Segala yang tidak pernah tersyiar oleh lisanku. Perjelaslah dengan petunjukMu. Agar aku tidak lapar akan kebodohan juga kesalahan. Agar aku tidak lagi mendekati apa yang menjadi laranganMu. Dekatkan aku dengan Orang-orang yang bisa membuatku dekat denganMu, orang-orang yang senantiasa di JalanMu agar aku lebih mengenal dan turut serta di dalamnya.

Terimakasih untuk setiap orang yang punya andil besar, orang-orang hebat yang aku jadikan panutan, juga berkah yang teramat besar sari Tuhan yang Maha Segalanya.


aku tahu, kawan :)

Ada bagian yang mungkin ingin kamu lupakan..
ketika kamu masih memanggut-manggut dengan keyakinan besar untuk sebuah harapan yang indah, harapan yang dibangun jauh sebelum mereka menghakimi hasrat kamu. Jauh sebelum mereka mengendalikan dan hentak langsung menghentikan semua drama yang indah. Dan kamu adalah tokoh utama yang tegar. Aku tahu.

Dengan agak tergopoh-gopoh kamu mulai terbangun (lagi), dengan menyasari semua jalan yang sama namun sekarang kamu sendiri. Kamu wanita yang kuat. Aku tahu.

Kamu mulai mendiam ketika yang tersisa hanya kepingan-kepingan berceceran di bawah kakimu. Dan kini kamu memungutnya, tidak lagi utuh tapi kamu berusaha menyatukannya lagi. seorang diri. Kamu wanita yang lebih dari Dia. Aku tahu.

Masih meraba. Masih butuh kekuatan untuk mempercayai dan meyakini ini semua benar terjadi. nyata. Masih ingin membenamkan diri dihari kemarin saat mereka masih tidak peduli dengan kalian dan membiarkanmu melangkah dan bermimpi. Tanpa tahu akhirnya kamu terjatuh dan membenahi kerapuhanmu dengan sendiri. Kamu besok masih bisa tersenyum. Kamu istimewa. Aku tahu.

Mereka disudut keramaiannya. Tertawa. Tertinggal kamu sendiri dan hanya dengan lingkaran memori yang meronta untuk selalu diputar ulang lagi dan lagi. semua itu membuatmu menangis. Aku masih bisa mellihat matamu yang indah. Kamu bisa. Aku tahu.

Mereka tak pernah tahu apa-apa. Mereka yang menghakimi kamu dan cintamu dari sudut kebenaran mereka, tidak dari cinta. Bukan untuk cinta. Mereka hanya tidak memahami kamu juga kekasihmu. Mereka hanya meyakini sebuah kebenaran yang berbeda dengan kamu. 


Klik Sumber Gambar


Esok. Kamu masih belum percaya. Kamu masih tidak bisa meminum pil pahit itu. Katanya ini terlalu sesak. Kamu bilang tidak jodoh. Aku tidak mengerti karena setahuku cinta tak pernah sesakit itu. Dan cinta selalu memberi celah di antara ketidakmungkinan sekalipun kamu berkali-kali berkata “ini nyata dunia, bukan dongeng”. Lagi-lagi kamu meneguk kepahitan kata-katamu sendiri.




















Menjadi pendengar yang baik.
karena perjodohan hanyalah kebenaran bagi mereka yang tak tahu kita. Mengesampingkan cinta.
menyudahi cerita kita
.



oleh: Shinta Dutulity